Angin Yang Menghancurkan Kaum ‘Ad

Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du.

Kaum ‘Ad bukan kaum yang lemah. Al-Qur’an menggambarkan mereka memiliki kekuatan, kemampuan, dan kedudukan yang besar pada zamannya. Mereka bahkan sampai berkata dengan penuh kesombongan:

مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

“Siapakah yang lebih kuat daripada kami?” (QS. Fussilat: 15).

Tetapi kesombongan itu tidak menyelamatkan mereka. Ketika adzab Allah datang, ternyata sesuatu yang selama ini mereka anggap biasa—angin—menjadi sebab kebinasaan mereka. Sementara Nabi Hud alaihissalam dan orang-orang yang beriman bersamanya Allah selamatkan dengan rahmat-Nya.

Inilah salah satu pelajaran besar dari kisah kaum ‘Ad: kekuatan manusia tidak pernah berarti apabila digunakan untuk menentang Allah, sementara keselamatan seorang hamba pada akhirnya berada di tangan Allah.

Siapakah kaum ‘Ad?

Allah mengutus Nabi Hud alaihissalam kepada kaum ‘Ad. Dakwah beliau sangat jelas dan mendasar:

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Dan kepada kaum ‘Ad, Kami utus saudara mereka, Hud. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Tidakkah kalian bertakwa?’” (QS. Al-A‘raf: 65).

Dakwah Nabi Hud alaihissalam bukan sekadar mengajak mereka menjadi masyarakat yang baik secara sosial. Beliau terlebih dahulu menyeru kepada tauhid: beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan kesyirikan.

Allah juga menyebutkan bahwa kaum ‘Ad tinggal di wilayah Al-Ahqaf:

وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ

“Dan ingatlah saudara kaum ‘Ad ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di al-Ahqaf…” (QS. Al-Ahqaf: 21).

Al-Ahqaf secara bahasa berkaitan dengan bukit atau gundukan pasir. Para mufassir memberikan beberapa penjelasan tentang kawasan tersebut. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan berbagai riwayat tentang wilayah kaum ‘Ad, termasuk keterangan yang mengaitkannya dengan kawasan Yaman dan sekitar Hadramaut. (lihat: Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Ahqaf: 21).

Karena itu, lebih berhati-hati untuk tidak menetapkan satu lokasi modern tertentu sebagai lokasi pasti kaum ‘Ad tanpa dalil yang kuat.

Allah memberi mereka kekuatan yang besar

Al-Qur’an menggambarkan kaum ‘Ad sebagai kaum yang memiliki kekuatan besar. Allah berfirman:

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

“Adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, ‘Siapakah yang lebih kuat daripada kami?’ Tidakkah mereka melihat bahwa Allah yang menciptakan mereka lebih kuat daripada mereka? Dan mereka mengingkari tanda-tanda Kami.” (QS. Fussilat: 15).

Perhatikan masalahnya, bukan memiliki kekuatan yang menjadi kesalahan. Tetapi mereka menjadikan kekuatan itu sebagai sebab kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.

Mereka memiliki kemampuan, tetapi tidak tunduk kepada Pencipta kemampuan tersebut. Jadi, seseorang jangan tertipu dengan apa yang dimilikinya. Sebab Allah-lah yang menciptakan semua kekuatan tersebut.

Nabi Hud alaihissalam tetap teguh ketika kaumnya menolak

Dakwah beliau tidak diterima dengan mudah, kaumnya berkata:

مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

“Engkau tidak membawa bukti yang jelas kepada kami. Kami tidak akan meninggalkan sesembahan kami hanya karena perkataanmu, dan kami tidak akan beriman kepadamu.” (QS. Hud: 53).

Bahkan mereka menuduh Nabi Hud alaihissalam mendapatkan gangguan dari sesembahan mereka:

إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ

“Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan keburukan kepadamu.” (QS. Hud: 54).

Namun Nabi Hud alaihissalam tidak mundur dari tauhid, beliau berkata:

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ ۚ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Rabb-ku dan Rabb kalian. Tidak ada satu makhluk melata pun melainkan Dia yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabb-ku berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 56).

Ketika adzab datang, mereka bahkan salah mengenalinya

Kemudian tibalah saat yang telah mereka minta agar disegerakan. Allah berfirman:

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۖ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.’ Bahkan bukan! Itulah adzab yang kalian minta agar disegerakan, berupa angin yang mengandung adzab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 24).

Mereka melihat sesuatu yang mereka kira akan membawa rahmat, ternyata justru membawa adzab. Mereka membutuhkan hujan. Karena itu, ketika awan datang, mereka bergembira. Tetapi apa yang mereka tunggu sebagai nikmat ternyata adalah awal kebinasaan.

Ada sesuatu yang terlihat menyenangkan tetapi dapat menjadi ujian. Ada sesuatu yang terlihat berat tetapi ternyata menjadi sebab kebaikan. Karena itu seorang mukmin selalu meminta kepada Allah agar diberikan khusnul khatimah, keselamatan, dan petunjuk, bukan sekadar sesuatu yang tampak menyenangkan.

Angin itu berlangsung tujuh malam dan delapan hari

Allah menggambarkan kedahsyatan adzab tersebut:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ ۝ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا ۖ فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ ۝ فَهَلْ تَرَىٰ لَهُم مِّنْ بَاقِيَةٍ

“Adapun kaum ‘Ad, mereka dibinasakan dengan angin yang sangat kencang lagi dahsyat.(6) Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus. Maka kamu melihat kaum itu bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong.(7) Maka adakah kamu melihat seorang pun dari mereka yang tersisa?(8).” (QS. Al-Haqqah: 6–8).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa kata حُسُومًا menunjukkan berlangsungnya azab tersebut secara berturut-turut. (lihat: Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Haqqah: 7).

Nabi ﷺ mengajarkan kita mengingat kaum ‘Ad ketika angin bertiup kencang

Kisah kaum ‘Ad bukan sekadar sejarah masa lalu. Rasulullah ﷺ sendiri mengingat kisah kaum ‘Ad ketika melihat angin atau tanda-tanda cuaca yang kuat. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

“Apabila angin bertiup kencang, Nabi ﷺ berdoa, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan yang dengannya ia dikirimkan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan yang ada padanya, dan keburukan yang dengannya ia dikirimkan.’” (HR. Muslim no. 899).

Aisyah juga meriwayatkan bahwa ketika beliau melihat perubahan awan dan angin, wajah Nabi ﷺ berubah. Ketika ditanya, beliau mengingat apa yang terjadi kepada kaum ‘Ad sebagaimana disebut dalam QS. al-Ahqaf: 24. (lihat: HR. Muslim no. 899).

Ini menunjukkan bagaimana seorang mukmin memandang fenomena alam bukan sekadar sebagai fenomena fisik, tetapi juga sebagai tanda kekuasaan Allah yang mengingatkan manusia kepada Rabb-nya.

Pelajaran untuk kehidupan kita hari ini

Kisah Nabi Hud alaihissalam sangat relevan untuk kehidupan seorang muslim. Ketika memiliki jabatan, jangan berkata dalam hati, “Siapa yang bisa mengalahkan saya?” Ketika mempunyai uang, jangan merasa “Saya bisa menyelesaikan semuanya sendiri.” Ketika mempunyai ilmu, jangan merasa “Saya tidak membutuhkan nasihat.” Ketika mempunyai kekuatan fisik, jangan merasa “Saya aman dari bahaya.” Dan ketika mendapatkan kenikmatan, jangan lupa bahwa yang memberikan seluruh kenikmatan tersebut adalah Allah.

Kaum ‘Ad mengajarkan kepada kita bahwa manusia bisa menjadi sangat kuat di mata manusia, tetapi tetap sangat lemah di hadapan Allah. Sebaliknya, seorang mukmin mungkin tampak lemah menurut ukuran dunia, tetapi apabila dia memiliki iman, tawakal, dan ketakwaan, maka dia berada dalam penjagaan Allah sesuai kehendak-Nya. Wallahu a’lamu bishshawab.

Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil’alamin.

Tim Shahihfiqih, 12 Rabi’uts Tsani 1448 H/ 23 September 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *