Khutbah Jum’at: Istiqomah Tidak Instan, Tapi Jangan Menyerah!

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ التَّقْوَى سَبِيلَ الْفَلَاحِ، وَفَتَحَ لِلْمُذْنِبِينَ بَابَ التَّوْبَةِ وَالْإِصْلَاحِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغِزَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ الْمُتَجَدِّدِ بِالْقَرَار، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْغَفُورُ الرَّحِيمُ، الْقَائِلُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: ﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا﴾، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَنْصَحُ النَّاسِ لِلنَّاسِ، وَأَعْظَمُهُمْ خَشْيَةً لِلَّهِ فِي كُلِّ حِينٍ وَآنٍ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الْمَآبِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Dari mimbar yang mulia ini, khatib mewasiatkan diri pribadi dan segenap jamaah untuk terus berusaha merealisasikan takwa kepada Allah Ta’ala. Karena takwa adalah kunci keberuntungan dunia dan akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 130)

Sidang Jama’ah Jum’at yang Allah muliakan…

Dalam mengarungi samudra kehidupan ini, setiap muslim pasti mendambakan sebuah akhir yang indah. Kita mendambakan iman yang stabil dan posisi yang kukuh di atas ketaatan. Namun, di tengah gempuran ujian zaman, godaan hawa nafsu yang tiada henti, dan keterbatasan diri kita sebagai manusia, sering kali kita mendapati grafik iman kita naik dan turun. Hari ini kita bersemangat ibadah, esok hari mungkin kita tergelincir dalam kelalaian.
Ketahuilah, ketidaksempurnaan ini sering kali memicu bisikan keputusasaan di dalam dada:

“Untuk apa beribadah kalau masih sering berdosa? Untuk apa bertobat kalau besok mengulangi lagi?”

Hari ini, mari kita luruskan sudut pandang tersebut melalui kacamata iman. Ketahuilah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menjanjikan keberuntungan bukan hanya bagi mereka yang telah sempurna istiqamah lahir dan batinnya, tetapi juga bagi hamba-hamba yang terus menapaki jalan menuju istiqamah; mereka yang mungkin hari ini masih jatuh-bangun, masih berjuang berdarah-darah melawan hawa nafsu, namun berkomitmen tidak pernah menyerah dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.
Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)

Perhatikanlah ayat yang agung ini, ia bukanlah ayat biasa. Kalimat ini merupakan jawaban (jawab qasam) dari sebelas sumpah yang Allah sebutkan berturut-turut sebelumnya dalam Surah Asy-Syams—demi matahari, demi bulan, demi siang, demi malam, demi langit, bumi, dan demi jiwa manusia. Hampir tidak ada ayat lain dalam Al-Qur’an yang didahului oleh sumpah sebanyak ini. Hal itu menunjukkan betapa besar dan krusial perkara yang hendak Allah tegaskan: bahwa keberuntungan sejati seorang hamba digantungkan pada keberhasilannya menyucikan jiwanya.

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Laru apa makna menyucikan jiwa itu? Apakah artinya kita harus menjadi manusia suci yang bersih tanpa noda sama sekali laksana malaikat?
Tentu tidak. Menyucikan jiwa bukan berarti seseorang telah terbebas sama sekali dari dosa. Maksudnya adalah proses membersihkan hati dari noda maksiat, mendidiknya dengan iman dan amal saleh, serta terus-menerus berjuang agar semakin dekat kepada Allah.

Menariknya, Allah menggunakan kata Zakkāhā (زَكَّاهَا), yang secara tata bahasa Arab mengandung makna penyucian yang dilakukan secara berproses dan terus-menerus. Seakan Allah ingin mengisyaratkan kepada kita bahwa tazkiyatun nafs bukanlah pekerjaan instan yang selesai dalam semalam, sehari, atau sebulan. Ia adalah perjuangan seumur hidup; sebuah tobat yang senantiasa diperbarui setiap kali seorang hamba tergelincir dalam dosa.

Di sinilah letak kabar gembira dan angin segar bagi setiap mukmin. Keberuntungan bukan hanya milik orang yang telah mencapai puncak kesempurnaan, tetapi juga milik orang yang terus berjalan mendaki menuju kesempurnaan itu, meskipun langkahnya tertatih-tatih. Selama ia masih berusaha memperbaiki diri, mengoreksi kekurangannya, lalu segera kembali mengetuk pintu rahmat Allah setiap kali jatuh, maka ia sedang berada di jalur kemenangan.

Karena itulah Allah menggambarkan karakteristik orang-orang yang bertakwa dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِم|َ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan mereka tidak terus-menerus melakukan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ’Imran: 135)

Allah juga menegaskan dalam ayat yang lain:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka disentuh oleh suatu bisikan setan, mereka segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka dapat melihat dengan jelas.” (QS. Al-A’raf: 201)

Perhatikanlah dengan saksama kedua ayat di atas. Allah tidak mengatakan bahwa orang bertakwa itu tidak pernah disentuh setan atau tidak pernah khilaf menzalimi diri sendiri. Mereka bisa saja terjatuh. Namun, yang membedakan mereka dengan orang-orang yang binasa adalah sifat respons mereka: mereka tidak betah menetap di dalam dosa. Mereka tidak berlama-lama berkubang dalam kemaksiatan. Mereka segera sadar, menyesal, mengambil air wudu, sujud, dan kembali kepada Rabb mereka.
Hal yang sama juga tampak pada firman Allah yang lain:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-A’la: 14)

Kata Tazakkā (تَزَكَّىٰ) dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan adanya unsur takalluf—yaitu usaha yang keras, kesungguhan, dan proses yang berkesinambungan. Sebagaimana seseorang disebut muta’allim karena ia terus belajar merangkak dari ketidaktahuan hingga menjadi seorang ‘alim, demikian pula seorang mutazakkī adalah orang yang terus menempuh jalan penyucian jiwa setahap demi setahap hingga Allah menyempurnakannya.
Betapa besar rahmat Allah kepada kita. Dia mengapresiasi proses kita, bukan sekadar hasil akhir kita.

Ikhwatal Iman rahimani wa rahimakumullah…

Mungkin timbul pertanyaan di benak kita: mengapa Allah yang Maha Kuasa tidak menciptakan kita langsung menjadi makhluk yang konsisten lurus tanpa cela? Mengapa ada fase di mana manusia harus terjatuh dulu baru sadar?

Dalam kitabnya Thariqul Hijratain, ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan sebuah rahasia ilahi yang luar biasa. Beliau memaparkan bahwa terkadang Allah sengaja membiarkan seorang hamba terjatuh dalam dosa karena sebuah hikmah yang besar, yaitu agar setelahnya Allah bisa memberikan taufik kepadanya untuk bertaubat.
Di balik jatuhnya seorang hamba ke dalam dosa yang diiringi tobat, terdapat mutiara hikmah yang sangat banyak, di antaranya:

  1. Agar seorang hamba merasakan langsung betapa Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat;
  2. Agar ia tersadar dari kesombongannya dan mengakui bahwa dirinya lemah, tidak akan pernah mampu istiqamah tanpa penjagaan dan hidayah dari Allah;
  3. Agar hancur rasa ujub, sombong, dan merasa suci terhadap amal ibadah yang selama ini ia banggakan;
  4. Agar ia semakin banyak mengetuk pintu langit melalui doa, merendahkan diri, dan bergantung total hanya kepada-Nya;
  5. Serta agar ia memiliki sifat lembut dan tidak mudah menghakimi sesama manusia yang sedang terjebak dalam dosa, sebab ia tahu bagaimana rasanya berjuang merangkak keluar dari lubang kemaksiatan.
    (Lihat: Thoriqul Hijrotain 1/362-365)

Ummatal Islam…

Maka dari itu, ada sebuah untaian hikmah mendalam dari para ulama salaf terdahulu yang menyatakan:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الذَّنْبَ يَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ، وَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ يَدْخُلُ بِهَا النَّارَ.

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang melakukan satu dosa, namun dosa itu justru memasukkannya ke dalam surga. Dan ada orang yang melakukan satu amal saleh, namun amal itu justru memasukkannya ke dalam neraka.”
Para sahabat dan murid mereka bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Beliau menjawab: “Ia melakukan satu dosa, lalu dosa itu terus membayangi pelupuk matanya. Setiap kali mengingatnya, hatinya hancur, ia dirundung rasa takut, menangis, menyesal, malu kepada Allah, dan terus memperbaiki diri. Akhirnya, dosa yang memicu tobat nasuha itulah yang menjadi sebab kebahagiaan dan keselamatannya masuk surga. Sebaliknya, ada orang yang melakukan satu amal saleh, lalu ia terus membanggakannya, merasa dirinya sudah saleh, memandang rendah orang lain, dan ujub terhadap amalnya. Akhirnya, penyakit hati akibat amal itulah yang menyeretnya ke dalam kebinasaan.”
(Lihat: al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 9-10)

Maksud dari perkataan ulama salaf ini tentu sama sekali bukan mendorong atau memberi lampu hijau bagi kita untuk meremehkan dosa. Justru dosa yang paling berbahaya adalah dosa yang dipelihara dan membuat pelakunya semakin mati rasa serta menjauh dari Allah. Namun, pesan utamanya adalah: jangan pernah biarkan setan mengunci pintu tobat kita dengan narasi keputusasaan. Dosa yang disusul dengan penyesalan yang mendalam dan perbaikan tindakan secara konkret, justru bisa menjadi batu loncatan yang menaikkan derajat seorang hamba di sisi Allah Ta’ala.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا، وَجَعَلَ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا وَبَعْدَ الضِّيقِ فَرَجًا، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى عَفْوِهِ وَغُفْرَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ Lَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Pada khutbah kedua ini, mari kita garis bawahi kesimpulan penting bagi jiwa kita: Persoalan utama hidup kita bukanlah tentang apakah kita pernah berbuat dosa atau tidak, sebab Rasulullah ﷺ sendiri yang menegaskan bahwa setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau bertaubat.
Yang menjadi pembeda sejati di hadapan Allah adalah resiliensi spiritual kita: setiap kali berdosa, kita segera bertaubat; setiap kali tergelincir, kita segera bangkit; setiap kali langkah kita menjauh, kita segera membalikkan badan dan berlari kembali kepada Allah. Istiqomah memang tidak instan, tapi kita diharamkan untuk menyerah!
Orang-orang yang pantang menyerah dalam berproses inilah yang sedang berjalan menuju barisan hamba-hamba pilihan yang Allah sebutkan di awal Surah Al-Mu’minun:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ۝ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ۝ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ۝ أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ۝ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,

(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,

dan orang-orang yang menunaikan zakat,

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.
Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya,

serta orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka.

Merekalah orang-orang yang akan mewarisi, (yaitu) mereka yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–11)

Sidang jamaah yang berbahagia, perhatikanlah rangkaian ayat tersebut. Allah tidak menyematkan gelar “Pewaris Surga Firdaus” hanya karena satu amalan instan yang dilakukan sesekali. Mereka meraihnya karena akumulasi komitmen iman yang melahirkan karakter: khusyuk dalam shalat, disiplin berpaling dari hal yang sia-sia dan haram, menjaga kehormatan diri, amanah, serta konsisten memelihara shalat mereka.
Kedudukan setinggi Surga Firdaus ini tidak diraih dalam sekejap mata. Ia tidak lahir dari angan-angan kosong tanpa kerja keras, melainkan dari rantai perjuangan yang panjang; dari keringat usaha menyucikan jiwa berulang kali, memperbarui lembaran tobat setiap kali tergelincir, hingga akhirnya malaikat maut menjemput kita dalam keadaan hati yang senantiasa terkoneksi dan rindu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jamaah sekalian…

Bayangkanlah… tatkala napas terakhir mulai mendekat, tatkala dunia yang kita kejar ini runtuh dan tak lagi bermakna, tatkala tubuh kita tak berdaya menghadapi dinginnya maut. Di saat-saat paling menegangkan dan penuh ketakutan itu, bagi mereka yang selama di dunia tertatih-tatih menjaga istiqomah, yang tak lelah bangun dari jatuhnya kemaksiatan, langit akan terbelah. Malaikat-malaikat rahmat akan turun berbondong-bondong, bukan untuk mencabut nyawa dengan murka, melainkan untuk membisikkan pelipur lara yang paling indah ke dalam ruh kita.
Dengarkanlah janji Allah yang begitu menggetarkan hati dalam Surah Fussilat ayat 30 sampai 32:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ۝ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ۝ نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu sedih; dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’ Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai hidangan penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Sidang jumat… tanggalkanlah keputusasaan itu.

Air mata penyesalanmu saat bersujud di keheningan malam, perjuanganmu menahan pandangan, keringatmu mencari nafkah yang halal, serta keteguhanmu untuk kembali bertobat meski sempat roboh berulang kali… demi Allah, semuanya dicatat oleh-Nya.

Malaikat akan berbisik pada ruh kita: “Jangan takut menghadapi akhirat, dan jangan sedih meninggalkan dunia dan keluargamu. Masuklah ke dalam surga…” Sebuah jamuan kemuliaan dari Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka, demi akhir yang seindah ini, jangan pernah menyerah. Teruslah berjalan, teruslah kembali kepada Allah sampai napas kita terhenti.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menguatkan hati kita, memeluk jiwa-jiwa kita yang rapuh dengan taufik-Nya, menerima tobat kita yang penuh kekurangan, dan mengizinkan kita mendengar bisikan malaikat Fussilat tersebut di akhir hayat kita nanti. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin.

أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَل|َّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِر|ْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًاً مُطْمَئِنًا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ ٱقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ ٱلْيَقِينِ مَا يُهَوِّنُ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ ٱلدُّنْيَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ ٱلدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ ٱلِلَّهَ يَأْۡمُرُ بِٱلِۡعَدْۡلِ وَٱلِۡإِحْۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلِۡقُر|ْۡبَىٰ وَيَنْۡهَىَٰ عَنِ ٱلِۡفَحْۡشَآءِ وَٱلِۡمُنْكَرِ وَٱلْبَغٍّۡيِۚ يَعِظُكُمْۡ لَعَلَّكُمْۡ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يُذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلِذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *