Ketika Ilmu Tidak Lagi Melahirkan Empati
Belakangan ini, publik kembali disuguhi berbagai komentar di media sosial yang dinilai tidak berempati terhadap pasien, khususnya mereka yang berasal dari kalangan masyarakat kurang mampu.
Tentu, kita tidak boleh menggeneralisasi. Banyak dokter dan tenaga kesehatan yang bekerja dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan kepedulian.
Namun, fenomena adanya sikap merendahkan pasien atau masyarakat yang dianggap berada di bawah secara ekonomi dan sosial tetap layak menjadi bahan muhasabah.
Sebab ketika seseorang mulai merasa lebih tinggi karena ilmu, profesi, gelar, penghasilan, atau kedudukan, lalu memandang rendah orang lain, persoalannya tidak lagi sekadar masalah etika.
Ada penyakit hati yang perlu diwaspadai: kesombongan.
Dan Al-Qur’an telah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang penyakit ini melalui kisah Qarun.
1. Qarun: Ketika Nikmat Berubah Menjadi Kesombongan
Qarun adalah seseorang yang diberikan kekayaan yang sangat besar. Allah Ta’ala berfirman:
وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
“Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau terlalu berbangga diri. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.’” (QS. Al-Qashash: 76)
Perhatikan nasihat kaumnya:
لَا تَفْرَحْ
“Janganlah engkau terlalu membanggakan diri.”
Masalah Qarun bukan sekadar memiliki banyak harta.
Masalahnya adalah bagaimana ia memandang harta tersebut.
Ia kemudian berkata:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي
“Dia berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)
Inilah akar penyakitnya.
Qarun tidak melihat nikmat sebagai karunia Allah yang harus disyukuri. Ia mengaitkannya dengan kehebatan dirinya: “Aku mendapatkannya karena aku memiliki ilmu.”
Seakan-akan: Aku hebat, maka aku mendapatkan ini semua.
Padahal Allah yang memberikan kemampuan, kesempatan, kesehatan, kecerdasan, ilmu, dan segala sebab yang mengantarkan seseorang kepada keberhasilan.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Segala nikmat yang ada pada kalian, maka semuanya berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Maka seorang profesional hendaknya berhati-hati.
Jangan sampai ilmu yang merupakan nikmat Allah justru menjadi sebab seseorang merasa lebih tinggi daripada manusia lainnya.
2. Ketika Keahlian Membuat Seseorang Merasa Lebih Tinggi
Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan harta.
Penyakit yang sama dapat muncul dalam bentuk yang berbeda:
• seseorang merasa tinggi karena gelarnya,
• merasa lebih mulia karena profesinya,
• merasa lebih pintar karena ilmunya,
• merasa lebih penting karena jabatannya,
• atau merasa lebih berharga karena kondisi ekonominya.
Padahal semua itu adalah karunia Allah.
Seorang dokter memiliki ilmu yang tidak dimiliki pasien.
Seorang akademisi memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki masyarakat awam.
Seorang profesional memiliki keahlian yang tidak dimiliki banyak orang.
Namun perbedaan kemampuan tidak boleh berubah menjadi alasan untuk merendahkan manusia.
Justru semakin besar ilmu yang Allah berikan, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menggunakan ilmu tersebut dalam kebaikan.
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)
Ilmu yang benar seharusnya membawa seseorang semakin dekat kepada Allah dan semakin mengenal kelemahan dirinya.
Bukan semakin tinggi hati.
3. Apa Hakikat Kesombongan?
Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hakikat kesombongan dengan sangat tegas. Beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.
فَقَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً.
قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.”
Seorang laki-laki berkata, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”
Beliau ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Perhatikan dua kata penting:
بَطَرُ الْحَقِّ
Menolak kebenaran.
غَمْطُ النَّاسِ
Meremehkan manusia.
Maka merendahkan orang lain bukan persoalan sepele.
Ketika seseorang memandang rendah orang lain hanya karena pendidikan, ekonomi, profesi, penampilan, atau status sosialnya, ia sedang melakukan sesuatu yang oleh Nabi ﷺ disebut sebagai bagian dari kibr, yang dikhawatirkan akan mencegahnya dari masuk surga.
4. Pasien yang Lemah Bukan Beban
Di sinilah Islam mengajarkan cara pandang yang sangat indah.
Orang yang lemah dan membutuhkan bantuan tidak selayaknya dipandang sebagai beban.
Bahkan bisa jadi mereka adalah sebab datangnya pertolongan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
“Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki hanyalah karena orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. Bukhari no. 2896)
Hadis ini mengubah cara pandang kita.
Pasien yang datang dalam keadaan sakit bukan sekadar orang yang membutuhkan jasa.
Orang miskin yang membutuhkan pelayanan bukan sekadar orang yang “merepotkan”.
Orang yang lemah bukan sekadar pihak yang berada di bawah kita.
Bisa jadi, melayani mereka justru menjadi sebab Allah menurunkan pertolongan dan keberkahan kepada kita.
Maka seorang tenaga kesehatan yang melayani pasien dengan sabar hendaknya tidak berpikir: “Saya sedang berbuat baik kepada orang ini.”
Tetapi hendaknya ia menyadari: “Allah sedang memberi saya kesempatan untuk berbuat baik melalui orang ini.”
Perbedaan cara pandang ini sangat besar.
Yang pertama dapat melahirkan rasa berjasa.
Yang kedua melahirkan syukur.
5. Ilmu Kedokteran Seharusnya Melahirkan Rahmat
Profesi kesehatan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kelemahan manusia.
Dokter dan tenaga kesehatan berhadapan dengan manusia ketika mereka:
• sedang sakit,
• sedang takut,
• sedang lemah,
• sedang membutuhkan bantuan,
• bahkan terkadang berada di antara hidup dan mati.
Karena itu, ilmu yang berkaitan dengan kesehatan semestinya melahirkan rahmah dan kelembutan.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi ﷺ:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali ’Imran: 159)
Ayat ini memang berbicara tentang Nabi ﷺ dan dakwahnya. Namun di dalamnya terdapat pelajaran besar tentang pentingnya kelembutan dalam berinteraksi dengan manusia.
Betapa ironis jika seseorang memiliki ilmu yang sangat tinggi, tetapi ilmu tersebut tidak menjadikannya lebih lembut kepada manusia.
6. Jangan Sampai Profesi Menjadi Sebab Kesombongan
Profesi adalah amanah, imu adalah amanah, jabatan adalah amanah, kekayaan adalah amanah.
Dan semua itu akan ditanya oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian pada hari itu kalian pasti akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8)
Maka seorang dokter tidak hanya akan ditanya: “Seberapa banyak pasien yang engkau tangani?”
Tetapi ia juga perlu mengingat: “Bagaimana sikapmu kepada mereka?”
Seorang profesional tidak hanya perlu bertanya: “Seberapa tinggi ilmu yang telah aku miliki?”
Tetapi: “Apa yang telah kulakukan dengan ilmu tersebut?”
Karena ilmu yang tidak disertai ketakwaan dapat menjadi ancaman.
7. Akhir Kisah Qarun: Ketika Semua yang Dibanggakan Hilang
Kesombongan Qarun akhirnya membawa kehancuran. Allah Ta’ala berfirman:
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنتَصِرِينَ
“Maka Kami membenamkan dia beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang dapat menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.” (QS. Al-Qashash: 81)
Harta yang dibanggakannya tidak menyelamatkannya, kedudukan tidak menyelamatkannya, kehebatan tidak menyelamatkannya, semua yang dahulu membuatnya merasa tinggi ternyata tidak berdaya di hadapan Allah.
Inilah salah satu pelajaran terbesar dari kisah Qarun: Apa yang membuat seseorang merasa tinggi di dunia belum tentu membuatnya mulia di sisi Allah.
8. Jangan Menginginkan “Ketinggian” di Atas Manusia
Menariknya, setelah kisah Qarun, Allah Ta’ala menutup rangkaian kisah tersebut dengan sebuah kaidah yang sangat dalam:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di bumi dan tidak pula kerusakan. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)
Perhatikan:
لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ
“Mereka tidak menginginkan ketinggian di muka bumi.”
Inilah inti yang sangat penting.
Masalahnya bukan seseorang memiliki kedudukan tinggi. Bukan masalah seseorang memiliki ilmu tinggi. Bukan masalah seseorang memiliki penghasilan tinggi.
Tetapi masalahnya adalah ketika hatinya ingin meninggi di atas manusia lainnya.
9. Dunia Bukan untuk Disombongkan
Sebelumnya, Allah ‘Azza wa Jalla juga mengabadikan nasihat yang diberikan kepada Qarun:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan.
Dunia bukan untuk disombongkan, bukan pula untuk ditinggalkan. Dunia adalah sarana menuju akhirat.
Maka ilmu, profesi, jabatan, harta, dan kemampuan yang Allah berikan seharusnya menjadi sarana untuk: berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita.
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”
Betapa indah jika prinsip ini menjadi ruh seorang tenaga kesehatan:
Allah telah memberinya ilmu untuk menolong manusia.
Maka ia menggunakan ilmunya untuk menolong manusia.
10. Jangan Sampai Jari Kita Mengungkapkan Penyakit Hati
Fenomena media sosial juga memberikan pelajaran penting.
Hari ini, sebuah komentar yang ditulis dalam beberapa detik dapat tersebar kepada ribuan orang.
Karena itu, seorang muslim harus berhati-hati dengan apa yang ia tulis.
Allah Ta’ala berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidaklah seseorang mengucapkan suatu perkataan melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Jika ucapan saja dicatat, bagaimana dengan tulisan yang sengaja kita ketik, unggah, dan sebarkan?
Maka jangan sampai seseorang memiliki ilmu yang tinggi tetapi lisannya merendahkan manusia.
Jangan sampai memiliki profesi yang mulia tetapi jari-jarinya menulis sesuatu yang menghinakan orang lain.
Dan jangan sampai sesuatu yang dibangun selama bertahun-tahun—ilmu, profesi, dan kepercayaan masyarakat—rusak karena beberapa kalimat yang lahir dari kesombongan.
Penutup: Jadikan Kelebihan Sebagai Jalan untuk Merendah
Kisah Qarun bukan hanya kisah tentang orang kaya, ia adalah cermin bagi setiap orang yang memiliki kelebihan.
Ketika Allah memberikan ilmu, jangan berkata: “Aku hebat karena ilmuku.”
Ketika Allah memberikan jabatan, jangan merasa lebih tinggi daripada manusia lainnya.
Ketika Allah memberikan rezeki, jangan lupa siapa yang memberikannya.
Ketika Allah memberikan profesi yang terhormat, jangan lupa bahwa profesi tersebut adalah amanah.
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memberikan teladan yang sangat indah ketika melihat nikmat besar yang Allah berikan kepadanya.
Beliau berkata:
هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
“Ini adalah karunia Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS. An-Naml: 40)
Inilah sikap yang seharusnya dimiliki setiap orang yang diberi kelebihan:
• diberi ilmu → semakin rendah hati.
• diberi profesi → semakin banyak melayani.
• diberi kedudukan → semakin takut kepada Allah.
• diberi rezeki → semakin banyak bersyukur.
Karena pada akhirnya, bukan profesi yang menentukan kemuliaan kita.
Bukan gelar, bukan harta, bukan jabatan.
Tetapi ketakwaan dan bagaimana kita menggunakan semua nikmat tersebut untuk berbuat baik.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Wallahu a’lam.
Tim Shahihfiqih, 8 Agustus 2026 / 23 Shafar 1448





