Di mana Bahtera Nabi Nuh alaihissalam Sebenarnya Berlabuh? Benarkah di Bukit Ararat?

Allah telah menjawabnya dalam Al-Qur’an:

وَقِيلَ يَٰٓأَرۡضُ ٱبۡلَعِي مَآءَكِ وَيَٰسَمَآءُ أَقۡلِعِي وَغِيضَ ٱلۡمَآءُ وَقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ وَٱسۡتَوَتۡ عَلَى ٱلۡجُودِيِّۖ وَقِيلَ بُعۡدٗا لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Dan difirmankan, ‘Wahai bumi, telanlah airmu! Wahai langit, berhentilah!’ Air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu berlabuh di atas gunung al-Jūdī. Dan dikatakan, ‘Binasalah orang-orang yang zalim.’” (QS. Hud: 44)

Namun, di manakah Al-Judi itu?

Apakah ia Bukit Ararat yang saat ini sedang populer disebut sebagai tempat berlabuhnya bahtera Nabi Nuh alaihissalam? Ataukah Cudi Dağı di Turki?

Al-Judi di Mana?

Para ulama tafsir sejak dahulu telah berbeda pendapat tentang lokasi Al-Judi.

Ibnu Al-Jauzi rahimahullah dalam Zadul Masir menyebutkan tiga pendapat:

أَحَدُهَا: أَنَّهُ بِالْمَوْصِلِ

Ada yang mengatakan bahwa Al-Judi berada di Al-Maushil.

وَالثَّانِي: بِالْجَزِيرَةِ

Pendapat kedua: berada di Al-Jazirah.

وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ بِنَاحِيَةِ آمِدٍ

Pendapat ketiga: berada di sekitar Amid.

Mujahid dan Qatadah menyebut Al-Jazirah. Muqatil mengatakan bahwa lokasinya di Al-Jazirah, dekat Al-Maushil.

Adapun Amid adalah nama kuno untuk kota yang sekarang dikenal sebagai Diyarbakir di Turki tenggara. Wallahu a’lam.  (Lihat: Zadul Masir 2/376)

Di kawasan yang tidak terlalu jauh dari wilayah tersebut juga terdapat gunung yang sekarang dikenal sebagai Cudi Dağı, di sekitar Sirnak dan Cizre.

Karena itu, Cudi kemudian banyak dikaitkan dengan Al-Judi yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Lalu bagaimana dengan Gunung Ararat?

Gunung Ararat yang sekarang dikenal sebagai Ağrı Dağı berada di wilayah Turki yang jauh lebih ke timur laut.

Sedangkan Cudi berada di wilayah Sirnak dan Cizre, lebih dekat dengan kawasan Al-Jazirah dan Al-Maushil yang disebutkan dalam sebagian keterangan ulama tafsir.

Maka, sebenarnya kurang tepat jika kita memastikan bahwa Al-Judi adalah Gunung Ararat modern.

Namun demikian, kita juga tidak memiliki dalil yang cukup untuk mengatakan dengan pasti bahwa Cudi Dağı adalah Al-Judi.

Kesimpulannya: Kita mengetahui nama tempatnya dari Al-Qur’an, yaitu Al-Judi. Tetapi titik geografis pastinya tidak dapat kita pastikan.

Bagaimana dengan Temuan yang Disebut Bahtera Nabi Nuh?

Dari waktu ke waktu, ditemukan berbagai struktur atau benda yang kemudian dikaitkan dengan bahtera Nabi Nuh alaihissalam.

Bisa saja suatu temuan memang memiliki kaitan dengan kisah bahtera Nabi Nuh.

Kita tidak boleh memastikan sesuatu sebagai bahtera Nabi Nuh tanpa bukti yang benar-benar meyakinkan.

Tetapi sebaliknya, kita juga tidak perlu tergesa-gesa mengatakan bahwa setiap temuan semacam itu pasti tidak mungkin berkaitan dengan bahtera Nabi Nuh.

Allah Mahakuasa untuk menyisakan jejak bahtera tersebut hingga hari ini.

Bisa jadi apa yang ditemukan manusia saat ini benar-benar merupakan bahtera Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Namun, sekalipun  manusia berhasil membuktikan dengan sangat kuat bahwa sebuah struktur tertentu benar-benar bahtera Nabi Nuh, itu bukanlah pelajaran terpenting dari kisah tersebut.

Sebab Nabi Nuh alaihissalam tidak diutus agar manusia sibuk mencari lokasi bahteranya.

Beliau diutus untuk mengajak manusia beribadah kepada Allah.

Lalu Apa yang Terpenting dari Kisah Nabi Nuh?

Allah mengabadikan inti dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam:

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

“Sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatilah aku.” (QS. Nuh: 3)

Inilah ajaran yang jauh lebih penting untuk kita perhatikan.

Bukan sekadar: Di mana bahteranya?

Tetapi: Apakah kita telah mengikuti ajarannya?

Nabi Nuh alaihissalam mengajarkan umatnya untuk mentauhidkan Allah, bertakwa kepada-Nya, dan menaati rasul.

Bukankah tiga perkara ini yang juga paling kita butuhkan hari ini?

Nabi Nuh Mengajarkan Kita Banyak Beristighfar

Di antara nasihat beliau kepada kaumnya adalah memperbanyak istighfar.

Allah berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ ۝ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, memberikan kebun-kebun kepada kalian, dan memberikan sungai-sungai kepada kalian.’” (QS. Nuh: 10–12)

Perhatikan bagaimana Nabi Nuh alaihissalam mengajarkan istighfar sebagai salah satu sebab datangnya berbagai kebaikan dunia.

Hujan yang melimpah.

Harta.

Anak keturunan.

Kebun.

Sungai.

Maka ketika kita menginginkan kebaikan, jangan hanya memikirkan sebab-sebab duniawi.

Perbanyak istighfar.

Nabi Nuh Juga Mengajarkan Doa yang Sangat Indah

Di akhir surat Nuh, Allah mengabadikan doa beliau:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

“Wahai Rabbku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang masuk ke rumahku dalam keadaan beriman, serta seluruh kaum mukminin dan mukminat. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim selain kebinasaan.” (QS. Nuh: 28)

Beliau tidak hanya mendoakan dirinya.

Beliau mendoakan kedua orang tuanya, orang-orang beriman yang datang ke rumahnya, serta seluruh kaum mukminin dan mukminat.

Doa yang sangat indah untuk kita amalkan.

Jangan Sampai Kita Mengetahui Kisahnya, tetapi Melupakan Ajarannya

Mungkin saja manusia benar-benar berhasil memastikan lokasi bahtera Nabi Nuh alaihissalam.

Mungkin pula Allah membiarkan lokasinya tetap menjadi sesuatu yang tidak kita ketahui secara pasti.

Yang jelas, keselamatan kita tidak bergantung pada kemampuan menemukan bahtera tersebut.

Yang menyelamatkan adalah iman dan ketaatan kepada Allah.

Karena itu, saat membaca kisah Nabi Nuh alaihissalam, jangan berhenti pada pertanyaan:

“Di mana bahteranya?”

Mari lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih penting:

“Sudahkah aku mengikuti ajarannya?”

Sudahkah kita beribadah hanya kepada Allah?

Sudahkah kita bertakwa kepada-Nya?

Sudahkah kita menaati Rasul-Nya?

Sudahkah lisan kita banyak beristighfar?

Sudahkah kita mendoakan kedua orang tua dan kaum mukminin?

Itulah pelajaran yang tidak akan berubah, di mana pun tepatnya Al-Judi berada.

Adapun di mana bahtera Nabi Nuh alaihissalam berlabuh secara pasti?

Allah lebih mengetahui.

Tim Shahihfiqih, 27 September 2026 M / 14 Rabi’ul Akhir 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *