Saya Telah Bertaubat Dari Meninggalkan Shalat, Namun Masih Melakukan Dosa yang Dahulu Menjadi Penyebabnya. Apakah Taubat Saya Diterima?

Pertanyaan :

Saya pernah ketinggalan waktu shalat karena dosa yg saya sukai. Saya telah bertaubat pada dosa meninggalkan waktu shalat saya & yakin bisa menjaganya, namun saya belum meninggalkan dosa yg pernah memicu saya utk ketinggalan waktu shalat tsb. Apakah taubat tsb diterima ?

Jawaban :

Tidak diragukan lagi bahwa meninggalkan shalat hingga keluar dari waktunya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, taubat darinya wajib dilakukan dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Namun, sebelum menjawab pertanyaan ini, ada satu hal penting yang perlu dipastikan terlebih dahulu.

Pertama, Pastikan Shalat yang Ditinggalkan Telah Diqadha

Apabila seseorang sengaja meninggalkan shalat hingga keluar waktunya, maka hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah dan mengqadha shalat tersebut menurut pendapat jumhur ulama.

Dalilnya, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً، أَوْ نَامَ عَنْهَا، فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barang siapa lupa mengerjakan suatu shalat atau tertidur sehingga tidak mengerjakannya, maka kaffarahnya (tebusannya) adalah mengerjakan shalat tersebut ketika ia mengingatnya.” (HR. Muslim no. 684)

Apabila orang yang lupa atau tertidur saja diperintahkan untuk mengqadha shalatnya, maka orang yang sengaja meninggalkannya tentu lebih layak lagi untuk diperintahkan mengqadhanya.

Karena itu, taubat dari dosa meninggalkan shalat hendaknya disertai dengan penyesalan yang tulus, tekad kuat untuk tidak mengulanginya, serta mengqadha shalat yang ditinggalkan menurut pendapat mayoritas ulama.

Kedua, Bagaimana Jika Ia Masih Melakukan Dosa Lain yang Menjadi Penyebabnya?

Misalnya dahulu ia sering terlambat shalat karena kecanduan tontonan haram, permainan, atau maksiat tertentu. Kini ia sudah menjaga shalatnya dan menyesali kelalaiannya, namun dosa yang dahulu menjadi sebab itu ternyata belum mampu ia tinggalkan seluruhnya.

Apakah taubatnya dari meninggalkan shalat tetap sah?

Dalam masalah ini terdapat perselisihan di kalangan ulama.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah setelah membawakan pembahasan yang panjang dalam Madarij as-Salikin menyimpulkan:

“Menurut pendapat yang lebih kuat di sisiku, taubat tidak sah dari suatu dosa apabila seseorang masih terus melakukan dosa lain yang sejenis dengannya. Adapun apabila ia bertaubat dari suatu dosa namun masih melakukan dosa lain yang tidak berkaitan dengannya dan bukan dari jenis yang sama, maka taubatnya sah.

Misalnya seseorang bertaubat dari riba tetapi belum bertaubat dari minum khamar, maka taubatnya dari riba adalah sah.

Adapun jika ia bertaubat dari salah satu bentuk riba tetapi tetap melakukan bentuk riba yang lain, atau bertaubat dari ganja tetapi tetap meminum khamar, atau bertaubat dari zina dengan seorang wanita namun masih terus berzina dengan wanita lain, maka hakikatnya ia belum benar-benar bertaubat dari dosa tersebut. Ia hanya berpindah dari satu bentuk maksiat kepada bentuk lain yang masih satu jenis.

Berbeda dengan orang yang meninggalkan satu jenis maksiat lalu ternyata ia masih terjatuh pada maksiat lain yang berbeda jenis.” (Lihat: Madarij as-Salikin, 1/326-327)

Berdasarkan penjelasan ini, apabila seseorang benar-benar telah meninggalkan dosa melalaikan shalat, menyesalinya, serta bertekad tidak mengulanginya, maka taubatnya dari dosa tersebut insya Allah sah, meskipun ia masih berjuang meninggalkan dosa lain yang berbeda jenis.

Namun hal itu sama sekali bukan alasan untuk terus mempertahankan dosa yang lain. Seorang mukmin diperintahkan agar bertaubat dari seluruh dosa yang ia lakukan.

Seorang Mukmin Tidak Pernah Berhenti Bertaubat

Bahkan Rasulullah ﷺ yang telah diampuni dosa-dosanya tetap memperbanyak istighfar.

Beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلَى اللَّهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali setiap hari.” (HR. Muslim no. 2702)

Dalam riwayat lain Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma berkata:

إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kami benar-benar menghitung Rasulullah ﷺ dalam satu majelis mengucapkan sebanyak seratus kali: ‘Ya Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.’” (HR. Abu Dawud no. 1516, Tirmidzi no. 3434; shahih)

Apabila Rasulullah ﷺ saja senantiasa memperbanyak taubat, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, maka kita yang penuh dosa tentu lebih membutuhkan taubat setiap hari.

Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Bagi seseorang yang masih berjuang melawan hawa nafsunya, janganlah berputus asa.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan nasihat yang sangat indah:

“Hendaklah ia memilih waktu-waktu mustajab untuk serius berdoa (agar ditolong dari kecanduan maksiat), seperti akhir malam, waktu antara adzan dan iqamah, ketika sujud, dan setelah shalat. Hendaklah ia memperbanyak istighfar, karena siapa yang beristighfar kepada Allah lalu bertaubat kepada-Nya, niscaya Allah akan memberinya kenikmatan yang baik sampai waktu yang telah ditentukan.

Hendaklah ia membaca dzikir setiap pagi, sore dan sebelum tidur. Bersabarlah menghadapi berbagai penghalang dan godaan, karena tidak lama kemudian Allah akan menguatkannya dengan pertolongan dari sisi-Nya serta menanamkan keimanan di dalam hatinya.

Hendaklah ia sangat memperhatikan kesempurnaan shalat lima waktu, lahir maupun batin, karena shalat adalah tiang agama.

Hendaklah lisannya senantiasa basah dengan ucapan “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” Dengan kalimat itulah beban-beban berat dapat dipikul, berbagai kesulitan dapat dihadapi (seperti godaan setan dan nafsu), dan derajat yang tinggi dapat diraih.

Jangan pernah bosan berdoa. Seorang hamba akan terus dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa lalu berkata, “Aku sudah berdoa tetapi belum juga dikabulkan.”

Ketahuilah bahwa pertolongan selalu bersama kesabaran, jalan keluar selalu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Tidaklah seorang pun memperoleh akhir yang baik—baik seorang nabi maupun orang setelah mereka—melainkan dengan kesabaran. (Lihat: Majmu’ al-Fatawa, 10/136-137

Semoga Allah menerima taubat kita, memperbaiki hati kita, mengokohkan kita di atas shalat, memudahkan kita meninggalkan seluruh maksiat, serta mewafatkan kita di atas Islam dan sunnah.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *