Pertanyaan:
Bagaimana agar memiliki pertemanan yang nerkah?
Jawaban:
Pertemanan yang berkah bukan sekadar tentang menemukan teman yang menyenangkan, tetapi tentang membangun persahabatan di atas ketakwaan kepada Allah.
1. Bangun Pertemanan di Atas Ketakwaan
Allah Ta’ala berfirman:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman karib pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Tali pertemanan yang tidak dibangun di atas ketakwaan pada akhirnya rapuh. Orang yang berteman karena keuntungan duniawi akan lebih mudah kecewa ketika keuntungan itu hilang atau harapannya tidak terpenuhi.
Berbeda dengan pertemanan yang dibangun karena Allah (lillah). Ia tidak menggantungkan kebahagiaan dan keuntungannya kepada temannya, tetapi kepada Allah. Karena itu, dalam suka maupun duka, ia selalu mengarahkan hubungan tersebut kepada muamalah dengan Allah: bagaimana pertemanan ini menjadi sebab mendapatkan pahala dan keridaan-Nya.
2. Teman yang Lillah Menginginkan Kebaikan untuk Temannya
Nabi ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45)
Maka teman yang benar-benar berteman karena Allah akan memperlakukan temannya sebagaimana ia ingin diperlakukan.
Ia menutup aib, mengusahakan kebaikan, dan tidak menjadikan kekurangan temannya sebagai bahan untuk menjatuhkannya.
Ia juga berani menyampaikan kebenaran, meskipun berbeda arus dengan temannya. Ia tidak sekadar mengiyakan semua perkataan demi mempertahankan hubungan.
Ia mampu melihat kekurangan temannya dan berani menasihati serta membantunya memperbaiki diri. Sebab, tujuan persahabatan bukan sekadar merasa nyaman bersama, tetapi saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan.
3. Teman yang Lillah Tidak Hanya Ada Saat Kita di Puncak
Pertemanan yang dibangun karena Allah tidak bergantung pada keadaan duniawi.
Ia membersamai temannya ketika berada di atas maupun ketika berada di bawah; ketika mendapatkan kesenangan maupun ketika menghadapi kesulitan. Ia membersamai dengan sabar ketika menghadapi kesulitan dan dengan syukur ketika mendapatkan nikmat.
Adapun pertemanan yang dibangun bukan karena Allah sering kali hanya bertahan selama ada kepentingan dan keuntungan. Ketika keadaan berubah, persahabatan pun ikut berubah.
4. Teman yang Lillah Akan Membersamai Hingga Surga
Persahabatan yang paling indah bukanlah persahabatan yang hanya berlangsung di dunia, tetapi yang menjadi sebab dua orang dikumpulkan kembali di dalam surga.
Allah Ta’ala menggambarkan keadaan orang-orang beriman di surga:
فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ
“Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil saling bertanya.”
(QS. Ash-Shaffat: 50)
Betapa indah ketika teman yang dahulu saling mengingatkan untuk shalat, saling menasihati dalam kebaikan, saling menguatkan dalam kesulitan, dan saling mengajak mendekat kepada Allah, akhirnya dipertemukan kembali di surga.
5. Jangan Sampai Pertemanan Menjadi Penyesalan di Akhirat
Sebaliknya, teman yang dibangun bukan karena Allah bahkan dapat menjadi sumber penyesalan yang sangat besar.
Allah Ta’ala berfirman:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
“Pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Aduhai celakanya aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman dekat. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadaku.’ Dan setan memang selalu meninggalkan manusia dalam keadaan terlantar.”
(QS. Al-Furqan: 27–29)
Maka, pilihlah teman yang ketika bersamanya kita semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh dari-Nya.
Sebab teman yang baik bukan hanya teman yang membuat kita bahagia di dunia, tetapi teman yang membantu kita selamat hingga akhirat.
Wallahu a’lam.
Tim Shahihfiqih, 2 September 2026 M / 19 Rabi’ul Awal 1448 H





