Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du.
Kehilangan orang yang sangat dicintai merupakan salah satu ujian yang paling berat bagi manusia. Terlebih ketika yang hilang adalah seorang anak. Perasaan sedih, menangis, dan berat hati adalah sesuatu yang manusiawi. Namun yang luar biasa adalah bagaimana seseorang tetap menjaga imannya ketika menghadapi kesedihan tersebut.
Allah mengabadikan kisah Nabi Ya’qub alaihissalam ketika beliau kehilangan putranya, Nabi Yusuf alaihissalam. Nabi Ya’qub bukan hanya seorang ayah yang kehilangan anak, tetapi juga seorang nabi yang mendapatkan ujian berat dalam kehidupan keluarganya.
Ketika saudara-saudara Yusuf membawa kabar bahwa Yusuf telah meninggal setelah dimakan serigala, Nabi Ya’qub tidak serta-merta mempercayai cerita tersebut. Beliau mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kisah yang disampaikan kepada dirinya.
Nabi Ya’qub Memilih Kesabaran Yang Indah
Allah berfirman:
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
“Kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.” (QS. Yusuf: 18).
Perhatikan bagaimana Nabi Ya’qub menghadapi berita yang sangat menyakitkan tersebut.
Beliau tidak mengatakan bahwa dirinya tidak sedih. Beliau juga tidak menolak kenyataan bahwa dirinya sedang menghadapi ujian. Akan tetapi, beliau memilih فَصَبْرٌ جَمِيلٌ — kesabaran yang indah.
Para ulama menjelaskan bahwa sabar yang indah adalah kesabaran yang tidak diiringi dengan sikap yang bertentangan dengan syariat, seperti mencela takdir Allah, berburuk sangka kepada Allah, atau menjadikan musibah sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan.
Kesedihan Tidak Berarti Tidak Sabar
Menariknya, beberapa waktu kemudian kesedihan Nabi Ya’qub terhadap Yusuf semakin berat. Allah berfirman:
وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarahnya.” (QS. Yusuf: 84).
Ayat ini menunjukkan bahwa sabar tidak berarti seseorang tidak boleh menangis atau merasa sedih.
Nabi Ya’qub tetap merasakan kesedihan yang sangat dalam. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan bahwa kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.
Namun kesedihan tersebut tidak membuat beliau menentang Allah. Beliau tetap menjaga lisannya, tetap beriman kepada takdir Allah, dan tetap berharap kepada pertolongan-Nya.
Nabi Ya’qub Mengadu Hanya Kepada Allah
Inilah salah satu bagian yang sangat indah dari kisah tersebut. Nabi Ya’qub berkata:
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86).
Ini bukan sekadar kalimat penghiburan. Ini adalah prinsip penting dalam menghadapi musibah.
Manusia boleh merasa sedih. Manusia boleh menangis. Manusia boleh menceritakan kesulitannya kepada orang lain dalam rangka meminta bantuan atau dukungan. Tetapi seorang mukmin tidak menjadikan keluh kesahnya sebagai bentuk protes kepada Allah.
Sebaliknya, ia mengarahkan pengaduannya kepada Allah. Ia mengangkat tangannya dalam doa. Ia meminta pertolongan kepada Allah. Ia yakin bahwa hanya Allah yang benar-benar mengetahui isi hatinya dan mampu mengubah keadaan.
Tetap Berharap Ketika Semua Terlihat Mustahil
Kisah Nabi Ya’qub juga mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh cepat berputus asa dari rahmat Allah.
Perhatikan nasihat Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya:
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kalian berputus asa dari pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari pertolongan Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).
Sudah bertahun-tahun Yusuf tidak diketahui keberadaannya. Secara manusiawi, keadaan tersebut sangat berat. Namun Nabi Ya’qub tidak mengatakan bahwa semuanya sudah berakhir.
Beliau justru memerintahkan anak-anaknya untuk kembali mencari Yusuf dan saudaranya, serta melarang mereka berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah.
Allah Tidak Pernah Menyia-nyiakan Kesabaran
Apa yang kemudian terjadi?
Yusuf ternyata masih hidup. Bahkan Allah mengangkat derajatnya hingga menjadi seorang pemimpin di Mesir. Pada akhirnya, Nabi Ya’qub dipertemukan kembali dengan putranya.
Allah berfirman:
فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ
“Maka ketika mereka masuk menghadap Yusuf, dia merangkul kedua orang tuanya dan berkata, ‘Masuklah kalian ke negeri Mesir, insyaaallah dalam keadaan aman.’” (QS. Yusuf: 99).
Kesedihan yang panjang akhirnya berubah menjadi kebahagiaan. Penantian yang bertahun-tahun akhirnya berujung pada pertemuan.
Namun yang perlu kita pahami, pelajaran utama dari kisah ini bukanlah bahwa setiap orang yang kehilangan pasti akan mendapatkan kembali apa yang hilang dalam bentuk yang sama.
Pelajarannya adalah bahwa seorang mukmin harus tetap bersabar dan berharap kepada Allah, apa pun hasil akhir yang Allah tetapkan.
Tidak Semua Kesedihan Berakhir Dengan Cara Yang Sama
Kisah Nabi Ya’qub tidak boleh dipahami sebagai jaminan bahwa setiap orang yang kehilangan orang tercinta pasti akan mendapatkannya kembali di dunia.
Ada orang yang kehilangan anak dan tidak pernah bertemu kembali di dunia. Ada yang kehilangan pasangan. Ada yang kehilangan orang tua. Ada pula yang kehilangan harta, pekerjaan, kesehatan, atau kesempatan yang sangat ia cintai.
Tetapi semuanya memiliki satu prinsip yang sama: Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran seorang hamba.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang mukmin bukan selalu terletak pada apakah sesuatu yang hilang kembali atau tidak. Ukuran keberhasilannya adalah apakah ia tetap dekat kepada Allah ketika diuji.
Kesabaran Nabi Ya’qub Relevan Dengan Kehidupan Kita
Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang menunggu kabar dari keluarganya. Ada orang tua yang sedang mengkhawatirkan anaknya. Ada seseorang yang kehilangan pekerjaan dan belum mengetahui kapan mendapatkan gantinya. Ada pula yang sedang mengalami musibah yang membuat masa depan terasa gelap.
Kisah Nabi Ya’qub mengajarkan bahwa ketika semua jalan terasa buntu, masih ada satu jalan yang tidak pernah tertutup, yaitu jalan menuju Allah.
Ketika hati berkata, “Sudah tidak ada harapan,” seorang mukmin mengingat bahwa pertolongan Allah tidak pernah dibatasi oleh kemampuan manusia.
Ketika manusia berkata, “Ini mustahil,” Allah mengajarkan kepada kita bahwa Dia mampu mengubah keadaan dalam waktu yang tidak kita sangka.
Jangan Putus Asa Dari Pertolongan Allah
Maka ketika kita sedang menghadapi kehilangan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang meninggalkan kita.
Bisa jadi Allah sedang menguji kesabaran kita. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih banyak berdoa. Bisa jadi Allah sedang mengangkat derajat kita melalui musibah. Dan bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang belum kita pahami.
Tugas seorang hamba bukan mengetahui seluruh rahasia takdir Allah. Tugas seorang hamba adalah bersabar, bertawakal, terus berdoa, mengambil sebab yang dibenarkan syariat, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Nabi Ya’qub telah menunjukkan kepada kita bagaimana seorang mukmin menghadapi kehilangan: sedih tanpa berputus asa, menangis tanpa mencela takdir, mengadu tetapi hanya kepada Allah, dan terus berharap meskipun keadaan tampak sangat sulit.
Pelajaran Terbesar Dari Kisah Nabi Ya’qub
Pada akhirnya, kisah Nabi Ya’qub alaihissalam mengajarkan bahwa kesabaran bukan berarti tidak merasa sakit, tetapi tetap berpegang kepada Allah ketika hati sedang sakit.
Kita mungkin tidak mengetahui bagaimana Allah akan menyelesaikan masalah kita. Kita juga tidak mengetahui kapan pertolongan itu datang.
Namun satu hal yang harus kita yakini: selama kita masih menggantungkan hati kepada Allah, tidak ada alasan untuk berputus asa.
Karena sebagaimana Nabi Ya’qub berkata:
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ
“Dan janganlah kalian berputus asa dari pertolongan Allah.” (QS. Yusuf: 87).
Maka ketika hidup terasa berat, jangan berhenti berharap kepada Allah. Bisa jadi, di balik penantian yang panjang, Allah sedang menyiapkan pertolongan yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan. Wallahu a’lamu bishshawab.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil’alamin.
Tim Shahihfiqih, 29 Rabi’ul Awwal 1448 H/ 11 September 2026 M





