Madinah Dikepung Ahzab, Allah Kirim Angin dan Pasukan Tak Terlihat

Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du.

Ada masa ketika pertolongan Allah datang bukan dalam bentuk sesuatu yang dapat kita lihat, bukan pula dengan kekuatan manusia yang besar. Seringkali Allah menolong hamba-hamba-Nya melalui sesuatu yang tampak sederhana, tetapi dampaknya begitu besar. Salah satu kisahnya terjadi dalam Perang Ahzab, ketika Madinah dikepung oleh pasukan sekutu yang datang untuk menghancurkan kaum muslimin.

Allah kemudian mengabadikan peristiwa tersebut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا ۖ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika pasukan-pasukan datang kepada kalian, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin dan pasukan-pasukan yang tidak dapat kalian lihat. Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9).

Ketika Madinah Dikepung Dari Berbagai Arah

Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq atau Perang Ahzab. Disebut Ahzab karena kaum muslimin menghadapi berbagai kelompok yang bersekutu untuk menyerang Madinah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

وَذَلِكَ عَامُ الْخَنْدَقِ، وَذَلِكَ فِي شَوَّالَ سَنَةَ خَمْسٍ مِنَ الْهِجْرَةِ عَلَى الصَّحِيحِ الْمَشْهُورِ

“Itu adalah tahun terjadinya Perang Khandaq, yaitu pada bulan Syawwal tahun kelima hijriyah menurut pendapat yang shahih dan masyhur.”

Kemudian beliau menjelaskan:

فَلَمَّا سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِمَسِيرِهِمْ أَمَرَ الْمُسْلِمِينَ بِحَفْرِ الْخَنْدَقِ حَوْلَ الْمَدِينَةِ مِمَّا يَلِي الشَّرْقَ، وَذَلِكَ بِإِشَارَةِ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ، فَعَمِلَ الْمُسْلِمُونَ فِيهِ وَاجْتَهَدُوا، وَنَقَلَ مَعَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ التُّرَابَ وَحَفَرَ

“Ketika Rasulullah ﷺ mendengar keberangkatan mereka, beliau memerintahkan kaum muslimin untuk menggali parit di sekitar Madinah, pada bagian sebelah timur. Hal itu berdasarkan saran Salman Al-Farisi. Kaum muslimin pun bekerja keras menggali parit tersebut, dan Rasulullah ﷺ turut bersama mereka mengangkut tanah dan menggali.”(Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Ahzab: 9). 

Jadi, yakin akan pertolongan Allah tidak berarti kaum mukminin meninggalkan usaha, mereka menggali khandaq, berjaga-berjaga, menghadapi rasa lapar, takut, dan dingin. Bahkan Allah menggambarkan keadaan mereka:

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا ۝ هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا

“Ketika mereka datang kepada kalian dari atas kalian dan dari bawah kalian, ketika pandangan mata berbalik dan (seakan-akan) hati sampai ke tenggorokan, dan kalian menyangka terhadap Allah dengan berbagai prasangka.(10) Pada saat itu orang-orang mukmin diuji dan diguncang dengan guncangan yang dahsyat.(11)” (QS. Al-Ahzab: 10–11).

Perhatikan ungkapan al-qur’an: “diuji dan diguncang dengan guncangan yang dahsyat.”Orang yang beriman bukan berarti tidak pernah takut, mereka bisa takut, lapar, bisa merasa terdesak. Tetapi ujian tersebut tidak menjadikan mereka meninggalkan iman kepada Allah.

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan kisah ini dalam tafsirnya:

يَذْكُرُ تَعَالَى عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ نِعْمَتَهُ عَلَيْهِمْ، وَيَحُثُّهُمْ عَلَى شُكْرِهَا، حِينَ جَاءَتْهُمْ جُنُودُ أَهْلِ مَكَّةَ وَالْحِجَازِ، مِنْ فَوْقِهِمْ، وَأَهْلُ نَجْدٍ، مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ، وَتَعَاقَدُوا وَتَعَاهَدُوا عَلَى اسْتِئْصَالِ الرَّسُولِ وَالصَّحَابَةِ، وَذَلِكَ فِي وَقْعَةِ الْخَنْدَقِ. وَمَالَأَتْهُمْ طَوَائِفُ الْيَهُودِ، الَّذِينَ حَوْلَ الْمَدِينَةِ، فَجَاءُوا بِجُنُودٍ عَظِيمَةٍ وَأُمَمٍ كَثِيرَةٍ. وَخَنْدَقَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى الْمَدِينَةِ، فَحَصَرُوا الْمَدِينَةَ، وَاشْتَدَّ الْأَمْرُ، وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ، حَتَّى بَلَغَ الظَّنُّ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ كُلَّ مَبْلَغٍ، لِمَا رَأَوْا مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُسْتَحْكِمَةِ، وَالشَّدَائِدِ الشَّدِيدَةِ، فَلَمْ يَزَلِ الْحِصَارُ عَلَى الْمَدِينَةِ مُدَّةً طَوِيلَةً، وَالْأَمْرُ كَمَا وَصَفَ اللَّهُ: ((وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَاْ)) أَيْ: الظُّنُونَ السَّيِّئَةَ، أَنَّ اللَّهَ لَا يَنْصُرُ دِينَهُ، وَلَا يُتِمُّ كَلِمَتَهُ

“Allah Ta’ala mengingatkan para hamba-Nya yang beriman tentang nikmat-Nya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya. Yaitu ketika pasukan dari penduduk Makkah dan Hijaz datang menyerang mereka dari arah lembah yang lebih tinggi (arah Selatan Madinah), sedangkan pasukan dari Najd datang dari arah lembah yang lebih rendah (arah Timur Madinah). Mereka telah membuat perjanjian dan kesepakatan untuk menumpas Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Peristiwa itu terjadi dalam Perang Khandaq. Mereka juga mendapatkan dukungan dari sejumlah kelompok Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah. Maka datanglah pasukan yang sangat besar dan berbagai kelompok dengan jumlah yang banyak. Rasulullah ﷺ kemudian membuat parit di sekitar Madinah. Pasukan musuh pun mengepung Madinah. Keadaan menjadi semakin berat, hati terasa sampai ke tenggorokan karena ketakutan, hingga prasangka banyak orang mencapai tingkat yang sangat berat karena mereka melihat berbagai sebab bahaya yang begitu kuat dan kesulitan yang sangat dahsyat. Pengepungan Madinah berlangsung dalam waktu yang cukup lama, dan keadaan benar-benar seperti yang Allah gambarkan: “Ketika pandangan mata berbalik dan (seakan-akan) hati sampai ke tenggorokan, dan kalian menyangka terhadap Allah dengan berbagai prasangka.” Yaitu prasangka-prasangka buruk, bahwa Allah tidak akan menolong agama-Nya dan tidak akan menyempurnakan kalimat-Nya.” (Tafsir as-Sa’di, QS. al-Ahzab: 9-10).

Terkait potongan ayat “وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا”, Imam Ath-Thabari rahimahullah menukilkan tafsir dari Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah yang melengkapi tafsir di atas:

ظُنُونًا مُخْتَلِفَةً ظَنَّ الْمُنَافِقُونَ أَنَّ مُحَمَّدًا وَأَصْحَابَهُ يُسْتَأْصَلُونَ، وَأَيْقَنَ الْمُؤْمِنُونَ أَنَّ مَا وَعَدَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ حَقٌّ

“Prasangka yang berbeda-beda. Orang-orang munafik menyangka bahwa Muhammad dan para sahabatnya akan ditumpas, sedangkan orang-orang beriman meyakini bahwa apa yang Allah dan Rasul-Nya janjikan adalah benar.” (Tafsir Ath-Thabari, QS. Al-Ahzab: 10).

Dari sini kita belajar bahwa ujian yang sangat berat dapat menyingkap isi hati manusia. Ketika kaum muslimin secara umum merasa terdesak dan ketakutan, sebagian mereka yang imannya bermasalah akan berprasangka buruk kepada Allah, sedangkan orang yang imannya benar, tetap meyakini bahwa janji Allah dan Rasul-Nya pasti benar.

Justru Ketika Keadaan Semakin Genting, Pertolongan Allah Datang

Ketika pasukan Ahzab berada di sekitar Madinah, Allah mengirimkan angin yang sangat kuat. Imam Ath-Thabari rahimahullah menukilkan riwayat dari Imam Mujahid rahimahullah, beliau berkata:

رِيحُ الصَّبَا أُرْسِلَتْ عَلَى الْأَحْزَابِ يَوْمَ الْخَنْدَقِ، حَتَّى كَفَأَتْ قُدُورَهُمْ عَلَى أَفْوَاهِهَا، وَنَزَعَتْ فُسَاطِيطَهُمْ حَتَّى أَظْعَنَتْهُمْ

“Angin Ash-shaba’ dikirimkan kepada pasukan Ahzab pada hari Khandaq, hingga angin itu membalikkan periuk-periuk mereka dan mencabut kemah-kemah mereka sehingga mereka pun pergi.” (Tafsir Ath-Thabari, QS. al-Ahzab: 9).

Dalam sebuah hadits shahih, Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

لَقَدْ رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لَيْلَةَ الْأَحْزَابِ وَأَخَذَتْنَا رِيحٌ شَدِيدَةٌ وَقُرٌّ

“Sungguh, aku melihat kami bersama Rasulullah ﷺ pada malam Perang Ahzab, dan kami diterpa angin yang sangat kuat dan hawa dingin yang sangat menusuk.” (HR. Muslim, no. 1788).

Kemudian Rasulullah ﷺ meminta seorang sahabat pergi mencari informasi tentang keadaan musuh. Tidak ada yang langsung menyanggupi karena kondisi yang sangat berat. Kemudian Nabi ﷺ memanggil Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu dan memerintahkannya untuk pergi. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu pun akhirnya masuk ke tengah pasukan musuh dan mendapatkan informasi tentang keadaan mereka. Ia melihat Abu Sufyan sedang menghangatkan tubuhnya di dekat api. Setelah itu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu kembali dan menyampaikan berita tersebut kepada Rasulullah ﷺ.(lihat: HR. Muslim no. 1788).

Riwayat ini menunjukkan betapa berat kondisi malam itu. Bukan sekadar cerita tentang angin, akan tetapi di sana ada rasa takut, dingin, lapar, dan ketegangan yang benar-benar dialami manusia. Namun di saat seperti itulah Allah menunjukkan pertolongan-Nya.

Allah Tidak Hanya Mengirim Angin

Allah berfirman:

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا

“Lalu Kami kirimkan kepada mereka angin dan pasukan-pasukan yang tidak dapat kalian lihat.” (QS. Al-Ahzab: 9).

Lafaz وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا  berarti “pasukan-pasukan yang tidak kalian lihat”. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pasukan tersebut adalah para malaikat.

Imam Ath-Thabari rahimahullah menukil dari Imam Qatadah rahimahullah :

يَعْنِي الْمَلَائِكَةَ

“Ia mengatakan: yang dimaksud adalah para malaikat.” (Tafsir Ath-Thabari, QS. al-Ahzab: 9).

Beliau juga menukil dari Imam Mujahid rahimahulllah:

الْمَلَائِكَةُ وَلَمْ تُقَاتِلْ يَوْمَئِذٍ

“Para malaikat, dan mereka tidak berperang pada hari itu.” (Tafsir Ath-Thabari, QS. al-Ahzab: 9).

Maka, pertolongan Allah kepada kaum mukminin pada saat itu datang melalui dua perkara yang disebutkan secara jelas dalam ayat, angin yang dapat dirasakan manusia, dan pasukan yang tidak dapat mereka lihat.

Musuh Akhirnya Pergi Tanpa Mendapatkan Apa Yang Mereka Inginkan

Setelah mengalami kondisi yang berat, pasukan Ahzab akhirnya mundur. Allah berfirman:

وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا

“Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu dalam keadaan penuh kejengkelan; mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:

وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ بِمَا صَنَعَ لَهُمْ مِنَ الْأَسْبَابِ الْعَادِيَةِ وَالْقَدَرِيَّةِ

“Allah menghindarkan kaum mukminin dari peperangan melalui berbagai sebab yang Allah persiapkan bagi mereka, baik sebab yang biasa maupun sebab yang bersifat takdir.” (Tafsir As-Sa’di, QS. al-Ahzab: 25).

Rasulullah ﷺ Juga Berdoa Kepada Allah

Di tengah keadaan tersebut, Nabi ﷺ tidak hanya mengambil sebab secara fisik. Beliau juga berdoa kepada Allah. Dalam hadits Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ berdoa:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، سَرِيعَ الْحِسَابِ، اللَّهُمَّ اهْزِمِ الْأَحْزَابَ، اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

“Ya Allah, Dzat yang menurunkan kitab dan yang Mahacepat hisabnya. Ya Allah, kalahkanlah pasukan-pasukan Ahzab. Ya Allah, kalahkanlah mereka dan guncangkanlah mereka.” (HR. Bukhari no. 2933).

Di sini kita melihat teladan yang sangat indah. Dimana usaha dan doa tidak ditinggalkan.

Kaum muslimin menggali parit, berjaga dan menghadapi musuh. Pada saat yang sama, mereka menggantungkan hati kepada Allah.

Kaum Mukminin Memahami Bahwa Janji Allah Itu Pasti Benar

Allah kemudian menggambarkan sikap orang-orang beriman:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan Ahzab, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan hal itu tidak menambah mereka kecuali iman dan kepasrahan.” (QS. Al-Ahzab: 22).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:

لَمَّا ذَكَرَ حَالَةَ الْمُنَافِقِينَ عِنْدَ الْخَوْفِ، ذَكَرَ حَالَ الْمُؤْمِنِينَ، فَقَالَ ((وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ)) الَّذِينَ تَحَزَّبُوا، وَنَزَلُوا مَنَازِلَهُمْ، وَانْتَهَى الْخَوْفُ،{قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ} فِي قَوْلِهِ ((أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ)).((وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ)) فَإِنَّا رَأَيْنَا، مَا أَخْبَرَنَا بِهِ، ((وَمَا زَادَهُمْ)) ذَلِكَ الْأَمْرُ ((إِلَّا إِيمَانًا)) فِي قُلُوبِهِمْ، ((وَتَسْلِيمًا)) فِي جَوَارِحِهِمْ، وَانْقِيَادًا لِأَمْرِ اللَّهِ

“Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik ketika menghadapi ketakutan, Allah kemudian menyebutkan keadaan orang-orang beriman. Allah berfirman: “Dan ketika orang-orang yang beriman melihat pasukan-pasukan Ahzab,’ yaitu pasukan-pasukan yang telah bersekutu dan menempati posisi mereka, dan ketika ketakutan telah mencapai puncaknya, ‘mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita,” sebagaimana firman-Nya, “Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan, dan diguncangkan dengan berbagai ujian, hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” “Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Maksudnya, apa yang Allah dan Rasul-Nya kabarkan benar-benar kami saksikan terjadi. Dan keadaan tersebut tidak menambah mereka kecuali keimanan dalam hati mereka, dan ketundukan pada anggota tubuh mereka, serta kepatuhan terhadap perintah Allah.” (Tafsir As-Sa’di, QS. Al-Ahzab: 22).

Ujian yang berat tidak selalu melemahkan orang beriman. Justru bagi mereka yang yakin kepada janji Allah, ujian dapat semakin menguatkan iman, ketundukan, dan kepatuhan kepada-Nya.

Penutup

Ada saatnya kita melihat masalah seperti sebuah pasukan besar yang mengepung dari segala arah. Jalan keluar seolah tidak terlihat, kemampuan terasa kecil, kekuatan terasa tidak sebanding.

Namun kisah Pasukan Ahzab mengajarkan bahwa keterbatasan manusia tidak berarti keterbatasan pertolongan Allah. Kaum mukminin hanya melihat pasukan musuh, namun Allah melihat sesuatu yang tidak mereka lihat. Mereka melihat angin, Allah mengendalikan angin. Mereka tidak melihat para malaikat, Allah mengirimkan pasukan-Nya yang tidak mereka lihat. Dan pada akhirnya, Allah berfirman:

وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا

“Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 22).

Ketika kita telah melakukan apa yang mampu kita lakukan, jangan lupa bahwa pertolongan yang paling menentukan tetap datang dari Allah. Wallahu a’lamu bishshawab.

Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil’alamin.

Tim Shahihfiqih, 20 Rabi’uts Tsani 1448 H/ 1 Oktober 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *