Diremehkan Manusia, Tapi Mulia di Sisi Allah

Ada orang yang ketika hadir, hampir tidak ada yang memperhatikannya.

  • Tidak kaya.
  • Tidak terkenal.
  • Tidak punya jabatan.
  • Penampilannya sederhana.
  • Bahkan mungkin dianggap tidak penting oleh sebagian manusia.

Bisa jadi, orang yang dipandang rendah oleh manusia justru memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Namun, jangan terburu-buru meremehkannya. Sebab, Allah tidak menilai manusia sebagaimana manusia menilainya.

Kemuliaan Tidak Diukur dengan Dunia

Nabi ﷺ pernah bersabda:

التَّقْوَى هَاهُنَا

“Takwa itu ada di sini.” Beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari, no. 6064 dan Muslim, no. 2564)


Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah bukanlah rupa, harta, kedudukan, atau popularitasnya. Ukuran kemuliaan itu adalah ketakwaan yang bersemayam di dalam hati.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Karena itu, bisa jadi seseorang yang tidak memiliki banyak hal dalam pandangan manusia, justru memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Sebaliknya, seseorang yang memiliki harta melimpah, wajah yang rupawan, jabatan tinggi, banyak pengikut, dan sangat dihormati manusia, belum tentu memiliki kemuliaan di sisi Allah.

Sebab, yang dinilai adalah apa yang ada di dalam hati dan amalnya.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim, no. 2378)

Surga Justru Dipenuhi Orang-Orang yang Dipandang Lemah

Perhatikan sabda Nabi ﷺ berikut:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ: كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعَّفٍ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang penghuni surga? Mereka adalah setiap orang yang lemah dan dianggap lemah; jika dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”

Lalu Nabi ﷺ menyebutkan tentang penghuni neraka:

وَأَهْلُ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Sedangkan penghuni neraka adalah setiap orang yang keras, kasar, dan sombong.” (HR. Bukhari, no. 4918 dan Muslim, no. 2853)

Perhatikan kontrasnya.

Orang yang dianggap lemah oleh manusia, bisa jadi begitu kuat kedudukannya di sisi Allah. Ia mungkin tidak diperhitungkan di tengah manusia, tetapi doanya memiliki kedudukan yang besar. Ia mungkin tidak memiliki suara yang didengar banyak orang, tetapi langit mendengar doanya. Ia mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi hatinya kaya dengan iman. Ia mungkin tidak terkenal di bumi, tetapi namanya dikenal oleh penduduk langit.

Bahkan Surga Sendiri Menyebut Orang-Orang yang Diremehkan

Dalam hadis yang lain, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa surga dan neraka saling berbicara.

Neraka berkata:

أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ

“Aku diutamakan untuk dimasuki orang-orang yang sombong dan merasa berkuasa.”

Sedangkan surga berkata:

لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ

“Aku tidak akan dimasuki kecuali oleh orang-orang yang lemah dan dianggap rendah oleh manusia.”

Kemudian Allah berfirman kepada surga:

أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي

“Engkau adalah rahmat-Ku. Denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku.”

Dan berfirman kepada neraka:

أَنْتِ عَذَابِي، أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي.

“Engkau adalah azab-Ku. Denganmu Aku mengazab siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku.” (HR. Bukhari, no. 4850 dan Muslim, no. 2846)

Tentu yang dimaksud bukan bahwa setiap orang yang miskin atau lemah secara fisik pasti masuk surga, sementara setiap orang kaya pasti tidak. Bukan demikian. Yang menjadi ukuran tetaplah iman dan takwa.

Namun hadits ini mengingatkan kita bahwa orang-orang yang secara duniawi dianggap rendah—miskin, lemah, tidak memiliki kedudukan, dan tidak diperhitungkan—bisa jadi justru memiliki hati yang penuh iman dan ketundukan kepada Allah.

Nabi ﷺ Mengajarkan Agar Kita Tidak Menilai Manusia dari Penampilan

Ada seorang lelaki yang lewat di hadapan Nabi ﷺ. Beliau bertanya kepada salah seorang yang duduk di dekatnya:

مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا؟

“Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?”

Ia menjawab bahwa lelaki tersebut termasuk orang terpandang. Jika melamar, tentu akan diterima. Jika memberikan syafaat, tentu akan diterima. Jika berbicara, tentu perkataannya akan didengar.

Kemudian lewat lelaki lain. Lelaki itu berasal dari kalangan kaum muslimin yang miskin. Ketika ditanya tentangnya, orang tersebut mengatakan bahwa jika ia melamar, mungkin tidak akan diterima. Jika memberikan syafaat, mungkin tidak diterima. Jika berbicara, mungkin tidak akan didengar.

Maka Nabi ﷺ bersabda:

هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلَ هَذَا

“Orang ini lebih baik daripada sepenuh bumi orang yang tadi.” (HR. Bukhari, no. 5091)

Inilah perbedaan antara ukuran manusia dan ukuran Allah. Manusia melihat siapa yang punya pengaruh. Allah melihat siapa yang punya ketakwaan. Manusia melihat penampilan. Allah melihat hati dan amal. Manusia melihat apa yang tampak. Allah mengetahui apa yang tersembunyi. Pada Hari Kiamat, Ukuran Manusia Akan Berubah

Muhammad bin Ka‘ab Al-Qurazhi rahimahullah ketika menjelaskan firman Allah:

خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ

“Yang merendahkan dan meninggikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 3)

Beliau mengatakan:

تَخْفِضُ رِجَالًا كَانُوا فِي الدُّنْيَا مُرْتَفِعِينَ، وَتَرْفَعُ رِجَالًا كَانُوا فِي الدُّنْيَا مَخْفُوضِينَ

“Pada hari itu, ia merendahkan orang-orang yang dahulu tinggi kedudukannya di dunia, dan meninggikan orang-orang yang dahulu dipandang rendah di dunia.” (Lihat: Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hlm. 727)

Betapa banyak manusia yang dahulu berada di atas, kemudian menjadi rendah. Dan betapa banyak yang dahulu tidak dipandang, justru diangkat oleh Allah. Maka jangan terlalu kagum kepada orang yang dunia angkat. Dan jangan terlalu meremehkan orang yang dunia rendahkan. Sebab kedudukan seseorang yang sebenarnya baru akan terlihat ketika semua ukuran dunia runtuh.

Bisa jadi, seseorang yang tidak pernah kita anggap penting, justru jauh lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang selama ini kita kagumi.

Dan bisa jadi, orang yang selama ini kita pandang rendah, kelak menjadi salah satu orang yang paling tinggi kedudukannya di surga. Karena itu, jangan sibuk mencari siapa yang paling tinggi di mata manusia. Sibukkan diri agar menjadi orang yang tinggi di sisi Allah. Sebab ukuran kemuliaan itu sederhana:

التَّقْوَى هَاهُنَا

“Takwa itu ada di hati.”

Wallahu a’lam.

Tim Shahihfiqih, 22 September 2026 M / 9 Rabi’ul Akhir 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *