Lupa yang Terpuji

Tidak semua kesalahan orang lain harus ditegur, dan tidak semua kekurangan yang kita lihat perlu diungkapkan. Terkadang, sikap terbaik justru berpura-pura tidak melihatnya, atau melupakannya, demi menjaga perasaan dan kehormatan saudara kita.

1. Berpura-pura Tidak Melihat Kesalahan

Adakalanya kita melihat seseorang melakukan kekeliruan yang tidak mengharuskan kita menegurnya menurut syariat. Dalam keadaan seperti ini, salah satu bentuk akhlak yang mulia adalah Taghaful, yaitu bersikap seolah-olah tidak melihat kesalahan tersebut.

Tujuannya agar orang itu tidak merasa canggung atau malu, sekaligus memberinya kesempatan untuk menjaga kehormatan dirinya tanpa harus mencari-cari alasan untuk membela diri.

Bahkan, sikap pura-pura tidak melihat kesalahan ini lebih tinggi daripada menyembunyikan kesalahan yang kita ketahui, tetapi tetap memperlihatkan bahwa kita mengetahuinya.

Abu Ali Ad-Daqqaq rahimahullah menceritakan bahwa seorang perempuan pernah datang untuk bertanya kepada Hatim Al-Asham tentang suatu masalah. Ketika sedang berbicara, tanpa sengaja perempuan itu mengeluarkan suara kentut, sehingga ia merasa sangat malu.

Hatim lalu berkata:

ارْفَعِي صَوْتَكِ

“Keraskan suaramu!”

Beliau berpura-pura tuli agar perempuan itu mengira bahwa beliau tidak mendengar suara tersebut. Perempuan itu pun merasa lega karena mengira bahwa suara tadi tidak terdengar oleh Hatim.

Sejak peristiwa itu, beliau dijuluki Hatim Al-Asham, yang berarti Hatim si Tuli. (Lihat: ar-Risalah al-Qusyairiyyah, hlm. 136)

Sikap seperti inilah salah satu bentuk kemuliaan jiwa dan keluhuran akhlak.

2. Melupakan Keburukan Orang Lain

Bentuk lainnya adalah melupakan keburukan yang pernah dilakukan orang lain terhadap kita. Kita berusaha membersihkan hati dari rasa sakit hati, sehingga hubungan dengannya tetap baik dan kita tidak merasa asing atau canggung ketika berinteraksi dengannya.

Bukan berarti membenarkan kezaliman atau membiarkan kemungkaran terus berlangsung. Akan tetapi, kita tidak terus-menerus menyimpan luka dan mengungkit kesalahan yang telah berlalu, terutama ketika memaafkan lebih membawa kebaikan.

Hati yang terus mengingat keburukan orang lain akan sulit merasakan ketenangan. Sebaliknya, ketika seseorang berusaha memaafkan dan melepaskan dendam, hatinya menjadi lebih lapang.

3. Melupakan Kebaikan yang Pernah Kita Berikan

Ada satu bentuk lupa yang bahkan lebih sempurna, yaitu melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, seolah-olah kita tidak pernah melakukannya.

Ketika kita membantu seseorang, jangan terus-menerus mengingat jasanya kepada kita sendiri. Jangan menjadikan pemberian itu sebagai alasan untuk merasa lebih mulia, menuntut balasan, atau mengungkit-ungkit kebaikan di kemudian hari.

Biarlah kebaikan itu menjadi amal yang kita harapkan pahalanya dari Allah, bukan sesuatu yang terus kita simpan untuk meninggikan diri di hadapan manusia.

Sahl bin Harun berkata:

يَنْسَى صَنَائِعَهُ وَاللَّهُ يُظْهِرُهَا •• إِنَّ الْجَمِيلَ إِذَا أَخْفَيْتَهُ ظَهَرَا

“Ia melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya, sementara Allah menampakkannya. Sesungguhnya, kebaikan yang engkau sembunyikan pun pada akhirnya dapat terlihat.” (Lihat: Adab ad-Dunya wa ad-Din, hlm. 327)

Wallahu a’lam.

(Dikembangkan dari Madarij as-Salikin fii Manazil as-Sa’irin 3/93-94)

Tim Shahihfiqih, 26 Oktober 2026 M / 14 Jumadal Ula 1448 H

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *