Kandungan Mendalam dari Surat Singkat Nabi Sulaiman ‘alaihissalam kepada Balqis

Di antara kisah yang paling menakjubkan dalam Al-Qur’an adalah kisah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam bersama Ratu Saba’, Balqis. Allah menganugerahkan kepada Nabi Sulaiman kerajaan yang sangat besar. Manusia, jin, dan burung berada di bawah kekuasaannya. Namun di balik kemegahan kerajaan tersebut, beliau tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, tetapi sebagai sarana untuk menegakkan tauhid dan mengajak manusia kembali kepada Allah.

Pada suatu hari, ketika Nabi Sulaiman memeriksa pasukannya, beliau tidak mendapati burung hudhud. Beliau pun mempertanyakan ketidakhadirannya dan mengancam akan memberikan hukuman jika hudhud tidak memiliki alasan yang benar.

Tidak lama kemudian hudhud datang membawa berita yang sangat penting. Ia mengabarkan bahwa dirinya melihat suatu kaum yang dipimpin seorang wanita, yaitu Balqis. Ia memiliki kerajaan yang besar, tetapi kaumnya justru menyembah matahari dan berpaling dari menyembah Allah.

Nabi Sulaiman kemudian mengirimkan sebuah surat kepada Balqis melalui hudhud. Surat itu sangat singkat, tetapi kandungannya sangat dalam:

إِنَّهُۥ مِن سُلَيۡمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ۝ أَلَّا تَعْلُواْ عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya adalah: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Janganlah kalian menyombongkan diri terhadapku dan datanglah kepadaku dalam keadaan berserah diri.” (QS. An-Naml: 30–31)

Surat yang sangat singkat ini membuat Balqis berkata kepada kaumnya:

يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ

“Wahai para pembesar, sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” (QS. An-Naml: 29)

Mengapa surat yang begitu singkat disebut mulia?

Karena kemuliaan sebuah perkataan bukan diukur dari panjangnya, tetapi dari kemuliaan kandungannya, kebenaran yang dibawanya, dan besarnya kebaikan yang ingin dicapainya.

Surat Nabi Sulaiman ini bahkan memuat prinsip-prinsip besar dalam dakwah: dimulai dengan nama Allah, memperkenalkan-Nya dengan nama Ar-Rahman Ar-Rahim, mengarahkan manusia dari makhluk kepada Khaliq, membatalkan kesyirikan, mengajak kepada Islam, dan mematahkan kesombongan yang menghalangi seseorang dari menerima kebenaran.

Mari kita renungkan kandungan surat yang singkat ini.

1. Dakwah Dimulai dengan Nama Allah

إِنَّهُۥ مِن سُلَيۡمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya adalah: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”

Perhatikan bagaimana Nabi Sulaiman memulai suratnya.

Beliau tidak memulainya dengan memperkenalkan kerajaan, kekuasaan, jumlah pasukan, atau kekuatan militernya. Beliau justru memulainya dengan:

بِسْمِ اللَّهِ

“Dengan nama Allah.”

Ini menunjukkan bahwa beliau mengawali urusannya dengan meminta pertolongan kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, dan mengharap keberkahan dengan menyebut nama-Nya.

Seakan-akan beliau ingin menunjukkan bahwa dakwah yang dibawanya bukanlah ajakan kepada dirinya, bukan pula ambisi seorang raja untuk memperluas kekuasaan. Ia adalah dakwah kepada Allah.

Seorang hamba tidak akan mampu menyempurnakan urusannya tanpa pertolongan dan taufik Allah. Karena itu, ketika seorang hamba mengucapkan Bismillah, seakan-akan ia mengatakan:

“Aku memulai urusan ini dengan memohon pertolongan Allah, bertawakal kepada-Nya, dan mengakui bahwa aku tidak mampu melakukan apa pun tanpa pertolongan-Nya.”

2. Mengapa Nama “Allah” Disebut?

Nama Allah adalah nama yang mencakup seluruh makna nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Dia adalah al-Ma’luh, Dzat yang berhak diibadahi dan dicintai, diagungkan, ditunduki, diharapkan, dan ditakuti.

Hati hanya boleh menghambakan diri kepada-Nya.

Karena Dialah yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan Dialah yang mencurahkan seluruh nikmat kepada para hamba-Nya, baik nikmat yang tampak maupun yang tersembunyi.

Maka ketika Nabi Sulaiman menulis:

بِسْمِ اللَّهِ

Sejak awal beliau telah mengarahkan hati Balqis kepada Dzat yang sebenarnya harus menjadi tujuan penghambaan, bukan kepada Sulaiman dan bukan pula kepada kerajaan atau kekuasaan dunia.

3. “Ar-Rahman Ar-Rahim”: Dakwah yang Berdiri di Atas Rahmat

Setelah menyebut nama Allah, Nabi Sulaiman melanjutkan:

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Di sini terdapat keindahan yang sangat dalam.

Ar-Rahman menunjukkan luasnya rahmat Allah. Rahmat-Nya meliputi seluruh makhluk: orang yang taat maupun yang durhaka, orang beriman maupun orang kafir.

Tidak ada satu pun makhluk yang hidup kecuali menikmati berbagai bentuk rahmat Allah.

Allah menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, menundukkan apa yang ada di langit dan bumi untuk kemaslahatan mereka, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, mengatur matahari dan bulan, serta memberikan berbagai nikmat yang tidak mungkin dihitung oleh manusia.

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.”(QS. Ibrahim: 34)

Namun ada kesesuaian yang sangat indah antara penyebutan Ar-Rahman dalam surat Nabi Sulaiman dengan keadaan kaum Balqis.

Mereka adalah kaum yang menyembah matahari.

Mereka melihat cahaya matahari, merasakan manfaatnya, melihat tanaman tumbuh karena sebab-sebab yang Allah ciptakan berkaitan dengannya, kemudian mereka menjadikan matahari sebagai sesembahan.

Padahal matahari yang mereka sembah itu hanyalah makhluk yang ditundukkan oleh Allah.

Allah-lah yang menciptakan matahari, mengatur perjalanannya, menentukan terbit dan tenggelamnya, mengatur cahayanya, dan menjadikannya sebagai salah satu sebab kemaslahatan makhluk.

Matahari sendiri tidak mampu mencegah dirinya dari tenggelam.

Ia tidak mampu menolak datangnya malam.

Ia tidak memiliki kekuasaan independen untuk memberikan manfaat atau menolak mudarat.

Bahkan matahari yang mereka sembah itu terbenam dan menghilang, sedangkan Allah tidak pernah menghilang dan tidak pernah tertutupi oleh malam ataupun siang.

Maka bagaimana mungkin sesuatu yang terbenam dan berada di bawah kendali disembah, sementara Dzat yang mengendalikan dan mengaturnya justru ditinggalkan?

Di sinilah sangat indah penyebutan:

الرَّحْمَٰنِ

Allah adalah Ar-Rahman yang telah menundukkan matahari untuk manusia, bukan matahari yang menjadi Rabb manusia.

4. Dari Menyembah Matahari kepada Menyembah Pencipta Matahari

Hal ini semakin jelas dalam firman Allah:

أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Agar mereka tidak bersujud kepada Allah yang mengeluarkan apa yang tersembunyi di langit dan di bumi.” (QS. An-Naml: 25)

Kata الْخَبْءُ berarti sesuatu yang tersembunyi dan tidak tampak.

Allah mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi dan mengeluarkan berbagai hal yang tersembunyi di langit dan bumi.

Dia mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari bumi.

Dia membelah biji sehingga darinya keluar tanaman dan pepohonan.

Dia mengeluarkan berbagai sebab rezeki dan kehidupan yang sebelumnya tersembunyi dari pengetahuan manusia.

Tidak ada satu pun dari semua itu yang terjadi secara mandiri.

Semuanya berada di bawah penciptaan, kehendak, dan pengaturan Allah.

Di sinilah letak kesalahan besar kaum Balqis.

Mereka melihat sebab, tetapi melupakan Musabbibul Asbab, Dzat yang menciptakan dan menundukkan seluruh sebab.

Mereka melihat matahari memberikan cahaya, lalu menjadikannya sesembahan.

Padahal matahari hanyalah sebab yang Allah ciptakan.

Demikian pula air, tanah, udara, cahaya, dan seluruh sebab kehidupan.

Semuanya hanyalah makhluk.

Maka salah satu jalan setan dalam menyesatkan manusia adalah memindahkan ketergantungan hati dari Pencipta sebab kepada sebab itu sendiri, hingga manusia memandang sebab seolah-olah memiliki pengaruh secara independen.

Padahal tidak ada sebab yang memberikan pengaruh kecuali dengan kehendak Allah.

Maka yang seharusnya terikat di hati bukanlah sebab, tetapi Dzat yang menciptakan dan menundukkan sebab tersebut.

5. Ar-Rahman: Bukan Hanya Memberikan Rahmat kepada Tubuh, tetapi Juga kepada Ruh

Ketika kita berbicara tentang Ar-Rahman, jangan sampai rahmat Allah hanya dipahami dalam bentuk nikmat jasmani: makanan, minuman, kesehatan, hujan, tanaman, matahari, dan berbagai kenikmatan dunia.

Rahmat Allah yang paling agung justru adalah rahmat kepada hati dan ruh.

Allah tidak menciptakan manusia lalu membiarkan mereka hidup tanpa petunjuk.

Dia mengutus para rasul dan menurunkan wahyu. Allah berfirman:

وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنَ الرَّحْمَٰنِ مُحْدَثٍ إِلَّا كَانُوا عَنْهُ مُعْرِضِينَ

“Tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Ar-Rahman, kecuali mereka selalu berpaling darinya.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 5)

Perhatikan:

الذِّكْرُ—peringatan yang menghidupkan hati—datang مِنَ الرَّحْمَٰنِ, dari Ar-Rahman.

Ini menunjukkan bahwa mengutus para rasul dan menurunkan wahyu merupakan bagian dari rahmat Allah.

Sebagaimana Allah tidak membiarkan manusia tanpa sebab untuk memenuhi kebutuhan tubuh mereka, Allah juga tidak membiarkan mereka tanpa sebab untuk memperbaiki hati dan kehidupan akhirat mereka.

Allah memberikan makanan bagi jasad.

Allah juga memberikan wahyu bagi ruh.

Allah memberikan hujan untuk menghidupkan bumi.

Allah menurunkan wahyu untuk menghidupkan hati.

Allah memberikan cahaya matahari untuk menerangi pandangan mata.

Allah memberikan cahaya wahyu untuk menerangi hati.

Maka sangat indah jika kita melihat hubungan ini dengan surat Nabi Sulaiman.

Kaum Balqis telah menikmati rahmat Ar-Rahman dalam kehidupan dunia, tetapi mereka belum mengenal Ar-Rahman yang memberikan seluruh nikmat tersebut.

Kemudian Allah mengirim kepada mereka seorang rasul, yaitu Sulaiman ‘alaihis salam, untuk mengajak mereka mengenal Sang Pemberi nikmat dan beribadah hanya kepada-Nya.

Seakan-akan pesan surat itu:

Kalian telah menikmati rahmat-Nya dalam kehidupan kalian. Sekarang kenalilah Dzat yang memberikan rahmat tersebut dan tunduklah kepada-Nya.

6. Lalu Mengapa Setelahnya Ada Penyebutan “Ar-Rahim”?

Allah berfirman:

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Jika Ar-Rahman menunjukkan luasnya rahmat Allah, maka Ar-Rahim menunjukkan rahmat khusus yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Di antara rahmat khusus tersebut adalah:

  • iman,
  • hidayah,
  • taufik untuk melakukan ketaatan,
  • ampunan,
  • pertolongan,
  • dan rahmat di akhirat berupa keselamatan serta masuk ke dalam surga.

Dengan demikian, dalam penyebutan:

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

terdapat makna yang sangat indah.

Allah adalah Ar-Rahman yang rahmat-Nya luas dan meliputi seluruh makhluk.

Dan Dia adalah Ar-Rahim yang memberikan rahmat khusus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat.

Maka manusia tidak hanya membutuhkan rahmat Allah untuk kehidupan tubuhnya, tetapi lebih membutuhkan rahmat-Nya untuk kehidupan hati dan akhiratnya.

7. Dakwah Nabi Sulaiman: Mengembalikan Hati dari Makhluk kepada Pencipta

Jika kita perhatikan keseluruhan konteksnya, ternyata penyebutan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

sangat sesuai dengan penyakit yang sedang dihadapi kaum Balqis.

Mereka telah salah mengenali sumber nikmat.

Mereka melihat matahari, tetapi tidak melihat siapa yang menciptakan matahari.

Mereka melihat cahaya, tetapi tidak melihat siapa yang menciptakan cahaya.

Mereka melihat manfaat matahari bagi kehidupan, tetapi tidak melihat siapa yang menundukkan matahari untuk mereka.

Maka Nabi Sulaiman mengarahkan mereka kepada:

اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dzat yang menciptakan, mengatur, memberi nikmat, dan merahmati mereka.

Inilah inti tauhid: jangan berhenti pada makhluk dan sebab; naikkan hati kepada Pencipta sebab.

8. Dari Nama Allah Menuju Seruan untuk Berserah Diri

Setelah pembukaan yang sangat indah itu, Nabi Sulaiman menyampaikan inti surat:

أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

“Janganlah kalian menyombongkan diri terhadapku dan datanglah kepadaku dalam keadaan berserah diri.”
(QS. An-Naml: 31)

Maksudnya: janganlah kalian menyombongkan diri dan menolak kebenaran yang disampaikan kepada kalian. Datanglah dalam keadaan muslim, tunduk dan berserah diri kepada Allah.

Perhatikan bahwa beliau tidak mengajak mereka untuk menyembah dirinya.

Beliau memang berkata:

أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ

“Janganlah kalian menyombongkan diri terhadapku.”

Namun beliau tidak mengatakan:

“Sembahlah aku.”

Justru beliau mengajak mereka:

وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

“Datanglah kepadaku dalam keadaan berserah diri.”

Yakni berserah diri kepada Allah, dengan menerima tauhid dan tunduk kepada-Nya.

Maka dakwah Nabi Sulaiman bukanlah dakwah menuju dirinya, tetapi dakwah melalui dirinya menuju Allah.

9. Salah Satu Penghalang Terbesar dari Hidayah: Kesombongan

Menarik bahwa setelah:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

dan setelah mengenalkan mereka kepada Allah, Nabi Sulaiman langsung menyebut:

أَلَّا تَعْلُوا

“Janganlah kalian menyombongkan diri.”

Karena seseorang bisa saja telah mengetahui kebenaran, tetapi tidak mau menerimanya karena kesombongan.

Ia bukan tidak memahami.

Ia hanya tidak mau tunduk.

Karena itu, problem manusia dengan kebenaran sering kali bukan sekadar kurangnya ilmu, tetapi kesombongan hati.

Ia telah mengetahui dalil, tetapi tidak mau tunduk.

Ia telah mengetahui kesalahan, tetapi tidak mau mengakui.

Ia telah melihat kebenaran, tetapi merasa gengsi untuk meninggalkan apa yang selama ini ia yakini.

Maka Nabi Sulaiman memerintahkan:

أَلَّا تَعْلُوا

“Jangan menyombongkan diri.”

Seakan-akan: “Jangan biarkan kedudukan, kerajaan, kebiasaan, dan harga diri menghalangi kalian dari menerima kebenaran.”

10. Allah Bisa Menjadikan Makhluk yang Kecil sebagai Sebab Datangnya Hidayah

Kisah ini juga mengajarkan sesuatu yang sangat menakjubkan.

Siapakah yang membawa surat tersebut?

Seekor hudhud.

Seekor burung yang secara ukuran dan kekuatan tidak sebanding dengan kerajaan Saba’.

Namun Allah menjadikannya sebagai sebab sampainya surat Nabi Sulaiman kepada Balqis.

Bahkan informasi yang dibawa seekor burung itu menjadi bagian dari rangkaian sebab menuju masuk Islamnya sebuah kerajaan.

Ini mengajarkan bahwa Allah bebas menggunakan siapa pun yang Dia kehendaki sebagai sebab datangnya kebaikan.

Sebab itu tidak boleh diremehkan hanya karena kecil.

Allah bisa memberikan manfaat melalui sesuatu yang menurut manusia tidak berarti.

Dan di sini kita melihat bagaimana Allah mengatur sebab-sebab hidayah dengan cara yang tidak disangka-sangka.

11. “Kitabun Karim”: Kemuliaan Tidak Diukur dari Panjangnya

Ketika surat tersebut sampai kepada Balqis, ia berkata:

يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ

“Wahai para pembesar, sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” (QS. An-Naml: 29)

Perhatikan ungkapannya:

كِتَابٌ كَرِيمٌ

“Sebuah surat yang mulia.”

Padahal surat itu sangat pendek.

Namun kemuliaan perkataan tidak ditentukan oleh banyaknya kata.

Bisa jadi sebuah kalimat sangat pendek tetapi mengandung kebenaran yang sangat besar.

Sebaliknya, seseorang dapat berbicara panjang lebar tetapi tidak memberikan manfaat yang berarti.

Surat Nabi Sulaiman adalah contoh nyata bahwa kekuatan pesan tidak selalu berbanding lurus dengan panjangnya tulisan.

Yang membuatnya mulia adalah kemuliaan sumber, kemuliaan kandungan, dan kemuliaan tujuan.

12. Salah Satu Bentuk Kemuliaan yang Terbesar: Memberikan Hidayah

Nabi Sulaiman memiliki kerajaan yang sangat besar.

Namun kemuliaan yang tampak dalam kisah ini bukan sekadar kemampuannya menaklukkan kerajaan lain.

Beliau justru menggunakan kekuasaan tersebut untuk mengajak manusia kepada Allah.

Beliau tidak menjadikan kerajaan sebagai tujuan akhir.

Beliau menjadikannya sebagai sarana.

Ini merupakan pelajaran besar bagi siapa pun yang diberikan Allah kemampuan, kedudukan, ilmu, harta, atau pengaruh.

Kemuliaan terbesar bukan sekadar memiliki sesuatu.

Kemuliaan terbesar adalah menggunakan apa yang Allah berikan untuk sesuatu yang Allah cintai.

Karena itu, surat Nabi Sulaiman dapat dilihat sebagai bentuk karamah—kemuliaan dalam memberikan ilmu dan hidayah.

Hal ini sejalan dengan firman Allah:

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan pena, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 3–5)

Di antara bentuk terbesar dari kedermawanan Allah: adalah Ia mengajarkan manusia sesuatu yang tidak mereka ketahui dan menunjukkan kepada mereka jalan yang menyelamatkan.

13. Kemuliaan Surat Itu Terletak pada Tujuannya

Surat Nabi Sulaiman tidak berisi panjang lebar tentang kehebatan kerajaan beliau.

Tidak pula berisi ancaman duniawi secara panjang lebar.

Ia dimulai dengan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

dan berakhir dengan:

وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

Sehingga dari awal hingga akhir, arah surat ini adalah:

Allah → tauhid → Islam → tunduk kepada kebenaran.

Inilah yang membuatnya كِتَابٌ كَرِيمٌ.

Kemuliaan sebenarnya bukan pada banyaknya kata, tetapi pada seberapa agung kebenaran yang dibawa oleh kata-kata tersebut.

14. Hidayah Membutuhkan Kerendahan Hati

Setelah menerima surat itu, Balqis tidak langsung menolaknya.

Ia tidak mengatakan:

“Bagaimana mungkin aku tunduk kepada Sulaiman?”

Ia tidak menggunakan kedudukannya sebagai ratu untuk menolak pesan tersebut.

Ia justru berkata:

إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.”

Ini merupakan sikap yang patut direnungkan.

Orang yang mencari kebenaran tidak semestinya menolak sebuah pesan hanya karena pesan itu datang dari pihak yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya.

Ia melihat isi dan kebenarannya, bukan sekadar siapa yang menyampaikannya.

Karena salah satu penghalang terbesar dari hidayah adalah seseorang lebih mencintai pendapatnya daripada kebenaran.

Jika kebenaran datang, ia bertanya:

“Siapa yang mengatakan ini?”

Bukan: “Apakah ini benar?”

Sedangkan orang yang tulus mencari kebenaran akan berkata: “Jika ini benar dari Allah, maka aku harus tunduk kepadanya.”

Penutup

Surat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada Balqis memang sangat singkat. Namun di balik beberapa kata tersebut terdapat kandungan yang sangat luas: tauhid, pengenalan kepada Allah, rahmat-Nya, bantahan terhadap kesyirikan, pentingnya wahyu dan hidayah, larangan sombong terhadap kebenaran, serta kewajiban tunduk kepada Allah.

Jadi, meski yang tersurat hanya:

إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ۝ أَلَّا تَعْلُواْ عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya adalah: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Janganlah kalian menyombongkan diri terhadapku dan datanglah kepadaku dalam keadaan berserah diri.” QS. An-Naml: 30–31

Tapi kandungan yang tersirat seakan berkata:

“Wahai kaum Saba’, kalian telah menikmati rahmat Allah, tetapi kalian justru menyembah makhluk yang Dia ciptakan. Matahari yang kalian sembah hanyalah makhluk yang Dia tundukkan. Maka kenalilah Ar-Rahman yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada kalian, dan Ar-Rahim yang menghendaki kebaikan lebih bagi kalian.

Di antara bentuk rahmat-Nya kepada kalian adalah Dia mengutus kepadamu seorang nabi yang menyeru kalian kepada-Nya. Lihatlah tanda-tanda yang Allah berikan kepadanya: Dia menundukkan untuknya manusia, jin, dan burung; bahkan seekor hudhud dapat menjalankan tugasnya, membawa berita dari negeri kalian, kemudian membawa surat ini kepada kalian. Semua itu terjadi dengan kekuasaan dan izin Allah, sebagai bagian dari tanda-tanda yang menguatkan risalah Sulaiman.

Maka janganlah kalian tertipu oleh kerajaan dan kekuasaan kalian. Jangan biarkan kesombongan menghalangi kalian dari menerima kebenaran. Tinggalkan penyembahan kepada makhluk yang lemah dan tunduklah kepada Pencipta seluruh makhluk. Datanglah dalam keadaan berserah diri kepada Allah.”

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

Wallahu a’lam.

Tim Shahihfiqih, 14 Agustus 2026 M / 29 Shafar 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *