Gempa yang terjadi di Nusa Tenggara Timur mengingatkan kita bahwa bumi yang selama ini kita pijak dengan tenang ternyata dapat berguncang dalam hitungan detik.
Kita turut berduka atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di NTT. Semoga Allah mengampuni mereka yang wafat, merahmati mereka, menerima amal mereka, dan menjadikan musibah yang mereka alami sebagai penghapus dosa serta pengangkat derajat. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan dan memberikan pertolongan kepada seluruh korban.
Secara ilmiah, tentu ada sebab-sebab terjadinya gempa yang dapat dijelaskan. Namun, seorang mukmin tidak berhenti pada penjelasan tentang sebab. Bumi tetaplah makhluk Allah yang berada di bawah perintah-Nya.
Allah berfirman:
بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا ٥
“Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan demikian kepada bumi.”
(QS. Az-Zalzalah: 5)
Maka musibah semestinya tidak hanya membuat kita membicarakan apa yang terjadi pada bumi, tetapi juga membuat kita bertanya:
Bagaimana keadaan kita di hadapan Allah?
Gempa adalah salah satu peristiwa yang mengingatkan kita untuk kembali kepada Allah, memperbanyak taubat, meninggalkan segala dosa, dan terlebih lagi membersihkan diri dari dosa yang paling besar: kesyirikan.
Namun ada satu guncangan yang jauh lebih dahsyat daripada gempa apa pun yang pernah terjadi di dunia.
Allah telah mengabarkannya dalam Surah Az-Zalzalah.
Ketika Bumi Benar-Benar Diguncangkan
Allah Ta’ala berfirman:
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا ١ وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا ٢ وَقَالَ الْإِنسَانُ مَا لَهَا ٣ يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا ٤ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا ٥ يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ ٦ فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ٧ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ٨
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya, dan manusia berkata, ‘Apa yang terjadi dengan bumi ini?’
Pada hari itu bumi menyampaikan berita-beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan demikian kepadanya.
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka amal-amal mereka.
Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 1–8)
Pada hari itu bumi tidak sekadar berguncang. Ia mengeluarkan seluruh yang tersimpan di dalamnya. Orang-orang yang telah mati dikeluarkan dari kuburnya, dan manusia menyaksikan sebuah peristiwa yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.
وَقَالَ الْإِنسَانُ مَا لَهَا ٣
“Dan manusia berkata, ‘Apa yang sebenarnya terjadi dengan bumi ini?’”
Bumi yang selama ini kokoh dan tenang tiba-tiba bergerak dan berguncang. Ia mengeluarkan orang-orang yang telah dikuburkan di dalamnya.
Menariknay, bahkan bukan hanya manusia yang akan berbicara. Bumi sendiri akan menjadi saksi.
Allah berfirman:
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا ٤
“Pada hari itu bumi menyampaikan berita-beritanya.”
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa bumi akan bersaksi atas apa yang dilakukan manusia di atasnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هَذِهِ الْآيَةَ: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا ٤، قَالَ: أَتَدْرُونَ مَا أَخْبَارُهَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ وَأَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا، أَنْ تَقُولَ: عَمِلَ كَذَا وَكَذَا، يَوْمَ كَذَا وَكَذَا، فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah ﷺ membaca ayat, “Pada hari itu bumi menyampaikan berita-beritanya.” Kemudian beliau bersabda: “Apakah kalian tahu apa berita-beritanya?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
Beliau bersabda: “Sesungguhnya berita-berita bumi adalah kesaksiannya terhadap setiap hamba laki-laki dan perempuan tentang apa yang dia kerjakan di atas permukaannya. Bumi akan berkata, ‘Dia melakukan ini dan itu pada hari ini dan itu.’ Itulah berita-beritanya.” (HR. Tirmidzi, no. 3352, dan dinilai shahih oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)
Maka tempat yang dahulu kita gunakan untuk beribadah akan menjadi saksi.
Dan tempat yang dahulu kita gunakan untuk bermaksiat juga akan menjadi saksi.
Tidak ada yang hilang.
Tidak ada yang benar-benar tersembunyi.
Bahkan Sebesar Zarrah (Semut) Pun Akan Diperhitungkan
Setelah menggambarkan dahsyatnya hari tersebut, Allah menutup surah ini dengan dua ayat yang sangat singkat, tetapi mengandung peringatan yang sangat besar:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ٧ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ٨
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
Inilah pesan yang sangat penting.
Jangan meremehkan kebaikan, meskipun kecil. Dan jangan meremehkan dosa, meskipun terlihat sepele.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ وَوَجْهُكَ إِلَيْهِ مُنْبَسِطٌ
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya menuangkan air dari embermu ke wadah orang yang meminta minum, atau sekadar menemui saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR. Ahmad, no. 20633; dengan sanad yang shahih)
Sebaliknya, jangan merasa aman dari dosa-dosa kecil. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا عَائِشَةُ، إِيَّاكِ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّ لَهَا مِنَ اللَّهِ طَالِبًا
“Wahai Aisyah, jauhilah dosa-dosa yang dianggap remeh, karena dosa-dosa tersebut memiliki penuntut di sisi Allah.” (HR. Ahmad, no. 25177; dengan sanad yang hasan)
Dosa yang kita anggap kecil mungkin kita lupakan. Tetapi Allah tidak melupakannya.
Demikian pula amal kebaikan yang mungkin kita anggap tidak berarti. Bisa jadi justru itulah yang kelak kita temukan sebagai sesuatu yang sangat berharga di hadapan Allah.
Maka, Apa yang Sudah Kita Siapkan?
Gempa di dunia seharusnya membuat kita mengingat guncangan yang jauh lebih besar.
Jika gempa dunia membuat kita takut kehilangan rumah, harta, dan kehidupan, maka bagaimana dengan hari ketika bumi itu sendiri diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat?
Jika gempa dunia membuat manusia berlari mencari tempat perlindungan, maka ke mana manusia akan berlindung ketika seluruh manusia dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan amalnya?
Karena itu, jangan biarkan musibah berlalu hanya sebagai berita.
Jadikan ia sebagai nasihat dari Allah untuk diri kita.
Mari memperbanyak taubat.
Mari meninggalkan maksiat.
Mari memperbaiki shalat.
Mari memperbanyak amal saleh, meskipun sedikit.
Dan yang paling utama: mari membersihkan tauhid dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan.
Sebab kita tidak tahu kapan akan meninggalkan dunia ini. Tetapi kita tahu pasti bahwa suatu hari nanti kita akan berdiri di hadapan Allah.
Pada hari itu, tidak ada amal yang terlalu kecil untuk diperhitungkan.
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ٧ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ٨
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)
Maka, sebelum bumi menjadi saksi atas apa yang kita kerjakan di atasnya, mari kita gunakan kesempatan yang masih Allah berikan untuk memperbanyak bekal menuju hari ketika seluruh amal akan diperlihatkan.
Wallahu a’lam.
(Catatan: Tafsir disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir, 7/627-631)





