Banyak orang berusaha mendapatkan simpati dan loyalitas manusia dengan iming-iming dunia. Ada yang mengandalkan uang, jabatan, hadiah, relasi, dan berbagai keuntungan lainnya. Selama semua itu masih mengalir, hubungan tampak akrab dan loyalitas seolah begitu kuat.
Namun, apa yang terjadi ketika pemberian itu berhenti? Ketika jabatan tak lagi di tangan, keuntungan tak lagi didapatkan, atau materi tak lagi bisa dibagikan, tidak sedikit hubungan yang ikut merenggang. Ternyata, yang dicari bukan semata-mata diri kita, melainkan apa yang bisa mereka dapatkan dari kita.
Islam mengajarkan cara lain untuk meraih simpati manusia. Tidak harus dengan menghamburkan harta, mentraktir ke sana kemari, atau memenuhi semua keinginan orang. Ada akhlak mulia yang bisa membuat seseorang dicintai, bahkan tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:
إِنَّكُمْ لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
“Kalian tidak akan mampu menjangkau semua manusia dengan harta kalian. Akan tetapi, kalian dapat menjangkau mereka dengan wajah yang berseri dan akhlak yang baik.” (HR. Al-Bazzar, no. 8544; hasan).
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah menjelaskan bahwa sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang, ia tidak akan mampu mencukupi semua orang dengan pemberiannya. Betapa pun besar kedermawanannya, tidak mungkin ia memenuhi kebutuhan setiap orang melalui pemberian materi.
Karena itu, jangkaulah manusia dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Sambutlah mereka dengan wajah berseri dan perlakukanlah mereka dengan akhlak yang baik. Ini merupakan perkara yang ringan dan mudah bagi orang yang Allah beri taufik serta karunia berupa akhlak yang mulia. (Lihat: Ahadiths Al-Akhlak, hlm. 8)
Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah melantunkan syair:
بُنَيَّ إِنَّ الْبِرَّ شَيْءٌ هَيِّنٌ ••• وَجْهٌ طَلِيقٌ وَكَلَامٌ لَيِّنٌ
“Wahai anakku, sesungguhnya kebaikan itu perkara yang mudah. Wajah yang berseri dan tutur kata yang lembut.” (Lihat: al-Muntaqa min Kitab Makarim al-Akhlaq wa Ma’aliha 1/47)
Perhatikanlah, betapa banyak pintu hati yang dapat dibuka dengan senyuman, sapaan yang hangat, tutur kata yang lembut, kesediaan mendengarkan, dan sikap menghargai orang lain. Hal-hal sederhana yang sering dianggap remeh ini terkadang lebih membekas daripada pemberian materi yang besar.
Tentu saja, bukan berarti memberi hadiah, mentraktir, atau membantu orang lain dengan harta adalah sesuatu yang tercela. Semua itu merupakan kebaikan jika dilakukan dengan niat yang benar. Akan tetapi, kita tidak perlu menjadikan materi sebagai sandaran utama untuk mendapatkan simpati manusia.
Akhlak yang baik bahkan dapat menjadi sebab tumbuhnya kecintaan yang tulus. Orang merasa nyaman berada di dekat kita bukan karena mengharapkan pemberian, melainkan karena kebaikan yang mereka rasakan dari sikap dan perilaku kita.
Cara Kedua: Zuhud
Ada satu cara lagi untuk mendapatkan kecintaan manusia tanpa harus mengeluarkan traktiran: zuhud terhadap apa yang mereka miliki.
Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seseorang tentang amalan yang dapat membuatnya dicintai Allah dan dicintai manusia. Beliau menjawab:
Dari Sahl bin Sa‘d As-Sa‘idi radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ، وَأَحَبَّنِي النَّاسُ
“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang apabila aku kerjakan, Allah akan mencintaiku dan manusia pun akan mencintaiku.”
Beliau ﷺ menjawab:
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ.
“Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah, no. 4102; hasan).
Nasihat Nabi ﷺ ini sangat mendalam. Jika kita ingin dicintai manusia, jangan menjadikan apa yang mereka miliki sebagai sesuatu yang selalu kita harapkan.
Jangan mudah meminta, jangan membiasakan diri menggantungkan kebutuhan kepada orang lain, dan jangan mendekati seseorang hanya karena mengharapkan keuntungan darinya. Sebaliknya, belajarlah merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, bersikap qanaah, dan menjaga kehormatan diri.
Sebab, ketika seseorang terus-menerus berharap pada pemberian orang lain, hubungan yang terjalin bisa berubah menjadi hubungan yang penuh kepentingan. Sebaliknya, orang yang tidak tamak terhadap milik orang lain akan lebih mudah menjaga ketulusan dalam bergaul.
Ia dapat berteman tanpa harus mengharapkan hadiah. Ia dapat menghormati orang kaya tanpa mengincar hartanya. Ia juga dapat menjalin hubungan baik dengan orang yang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepadanya.
Inilah salah satu buah zuhud: hati tidak terpaut kepada dunia yang ada di tangan manusia. Ia tidak merasa perlu merendahkan diri demi mendapatkan keuntungan, dan tidak menjadikan kedekatan dengan seseorang sebagai jalan untuk memenuhi ambisi dunianya.
Semoga Allah menghiasi diri kita dengan akhlak yang mulia, membersihkan hati kita dari ketamakan terhadap dunia, menjadikan kita hamba yang qanaah dan menjaga kehormatan diri, serta menganugerahkan kepada kita kecintaan-Nya dan kecintaan orang-orang beriman karena-Nya.
Disarikan dari: Ahadiths Al-Akhlak, hlm. 8-9 dengan penyesuaian.
Tim Shahihfiqih, 19 Oktober 2026 M / 7 Jumadal Ula 1448 H





