Khutbah Pertama
الْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ الْقُلُوبِ، وَنُورَ الصُّدُورِ، وَجَلَاءَ الْأَحْزَانِ، وَذَهَابَ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ، مَنْ تَمَسَّكَ بِهِ هُدِيَ، وَمَنْ اسْتَشْفَىٰ بِهِ شُفِيَ، وَمَنْ حَكَمَ بِهِ عَدَلَ، وَمَنْ دَعَا بِهِ أُجِيبَ.
نَحْمَدُهُ عَلَىٰ مَا أَسْبَغَ مِنَ النِّعَمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، أَنْزَلَ كِتَابَهُ شِفَاءً وَرَحْمَةً وَهُدًى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ. صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا. أَمَّا بَعْدُ؛
فَمَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ، وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Di antara tema terbesar yang Allah berulang kali tegaskan dalam Al-Qur’an adalah tentang hari kebangkitan; hari ketika seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya, lalu berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.
Namun orang-orang kafir mendustakan hari itu. Mereka menganggap kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang mustahil.
Mereka juga mengingkari kerasulan Nabi Muhammad ﷺ hanya karena beliau seorang manusia. Menurut mereka, seorang pembawa risalah seharusnya berasal dari kalangan malaikat, bukan dari sesama manusia.
Sungguh mengherankan. Mereka menolak seorang manusia yang dipilih Allah menjadi rasul, tetapi justru menerima batu, gambar, dan berhala sebagai sesembahan selain Allah?!
Untuk membantah keraguan mereka, Allah tidak sekadar memerintahkan mereka berpikir tentang kematian, tetapi mengajak mereka merenungkan alam semesta yang setiap hari mereka saksikan.
Jika mereka menganggap menghidupkan kembali manusia yang telah menjadi tanah adalah sesuatu yang mustahil, maka bukankah penciptaan langit dan bumi jauh lebih agung daripada sekadar membangkitkan kembali manusia?
Lihatlah langit yang menjulang tanpa tiang, berhias bintang-bintang, kokoh tanpa retak sedikit pun. Lihatlah bumi yang Allah hamparkan, gunung-gunung yang dipancangkan sebagai pasak, serta berbagai tumbuhan yang indah lagi bermanfaat. Semua itu adalah bukti nyata kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia setelah kematian.
Allah Ta’ala berfirman:
ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ
“Qaf. Demi Al-Qur’an yang mulia.”
بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ
“Bahkan mereka merasa heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri. Lalu orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah sesuatu yang mengherankan.’”
أَءِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ۖ ذَٰلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ
“Apakah setelah kami mati dan menjadi tanah, kami akan dikembalikan hidup? Itu adalah pengembalian yang sangat mustahil.”
قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الْأَرْضُ مِنْهُمْ ۖ وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ
“Sungguh Kami telah mengetahui apa yang dimakan bumi dari jasad mereka, dan di sisi Kami ada kitab yang terpelihara.”
بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ
“Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka. Maka mereka berada dalam keadaan bingung dan kacau.”
أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ
“Tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya, menghiasinya, dan tidak terdapat sedikit pun keretakan padanya?”
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
“Dan bumi telah Kami hamparkan, Kami pancangkan padanya gunung-gunung yang kokoh, serta Kami tumbuhkan di sana berbagai jenis tanaman yang indah.”
تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ
“Semua itu sebagai pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali kepada Allah.”
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
“Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah, lalu dengan air itu Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dipanen.”
وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ
“Dan pohon-pohon kurma yang tinggi menjulang, yang mempunyai mayang-mayang yang tersusun rapi.”
رِزْقًا لِلْعِبَادِ ۖ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ
“Sebagai rezeki bagi hamba-hamba (Kami). Dan dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus). Demikianlah (pula) terjadinya kebangkitan.”(QS. Qaf: 1-11)
Ayat ini merupakan penutup yang sangat indah. Setelah Allah mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, gunung, tumbuh-tumbuhan, hujan, dan kebun-kebun yang menghijau, Allah menyimpulkan semuanya dengan satu kalimat yang tegas:
كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ
“Demikianlah terjadinya kebangkitan.”
Seakan-akan Allah berfirman, “Jika setiap tahun kalian menyaksikan tanah yang mati kembali hidup setelah diguyur hujan, mengapa kalian menganggap mustahil Allah menghidupkan kembali manusia yang telah mati?”
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ
“Sebelum mereka, kaum Nuh, penduduk Ar-Rass, dan kaum Tsamud telah mendustakan (rasul-rasul mereka).”
وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ وَإِخْوَانُ لُوطٍ
“Demikian pula kaum ‘Ad, Fir’aun, dan kaum Luth.”
وَأَصْحَابُ الْأَيْكَةِ وَقَوْمُ تُبَّعٍ ۚ كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ
“Dan penduduk Aikah serta kaum Tubba’. Semuanya telah mendustakan para rasul, maka benarlah ancaman-Ku (terhadap mereka).” (QS. Qaf: 12–14)
Ikhwatal Iman rahimani wa rahimakumullah…
Setelah Allah menunjukkan bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam semesta, Allah mengajak manusia melihat bukti lain, yaitu sejarah umat-umat terdahulu.
Kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Fir’aun, kaum Luth, penduduk Aikah, hingga kaum Tubba’—mereka bukanlah kaum yang lemah. Sebagian dianugerahi kekuatan, kekuasaan, peradaban yang maju, serta kekayaan yang melimpah.
Namun semua itu tidak mampu menyelamatkan mereka ketika mereka mendustakan para rasul dan menolak hari kebangkitan.
Karena itulah Allah menutup penyebutan mereka dengan firman-Nya:
كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ
“Semuanya telah mendustakan para rasul, maka benarlah ancaman-Ku atas mereka.”
Yakni, janji Allah untuk mengazab mereka benar-benar terjadi. Tidak ada kekuatan yang mampu menghalangi keputusan-Nya, dan tidak ada kekayaan yang dapat menebus mereka dari hukuman Allah.
أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ ۚ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ
“Maka apakah Kami letih ketika menciptakan mereka pertama kali? Sebenarnya mereka berada dalam keraguan tentang penciptaan yang baru.”
(QS. Qaf: 15)
Inilah dalil lain yang Allah sebutkan untuk menetapkan adanya hari kebangkitan.
Allah membantah keraguan mereka dengan sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
Apakah Allah merasa lemah atau letih ketika menciptakan manusia dari asal yang tidak ada?
Tentu tidak.
Kalau menciptakan manusia dari ketiadaan saja mudah bagi Allah, maka mengembalikannya setelah pernah diciptakan tentu lebih mudah lagi.
Maka sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah kurangnya bukti tentang hari kebangkitan, tetapi hati yang enggan menerima kebenaran.
Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah…
Setelah Allah menegakkan berbagai bukti tentang adanya hari kebangkitan, Allah kemudian menggambarkan keadaan manusia pada hari yang pasti itu; hari ketika tidak ada lagi yang tersembunyi, dan setiap amal akan diperlihatkan.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ
“Ketika dua malaikat mencatat amal, yang satu di sebelah kanan dan yang satu di sebelah kiri.”
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu selalu engkau hindari.”
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ
“Lalu ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang telah diancamkan.”
وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ
“Setiap jiwa datang bersama malaikat yang menggiringnya dan malaikat yang menjadi saksi.”
لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
“Sungguh, dahulu engkau lalai terhadap hari ini. Lalu Kami singkapkan penutupmu, sehingga pada hari ini penglihatanmu menjadi sangat tajam.”
وَقَالَ قَرِينُهُ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ
“Dan malaikat yang menyertainya berkata, ‘Inilah catatan amal yang ada padaku, telah siap.’”
أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ
“Allah berfirman, ‘Lemparkanlah ke dalam Jahannam setiap orang yang sangat ingkar lagi keras kepala, yang selalu menghalangi kebaikan, melampaui batas, penuh keraguan, yang menjadikan sesembahan lain bersama Allah. Maka lemparkanlah dia ke dalam azab yang sangat keras.’” (QS. Qaf: 16-26)
Hadirin yang Allah muliakan…
Hari pembalasan bukanlah sekadar ancaman, tetapi juga merupakan rahmat Allah bagi kehidupan manusia.
Sebab, seandainya manusia tidak meyakini bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan, niscaya setiap orang akan berbuat sesuka hatinya. Yang kuat akan menindas yang lemah, yang kaya akan memakan hak orang miskin, dan manusia akan saling menzalimi tanpa rasa takut.
Karena itulah Allah menyebut sifat-sifat penghuni neraka ini.
Mereka adalah
مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ
yaitu orang yang enggan berbuat baik kepada orang lain, bahkan menghalangi orang lain dari kebaikan. Ia pelit, egois, dan tidak peduli terhadap penderitaan sesamanya.
Bukankah sifat ini juga disebutkan Allah dalam Surah Al-Ma’un?
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah engkau orang yang mendustakan hari pembalasan? Dialah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)
Perhatikanlah, Allah mengaitkan mendustakan hari pembalasan dengan rusaknya akhlak sosial.
Mengapa seseorang tega menghardik anak yatim? Mengapa ia enggan membantu orang miskin? Mengapa ia menzalimi sesamanya?
Karena ia tidak yakin bahwa suatu hari nanti semua perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Sebaliknya, orang yang benar-benar beriman kepada hari pembalasan akan lebih berhati-hati dalam lisannya, hartanya, dan sikapnya kepada sesama. Sebab ia yakin bahwa tidak ada satu ucapan, satu kezaliman, atau satu kebaikan pun yang akan luput dari hisab Allah.
Ummatal Islam…
Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba adalah memiliki sahabat yang membimbingnya menuju surga. Sebaliknya, tidak sedikit manusia yang terseret menuju neraka karena salah memilih teman. Sebab hati seseorang mudah dipengaruhi oleh orang yang paling dekat dengannya.
Karena itu, pilihlah sahabat yang mengingatkan kita kepada Allah, menguatkan iman kepada hari akhir, dan mendorong kita kepada amal saleh. Jangan sampai kita terbawa oleh orang-orang yang lalai terhadap akhirat dan mengikuti hawa nafsu.
Sebab ketika Hari Kiamat tiba, tidak ada lagi alasan, “Aku hanya mengikuti temanku.” Setiap orang akan mempertanggungjawabkan pilihannya sendiri.
Allah Ta’ala berfirman:
قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَٰكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ
“Teman sesatnya berkata, ‘Ya Rabb kami, aku tidaklah menyesatkannya, tetapi dialah sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh.’”
قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيدِ
“Allah berfirman, ‘Janganlah kalian saling berbantah-bantahan di hadapan-Ku, padahal sungguh Aku telah lebih dahulu menyampaikan ancaman kepada kalian.’”
مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“Keputusan-Ku tidak akan berubah, dan Aku sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Ku.”
يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ
“Pada hari Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah engkau sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan lagi?’” (QS. Qaf: 27-30
Allahul Musta’an!
Ummatal Islam…
Setelah Allah menggambarkan keadaan penghuni neraka dan sebab-sebab mereka diazab, Allah menghibur hati orang-orang beriman dengan menceritakan balasan yang disediakan bagi penghuni surga.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ
“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa, tidak lagi jauh.”
هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ
“Inilah yang dijanjikan kepadamu, yaitu bagi setiap orang yang banyak kembali kepada Allah dan selalu menjaga (perintah-perintah-Nya).”
مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ
“Yaitu orang yang takut kepada Ar-Rahman sekalipun tidak melihat-Nya, dan datang dengan hati yang senantiasa kembali kepada-Nya.”
ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ
“Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera. Itulah hari yang kekal.” (QS. Qaf: 31–34)
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah…
Perhatikanlah, Allah tidak langsung menyebut mereka sebagai orang yang memiliki rasa muraqabah, yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah. Sebelum itu, Allah menyebut dua sifat yang menjadi sebab lahirnya keadaan hati tersebut.
Pertama, أَوَّابٍ
yaitu hamba yang terus-menerus kembali kepada Allah. Setiap kali tergelincir, ia segera bertaubat. Setiap kali lalai, ia segera mengingat-Nya. Hidupnya selalu diwarnai dengan kembali kepada Rabbnya.
Kedua, حَفِيظٍ
yaitu hamba yang menjaga batasan-batasan Allah; menjaga shalatnya, lisannya, pandangannya, dan amanah yang dibebankan kepadanya.
Dari kebiasaan terus kembali kepada Allah dan menjaga perintah-Nya itulah lahir sifat berikutnya:
مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ
“Orang yang takut kepada Ar-Rahman meskipun tidak melihat-Nya.”
Inilah hakikat muraqabah. Ia bukan sesuatu yang muncul seketika, tetapi buah dari hati yang terus dibina dengan taubat, ketaatan, dan menjaga syariat Allah. Hingga akhirnya seorang hamba merasa bahwa Allah senantiasa melihatnya, walaupun ia sedang sendirian dan tidak ada manusia yang menyaksikannya. Merekalah pewaris surga!
لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
“Di dalam surga mereka memperoleh segala yang mereka kehendaki, dan di sisi Kami masih ada tambahan lagi.” (QS. Qaf: 35)
Ketahuilah Ma’asyiral Muslimin, bahwa tambahan tersebut adalah: melihat wajah Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ
“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah berfirman, ‘Apakah kalian menginginkan tambahan lagi?’ Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Lalu Allah menyingkap hijab-Nya. Maka tidak ada kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.”
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang berbuat ihsan disediakan surga dan tambahan (kenikmatan).” (QS. Yunus: 26) (HR. Muslim no. 181)
Puncak kenikmatan surga bukanlah istana-istananya, sungai-sungainya, atau buah-buahannya. Puncak seluruh kenikmatan adalah ketika Allah memperkenankan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk memandang wajah-Nya Yang Mahamulia.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنْ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْعَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ ٱلْكِتَابَ شِفَاءً وَرَحْمَةًوَهُدًى، وَجَعَلَ فِيهِ نُورًا لِلْمُؤْمِنِينَ، وَتِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ، وَشِفَاءً لِمَا فِي ٱلصُّدُورِ، وَرَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ،
فَمَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ، وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا سَبَبُ الْفَلَاحِ وَالنَّجَاحِ.
Allah Ta’ala berfirman:
وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشًا فَنَقَّبُوا فِي الْبِلَادِ هَلْ مِنْ مَحِيصٍ
“Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Mereka jauh lebih kuat daripada mereka, bahkan telah menjelajah berbagai negeri. Namun adakah tempat untuk melarikan diri (dari azab Allah)?”
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai hati, atau yang menggunakan pendengarannya dengan sungguh-sungguh, sedang ia hadir dengan hatinya.”
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا َيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak ditimpa sedikit pun keletihan.”
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
“Maka bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam.”
وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ
“Dan pada sebagian malam, bertasbihlah kepada-Nya, begitu pula setiap selesai sujud.”
وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ
“Dan dengarkanlah pada hari ketika penyeru memanggil dari tempat yang dekat.”
يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ
“Pada hari mereka mendengar teriakan yang sebenarnya. Itulah hari keluar (dari kubur).”
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَإِلَيْنَا الْمَصِيرُ
“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan dan mematikan, dan hanya kepada Kamilah tempat kembali.”
يَوْمَ تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًا ۚ ذَٰلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيرٌ
“Pada hari bumi terbelah, lalu mereka keluar dengan segera. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.”
نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ ۖ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ
“Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan. Engkau bukanlah seorang yang berkuasa memaksa mereka. Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada orang yang takut terhadap ancaman-Ku.” (QS. Qaf: 36–45)
Ikhwatal Iman…
Di penghujung surah ini, Allah kembali mengingatkan bahwa kebinasaan umat-umat terdahulu adalah pelajaran bagi siapa saja yang masih memiliki hati yang hidup. Mereka lebih kuat, lebih berkuasa, dan lebih maju daripada kaum musyrikin Makkah, namun semua itu tidak mampu menyelamatkan mereka dari azab Allah ketika mereka mendustakan para rasul.
Kemudian Allah menegaskan sekali lagi bahwa Dia menciptakan langit dan bumi tanpa sedikit pun merasa letih. Maka, menghidupkan kembali seluruh manusia pada Hari Kiamat tentu lebih mudah bagi-Nya.
Setelah seluruh dalil dan peringatan itu disampaikan, Allah memberikan arahan kepada Rasul-Nya ﷺ dan kepada seluruh pengemban dakwah setelah beliau: bersabarlah, perbanyaklah berzikir dan shalat, serta teruslah menyampaikan Al-Qur’an. Sebab hidayah bukan berada di tangan manusia, melainkan di tangan Allah.
Karena itu surah ini ditutup dengan firman-Nya yang begitu menyentuh:
فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ
“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada orang yang takut terhadap ancaman-Ku.”
Inilah hakikat dakwah. Tugas kita bukan memaksa manusia agar beriman, melainkan menyampaikan Al-Qur’an dengan penuh hikmah, berharap semoga Allah menghidupkan hati-hati yang masih memiliki rasa takut kepada-Nya.
Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hati kita, menghidupkan hati kita dengan peringatan-peringatannya, meneguhkan kita di atas iman hingga akhir hayat, mengumpulkan kita bersama orang-orang yang bertakwa, serta menganugerahkan kepada kita kenikmatan terbesar, yaitu memandang wajah-Nya Yang Mahamulia di surga-Nya. Amin
أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهُ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًاً مُطْمَئِنًا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِينَ أَيْنَمَا كُنَّا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَجَنِّبْهُمْ بِطَانَةَ السُّوءِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ ٱلِلَّهَ يَأْۡمُرُ بِٱلِۡعَدْۡلِ وَٱلِۡإِحْۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلِۡقُرْۡبَىٰ وَيَنْۡهَىَٰ عَنِ ٱلِۡفَحْۡشَآءِ وَٱلِۡمُنْكَرِ وَٱلِۡبَغٍّۡيِۚ يَعِظُكُمْۡ لَعَلَّكُمْۡ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يُذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلِذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ..



