Pertanyaan :
Apakah Masuk Akal Jika Alam Ini Diciptakan Sia-sia? Tadabbur Surah Shad Ayat 27
Jawaban :
Orang Beriman Bertambah Iman dengan Bertafakur
Di antara karunia Allah kepada orang beriman adalah kemampuan untuk menambah keimanan bukan hanya dengan mentadaburi ayat-ayat-Nya, tetapi juga dengan merenungi ciptaan-Nya.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Ali Imran: 190–191)
Perhatikan bagaimana tafakur yang benar mengantarkan seseorang kepada kesimpulan yang agung. Ketika menyaksikan keteraturan dan kesempurnaan ciptaan Allah, orang beriman menyadari bahwa semua ini tidak mungkin diciptakan tanpa tujuan.
Langit yang begitu luas, bumi yang terhampar, pergantian malam dan siang, serta berbagai makhluk dengan hikmah penciptaannya, semuanya menunjukkan kebesaran dan kesempurnaan Allah.
Maka, terucaplah dari lisan mereka:
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
Mereka memahami bahwa Allah tidak menciptakan makhluk tanpa hikmah. Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, mengenal-Nya melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk-Nya. Kelak, mereka akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.
Inilah buah tafakur yang bermanfaat: semakin seseorang mengenali ciptaan Allah, semakin bertambah pengagungannya kepada Sang Pencipta dan kesadarannya akan tujuan hidup.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata:
إِنِّي لَأَخْرُجُ مِنْ مَنْزِلِي، فَمَا يَقَعُ بَصَرِي عَلَى شَيْءٍ إِلَّا رَأَيْتُ لِلَّهِ عَلَيَّ فِيهِ نِعْمَةً، أَوْ لِي فِيهِ عِبْرَةٌ.
“Sungguh, aku keluar dari rumahku. Tidaklah pandanganku tertuju kepada sesuatu melainkan aku melihat padanya nikmat Allah atas diriku atau pelajaran yang dapat kuambil darinya.” (Lihat: Tafsir Ibni Katsir 2/486)
Wahb bin Munabbih juga berkata:
مَا طَالَتْ فِكْرَةُ امْرِئٍ قَطُّ إِلَّا فَهِمَ، وَمَا فَهِمَ امْرُؤٌ قَطُّ إِلَّا عَلِمَ، وَمَا عَلِمَ امْرُؤٌ قَطُّ إِلَّا عَمِلَ.
“Tidaklah seseorang memperpanjang tafakurnya melainkan ia akan memahami. Tidaklah seseorang memahami melainkan ia akan mengetahui. Dan tidaklah seseorang mengetahui melainkan ia akan mengamalkan.” (Lihat: Tafsir Ibni Katsir 2/487)
Umar bin Abdul Aziz berkata:
الْكَلَامُ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ، وَالْفِكْرَةُ فِي نِعَمِ اللَّهِ أَفْضَلُ الْعِبَادَةِ.
“Berbicara dengan menyebut Allah عز وجل adalah kebaikan, sedangkan memikirkan nikmat-nikmat Allah merupakan ibadah yang paling utama.” (Lihat: Tafsir Ibni Katsir 2/487)
Orang Kafir Menganggap Kehidupan Tidak Memiliki Tujuan
Berbeda dengan orang beriman yang memahami hikmah penciptaan, orang yang mengingkari Allah dan hari akhir memiliki pandangan yang bertolak belakang.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ
“Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itulah anggapan orang-orang yang kafir. Maka, celakalah orang-orang yang kafir karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27)
Menganggap alam semesta diciptakan tanpa tujuan bukan sekadar kekeliruan dalam memahami alam. Anggapan ini juga berkaitan dengan pengingkaran terhadap kebangkitan dan pertanggungjawaban atas amal perbuatan.
Sebab, jika manusia dibiarkan hidup tanpa akan dihisab, apakah masuk akal orang zalim bebas menindas sesuka hatinya, sementara orang lemah yang dirampas haknya tidak pernah memperoleh keadilan?
Apakah orang yang menghabiskan hidupnya dalam ketaatan akan disamakan dengan orang yang bergelimang kemaksiatan?
Tentu tidak. Hal itu tidak sesuai dengan hikmah dan keadilan Allah.
Oleh karenanya Allah berfirman pada ayat selanjutnya:
أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ
“Apakah pantas Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau, apakah pantas Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat?” (QS. Shad: 28)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan:
هَٰذَا غَيْرُ لَائِقٍ بِحِكْمَتِنَا وَحُكْمِنَا
“Hal ini tidak sesuai dengan hikmah dan keputusan hukum Kami.” (Lihat: Taisirul Karim al-Mannan, hlm. 713)
Allah Mahabijaksana dan Mahaadil. Karena itu, kehidupan dunia bukanlah akhir dari segalanya. Ada hari ketika setiap manusia menerima balasan yang pantas atas perbuatannya.
Mengapa Ada Orang yang Mengingkari Hari Kebangkitan?
Salah satu sebab yang disebutkan Al-Qur’an adalah keinginan manusia untuk terus mengikuti hawa nafsunya tanpa merasa akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah berfirman:
لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ
“Aku bersumpah demi hari Kiamat. Dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang-belulangnya? Bahkan, Kami mampu menyusun kembali ujung jari-jemarinya dengan sempurna. Tetapi, manusia hendak terus berbuat durhaka sepanjang hidupnya.” (QS. Al-Qiyamah: 1–5)
Perhatikan firman Allah:
بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ
“Tetapi (alasan manusia mengingkari hari kiamat adalah karena), manusia hendak terus berbuat durhaka sepanjang hidupnya.”
Ayat ini menyingkap salah satu dorongan di balik pengingkaran terhadap hari kebangkitan. Ada manusia yang tidak ingin menerima konsekuensi dari perbuatannya. Ia ingin terus menuruti hawa nafsu, melakukan apa yang disukainya, dan tidak dibatasi oleh perintah maupun larangan Allah.
Karena itulah, keyakinan terhadap hari akhir memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan seseorang. Orang yang benar-benar meyakini bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Ia sadar bahwa tidak ada kezaliman yang luput dari pengetahuan Allah dan tidak ada amal yang sia-sia di sisi-Nya.
Jangan Sampai Kita Hidup Seolah-olah Tanpa Tujuan
Allah berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ
“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa tujuan) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya.” (QS. Al-Mu’minun: 115–116)
Kita tidak diciptakan untuk sekadar makan, bekerja, mengumpulkan harta, menikmati kesenangan, lalu meninggalkan dunia tanpa pertanggungjawaban.
Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan akan kembali kepada-Nya. Setiap nikmat akan ditanya, setiap amanah akan dipertanggungjawabkan, dan setiap kezaliman akan mendapatkan keadilan-Nya.
Maka, marilah kita memperbanyak tafakur terhadap ciptaan Allah, memperkuat keyakinan terhadap hari akhir, dan memperbaiki amal sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi bermanfaat.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya, mengenali hikmah penciptaan, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.
Tim Shahihfiqih, 5 Oktober 2026 M / 22 Rabi’ul Akhir 1448 H



