Apa Tafsir Surah Al-Mujadilah Ayat 10?

Jawaban :

Sebelum membahas Surah Al-Mujadilah ayat 10, kita perlu melihat sekilas ayat-ayat sebelumnya agar pesan ayat ini lebih mudah dipahami. Sebab, ayat ke-10 berbicara tentang kebiasaan berbisik-bisik yang dapat membuat orang beriman bersedih, serta bagaimana seharusnya seorang mukmin menyikapinya.

Larangan Berbisik-bisik dalam Keburukan

Dalam ayat ke-7, Allah menjelaskan bahwa Dia mengetahui segala sesuatu, termasuk pembicaraan rahasia yang dilakukan manusia. Tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.

Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadalah: 7)

Kemudian, pada ayat ke-8, Allah menegur orang-orang yang telah dilarang melakukan najwa (pembicaraan rahasia), tetapi mereka tetap mengulanginya. Mereka berbisik-bisik dalam dosa, permusuhan, dan kedurhakaan kepada Rasulullah ﷺ.

Di antara perilaku mereka adalah berbisik-bisik ketika melihat orang beriman, sehingga orang yang melihatnya menyangka bahwa mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk. Akibatnya, orang beriman merasa khawatir dan bersedih.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَىٰ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ ۚ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا ۖ فَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali melakukan apa yang telah dilarang kepada mereka? Mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan cara yang tidak ditetapkan Allah untukmu. Mereka mengatakan dalam hati, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Maka, itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Mujadalah: 8)

Mujahid rahimahullah berkata, “Mereka (yang dimaksud pada ayat 8) adalah orang-orang Yahudi.”

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Muqatil bin Hayyan. Ia menambahkan: “Dahulu, antara Nabi ﷺ dan orang-orang Yahudi terdapat perjanjian damai. Ketika salah seorang sahabat Nabi ﷺ melewati mereka, mereka duduk berbisik-bisik satu sama lain. Akibatnya, orang beriman mengira bahwa mereka sedang berbisik-bisik untuk merencanakan pembunuhannya atau sesuatu yang tidak disukai oleh orang beriman.
Ketika melihat hal itu, orang beriman merasa takut kepada mereka, lalu memilih meninggalkan jalan yang melewati mereka.

Nabi ﷺ pun melarang mereka melakukan bisik-bisik tersebut, tetapi mereka tidak berhenti. Mereka kembali melakukan bisik-bisik itu. Maka, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَىٰ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ

‘Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali melakukan apa yang telah dilarang kepada mereka?’” (QS. Al-Mujadilah: 8) (Lihat: Tafsir Ibni Katsir 7/202)

Karena itu, dalam ayat ke-9, Allah memerintahkan kaum mukmin agar tidak meniru perilaku tersebut. Jika mereka berbicara secara rahasia, hendaknya pembicaraan itu berisi kebaikan dan ketakwaan, bukan dosa dan permusuhan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ۝٩

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan, dan kedurhakaan kepada Rasul. Tetapi, bicarakanlah tentang kebajikan dan ketakwaan. Bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Mujadalah: 9)

Lalu, Allah menjelaskan hakikat di balik perilaku tersebut dalam ayat ke-10, dan ini yang ditanayakan oleh penanya:

Setan Ingin Membuat Orang Beriman Bersedih

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu berasal dari setan, agar orang-orang yang beriman bersedih hati. Namun, hal itu tidak akan membahayakan mereka sedikit pun, kecuali dengan izin Allah. Dan hendaklah orang-orang yang beriman bertawakal hanya kepada Allah.” (QS. Al-Mujadilah: 10)

Allah menjelaskan bahwa bisik-bisik yang bertujuan menimbulkan ketakutan dan kesedihan di hati kaum mukmin merupakan bagian dari tipu daya setan. Setan ingin merusak ketenangan mereka melalui perilaku orang-orang yang bersekongkol dalam keburukan.

Bayangkan ketika seseorang melihat beberapa orang berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya. Ia mulai bertanya-tanya: Apakah mereka sedang membicarakanku? Apakah mereka merencanakan sesuatu yang buruk? Pikiran itu terus berputar hingga hatinya dipenuhi kegelisahan, padahal ia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Tentu, tidak semua pembicaraan rahasia tercela. Namun, ketika bisik-bisik sengaja dilakukan untuk menakut-nakuti, menyakiti, atau membuat orang lain bersedih, perilaku tersebut menjadi sarana bagi setan untuk mengganggu ketenangan hati orang beriman.

Inilah salah satu cara setan menimbulkan kesedihan: membuat seseorang sibuk memikirkan keburukan yang mungkin direncanakan orang lain, hingga ketenangan hatinya terganggu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً، فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ، حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ

“Jika kalian bertiga, maka janganlah berbisik-bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian bergaul dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih.” (HR. Bukhari, no. 6290, Muslim, no. 2184)

Jangan Biarkan Makar Manusia Menguasai Hati

Allah kemudian berfirman:

وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Namun, hal itu tidak akan membahayakan mereka sedikit pun, kecuali dengan izin Allah.”

Inilah penghiburan bagi orang-orang beriman. Sebesar apa pun tipu daya manusia, mereka tidak dapat mendatangkan bahaya di luar izin dan ketetapan Allah.

Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan. Tidak ada rencana yang luput dari pengetahuan-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar kekuasaan-Nya.

Karena itu, seorang mukmin tidak semestinya membiarkan dugaan tentang makar manusia menguasai hatinya. Ia boleh berhati-hati, berusaha melindungi diri, dan menempuh sebab-sebab yang dibenarkan. Namun, ia tidak perlu terus-menerus hidup dalam ketakutan seolah-olah segala sesuatu berada di tangan manusia.

Manusia tidak memiliki kekuasaan mutlak untuk mendatangkan manfaat atau bahaya. Semuanya berada di bawah kehendak dan ketetapan Allah.

Kesadaran ini bukan berarti seorang mukmin pasti terhindar dari segala kesulitan. Terkadang, Allah mengizinkan suatu keburukan menimpanya sebagai bagian dari takdir-Nya. Namun, tidak ada sesuatu pun yang dapat menimpanya di luar izin Allah. Karena itu, ia tidak boleh membiarkan ketakutan terhadap manusia mengalahkan keyakinannya kepada Allah.

Kemudian Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya:

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Dan hendaklah orang-orang yang beriman bertawakal hanya kepada Allah.”

Inilah sikap yang semestinya dimiliki seorang mukmin ketika menghadapi tipu daya, bisik-bisik, dan perilaku manusia yang menyakitkan.

Ia tidak menggantungkan ketenangan hatinya pada penilaian manusia. Ia juga tidak harus mengetahui setiap rahasia yang mereka sembunyikan. Sebaliknya, ia menguatkan tawakalnya kepada Allah, meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, dan menyerahkan urusannya kepada Zat yang menguasai segala sesuatu.

Bertawakal bukan berarti tidak berhati-hati atau mengabaikan sebab-sebab yang dapat melindungi diri. Bertawakal berarti melakukan apa yang semestinya dilakukan, sembari menyandarkan hati kepada Allah dan meyakini bahwa hasil akhirnya berada di tangan-Nya.

Maka, ketika kita menghadapi orang-orang yang berbisik-bisik, merencanakan keburukan, atau berusaha membuat kita bersedih, jangan sampai perhatian kita hanya tertuju kepada makar mereka. Ingatlah bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan, sedangkan kita tidak harus mengetahui segala sesuatu yang mereka rahasiakan.

Jangan biarkan tipu daya manusia merampas ketenangan hati yang semestinya kita gantungkan kepada Allah. Berhati-hatilah tanpa larut dalam prasangka, berusahalah tanpa tenggelam dalam ketakutan, dan bertawakallah kepada-Nya.

Sebab, orang beriman tidak mendapatkan ketenangan dengan memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang berniat buruk kepadanya. Ia mendapatkan ketenangan dengan meyakini bahwa Allah selalu mengetahui keadaannya dan bahwa segala urusan berada di bawah kekuasaan-Nya.

Wallahu a’lam.

(Tafsir ayat 10 dikembangkan dari: Taisirul Karim al-Mannan, hlm. 846)

Tim Shahihfiqih, 5 Oktober 2026 M / 22 Rabi’ul Akhir 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *