Menyalakan Keran-Keran Pahala

Ada kebaikan yang pahalanya tidak berhenti ketika seseorang selesai mengerjakannya. Bahkan, setelah ia meninggal dunia, kebaikan itu masih terus mengalir melalui orang-orang yang dahulu belajar darinya, mengikuti nasihatnya, atau meneladani amalnya.

Satu ilmu yang diajarkan bisa diamalkan oleh banyak orang. Satu nasihat yang tulus bisa mengubah perjalanan hidup seseorang. Satu teladan yang baik bisa melahirkan kebaikan-kebaikan berikutnya.

Inilah salah satu karunia besar dari Allah. Seorang hamba tidak hanya berkesempatan mengumpulkan pahala melalui amalnya sendiri, tetapi juga melalui kebaikan yang menjadi sebab orang lain mendapatkan petunjuk.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا.

“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, ia akan menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim, no. 2674)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Setiap ilmu yang mengarahkan seseorang kepada cara beramal yang benar, sehingga ia memperoleh manfaat dari ilmu tersebut, termasuk ajakan kepada petunjuk.

Begitu pula setiap orang yang mengajak kepada amal shalih yang berkaitan dengan hak Allah, maupun hak sesama makhluk, ia termasuk orang yang mengajak kepada petunjuk.

Setiap orang yang memberikan nasihat agama atau nasihat duniawi yang dibenarkan syariat, ia pun termasuk orang yang mengajak kepada petunjuk.

Demikian pula orang yang memperoleh petunjuk melalui ilmu atau amalnya, kemudian orang lain mengikuti petunjuk tersebut, maka ia termasuk orang yang mengajak kepada petunjuk.

Sebaliknya, orang yang mengajak kepada kesesatan adalah para pemimpin yang menyeru manusia menuju keburukan. Adapun orang yang membantu orang lain dalam perbuatan dosa dan permusuhan, ia termasuk orang yang mengajak kepada kesesatan.” (Lihat: Bahjat Qulub al-Abrar, hlm. 22-23)

Semoga Allah menjadikan kita sebagai pembuka pintu-pintu kebaikan, yang pahalanya terus mengalir melalui orang-orang yang mendapatkan manfaat dari ilmu, nasihat, dan amal kita. Aamiin.

Tim Shahihfiqih, 26 Oktober 2026 M / 14 Jumadal Ula 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *