Khutbah Istisqa: Saatnya Kembali kepada Allah

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، خَلَقَ الْخَلْقَ فَأَحْسَنَ خَلْقَهُمْ، وَرَزَقَهُمْ فَأَسْبَغَ عَلَيْهِمْ نِعَمَهُ، وَدَعَاهُمْ إِلَى التَّوْبَةِ فَلَمْ يَغْلِقْ عَنْهُمْ بَابَهُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَسْتَغْفِرُهُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin rahimani wa rahimakumullah…

Marilah kita bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benar takwa.

Pada hari ini kita berkumpul untuk memohon hujan kepada Allah.

Kita datang dengan membawa kebutuhan kita.

Kita datang dengan membawa kegelisahan kita.

Kita datang dengan membawa kelemahan kita.

Namun jangan sampai kita hanya memandang ke langit dan melupakan dosa-dosa yang kita bawa dari bumi.

Jangan sampai kita hanya meminta agar Allah menurunkan hujan, sementara kita lupa untuk memohon agar Allah menurunkan ampunan-Nya kepada kita.

Jangan sampai kita hanya bertanya:

“Ya Allah, kapan hujan akan turun?”

Tetapi kita tidak pernah bertanya kepada diri sendiri:

“Ya Allah, dosa apa yang harus aku tinggalkan?”

Ummatal Islam…

Musibah yang datang seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Perhatikan firman Allah:

جَمِيعًا

“Semua.”

Allah tidak mengatakan: “Sebagian.”

Karena setiap kita memiliki sesuatu yang harus ditaubati.

Sebagai seorang muslim atau muslimah, mari kita bertanya:

Sudahkah tauhid kita benar?

Sudahkah ibadah kita ikhlas?

Sudahkah kita menjaga kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan?

Sebagai suami atau istri, mari kita bertanya:

Apakah kita sudah menunaikan hak pasangan?

Apakah kita masih sering menyakiti pasangan kita?

Apakah kita masih menyimpan kedengkian, ego, atau sikap meremehkan?

Sebagai ayah atau ibu, mari kita bertanya:

Apakah kita sudah menjadi teladan bagi anak-anak kita?

Apakah anak-anak kita lebih sering melihat kita memegang Al-Qur’an atau memegang handphone?

Apakah kita mengajarkan mereka shalat, sementara kita sendiri lalai terhadap shalat?

Sebagai anak, mari kita bertanya:

Bagaimana hubungan kita dengan orang tua?

Apakah kita masih meninggikan suara?

Apakah kita masih menyakiti hati mereka?

Apakah kita masih menunda berbakti sampai mereka sudah tidak ada?

Sebagai saudara, tetangga, dan teman:

Apakah kita menjaga lisan?

Apakah kita masih suka ghibah?

Apakah kita mudah menyebarkan aib?

Apakah kita memutus silaturahmi karena perkara dunia?

Sebagai murid atau guru:

Apakah ilmu yang kita pelajari telah membuat kita semakin takut kepada Allah?

Apakah kita mengajarkan ilmu dengan ikhlas?

Apakah kita menjaga amanah ilmu dan tidak berbicara tentang agama tanpa ilmu?

Sebagai ustadz atau jamaah:

Apakah dakwah kita benar-benar untuk Allah?

Apakah kita mencari ridha-Nya atau mencari pujian manusia?

Sebagai atasan atau bawahan:

Apakah kita telah menunaikan amanah?

Apakah kita menzalimi orang yang berada di bawah tanggung jawab kita?

Apakah kita mengambil hak orang lain?

Sebagai pengusaha atau karyawan:

Apakah penghasilan kita halal?

Apakah transaksi kita bersih dari kezhaliman?

Apakah kita jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat?

Sebagai pemimpin atau rakyat:

Apakah kita telah menunaikan amanah masing-masing?

Apakah kita menuntut hak tetapi melupakan kewajiban?

Apakah kita berbuat adil kepada orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan dengan adil?

Ma’asyiral Muslimin…

Jangan merasa bahwa dosa hanya milik orang lain.

Jangan ketika melihat bencana kita sibuk menunjuk:

“Itu karena mereka.”

“Ini karena orang-orang itu.”

“Ini karena pemerintah.”

“Ini karena masyarakat.”

Boleh jadi kita justru lupa melihat diri sendiri.

Allah berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahan kalian.” (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini bukan alasan untuk menuduh setiap korban musibah sebagai orang berdosa.

Bukan.

Musibah bisa menjadi ujian, penghapus dosa, pengangkat derajat, atau peringatan.

Kita tidak mengetahui secara pasti hikmah khusus Allah pada setiap musibah.

Tetapi kita mengetahui satu hal:

Musibah adalah kesempatan untuk kembali kepada Allah.

Karena itu, ketika musibah datang, jangan hanya melihat apa yang terjadi di luar diri kita.

Lihat juga apa yang terjadi di dalam hati kita.

Mungkin selama ini kita terlalu jauh dari Allah.

Mungkin shalat kita mulai ditinggalkan.

Mungkin Al-Qur’an mulai kita tinggalkan.

Mungkin dosa-dosa kecil kita anggap remeh.

Mungkin harta kita bercampur dengan yang haram.

Mungkin lisan kita terlalu mudah menyakiti.

Mungkin hubungan keluarga kita sedang rusak.

Mungkin kita terlalu cinta dunia.

Mungkin kita telah lama tidak menangis karena takut kepada Allah.

Maka hari ini adalah waktu untuk kembali.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa pada malam hari bertaubat, sampai matahari terbit dari sebelah barat.” (HR. Muslim, no. 2759)

Allahu Akbar!

Perhatikan kasih sayang Allah kepada kita.

Kita yang berbuat dosa.

Kita yang lalai.

Kita yang berkali-kali jatuh.

Tetapi Allah masih membuka pintu taubat.

Bahkan ketika kita datang kepada-Nya membawa dosa yang banyak, Allah tidak mengatakan:

“Sudah terlambat.”

Tidak.

Selama matahari belum terbit dari barat, pintu taubat masih terbuka.

Maka jangan tunggu musibah yang lebih besar.

Jangan tunggu kehilangan orang yang kita cintai.

Jangan tunggu sakit datang.

Jangan tunggu kematian mendekat.

Bertaubatlah hari ini.

Perbaiki hubungan dengan Allah hari ini.

Perbaiki hubungan dengan manusia hari ini.

Kembalikan hak orang lain hari ini.

Minta maaf hari ini.

Tinggalkan dosa hari ini.

Dan di antara perkara paling penting yang harus kita perbaiki adalah shalat.

Ummatal Islam…

Mengapa kita berbicara tentang shalat di tengah khutbah istisqa?

Karena shalat bukan hanya persoalan ibadah individu.

Shalat adalah persoalan seluruh kehidupan seorang muslim.

Shalat menyentuh orang kaya dan miskin.

Pejabat dan rakyat.

Pengusaha dan karyawan.

Orang tua dan anak.

Guru dan murid.

Laki-laki dan perempuan.

Semua membutuhkan shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Amalan yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, no. 1859; dinilai shahih)

Maka mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Bagaimana shalat kita?

Apakah kita masih sering meninggalkan shalat?

Apakah kita menunda-nundanya?

Apakah kita mengerjakannya hanya ketika sedang membutuhkan Allah?

Apakah kita shalat tetapi hati kita tidak pernah merasa sedang berdiri di hadapan Allah?

Ikhwatal Iman…

Shalat bukan syariat baru bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.

Shalat telah menjadi ibadah yang diperhatikan oleh para nabi sebelum kita.

Ketika Allah berbicara langsung kepada Musa ‘alaihissalam, di antara perintah pertama yang diberikan kepadanya adalah:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)

Nabi Isa ‘alaihissalam berkata ketika masih berada di dalam buaian:

وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

“Dia mewasiatkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bahkan ketika menempatkan keluarganya di lembah yang tandus, salah satu permohonan terbesarnya adalah:

رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Wahai Rabb kami, agar mereka menegakkan shalat.” (QS. Ibrahim: 37)

Dan ketika Allah menyebut para nabi dan orang-orang saleh, Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ

“Dan Kami wahyukan kepada mereka untuk mengerjakan kebajikan, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.” (QS. Al-Anbiya’: 73)

Masih banyak lagi ayat yang menunjukkan betapa besar perhatian para nabi terhadap shalat.

Maka jangan anggap shalat sebagai perkara kecil.

Ia adalah warisan para nabi.

Ia adalah hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Ia adalah tempat seorang hamba kembali ketika dunia terasa sempit.

Allah bahkan berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Ma’asyiral Muslimin…

Kalau hari ini kita sedang menghadapi kesulitan ekonomi, kembalilah kepada Allah.

Kalau rumah tangga sedang tidak harmonis, kembalilah kepada Allah.

Kalau hati sedang gelisah, kembalilah kepada Allah.

Kalau usaha sedang sulit, kembalilah kepada Allah.

Kalau masyarakat sedang banyak masalah, kembalilah kepada Allah.

Dan salah satu pintu terbesar untuk kembali kepada-Nya adalah shalat.

Jangan sampai kita mencari pertolongan ke mana-mana, tetapi lupa berdiri di hadapan Dzat yang menguasai seluruh pertolongan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.”

Karena itu, jika kita ingin memperbaiki kehidupan, mari kita mulai dari shalat.

Perbaiki waktunya.

Perbaiki wudhunya.

Perbaiki kekhusyukannya.

Perbaiki berjamaahnya.

Perbaiki bacaan Al-Qur’annya.

Perbaiki hubungan hati kita dengan Allah.

Jangan hanya memperbaiki shalat ketika sedang membutuhkan hujan.

Tetapi jadikan shalat sebagai kebutuhan kita setiap hari.

Ikhwatal Iman…

Allah juga memperingatkan orang-orang yang menyia-nyiakan shalat:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Kemudian datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu. Mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)

Perhatikan hubungan dua perkara tersebut:

أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ

“Mereka menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu.”

Ketika hubungan dengan Allah rusak, hawa nafsu semakin mudah menguasai manusia.

Maka jangan heran jika kerusakan muncul di tengah masyarakat.

Jangan heran jika amanah hilang.

Jangan heran jika keluarga kehilangan ketenangan.

Jangan heran jika manusia mudah menzalimi manusia lainnya.

Karena hati yang jauh dari Allah akan mudah dikuasai hawa nafsu.

Allah juga berfirman tentang orang-orang yang menjaga shalat:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ

“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat.” (QS. An-Nur: 37)

Mereka berdagang.

Mereka bekerja.

Mereka mencari nafkah.

Mereka memiliki kesibukan.

Tetapi kesibukan tidak membuat mereka meninggalkan shalat.

Maka pertanyaannya bukan:

“Apakah kita sibuk?”

Kita semua sibuk.

Pertanyaannya:

Apakah kesibukan kita telah membuat kita lupa kepada Allah?

Ma’asyiral Muslimin…

Belakangan ini kita menyaksikan berbagai musibah dan bencana di negeri kita.

Gunung berapi erupsi.

Abu vulkanik mengganggu aktivitas manusia.

Berbagai daerah menghadapi bencana.

Di sisi lain ada pula persoalan ekonomi, keresahan sosial, dan rumah tangga yang kehilangan keharmonisan.

Kita tidak boleh memastikan secara gegabah bahwa setiap bencana adalah hukuman bagi kelompok tertentu.

Tetapi kita juga tidak boleh menjadikan bencana sebagai tontonan semata.

Allah telah memberikan sebuah pelajaran yang sangat dalam:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41)

Perhatikan akhir ayat:

لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Agar mereka kembali.”

Bukan sekadar agar mereka takut.

Bukan sekadar agar mereka menangis.

Tetapi agar mereka kembali kepada Allah.

Maka ketika kita melihat gunung erupsi, mari kita kembali.

Ketika kita melihat hujan yang tidak kunjung turun, mari kita kembali.

Ketika melihat keluarga yang mulai retak, mari kita kembali.

Ketika melihat rezeki yang terasa sempit, mari kita kembali.

Ketika melihat berbagai kerusakan di masyarakat, mari kita kembali.

Karena boleh jadi yang Allah inginkan dari kita bukan sekadar rasa takut.

Tetapi taubat.

Bukan sekadar air mata.

Tetapi perubahan.

Bukan sekadar istighfar di lisan.

Tetapi meninggalkan dosa dengan anggota badan.

Ummatal Islam…

Hari ini kita berdiri di tempat ini untuk meminta hujan.

Maka marilah kita datang kepada Allah dengan hati yang tunduk.

Kita akui dosa-dosa kita.

Kita tinggalkan maksiat kita.

Kita perbaiki shalat kita.

Kita perbaiki hubungan dengan orang tua.

Kita perbaiki rumah tangga.

Kita kembalikan hak orang lain.

Kita tinggalkan kezhaliman.

Kita tinggalkan harta yang haram.

Kita perbaiki lisan.

Kita perbanyak istighfar.

Dan kita berharap kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.

Allah berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun untuk kalian dan mengadakan sungai-sungai untuk kalian.’” (QS. Nuh: 10–12)

Maka jangan remehkan istighfar.

Boleh jadi kita datang hari ini meminta hujan dari langit.

Tetapi yang pertama-tama harus kita turunkan adalah kesombongan dari hati kita.

Yang harus kita hilangkan adalah dosa dari kehidupan kita.

Yang harus kita hidupkan adalah taubat dan shalat.

Ya Allah, kami datang kepada-Mu sebagai hamba-hamba-Mu yang lemah.

Kami mengakui dosa-dosa kami.

Kami mengakui kelalaian kami.

Kami mengakui kurangnya rasa takut kami kepada-Mu.

Ya Allah, jangan Engkau hukum kami karena dosa-dosa kami.

Ampunilah kami.

Terimalah taubat kami.

Perbaikilah hati kami.

Perbaikilah keluarga kami.

Perbaikilah masyarakat kami.

Dan turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat, penuh keberkahan dan membawa kehidupan bagi negeri kami.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ:

Ummatal Islam rahimani wa rahimakumullah…

Sekali lagi, marilah kita bertakwa kepada Allah.

Jangan pulang dari tempat ini hanya membawa harapan turunnya hujan.

Pulanglah dengan membawa tekad untuk berubah.

Pulanglah dengan membawa taubat.

Pulanglah dengan membawa istighfar.

Pulanglah dengan tekad untuk memperbaiki shalat.

Karena mungkin yang paling kita butuhkan bukan hanya air yang turun dari langit.

Tetapi juga rahmat Allah yang turun ke dalam hati kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلَا بُرْهَانٌ وَلَا نَجَاةٌ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ.

“Barang siapa menjaga shalat, maka shalat itu akan menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan baginya pada hari kiamat. Dan barang siapa tidak menjaga shalat, maka ia tidak akan memiliki cahaya, bukti, maupun keselamatan. Dan pada hari kiamat, ia akan bersama Qarun, Fir‘aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad, no. 6576)

Maka mulai hari ini, mari kita jaga shalat.

Bukan hanya ketika musibah datang.

Tetapi ketika kehidupan terasa lapang.

Bukan hanya ketika terdesak.

Tetapi karena kita sadar bahwa kita selalu membutuhkan Allah.

Jangan tunggu hati menjadi baik untuk mulai shalat dengan baik.

Mulailah shalat dengan baik, niscaya shalat akan menjadi salah satu sebab hati kita diperbaiki.

Jangan tunggu hidup tenang untuk dekat dengan Allah.

Dekatilah Allah, dan mintalah kepada-Nya ketenangan.

Jangan tunggu masalah selesai untuk bersujud.

Justru bersujudlah bahkan ketika masalah belum dan telah selesai. 

Karena di dalam sujud itulah seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Rabb-nya.

Ummatal Islam…

Mari kita bertaubat.

Jika selama ini shalat kita sering terlambat, mari kita perbaiki.

Jika selama ini kita meninggalkan shalat, mari kita kembali.

Jika selama ini kita bermaksiat secara sembunyi-sembunyi, mari kita tinggalkan.

Jika selama ini kita mengambil hak orang lain, mari kita kembalikan.

Jika selama ini kita menyakiti pasangan, mari kita minta maaf.

Jika selama ini kita durhaka kepada orang tua, mari kita berbakti.

Jika selama ini kita lalai mendidik anak, mari kita mulai kembali.

Jika selama ini kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan Allah, mari kita berhenti sejenak dan kembali mengingat-Nya.

Allah berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Maka jangan ada seorang pun di antara kita yang merasa tidak membutuhkan taubat.

Kita semua membutuhkan taubat.

Kita semua membutuhkan ampunan.

Kita semua membutuhkan rahmat Allah.

Dan kita semua membutuhkan hujan dari-Nya.

اللَّهُمَّ إِنَّا عِبَادُكَ، وَبَنُو عَبْدِكَ، وَبَنُو إِمَائِكَ، نَوَاصِينَا بِيَدِكَ، مَاضٍ فِينَا حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِينَا قَضَاؤُكَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَلَا تُؤَاخِذْنَا بِذُنُوبِنَا.

اللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا، وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوتَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْمِحَنَ وَالْفِتَنَ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضَعْفَنَا، وَاجْبُرْ كَسْرَنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَفَرِّجْ هُمُومَنَا.

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا غَيْثًا مُغِيثًا، هَنِيئًا مَرِيئًا، سَحًّا غَدَقًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ غَيْثَ رَحْمَةٍ، وَلَا تَجْعَلْهُ غَيْثَ عَذَابٍ، وَلَا هَدْمٍ، وَلَا غَرَقٍ، وَلَا بَلَاءٍ.

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا.

اللَّهُمَّ لَا تَمْنَعْ عَنَّا فَضْلَكَ بِذُنُوبِنَا، وَلَا تُؤَاخِذْنَا بِتَقْصِيرِنَا، وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ، وَإِذَا أُسِيءَ إِلَيْهِ عَفَا، وَإِذَا أَنْعَمْتَ عَلَيْهِ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَيْ صَبَرَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الصَّلَاةَ قُرَّةَ أَعْيُنِنَا، وَرَاحَةَ قُلُوبِنَا، وَسَبَبًا لِصَلَاحِ أَحْوَالِنَا.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُقِيمِينَ لِلصَّلَاةِ، وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، اسْتَغْفِرُوا اللَّهَ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، فَإِنَّهُ كَانَ غَفُورًا.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *