Jangan Salah Sikap Saat Gempa dan Gunung Meletus

Bismillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du.

Fenomena seperti gempa bumi dan gunung meletus memang wajar membuat manusia merasa takut. Terlebih, dalam beberapa hari terakhir BMKG masih mencatat aktivitas gempa di wilayah Indonesia, khususnya rangkaian gempa susulan di Flores. Pada 27 Agustus 2026, misalnya, BMKG mencatat gempa M5,1 di wilayah Flores, dan sebelumnya juga terjadi gempa besar di Flores pada 15 Agustus.

Pada hari yang sama, Gunung Lewotobi Laki-laki di NTT juga kembali mengalami erupsi.

Namun, seorang muslim tidak seharusnya menyikapi fenomena ini hanya dengan rasa takut, apalagi dengan menyebarkan berbagai spekulasi bahwa “ini pasti tanda kiamat”, “pasti adzab untuk masyarakat tertentu”, atau ramalan-ramalan yang tidak memiliki dasar.

Ada sikap yang lebih tepat dan lebih ilmiah sekaligus lebih sesuai dengan sunnah.

1. Mengakui bahwa gempa dan gunung berapi terjadi dengan izin Allah

Secara ilmiah, gempa bumi mempunyai sebab-sebab geologis dan aktivitas gunung api mempunyai mekanisme vulkanologis yang dapat dipelajari.

Tetapi bagi seorang muslim, mengetahui sebab alamiah tidak berarti menafikan kehendak Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30).

Artinya, seorang muslim memandang musibah dengan dua sisi:

  • Secara ilmiah, kita mempelajari sebab-sebab terjadinya gempa dan erupsi;
  • Secara keimanan, kita menyadari bahwa semua itu terjadi dengan qodho dan takdir Allah.

Jadi, tidak benar mempertentangkan antara “ini fenomena alam” dengan “ini terjadi atas kehendak Allah”. Keduanya bisa benar.

2. Jangan tergesa-gesa mengatakan bahwa gempa adalah adzab

Ini bagian yang sangat penting. Ketika terjadi gempa atau erupsi, sering muncul komentar, “Ini adzab karena maksiat.”

Masalahnya, kita tidak boleh memastikan sesuatu yang ghaib tanpa dalil.

Memang Allah Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah hendak membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa berbagai musibah dapat menjadi peringatan agar manusia kembali kepada Allah.

Tetapi bukan berarti setiap kali terjadi bencana kita boleh mengatakan, “Orang-orang yang terkena bencana pasti sedang dihukum Allah.”

Sebab orang yang terkena musibah bisa jadi:

  • Sedang mendapatkan peringatan,
  • Sedang mendapatkan ujian,
  • Sedang mendapatkan penghapus dosa,
  • Atau bahkan mendapatkan pahala yang sangat besar karena kesabarannya.

Bahkan orang yang paling mulia di sisi Allah, yaitu para nabi, juga mengalami berbagai musibah.

Karena itu, sikap yang benar adalah mengambil pelajaran tanpa mengklaim mengetahui perkara ghaib.

3. Justru peristiwa seperti ini seharusnya membuat hati lebih takut kepada Allah

Ada pelajaran menarik dari sunnah Nabi ﷺ.

Ketika melihat tanda-tanda alam yang kuat, Nabi ﷺ tidak bersikap cuek. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa ketika melihat awan, perubahan pada wajah Nabi ﷺ terlihat dan beliau merasa khawatir, karena beliau tidak tahu apakah di baliknya terdapat sesuatu seperti yang pernah menimpa kaum ‘Ad. (lihat: HR. Bukhari no. 3206).

Anas radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan bahwa ketika angin kencang bertiup, terlihat kekhawatiran pada wajah Nabi ﷺ karena beliau takut hal tersebut merupakan tanda kemurkaan Allah. (lihat: HR. Bukhari no. 1034).

Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak semestinya melihat fenomena alam hanya sebagai tontonan atau bahan konten.

Ketika melihat sesuatu yang dahsyat, hatinya tergerak, “Betapa lemahnya manusia dan betapa besar kekuasaan Allah.”

Gempa beberapa detik saja dapat membuat bangunan yang selama bertahun-tahun dibangun manusia menjadi rusak. Gunung yang selama ini terlihat kokoh dapat mengeluarkan material panas dalam jumlah besar.

Semua ini mengingatkan kita bahwa manusia sebenarnya sangat lemah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا

“Manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa’: 28).

4. Perbanyak taubat dan muhasabah

Inilah respons keagamaan yang paling penting. Bukan sibuk menerka, “Gempa berikutnya kapan?”, tetapi bertanya, “Kalau ternyata kematian datang kepadaku hari ini, sudahkah aku siap menghadap Allah?”

Peristiwa bencana seharusnya membuat kita memperbaiki:

  • Tauhid,
  • Shalat,
  • Taubat,
  • Hubungan dengan orang tua,
  • Hutang,
  • Kedzoliman kepada orang lain,
  • Amanah,
  • Dan berbagai dosa yang selama ini mungkin kita anggap ringan.

QS. Ar-Rum: 41 sendiri menyebutkan tujuan manusia merasakan sebagian akibat perbuatannya:

لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Agar mereka kembali.”

Jadi, pesan terbesar dari bencana bagi seorang muslim bukanlah kepanikan, tetapi kembali kepada Allah.

5. Perbanyak doa dan amal shalih

Ketika terjadi musibah, perbanyaklah doa, dzikir, istighfar, taubat, sedekah dan berbagai amal shalih.

Namun perlu diperhatikan: jangan membuat-buat ritual tertentu yang tidak memiliki landasan dari sunnah hanya karena sedang terjadi gempa.

Misalnya, mengatakan bahwa ketika gempa harus membaca doa tertentu dengan jumlah tertentu atau melakukan ritual tertentu tanpa dalil shahih. Yang lebih aman adalah memperbanyak doa dan istighfar secara umum.

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا

“Mengapa ketika datang kepada mereka adzab Kami, mereka tidak memohon dengan merendahkan diri?” (QS. Al-An’am: 43).

6. Tawakal bukan berarti mengabaikan peringatan keselamatan

Ini juga sangat penting. Ketika PVMBG menetapkan sebuah gunung pada Level III (Siaga), seorang muslim tidak boleh mengatakan, “Saya tawakal kepada Allah, jadi saya tidak perlu mengungsi.” Itu bukan tawakal. Itu bisa menjadi tindakan yang membahayakan diri sendiri.

Allah memerintahkan:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” QS. Al-Baqarah: 195

Maka mengikuti arahan BMKG, PVMBG, BNPB, BPBD dan pemerintah dalam masalah keselamatan bukan tanda lemahnya iman. Justru seseorang mengambil sebab yang dibolehkan syariat, kemudian bertawakal kepada Allah.

Kalau otoritas meminta masyarakat menjauhi zona bahaya, maka menjauh. Kalau diminta mengungsi, mengungsi. Kalau ada informasi tsunami, segera mengikuti jalur evakuasi. Dan setelah mengambil sebab, hati tetap bergantung kepada Allah.

7. Jangan ikut menyebarkan berita yang belum terverifikasi

Dalam situasi bencana, informasi palsu bisa sama berbahayanya dengan bencananya sendiri.

Misalnya, “Akan terjadi gempa besar malam ini.”, “Gunung X akan meletus besok jam sekian.”, “Menurut orang pintar, ini tanda kiamat sudah sangat dekat.” Informasi semacam ini jangan disebarkan tanpa dasar.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Untuk informasi gempa dan gunung api, rujuk sumber resmi seperti BMKG dan Badan Geologi/PVMBG, bukan ramalan media sosial. Badan Geologi sendiri pernah mengingatkan masyarakat agar tidak mempercayai dan menyebarkan video yang belum terverifikasi terkait aktivitas gunung api.

8. Jangan hanya takut untuk diri sendiri, tetapi doakan saudara kita

Kalau kita aman sementara saudara kita sedang berada di wilayah terdampak, maka jangan menjadikan musibah sebagai sekadar konten.

Doakan mereka. Bantu mereka. Salurkan sedekah jika diperlukan. Hubungi keluarga yang berada di daerah terdampak. Dan jika memiliki kemampuan, ikut membantu proses kemanusiaan melalui lembaga yang terpercaya.

Sebab Nabi ﷺ bersabda:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).

Jadi, bagaimana sikap seorang muslim?

Kalau diringkas, jangan hanya panik dan jangan pula meremehkan.

Sikap seorang muslim adalah takut kepada Allah → memperbanyak taubat → memperbanyak doa → mengambil sebab keselamatan → mengikuti informasi resmi → membantu korban → kemudian bertawakal kepada Allah.

Dan ada satu keseimbangan yang perlu dijaga, kita tidak boleh mengatakan dengan pasti, “Ini adalah adzab Allah kepada mereka.” Tetapi kita juga tidak boleh menjadikan semua bencana sebagai sekadar fenomena alam yang tidak memiliki pelajaran keimanan.

Secara ilmiah, kita mempelajari bagaimana gempa terjadi.

Secara syar’i, kita merenungkan siapa yang menguasai seluruh kejadian tersebut dan apa pelajaran yang harus kita ambil darinya.

Itulah sikap seorang muslim yang seimbang: tidak takhayul, tidak meramal perkara ghaib, tidak meremehkan bencana, tetapi juga tidak kehilangan tawakal.

Dan mungkin pertanyaan terpenting ketika melihat gempa dan gunung yang bergolak bukan, “Apakah ini tanda kiamat?” Tetapi:“Kalau kiamat benar-benar datang, apakah saya sudah siap?” Wallahu a’lamu bisshawab.

Tim Shahihfiqih, 14 Rabi’ul Awwal 1448 H/ 27 Agustus 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *