Ketika Hormon Berubah: Memahami Hikmah Allah di Balik Masa Pre-Menopause

Pertanyaan:

Bismillah. Tidak ada ketentuan Allah Ta’ala yang sia-sia. Tolong bantu saya memahami ketentuan Allah, apa hikmahnya mood swing, emosi tidak terkontrol karena hormon fluktuatif, di masa pre-menopause bagi muslimah? Jazakallahu khoiran.

Jawaban:

Tidak ada satu pun yang Allah ciptakan dan tetapkan dengan sia-sia. Bisa jadi manusia belum mampu memahami seluruh hikmah di baliknya, tetapi keterbatasan pengetahuan kita tidak berarti tidak adanya hikmah pada perbuatan Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191)

Demikian pula perubahan hormonal yang dialami sebagian wanita menjelang menopause, dengan berbagai dampaknya terhadap fisik dan suasana hati, merupakan bagian dari sunnatullah pada tubuh manusia. Ia bukanlah cacat dalam penciptaan Allah.

Menstruasi: bagian dari kesempurnaan penciptaan Allah

Coba kita perhatikan tubuh wanita.

Setiap bulan, tubuh mempersiapkan kemungkinan terjadinya kehamilan. Hormon mengatur proses pematangan sel telur dan mempersiapkan lapisan rahim agar siap menjadi tempat menempelnya embrio. Jika kehamilan tidak terjadi, perubahan hormonal menyebabkan lapisan tersebut luruh dan terjadilah menstruasi.

Semua itu berlangsung dalam sebuah sistem biologis yang sangat teratur.

Maka, meskipun menstruasi dapat disertai rasa nyeri, lelah, atau ketidaknyamanan, bukan berarti menstruasi merupakan sesuatu yang buruk atau kesalahan dalam penciptaan. Bahkan dari sisi syariat, kita dapat melihat betapa Allah memberikan perhatian dan kemudahan kepada wanita dalam kondisi tersebut.

Ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengalami haid dalam perjalanan haji, Nabi ﷺ bersabda kepadanya:

هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

“Ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan bagi anak-anak perempuan Adam.” (HR. Bukhari, no. 294 dan Muslim, no. 1211)

Haid bukanlah kehinaan bagi seorang wanita. Ia adalah bagian dari ketetapan Allah pada tubuh wanita. Bahkan syariat memberikan keringanan: wanita yang sedang haid tidak diperintahkan shalat dan tidak diperintahkan mengganti shalatnya; ia tidak berpuasa dan mengganti puasanya setelah suci.

Ini merupakan bagian dari rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Allah Ta‘ala berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Maka ketika seorang wanita memasuki fase pre-menopause, dengan berbagai perubahan hormonal dan emosional yang menyertainya, hendaknya ia tidak serta-merta melihatnya sebagai sesuatu yang buruk. Ini adalah bagian dari perjalanan tubuh yang Allah ciptakan dan atur.

Tidak semua yang terasa berat berarti buruk

Secara lahiriah, perubahan hormonal dapat menimbulkan berbagai ketidaknyamanan. Sebagian wanita mengalami perubahan suasana hati, mudah lelah, gangguan tidur, atau menjadi lebih sensitif secara emosional.

Namun, rasa tidak nyaman tidak selalu berarti sesuatu itu buruk bagi kita.

Ada sebuah ungkapan syair yang sangat indah:

لَعَلَّ عَتْبَكَ مَحْمُودٌ عَوَاقِبُهُ
وَرُبَّمَا صَحَّتِ الْأَجْسَامُ بِالْعِلَلِ

“Boleh jadi teguranmu memiliki akhir yang terpuji; dan terkadang tubuh menjadi sehat melalui berbagai penyakit.” (Lihat: Diwan Al-Mutanabbi, hlm. 494)

Syair ini bukan dalil syar‘i, tetapi mengandung sebuah hikmah yang sesuai dengan prinsip yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian; dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Maka seorang mukmin tidak menilai segala sesuatu hanya berdasarkan rasa nyaman atau tidak nyaman. Ia melihat lebih jauh: siapa yang menetapkannya, dan bagaimana ia dapat menjadikan ketetapan tersebut sebagai jalan menuju kebaikan.

Pertama: menjadi ujian dan sebab terhapusnya dosa

Berbagai rasa sakit, kelelahan, kesedihan, kegundahan, dan ketidaknyamanan yang menimpa seorang mukmin tidaklah sia-sia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حَزَنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal tersebut.”
(HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Maka berbagai ketidaknyamanan yang muncul pada masa pre-menopause, apabila dihadapi dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah, dapat menjadi sebab terhapusnya dosa dan bertambahnya pahala.

Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami:

munculnya perasaan bukanlah dosa.

Seorang wanita tidak berdosa hanya karena tiba-tiba merasa sedih, mudah tersinggung, atau emosinya naik turun karena perubahan yang berada di luar kehendaknya.

Yang menjadi tuntutan syariat adalah bagaimana ia menyikapi perasaan tersebut sesuai dengan kemampuannya.

Ia tetap berusaha menjaga lisannya, menahan tindakan yang buruk, meminta maaf apabila keliru, dan berusaha mengendalikan dirinya semampunya.

Allah Ta‘ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Kedua: menjadi tarbiyah untuk mengenal kelemahan diri

Di antara hikmah ujian adalah Allah memperlihatkan kepada manusia betapa lemahnya dirinya.

Ketika tubuh kuat, seseorang mungkin merasa bahwa dirinya mampu mengatur banyak hal. Namun ketika usia bertambah, hormon berubah, tidur terganggu, tubuh mudah lelah, atau emosi terasa lebih sulit dikendalikan, manusia kembali disadarkan bahwa dirinya tidak memiliki kekuasaan mutlak atas tubuh dan jiwanya sendiri.

Allah Ta‘ala berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah-lah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan setelah kelemahan itu kekuatan, kemudian Dia menjadikan setelah kekuatan itu kelemahan dan uban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.”
(QS. Ar-Rum: 54)

Di sinilah seorang hamba belajar bahwa ketenangan, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri bukan semata-mata hasil kekuatan dirinya.

Ia membutuhkan pertolongan Allah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kalianlah yang sangat membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Maka ketika emosi terasa lebih sulit dikendalikan, jadikanlah ia momentum untuk memperbanyak istighfar, dzikir, doa, dan tawakal.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Ketiga: menjadi pengingat bahwa kekuatan manusia tidak kekal

Perjalanan dari masa muda menuju usia lanjut merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah.

Allah berfirman:

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada keadaan lemah dalam penciptaan. Maka apakah mereka tidak berpikir?” (QS. Yasin: 68)

Masa muda akan berlalu.

Kekuatan akan berkurang.

Tubuh yang dahulu mudah melakukan banyak hal akan mulai membutuhkan lebih banyak istirahat.

Dan semua itu merupakan bagian dari perjalanan manusia menuju perjumpaan dengan Rabb-nya.

Karena itu, masa pre-menopause dapat menjadi sebuah tadzkirah: pengingat agar seorang wanita semakin bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal akhirat.

Jangan hanya bertanya: “Bagaimana agar fase ini segera berlalu?”

Tetapi tanyakan pula: “Apa yang Allah kehendaki agar aku pelajari dari fase ini?”

Bisa jadi Allah sedang mengajarkan sabar.

Bisa jadi Allah sedang mengajarkan tawakal.

Bisa jadi Allah sedang mengajarkan bahwa kesehatan adalah nikmat yang harus disyukuri.

Dan bisa jadi Allah sedang mengingatkan bahwa perjalanan menuju akhirat semakin dekat.

Keempat: sabar tidak berarti meninggalkan ikhtiar

Menerima takdir Allah bukan berarti meninggalkan sebab.

Seorang wanita tetap boleh dan dianjurkan mengambil sebab-sebab yang bermanfaat: menjaga pola tidur, memperbaiki pola makan, berolahraga sesuai kemampuan, mengelola stres, serta berkonsultasi kepada tenaga kesehatan apabila gejalanya berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

Semua itu tidak bertentangan dengan tawakal.

Seorang mukmin menggabungkan ketergantungan hati kepada Allah dengan mengambil sebab-sebab yang bermanfaat.

Jika membutuhkan pengobatan, maka berobatlah. Jika membutuhkan perubahan pola hidup, maka lakukanlah. Namun hati jangan bergantung kepada sebab, karena sebab tidak memberikan manfaat dengan sendirinya.

Allah-lah yang menciptakan sebab sekaligus menciptakan akibatnya.

Wallahu a’lam.

Tim Shahihfiqih, 25 Agustus 2026 M / 11 Rabi’ul Awal 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *