Apakah Harus Sempurna untuk Bisa Menasihati Orang Lain?

Sering muncul pertanyaan: bolehkah seseorang menasihati orang lain, sementara dirinya sendiri belum sepenuhnya mengamalkan apa yang ia nasihatkan?

Jawabannya: tidak harus menunggu diri menjadi sempurna untuk menasihati orang lain. Namun, seseorang tetap wajib berusaha memperbaiki dirinya dan tidak boleh menjadikan nasihat kepada orang lain sebagai alasan untuk merasa aman dari kewajiban memperbaiki diri.

Dengan kata lain, amar makruf nahi mungkar kepada orang lain tidak gugur hanya karena seseorang masih memiliki kekurangan dalam dirinya. Yang benar, dua kewajiban tersebut berjalan beriringan: memperbaiki diri dan mengajak orang lain kepada kebaikan.

Kewajiban Memperbaiki Diri Tetap yang Utama

Pada prinsipnya, seorang muslim tidak boleh berhenti berusaha memperbaiki dirinya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

Di antara kesempurnaan takwa adalah berusaha menyelaraskan ucapan dengan perbuatan. Karena itu, Allah memberikan teguran keras kepada orang yang memerintahkan kebaikan kepada orang lain tetapi melupakan dirinya sendiri:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Apakah kalian menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Kitab? Tidakkah kalian mengerti?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)

Ayat-ayat ini merupakan peringatan keras agar seorang muslim tidak menjadi orang yang pandai berbicara tentang kebaikan tetapi lalai mengamalkannya.

Namun, peringatan ini tidak berarti bahwa orang yang masih memiliki dosa harus berhenti menasihati orang lain. Yang dicela adalah meninggalkan kebaikan yang ia sendiri ketahui dan mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan amalnya. Adapun kewajiban menasihati dan kewajiban memperbaiki diri merupakan dua kewajiban yang masing-masing harus diusahakan.

Dua Tanggung Jawab yang Berjalan Beriringan

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrimm: 6)

Perintah ini tidak hanya mencakup keselamatan diri sendiri, tetapi juga keluarga.

Allah juga berfirman kepada Nabi ﷺ:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”
(QS. Asy-Syu‘ara’: 214)

Maka, seorang muslim memiliki kewajiban untuk memperbaiki dirinya sekaligus mengajak orang-orang yang berada di sekitarnya kepada kebaikan.

Karena itu, apabila seseorang belum sempurna dalam mengamalkan suatu kebaikan, ketidaksempurnaan tersebut tidak menjadi alasan untuk meninggalkan nasihat kepada orang lain.

Jika seseorang masih terjerumus dalam suatu maksiat, lalu ia tetap melarang orang lain dari maksiat tersebut, maka ia memang masih berdosa karena melakukan maksiat itu. Akan tetapi, ia tidak boleh menambah dosa dengan meninggalkan kewajiban menasihati orang lain apabila memang ia memiliki kemampuan dan memenuhi ketentuan amar makruf nahi mungkar.

Sebuah gambaran sederhana

Seorang ayah yang masih merokok, misalnya, tidak boleh berkata:

“Karena saya sendiri masih merokok, saya tidak pantas melarang anak saya merokok.”

Justru ia harus melakukan dua hal sekaligus:

1. berusaha meninggalkan rokok karena mengetahui bahayanya dan keharamannya;
2. menasihati anaknya agar tidak mulai merokok.

Tentu saja, akan lebih sempurna jika nasihat tersebut disertai keteladanan. Tetapi jika keteladanan belum sempurna, nasihat yang benar tetap lebih baik daripada diam sama sekali.

Nasihat kepada Orang Lain Bisa Menjadi Jalan untuk Memperbaiki Diri

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70–71)

Ayat ini menunjukkan bahwa takwa dan perkataan yang benar bukanlah sesuatu yang sia-sia. Allah menjanjikan perbaikan amal dan ampunan bagi orang yang bertakwa dan berkata benar.

Karena itu, jangan meremehkan kebaikan yang keluar dari lisan kita hanya karena diri kita masih memiliki kekurangan. Bisa jadi, ketika kita mengingatkan orang lain tentang suatu kebaikan, nasihat tersebut justru menjadi pengingat yang kuat bagi diri kita sendiri.

Setiap kali mengucapkan: “Jangan tinggalkan shalat.”

hendaknya kita juga merasa sedang berbicara kepada diri sendiri.

Ketika berkata: “Jangan durhaka kepada orang tua.”

hendaknya kita semakin takut jika diri sendiri melakukan kedurhakaan.

Ketika berkata: “Jauhilah ghibah.”

hendaknya kita semakin malu jika lisan kita sendiri terjatuh ke dalamnya.

Dengan cara seperti ini, nasihat kepada orang lain tidak hanya menjadi dakwah kepada mereka, tetapi juga menjadi muhasabah bagi diri sendiri.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

لَعَلَّهُ يَجْرِي مِنْهُ عَلَى لِسَانِهِ مَا يَنْتَفِعُ بِهِ غَيْرُهُ بِقَصْدِهِ أَوْ بِغَيْرِ قَصْدِهِ، وَاللَّهُ لَا يُضَيِّعُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

“Bisa jadi mengalir dari lisan pemberi nasehat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, baik dengan sengaja maupun tanpa sengaja. Allah tidak akan menyia-nyiakan amal seberat zarrah sekalipun.“ (Lihat: Thariqul Hijrotain, 1/448)

Ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan kebaikan yang kita sampaikan kepada orang lain. Bisa jadi, orang lain mendapatkan manfaat dari nasihat tersebut, lalu mengamalkannya, sementara Allah menjadikan manfaat itu sebagai salah satu sebab turunnya rahmat-Nya kepada orang yang menyampaikannya.

Namun, hal ini tentu bukan alasan untuk merasa aman dari kewajiban mengamalkan apa yang dinasihatkan.

Nasihat Bukan Bukti Bahwa Kita Sudah Sempurna

Ada perbedaan antara mengatakan:

“Saya sudah baik, maka ikutilah saya.”

dengan mengatakan:

“Ini adalah kebenaran yang Allah perintahkan. Saya pun sedang berusaha mengamalkannya. Mari kita sama-sama memperbaiki diri.”

Yang kedua jauh lebih jujur.

Orang yang menasihati tentang sesuatu yang belum sempurna ia amalkan tidak otomatis menjadi munafik. Bisa jadi ia mengetahui kebenaran, meyakininya, mencintainya, bahkan ingin mengamalkannya, tetapi dirinya masih dikalahkan oleh hawa nafsu dan kelemahan.

Tentu, jika ia sengaja menampilkan dirinya seolah-olah telah sempurna, atau menggunakan agama untuk mencari pujian, itu adalah perkara lain yang harus diwaspadai.

Karena itu, sikap yang benar adalah:

Jangan meninggalkan nasihat hanya karena diri belum sempurna. Tetapi jangan pula terus menasihati orang lain sambil merasa tidak perlu memperbaiki diri.

Nasihati mereka, dan pada saat yang sama nasihati diri sendiri.

Ajak mereka menuju Allah, dan jadikan ajakan itu sebagai pengingat bagi diri sendiri untuk semakin dekat kepada-Nya.

Jangan Menunggu Sempurna

Kesempurnaan bukan syarat untuk memulai kebaikan.

Jika seseorang berkata:

“Saya belum sempurna, jadi saya tidak akan berdakwah.”

maka ia perlu menjawab pertanyaan berikut:

Kapan dirinya akan menjadi sempurna?

Manusia tidak pernah lepas dari kekurangan. Karena itu Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499 dan Ibnu Majah no. 4251)

Wallahu a’lam.

Tim Shahihfiqih, 27 Agustus 2026 M / 13 Rabi’ul Awal 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *