Banyak orang mengenal Syiah dengan satu identitas: kelompok yang mengaku mencintai dan mengikuti Ahlul Bait, keluarga Nabi ﷺ.
Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu diajukan:
Bagaimana sebenarnya sikap Syiah terhadap para sahabat Nabi ﷺ?
Pertanyaan ini semestinya tidak dijawab hanya dengan prasangka atau perkataan pihak luar. Salah satu cara yang lebih adil adalah melihat langsung apa yang disebutkan dalam literatur Syiah sendiri.
Di antara riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab mereka terdapat pernyataan yang sangat keras tentang para sahabat. Bahkan disebutkan bahwa mayoritas manusia dianggap murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, dan hanya beberapa orang yang dikecualikan.
Lalu, siapa mereka?
Dan bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan, Al-Husain, Al-Abbas, Ibnu Abbas, serta Ahlul Bait lainnya?
Mari kita melihatnya.
Para Sahabat dalam Pandangan Islam
Sebelum membahas riwayat tersebut, perlu diketahui bahwa Ahlus Sunnah memiliki prinsip yang jelas dalam memandang para sahabat Nabi ﷺ.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)
Allah juga memuji para sahabat yang berbaiat kepada Nabi ﷺ:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
“Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18)
Maka, mencintai para sahabat Nabi ﷺ bukanlah sekadar persoalan sejarah. Ia berkaitan dengan bagaimana seorang Muslim memahami pujian Allah dan Rasul-Nya terhadap generasi pertama umat ini.
Lalu, bagaimana dengan literatur Syiah?
Mereka berkata:
إِنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ ارْتَدُّوا بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ غَيْرَ أَرْبَعَةٍ
“Sesungguhnya seluruh manusia murtad setelah Rasulullah ﷺ, kecuali empat orang.” (Lihat: Kitab Sulaim bin Qais Al-‘Amiri, hlm. 92)
Perhatikan redaksinya.
Yang dibicarakan bukan sekadar perselisihan politik setelah wafatnya Nabi ﷺ. Redaksinya menggunakan istilah ارْتَدُّوا: mereka murtad.
Jika benar demikian, maka pertanyaannya menjadi sangat serius:
Siapa saja yang dianggap tetap berada di atas Islam? Dan bagaimana nasib para sahabat lainnya?
Namun, ternyata riwayat semacam ini tidak berhenti pada satu kitab.
Hanya Tiga Sahabat?
Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini, salah satu tokoh penting dalam literatur Syiah, juga menukil:
كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ إِلَّا ثَلَاثَةً: الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ، وَأَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ، وَسَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ.
“Manusia berada dalam keadaan murtad setelah Nabi, kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Lihat: Ar-Raudhoh min al-Kafi 8/245)
Riwayat semacam ini juga dinukil dalam pembahasan literatur Syiah, bahkan disebutkan oleh Al-Majlisi dengan redaksi bahwa setelah wafat Rasulullah ﷺ, seluruh manusia binasa kecuali tiga orang: Abu Dzar, Al-Miqdad, dan Salman. (Lihat: Hayatul Qulub 2/640)
Di sini muncul sebuah pertanyaan yang tidak ringan:
Jika yang selamat hanya tiga orang, bagaimana dengan Ahlul Bait sendiri?
Bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu?
Bagaimana dengan Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma?
Bagaimana dengan Al-Abbas, paman Nabi ﷺ?
Bagaimana dengan Ibnu Abbas, sepupu Nabi ﷺ?
Bagaimana pula dengan kerabat dan orang-orang yang dekat dengan Rasulullah ﷺ lainnya?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena klaim utama Syiah adalah kecintaan dan pengagungan terhadap Ahlul Bait.
Bahkan Ada Riwayat tentang Kembalinya Manusia kepada Kejahiliahan
Al-Kulaini –tokoh besar Syi’ah– menggambarkan keadaan manusia setelah wafat Rasulullah ﷺ:
إِنَّ النَّاسَ عَادُوا بَعْدَ مَا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَهْلَ جَاهِلِيَّةٍ، إِنَّ الْأَنْصَارَ اعْتَزَلَتْ فَلَمْ تَعْتَزِلْ بِخَيْرٍ، جَعَلُوا يُبَايِعُونَ سَعْدًا وَهُمْ يَرْتَجِزُونَ ارْتِجَازَ الْجَاهِلِيَّةِ: يَا سَعْدُ! أَنْتَ الْمُرَجَّأُ، وَشَعْرُكَ الْمُرَجَّلُ، وَفَحْلُكَ الْمُرَجَّمُ.
“Sesungguhnya manusia kembali menjadi seperti orang-orang jahiliah setelah Rasulullah ﷺ wafat.
Sesungguhnya kaum Anshar memisahkan diri—maksudnya, dari Abu Bakar—namun mereka tidak memisahkan diri dalam kebaikan.
Mereka mulai membaiat Sa‘d, sambil melantunkan syair sebagaimana lantunan orang-orang jahiliah:
‘Wahai Sa‘d! Engkau adalah orang yang ditangguhkan, rambutmu tersisir rapi, dan pejantanmu adalah yang dilempari.’” (Lihat: ar-Roudhoh min al-Kafi 2/296)
Artinya, persoalan yang digambarkan oleh riwayat tersebut bukan sekadar bahwa sebagian sahabat melakukan kesalahan dalam masalah politik. Tetapi digambarkan sebagai kembalinya manusia kepada keadaan jahiliah setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
Jika demikian, maka gambaran tentang generasi yang hidup bersama Rasulullah ﷺ menjadi sangat berbeda dengan gambaran yang terdapat dalam Al-Qur’an As-Sunnah dan buku-buku siroh.
Kenyataan sesungguhnya justru Allah memuji kaum Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Bahkan Ada yang Mempertanyakan Keislaman Mayoritas Bangsa Arab
Bahan yang dinukil juga menyebutkan perkataan seorang penulis Syiah kontemporer yang menggambarkan bahwa bangsa Arab tidak beriman kepada Muhammad ﷺ kecuali setelah dakwah Islam sampai kepada mereka.
Di dalamnya disebutkan bahwa sebagian orang masuk Islam karena takut, sebagian karena terpaksa, sebagian lagi karena keadaan yang menghimpit mereka.
Bahkan disebutkan:
وَلَمْ يَدْخُلْ فِي الْإِسْلَامِ أَحَدٌ بِدَلَالَةِ عَقْلِهِ إِلَّا شَخْصِيَّةٌ وَاحِدَةٌ
“Tidak ada seorang pun yang masuk Islam berdasarkan petunjuk akalnya kecuali satu orang.”
Yang dimaksud adalah Salman Al-Farisi. (Lihat: asy-Syi’ah was-Sunnah fil Mizan, hlm. 20-21)
Pernyataan seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana generasi sahabat secara keseluruhan dipandang.
Padahal, sejarah Islam menunjukkan bahwa para sahabat berasal dari berbagai latar belakang. Mereka beriman kepada Rasulullah ﷺ, berjihad bersamanya, berhijrah, mempertaruhkan harta dan jiwa, serta menyebarkan Islam setelah beliau wafat.
Tafsir Al-Qummi tentang Para Sahabat
Dalam bahan yang sama juga disebutkan tafsir Al-Qummi terhadap firman Allah:
وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
“Mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu cobaan, sehingga mereka menjadi buta dan tuli. Kemudian Allah menerima tobat mereka, tetapi kemudian banyak di antara mereka menjadi buta dan tuli. Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah: 71)
Dalam tafsir yang dinukil tersebut, ayat ini dikaitkan dengan sikap para sahabat terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.
Disebutkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ masih hidup, mereka “buta dan tuli” dalam pengertian tertentu, kemudian setelah beliau wafat dan Ali menjadi pemimpin, mereka kembali “buta dan tuli” terhadapnya hingga saat itu. (Lihat: Tafsir Al-Qummi 1/175)
Dengan demikian, muncul sebuah pola yang sama: persoalan utama bukan hanya kritik terhadap individu sahabat, tetapi penilaian yang sangat negatif terhadap mayoritas generasi yang hidup bersama Rasulullah ﷺ.
Lalu, Bagaimana dengan Klaim Mengikuti Ahlul Bait?
Di sinilah letak persoalan yang perlu direnungkan.
Syiah mengidentifikasikan dirinya dengan kecintaan kepada Ahlul Bait. Tetapi Ahlul Bait adalah bagian dari generasi pertama umat Islam yang hidup bersama para sahabat.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu hidup bersama Abu Bakar dan Umar radhiyallahu’anhuma.
Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu’anhuma hidup di tengah para sahabat Nabi ﷺ.
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma adalah sahabat Nabi ﷺ sekaligus kerabat dekat Ali radhiyallahu’anhu.
Maka, ketika sebagian literatur menampilkan gambaran bahwa mayoritas sahabat murtad atau kembali kepada jahiliah setelah wafat Rasulullah ﷺ, pertanyaan yang layak diajukan adalah:
Apakah gambaran tersebut benar-benar mencerminkan sikap Ahlul Bait terhadap generasi sahabat?
Sebab, mencintai Ahlul Bait seharusnya tidak hanya dibuktikan dengan mengagungkan keluarga Nabi ﷺ, tetapi juga dengan memahami bagaimana mereka sendiri memandang generasi yang hidup bersama Rasulullah ﷺ.
Penutup
Para sahabat adalah generasi yang dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya ﷺ.
Mereka mendengar wahyu langsung dari Rasulullah ﷺ, shalat di belakang beliau, berjihad bersamanya, membela agama dengan harta dan jiwa, lalu membawa Islam ke berbagai penjuru dunia.
Karena itu, ketika kita menemukan literatur yang memberikan penilaian sangat keras terhadap mayoritas mereka, seorang Muslim patut bertanya:
Apakah pandangan tersebut sesuai dengan Al-Qur’an?
Apakah sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ?
Dan yang tidak kalah penting: apakah sesuai dengan sikap Ahlul Bait yang sebenarnya?
Cinta kepada Ahlul Bait tidak boleh dibangun dengan membenci para sahabat. Sebab Nabi ﷺ tidak mengajarkan umatnya untuk mempertentangkan kecintaan kepada keluarga beliau dengan kecintaan kepada para sahabatnya.
Justru generasi terbaik umat ini adalah mereka yang mencintai Rasulullah ﷺ, mencintai Ahlul Bait beliau, sekaligus menghormati dan mencintai para sahabatnya.
Semoga Allah menjaga hati kita dari ghuluw kepada siapa pun, dan menanamkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, Ahlul Bait beliau, serta seluruh sahabatnya. Aamiin.
Tim Shahihfiqih, 21 September 2026 M / 8 Rabi’ul Akhir 1448 H



