Mengapa Kita Harus Berusaha Kalau Semua Sudah Takdir?

“Saya sudah berusaha, tapi memang belum takdir.”, “Kalau Allah menghendaki saya sukses, pasti saya sukses.”, “Untuk apa berusaha terlalu keras? Kalau rezeki memang jatah kita, pasti datang sendiri.” Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar Islami. Namun, benarkah cara berpikir seperti itu diajarkan dalam Islam?

Ironisnya, tidak sedikit orang yang menjadikan takdir sebagai tameng untuk menutupi kemalasan, kegagalan, atau keengganan memperbaiki diri. Ketika gagal, ia menyalahkan takdir. Ketika malas belajar, ia berdalih belum ditakdirkan pintar. Ketika enggan bekerja keras, ia berkata rezeki sudah diatur.

Padahal, justru orang-orang yang paling memahami takdir adalah mereka yang paling gigih berusaha.

Takdir Bukan Alasan untuk Diam

Salah satu kekeliruan terbesar yang beredar di tengah masyarakat adalah menganggap bahwa beriman kepada takdir berarti pasrah tanpa usaha. Logika seperti ini bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Perhatikan redaksi ayat ini. Allah tidak mengatakan bahwa perubahan datang begitu saja. Allah mengaitkan perubahan dengan usaha manusia. Inilah sunnah Allah di alam semesta. Siapa yang belajar, peluangnya lebih besar untuk memahami ilmu. Siapa yang bekerja, peluangnya lebih besar mendapatkan penghasilan. Siapa yang menjaga kesehatan, peluangnya lebih besar hidup sehat.

Semua itu tetap terjadi dengan TAKDIR Allah, tetapi Allah menjadikan usaha sebagai sebab yang harus ditempuh.

Rasulullah ﷺ Tidak Pernah Mengajarkan Pasrah Tanpa Ikhtiar
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ

“Bersungguh-sungguhlah mengejar sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi orang yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664).

Hadits ini sangat luar biasa. Rasulullah ﷺ menggabungkan tiga perkara sekaligus.
Pertama, bersemangat melakukan ikhtiar.
Kedua, memohon pertolongan kepada Allah.
Ketiga, tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Kalau Islam mengajarkan pasrah tanpa usaha, tentu Nabi ﷺ cukup mengatakan, “Bertawakallah kepada Allah.” Namun beliau justru memerintahkan, “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu.” Ini menunjukkan bahwa mengambil sebab merupakan bagian dari ibadah.

Para Nabi Adalah Orang yang Paling Bertawakal, Sekaligus Paling Banyak Berusaha
Tidak ada manusia yang lebih sempurna tawakalnya daripada para nabi. Namun, apakah mereka hanya menunggu keajaiban?

Nabi Nuh ‘alaihissalam diperintahkan membuat kapal dengan tangannya sendiri. Nabi Musa ‘alaihissalam diperintahkan memukul laut dengan tongkatnya. Maryam diperintahkan menggoyangkan batang pohon kurma, padahal Allah mampu menjatuhkan buah kurma tanpa usaha sedikit pun.
Allah berfirman,

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

“Goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25).

Padahal, seorang wanita yang baru saja melahirkan hampir mustahil mampu menggoyangkan batang pohon kurma. Mengapa Allah tetap memerintahkannya?

Karena Allah ingin mengajarkan bahwa hasil berasal dari Allah, tetapi usaha tetap harus dilakukan oleh hamba.

Semua Sudah Ditentukan, Lalu Mengapa Kita Tetap Berusaha?

Inilah pertanyaan yang sering muncul. Jawabannya telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan untuknya.” (HR. Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647).

Hadits ini diucapkan ketika para Sahabat bertanya, “Kalau segala sesuatu sudah ditetapkan, bukankah lebih baik kita pasrah saja?”

Jawaban Nabi ﷺ justru sebaliknya. “Beramallah!”

Artinya, TAKDIR bukan untuk ditebak, tetapi dijalani. Tidak seorang pun mengetahui apa yang Allah tetapkan baginya sebelum ia mengalaminya. Karena itu, kewajiban manusia adalah berusaha, bukan menebak-nebak takdir.

Jangan Jadikan Takdir Sebagai Kambing Hitam

Seseorang berkata, “Saya miskin karena takdir.” Padahal ia malas bekerja. Tidak pantas seseorang berkata, “Saya bodoh karena takdir.” Padahal ia tidak pernah belajar. Tidak layak seseorang berkata, “Anak saya rusak karena takdir.” Padahal ia tidak pernah mendidiknya.

Memang benar, itu semua mengalir sesuai detatNamun sering kali manusia menggunakan takdir untuk menutupi kesalahannya sendiri. Padahal Allah telah memberikan akal, kemampuan, kesempatan, serta memerintahkan manusia menempuh sebab-sebab yang benar.

Penutup

Beriman kepada takdir bukan berarti berhenti melangkah. Sebaliknya, keyakinan kepada takdir justru melahirkan keberanian untuk terus berusaha tanpa takut gagal.
Karena seorang mukmin memahami satu kenyataan yang sangat menenangkan usahanya mungkin gagal, rencananya mungkin berubah, harapannya mungkin tertunda. Tetapi tidak ada satu pun usaha yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai syariat yang sia-sia di sisi Allah.

Maka, jangan jadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Berusahalah dengan sungguh-sungguh. Perbaiki sebab-sebab yang mampu kita lakukan. Lalu serahkan hasil akhirnya kepada Allah dengan penuh ridho dan tawakal. Itulah akidah ahlus sunnah. Itulah keseimbangan yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan sunnah

Tim Shahihfiqih, 20 Shafar 1447 H / 3 Agustus 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *