Ketika Kaumnya Dibinasakan, Allah Selamatkan Nabi Syu’aib & Orang Beriman

Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du.

Di antara kisah yang menunjukkan betapa sempurnanya pertolongan Allah kepada hamba-Nya adalah kisah Nabi Syu’aib alaihissalam bersama orang-orang beriman dari kaum Madyan. Mereka hidup di tengah masyarakat yang memiliki kekuatan ekonomi dan kehidupan yang baik, tetapi sebagian besar mereka justru melakukan kerusakan dalam akidah dan muamalah. Allah mengutus Nabi Syu’aib alaihissalam untuk mengajak mereka untuk kembali kepada tauhid dan memperbaiki perilaku mereka khususnya dalam bab muamalah.

Dakwah Nabi Syu’aib Alaihissalam Sangat Menyeluruh

Nabi Syu’aib alaihissalam tidak hanya mengajak kaumnya meninggalkan kesyirikan. Beliau juga menegur praktik kecurangan dalam perdagangan yang banyak dilakukan oleh kaumnya. Allah mengabadikan seruannya, agar mereka menyembah Allah semata, menyempurnakan takaran dan timbangan, tidak merugikan manusia, serta tidak membuat kerusakan di muka bumi. Allah berfirman:

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُم بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيطٍ ۝ وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syuʻayb. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. (84) Dan Syuʻayb berkata, “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (85)”

Ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan antara tauhid dan akhlak, ibadah dan muamalah, hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Karena kerusakan dalam transaksi, kedzoliman terhadap orang lain, dan kecurangan dalam mencari keuntungan bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga merupakan persoalan iman dan ketakwaan, sehingga ia sangat berdampak pada kondisi seseorang ketika di akhirat nanti.

Mereka Tidak Sekadar Menolak, Tetapi Melawan Kebenaran

Dakwah Nabi Syu’aib alaihissalam ternyata tidak diterima oleh kaumnya. Mereka memperolok, menolak, bahkan mengancam beliau. Dalam Surah Hud Allah mengisahkan perbuatan mereka ini:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ

“Mereka berkata, ‘Wahai Syu’aib! Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu, sedangkan kami sungguh memandangmu sebagai orang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajammu, sedangkan engkau pun bukan seorang yang berpengaruh di lingkungan kami.’” (QS. Hud: 91).

Namun Nabi Syu’aib alaihissalam tidak gentar. Beliau tetap menyampaikan kebenaran dan menyerahkan keputusan kepada Allah. Allah menceritakan:

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا ۖ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ ۝‏ وَيَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ ۖ وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ 

“Syu’aib menjawab: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan”. (92) Dan (dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu”. (93)” (QS. Hud: 92-93).

Ini pelajaran penting bagi seorang Muslim, yaitu ukuran kebenaran bukan banyaknya orang yang mendukung. Terkadang seseorang bisa saja berada di pihak yang benar, meskipun jumlah orang yang bersamanya itu sedikit.

Sikap Nabi Syu’aib alaihissalam menunjukkan bahwa dakwah membutuhkan kesabaran. Beliau tidak membalas ancaman dengan tindakan yang serampangan, tetapi terus menyampaikan hujah dan memperingatkan kaumnya tentang akibat dari kedurhakaan mereka.

Beliau bahkan menegaskan bahwa dirinya tidak takut kepada mereka karena Allah-lah yang lebih berhak ditakuti dan kepada-Nya segala sesuatu akan kembali. Setelah menyampaikan peringatan dengan jelas, beliau menunggu keputusan Allah.

Ketika Keputusan Allah Datang, Orang Beriman Tidak Dibiarkan Begitu Saja

Puncak kisah ini terdapat dalam firman Allah:

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ

“Dan ketika keputusan Kami datang, Kami menyelamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami. Sedangkan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh suara yang mengguntur, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (QS. Hud: 94).

Perhatikan ungkapan “نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا”. Allah tidak hanya menyebut bahwa Nabi Syu’aib alaihissalam selamat, tetapi juga bahwa orang-orang yang beriman bersamanya diselamatkan.

Ini menjadi salah satu gambaran indah tentang pertolongan Allah. Ketika azab menimpa orang-orang yang zalim, Allah memberikan keselamatan kepada Rasul-Nya dan kaum mukminin yang mengikutinya.

Ada satu kalimat yang sangat penting dalam kisah ini: “dengan rahmat dari Kami.” Keselamatan orang-orang beriman bukan semata-mata karena mereka lebih kuat daripada orang-orang kafir. Bahkan dalam banyak kisah para nabi, orang beriman justru berada pada posisi yang secara dzohir lemah.

Akan tetapi, Allah mampu membuat keselamatan bagi mereka ketika sebab-sebab kebinasaan sudah mengepung. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh menggantungkan keselamatan hanya pada kemampuan manusia. Ikhtiar memang harus dilakukan, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah Dzat yang mensifati dirinya dengan Ar-Rahman dan Al-Qawi.

Kebinasaan Datang Setelah Kebenaran Disampaikan

Al-Qur’an tidak menggambarkan kebinasaan kaum Madyan sebagai sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba tanpa sebab. Sebelumnya telah datang seorang rasul, telah disampaikan nasihat, telah ditegakkan hujah, dan telah diberikan kesempatan untuk bertaubat.

Namun, mereka memilih untuk mendustakan. Dalam Surah Al-‘Ankabut Allah berfirman bahwa ketika mereka mendustakan Syu’aib, mereka ditimpa Ar-Rajfah, yaitu guncangan yang dahsyat, sehingga mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Allah berfirman:

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

“Maka mereka mendustakan Syu`ayb, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.” (QS. Al-‘Ankabut: 37).

Dalam Surah Hud, bentuk azab itu disebut dengan Ash-Shaihah, yaitu suara atau teriakan yang dahsyat. Para mufassir menjelaskan bahwa penyebutan bentuk azab yang berbeda dalam beberapa ayat tidak harus dipahami sebagai pertentangan. Ibn Katsir menjelaskan bahwa kaum tersebut ditimpa azab pada hari kebinasaan mereka, sementara al-qur’an menyebutkan aspek azab yang sesuai dengan konteks ayat.

Iman Bukan Jaminan Bahwa Hidup Selalu Tanpa Ujian

Kisah ini juga perlu dipahami secara seimbang. Allah menyelamatkan Nabi Syu’aib alaihissalam dan orang-orang beriman dari azab yang membinasakan kaumnya. Namun bukan berarti orang beriman selalu terbebas dari semua kesulitan dunia.

Para nabi sendiri mengalami ancaman, tekanan, pengusiran, kelaparan, dan berbagai ujian. Bentuk pertolongan Allah tidak selalu berarti hidup menjadi mudah. Terkadang pertolongan Allah hadir dengan menyelamatkan seseorang dari kebinasaan, terkadang dengan memberikan kesabaran, terkadang dengan menjaga iman, dan terkadang dengan memberikan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.

Jangan Tertipu Dengan Kemakmuran

Salah satu pesan besar dari kisah Madyan adalah bahwa kemakmuran tidak selalu berarti keridhoan Allah.

Nabi Syu’aib alaihissalam mengatakan kepada kaumnya bahwa beliau melihat mereka berada dalam keadaan baik, tetapi beliau tetap khawatir mereka tertimpa adzab yang meliputi.

Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah masyarakat bukan hanya banyaknya harta, gedung yang tinggi, perdagangan yang ramai, atau pertumbuhan ekonomi. Semua itu bisa menjadi nikmat, tetapi juga bisa menjadi ujian. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah nikmat tersebut membuat manusia semakin taat kepada Allah atau justru semakin berani berbuat dzolim?

Kaum Madyan memiliki persoalan besar dalam urusan takaran dan timbangan. Ini menunjukkan bahwa ketidakjujuran dalam perdagangan bukan masalah kecil dalam pandangan agama.

Hari ini bentuknya mungkin berbeda. Bukan hanya mengurangi timbangan, tetapi juga memanipulasi kualitas barang, menyembunyikan cacat, membuat iklan menyesatkan, memainkan ukuran, memberikan informasi yang tidak benar, atau mengambil keuntungan dengan cara merugikan pihak lain.

Pesan Nabi Syu’aib alaihissalam tetap sangat relevan: iman seharusnya melahirkan kejujuran dalam kehidupan nyata.

Pertolongan Allah Tidak Selalu Terlihat Sebelum Datang

Sebelum keputusan Allah datang, mungkin orang-orang beriman melihat keadaan mereka sangat sulit. Mereka berhadapan dengan masyarakat yang menolak dakwah dan bahkan mengancam Rasul Allah.

Namun ketika keputusan Allah datang, semuanya berubah. Allah menyelamatkan Syu’aib alaihissalam dan orang-orang beriman, sementara orang-orang yang dzolim dibinasakan.

Maka jangan merasa bahwa pertolongan Allah tidak akan datang hanya karena hari ini keadaan terlihat berat. Yang menjadi kewajiban seorang Muslim adalah tetap berada di atas ketaatan dan tidak mendahului keputusan Allah dengan keputusasaan.

Jadilah Orang Yang Diselamatkan, Bukan Orang Yang Dibinasakan

Kisah Madyan pada akhirnya menghadapkan kita pada dua jalan: jalan orang-orang yang mengikuti kebenaran dan jalan orang-orang yang mendustakannya.

Yang menjadi pembeda bukan sekadar nama, kelompok, status sosial, atau kedudukan. Pembeda utamanya adalah iman dan ketaatan kepada Allah. Orang yang bersama Nabi Syu’aib alaihissalam diselamatkan, sementara orang-orang yang terus bertahan dalam kezaliman dibinasakan.

Maka ketika membaca kisah ini, jangan hanya bertanya, “Bagaimana dahsyatnya azab yang menimpa kaum Madyan?” Tetapi tanyakan pula kepada diri sendiri: “Apakah ada sifat kaum Madyan yang mulai muncul dalam kehidupan saya?”

Apakah kita masih menjaga tauhid? Apakah kita jujur dalam jual beli? Apakah kita merugikan orang lain? Apakah kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita? Apakah kita merasa aman dari hukuman Allah hanya karena hidup sedang makmur? Wallahu a’lamu bishshawab.

Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil’alamin.

Tim Shahihfiqih, 6 Rabi’uts Tsani 1448 H/ 17 September 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *