Malam dan Siang: Allah Jadikan Agar Hati Tidak Pernah Jauh dari-Nya

Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62)

Tidak ada satu pun ciptaan Allah yang sia-sia, termasuk pergantian malam dan siang yang kita lalui setiap hari.

Sering kali kita memandang keduanya hanya sebagai pergantian waktu: siang untuk bekerja, malam untuk tidur. Padahal Al-Qur’an mengajarkan bahwa keduanya memiliki tujuan yang jauh lebih agung daripada itu. Allah menjadikan malam dan siang agar seorang hamba senantiasa mengingat-Nya dan mensyukuri nikmat-Nya.

Karena itulah Allah berfirman,

لِّمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Bagi orang yang ingin mengingat atau ingin bersyukur.”

Hati Tidak Selalu Berada dalam Keadaan yang Sama

Salah satu rahmat Allah yang begitu halus adalah Dia mengetahui bahwa hati manusia selalu berubah.

Kadang hati dipenuhi semangat beribadah, mudah khusyuk, ringan berdzikir, dan senang membaca Al-Qur’an. Namun pada waktu yang lain ia menjadi berat, lalai, malas, bahkan terasa keras.

Inilah tabiat hati.

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa hati senantiasa berbolak-balik antara semangat dan malas, ingat dan lalai, lapang dan sempit, menghadap kepada Allah lalu terkadang berpaling. Karena itulah Allah menjadikan malam dan siang datang silih berganti. Jika seorang hamba kehilangan semangat beribadah pada satu waktu, mungkin Allah akan membukakan baginya semangat pada waktu berikutnya.

Betapa banyak orang yang tidak mampu khusyuk pada siang hari, namun Allah lembutkan hatinya ketika bangun di sepertiga malam.

Sebaliknya, ada yang malamnya dipenuhi kelalaian, lalu Allah bukakan baginya kesempatan memperbaiki diri pada siang hari.

Maka pergantian malam dan siang adalah kesempatan yang terus diperbarui agar seorang hamba tidak berputus asa dari rahmat Allah. (Lihat: Taisirul Karim al-Mannan, hlm. 586 dengan penyesuaian)

Malam Adalah Waktu Sakinah

Allah berfirman,

وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan karena rahmat-Nya, Dia menjadikan untuk kalian malam dan siang agar kalian memperoleh ketenangan padanya, mencari karunia-Nya, dan agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Qashash: 73)

Allah menyebut malam sebagai waktu sakinah.

Sebagian orang mengira sakinah hanya diperoleh dengan tidur. Padahal maknanya jauh lebih luas.

Sakinah juga hadir ketika seseorang duduk bersama keluarganya dengan penuh kasih sayang. Sakinah hadir ketika seorang suami dan istri saling menenangkan hati melalui hubungan yang halal. Sakinah juga hadir ketika seorang hamba mengasingkan dirinya dari hiruk-pikuk dunia, lalu berdiri menghadap Rabb-nya dalam shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, menangis dalam doa, dan bermunajat kepada-Nya.

Bukankah Allah telah berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Tidak semua ketenangan lahir dari panjangnya tidur. Banyak hati yang tetap gelisah meski tubuhnya telah beristirahat berjam-jam.

Sebaliknya, ada orang yang hanya tidur sebentar, namun hatinya begitu damai karena lama bermunajat kepada Allah.

Siang Bukan Sekadar Mencari Nafkah

Perhatikan pula bagaimana Allah menggambarkan siang.

Allah tidak berfirman, “agar kalian mencari makan.”

Tidak pula berfirman, “agar kalian bekerja.”

Namun Allah menggunakan kalimat yang jauh lebih indah,

وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ

“Agar kalian mencari karunia-Nya.”

Karunia Allah jauh lebih luas daripada sekadar penghasilan.

Mencari rezeki yang halal termasuk di dalamnya.

Belajar ilmu agama termasuk karunia-Nya.

Mengajarkan Al-Qur’an, berdakwah, membantu sesama, menolong orang tua, menyebarkan ilmu, dan seluruh amal saleh yang dilakukan pada siang hari juga merupakan bagian dari mencari karunia Allah.

Seorang mukmin tidak keluar rumah hanya demi mengejar dunia. Ia keluar untuk mencari fadhlullah, karunia Allah, keberkahan-Nya, dan keridaan-Nya.

Bersyukur atas Nikmat yang Paling Besar

Kemudian Allah menutup ayat itu dengan firman-Nya,

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Agar kalian bersyukur.”

Syukur yang paling besar bukanlah sekadar bersyukur atas makanan, pakaian, rumah, atau kesehatan.

Nikmat terbesar yang layak terus disyukuri adalah nikmat tauhid, nikmat iman, nikmat mengenal Allah, nikmat dapat berdzikir kepada-Nya, serta nikmat hati yang masih diberi kesempatan menikmati manisnya munajat kepada Rabb semesta alam.

Karena itulah seorang mukmin mengisi malam dan siangnya dengan ibadah, bukan sekadar rutinitas.

Tujuan Hidup Seorang Hamba

Bila direnungkan lebih dalam, firman Allah,

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

seakan menjadi penjelasan praktis dari firman-Nya yang lain,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Malam dan siang hanyalah sarana.

Adapun tujuan akhirnya adalah ibadah kepada Allah.

Karena itu, setelah memerintahkan manusia untuk beribadah, Allah langsung berfirman,

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ۝ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki, Yang Mahakuat lagi Mahakokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 57-58)

Seolah Allah mengatakan, “Kerjakanlah tugasmu sebagai hamba, dan urusan rezekimu biarkan Aku yang mengaturnya.”

Bukankah Allah juga berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah telah mencukupi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)

Semakin sempurna penghambaan seorang hamba kepada Allah, semakin sempurna pula kecukupan yang Allah berikan kepadanya. (Lihat: al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 5)

Rahasia Mengqadha Qiyamul Lail di Siang Hari

Inilah pula salah satu hikmah mengapa Nabi ﷺ, ketika terluput dari wirid shalat malam karena suatu sebab, beliau menggantinya pada waktu dhuha. (Lihat: HR. Muslim, no. 746)

Beliau memahami bahwa Allah menjadikan malam dan siang saling menggantikan. Apa yang luput pada salah satunya masih dapat dikejar pada waktu yang lain.

Karena itu, seorang mukmin tidak mudah berkata, “Sudah terlambat.”

Selama matahari masih terbit dan malam masih datang, pintu untuk kembali kepada Allah selalu terbuka.

Pergantian malam dan siang adalah bukti bahwa rahmat Allah tidak pernah berhenti mengetuk hati hamba-Nya.

Semoga Allah menjadikan malam-malam kita dipenuhi sakinah, dan siang-siang kita dipenuhi keberkahan. Semoga setiap pergantian waktu semakin mendekatkan kita kepada-Nya, menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengingat-Nya dan mensyukuri segala nikmat-Nya.

Wallahu a’lam.

Tim Shahihfiqih 11 Muharram 1448 / 26 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *