Sikap Seorang Muslim Tatkala Merasakan Kenaikan Harga Barang Dan Turunnya Nilai Mata Uang Rupiah

Kenaikan harga kebutuhan pokok, melemahnya nilai rupiah, dan bertambah beratnya biaya hidup adalah ujian yang dirasakan banyak manusia. Sebagian orang menjadi gelisah, marah, mudah menyalahkan keadaan, bahkan ada yang mulai berani menempuh jalan haram demi mempertahankan gaya hidupnya. Padahal seorang muslim tidak hanya dituntut memahami keadaan ekonomi, tetapi juga dituntut memiliki sikap iman yang benar ketika menghadapi kesulitan hidup.

Islam mengajarkan bahwa naik-turunnya harga, lapang-sempitnya rezeki, semuanya terjadi dengan izin dan takdir Allah Ta’ala. Karena itu, seorang muslim menghadapi krisis ekonomi bukan hanya dengan perhitungan duniawi, tetapi juga dengan kesabaran, tawakal, qana’ah, dan introspeksi diri.

Menyadari Bahwa Semua Terjadi dengan Takdir Allah

Seorang muslim meyakini bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha Memberi Rezeki. Naiknya harga barang dan melemahnya mata uang bukan terjadi di luar kehendak Allah. Ini bukan berarti manusia meninggalkan ikhtiar, tetapi hati tetap bergantung kepada Rabb semesta alam.

Ketika harga-harga naik, jangan sampai hati dipenuhi prasangka buruk kepada Allah. Justru keadaan seperti ini menguji siapa yang tetap ridha terhadap takdir-Nya dan siapa yang mudah berkeluh kesah. Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa manusia pasti diuji dengan rasa takut, kelaparan, dan kekurangan harta. Maka sikap yang benar adalah sabar dan berharap pahala dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴾

“Sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Memperbanyak Taubat dan Muhasabah

Musibah yang menimpa manusia sering kali berkaitan dengan dosa dan kemaksiatan. Karena itu, ketika kondisi ekonomi memburuk, seorang muslim tidak hanya sibuk menyalahkan pemerintah, pasar, atau keadaan global, tetapi juga mulai mengoreksi dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ﴾

“Musibah apa saja yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30)

Boleh jadi sempitnya rezeki disebabkan jauhnya manusia dari ketaatan, maraknya riba, kedzoliman, kecurangan dalam perdagangan, dan lalainya manusia dari syukur kepada Allah. Maka di antara solusi terbesar menghadapi masa sulit adalah memperbanyak istighfar, memperbaiki shalat, meninggalkan dosa, dan memperbanyak amal saleh.

Hidup Lebih Qana’ah dan Tidak Memaksakan Gaya Hidup

Di masa harga-harga naik, seorang muslim perlu belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang diinginkan harus dibeli. Banyak manusia sebenarnya bukan menderita karena kurang rezeki, tetapi karena terlalu memaksakan gaya hidup. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ﴾

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan tafsirnya bahwa maksud dari ayat ini ialah:

  1. Allah membolehkan makan dan minum dari yang halal, namun melarang berlebih-lebihan.
  2. Israf mencakup berlebihan dalam makan, minum, pakaian, maupun melampaui batas halal.
  3. Sikap berlebihan dibenci Allah dan dapat merusak kesehatan serta kehidupan seseorang.

(lihat: Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 311, cet. Dar Ibnul Jauzi, Dammam)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Bukanlah zuhud itu mengharamkan yang halal, tetapi meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat.” (Madarijus Salikin, 2/16).

Turunnya nilai rupiah seharusnya juga menjadi pengingat agar seorang muslim lebih bijak mengatur keuangan, menjauhi utang konsumtif, mengurangi pemborosan, dan belajar hidup sederhana.

Menjauhi Kepanikan dan Sikap Berlebihan

Kondisi ekonomi yang sulit sering memicu kepanikan sosial. Ada yang menimbun barang, menyebarkan ketakutan, atau terus-menerus tenggelam dalam berita buruk hingga hidupnya dipenuhi kecemasan. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴾

“Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kalian paling tinggi derajatnya jika kalian beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139)

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Seorang muslim diperintahkan untuk bersikap tenang dan proporsional. Ia berusaha mencari solusi, bekerja halal, menghemat pengeluaran, dan tetap optimis terhadap pertolongan Allah. Ketenangan hati adalah nikmat besar yang sering hilang ketika manusia terlalu bergantung kepada dunia.

Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama

Di saat ekonomi sulit, justru banyak orang memilih menjadi semakin pelit. Padahal keberkahan rezeki tidak hanya diukur dari jumlah nominal, tetapi juga dari kebermanfaatannya. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ﴾

“Jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan karunia yang Allah berikan menyangka bahwa itu baik bagi mereka. Bahkan itu buruk bagi mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 180)

Islam mengajarkan kasih sayang dan tolong-menolong. Membantu keluarga, tetangga, dan kaum fakir di masa sulit termasuk amal yang sangat agung. Bahkan sebab turunnya keberkahan di tengah masyarakat adalah tersebarnya kebaikan dan kepedulian antarsesama. Karena Rasulullah ﷺ bersabda:

« وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ »

“Allah akan selalu menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

Pedagang Harus Takut kepada Allah

Kenaikan harga tidak boleh menjadi alasan untuk mendzolimi manusia. Islam melarang penimbunan barang, manipulasi harga, sumpah palsu dalam perdagangan, serta memanfaatkan kesulitan masyarakat demi keuntungan yang dzolim.

Pedagang muslim seharusnya menjadi orang yang paling menjaga amanah, jujur, dan tidak mengambil keuntungan dengan cara merusak masyarakat. Keberkahan perdagangan tidak terletak pada besarnya laba semata, tetapi pada kehalalan dan kejujuran. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang dilakukan atas dasar suka sama suka di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 29)

Mengingat Bahwa Dunia Tidak Kekal

Salah satu nasihat indah dari Nabi ﷺ ketika hati terlalu sempit menghadapi mahalnya kehidupan dunia, adalah mengingat bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara lalu kita kan pergi meninggalkannya. Dunia memang tempat ujian, bukan tempat kenyamanan abadi. Beliau ﷺ bersabda:

« مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا »

“Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377)

Ketika seorang muslim sadar bahwa kehidupan ini sementara, ia akan lebih kuat menghadapi tekanan ekonomi. Ia tetap bekerja dan berikhtiar, namun tidak menjadikan dunia sebagai sumber kebahagiaan utamanya.

Penutup

Naiknya harga barang dan melemahnya nilai rupiah memang berat dirasakan. Namun seorang muslim tidak menghadapi keadaan ini hanya dengan emosi dan keluhan. Ia menghadapinya dengan iman, kesabaran, tawakal, qana’ah, perbaikan diri, dan usaha yang halal. Krisis ekonomi bisa menjadi sebab seseorang semakin dekat kepada Allah, lebih sederhana dalam hidupnya, lebih peduli kepada sesama, dan lebih sadar bahwa rezeki sejatinya berada di tangan Allah semata.

Sumber:
– Islamway.net – Ghalaa’ al-As‘aar wa Rukhshuhaa Washaayaa wa Nashaa’ih
– Khutabaa.com – Ghalaa’ al-As‘aar min Manzhuur Syar‘i

Tim Shahihfiqih 9 Dzulhijjah 1447H/26 Mei 2026M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *