Hati-Hati! Kalimat “Dia Menulari Saya” Ternyata Perlu Diluruskan

Oleh: Syaikh Shalih Al-Luhaidan rahimahullah

Menjaga Lisan, Tanda Orang yang Diberi Taufik

Seorang mukmin yang diberi taufik oleh Allah bukan hanya dikenal dari banyaknya ibadah yang ia lakukan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga lisan. Sebelum berbicara, ia mempertimbangkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. Ia sadar bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena itu, orang yang beriman selalu berusaha menempatkan lisannya pada tempat yang benar. Ia berbicara ketika ada manfaat, dan memilih diam ketika khawatir ucapannya justru mendatangkan dosa.

Rasa takut kepada Allah membuatnya selalu merasa diawasi dalam setiap kalimat yang diucapkan. Baginya, berbicara bukan sekadar mengeluarkan pendapat, tetapi sebuah amanah yang kelak akan dipertanyakan.

Semua Terjadi dengan Takdir Allah

Seorang muslim meyakini bahwa sehat maupun sakit seluruhnya berada di bawah kehendak Allah. Tidak ada penyakit yang berpindah atau menimpa seseorang secara mandiri tanpa izin-Nya.

Karena itu, sebagian ulama menganjurkan agar seorang muslim berhati-hati dalam memilih ucapan. Jangan sampai kalimat yang diucapkan memberi kesan bahwa seseorang memiliki kekuatan mutlak untuk menularkan penyakit kepada orang lain.

Mengapa Tidak Semuanya Tertular, Padahal Diantara Mereka Ada Yang Sakit?
Perhatikan sebuah contoh sederhana. Misalkan ada lima orang berada di dekat seseorang yang sedang flu. Setelah beberapa hari, ternyata hanya satu orang yang ikut sakit, sedangkan empat lainnya tetap sehat.

Kalau penularan bekerja secara mutlak, tentu kelima orang itu seharusnya mengalami hal yang sama. Kenyataannya tidak demikian. Mengapa? Karena yang benar-benar menentukan adalah Allah. Orang yang akhirnya sakit memang telah berada dalam kondisi yang memungkinkan penyakit itu mengenainya. Allah menakdirkan saat itu sebagai waktunya untuk sakit, sedangkan empat orang lainnya Allah lindungi sehingga tidak mengalami apa pun. Dengan demikian, kontak dengan orang yang sakit hanyalah sebab, BUKAN PENYEBAB YANG BERDIRI SENDIRI.

Islam Mengakui Adanya Sebab.
Di sisi lain, Islam juga mengajarkan agar kita tidak meremehkan sebab-sebab yang Allah tetapkan.

Para dokter mengingatkan agar tidak terlalu dekat dengan penderita penyakit menular, menjaga kebersihan, memakai masker dalam kondisi tertentu, dan menerapkan langkah-langkah pencegahan lainnya. Semua ini termasuk ikhtiar yang dibenarkan dalam syariat.

Nabi ﷺ juga mengajarkan berbagai bentuk pencegahan terhadap penyakit. Artinya, seorang muslim diperintahkan untuk mengambil sebab, tetapi tetap meyakini bahwa sebab tersebut tidak akan memberikan manfaat ataupun mudarat kecuali dengan izin Allah.

Sebaiknya Bagaimana Mengucapkannya?
Ungkapan seperti, “Dia membuat saya sakit,” atau “Dia menulari saya,” sebaiknya tidak diucapkan jika mengandung keyakinan bahwa orang tersebut memiliki kemampuan menularkan penyakit secara mandiri.

Apabila hanya dimaksudkan sebagai penjelasan bahwa penyakit itu berpindah melalui sebab yang Allah ciptakan, tanpa mengingkari takdir Allah, maka maknanya tidak mengapa. Namun, memilih ungkapan yang lebih hati-hati tentu lebih baik, misalnya: “Saya sakit setelah berinteraksi dengannya.” Atau “Kemungkinan saya terkena penyakit setelah kontak dengannya.” Atau “Allah menakdirkan saya sakit setelah bertemu dengannya.”

Ungkapan seperti ini lebih menjaga akidah sekaligus tetap sesuai dengan kenyataan yang dapat diamati.

Kesimpulan.

Seorang muslim hendaknya menggabungkan dua keyakinan sekaligus.

Pertama, mengambil sebab-sebab pencegahan yang dibenarkan, seperti mengikuti anjuran medis dan menjaga kesehatan.

Kedua, meyakini bahwa sebab tersebut tidak bekerja dengan sendirinya. Yang menentukan seseorang sakit atau tetap sehat hanyalah Allah.

Dengan keyakinan ini, seorang muslim tidak akan meremehkan ikhtiar, tetapi juga tidak menggantungkan hati kepada sebab. Hatinya tetap bertumpu kepada Allah, Dzat yang menetapkan seluruh takdir makhluk-Nya.

Sumber: “HATI-HATI UCAPAN INI! BISA MERUSAK PEMAHAMAN TENTANG PENYAKIT” oleh Syaikh Shalih Al-Luhaidan rahimahullah via YouTube Shahihfiqih.

Tim Shahihfiqih, 9 Shafar 1448 H / 23 Juli 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *