Jangan Asal Berdoa Saat Didzolimi! Bisa Jadi Anda Justru Berdosa

Hampir setiap orang pernah merasakan pahitnya diperlakukan tidak adil. Difitnah, ditipu, dihina, atau haknya dirampas. Dalam kondisi seperti itu, tidak sedikit yang spontan mengangkat tangan seraya berdoa agar pelaku mendapatkan balasan yang setimpal. Namun, muncul sebuah pertanyaan penting. “Apakah seorang yang didzolimi bebas mendoakan keburukan apa saja kepada orang yang mendzoliminya?”

Ternyata jawabannya tidak.

Sebuah Kisah yang Mengandung Pelajaran
Ada seseorang yang mengadu kepada seorang ulama.
Ia bercerita bahwa pernah didzolimi oleh seorang pegawai balai kota. Pegawai tersebut merobek seluruh dokumen yang telah ia serahkan sehingga urusannya menjadi berantakan.

Karena sangat sakit hati, ia pun berdoa, “Ya Allah, cabik-cabiklah tubuhnya sebagaimana dia telah merobek berkas-berkasku.”

Dua atau tiga tahun kemudian, pegawai tersebut meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Kondisi tubuhnya hancur hingga tidak memungkinkan untuk dimandikan maupun dikafani sebagaimana biasanya. Jenazahnya hanya dimasukkan ke dalam kantong khusus.

Orang itu kemudian diliputi rasa takut. “Apakah aku berdosa karena doa tersebut? Apakah aku memikul tanggungan di sisi Allah?”

Pertanyaan ini membuka pembahasan penting dalam fiqih tentang batasan mendoakan keburukan.

Balasan Harus Setimpal

Allah ta’ala berfirman,

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

“Jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang setimpal dengan apa yang telah ditimpakan kepada kalian. Tetapi jika kalian bersabar, maka sungguh itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang semisal. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang dzolim.” (QS. Asy-Syura: 40)

Dua ayat ini menjadi kaidah besar dalam menyikapi kedzoliman.

Sikap yang Dijelaskan Para Ulama

Para ulama menjelaskan bahwa dari ayat dalam Surah Asy-Syura tersebut terdapat tiga tingkatan:

1.⁠ ⁠Membalas Secara Setimpal
Ini adalah bentuk keadilan.
Seseorang boleh meminta kepada Allah agar pelaku mendapatkan balasan yang sebanding dengan kedzolimannya, tanpa berlebihan.

2.⁠ ⁠Memaafkan
Ini adalah tingkatan yang lebih utama.
Allah menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang mampu memaafkan demi mengharap ridho-Nya.
Memaafkan memang tidak mudah, tetapi inilah akhlak para nabi dan orang-orang shalih.

3.⁠ ⁠Melampaui Batas
Inilah yang justru menjadi kedzoliman.
Misalnya seseorang hanya dirugikan dalam urusan dunia, tetapi ia mendoakan agar pelakunya menjadi penghuni neraka selama-lamanya, atau meminta hukuman yang jauh lebih besar daripada kesalahannya.

Ini bukan lagi keadilan, melainkan bentuk melampaui batas.

Mengapa doa Tadi Dinilai Berlebihan?
Jika seseorang hanya merobek selembar dokumen milik orang lain, apakah menurut syariat ia pantas dihukum dengan tubuhnya dicabik-cabik?

Jawabannya tentu tidak.

Merobek dokumen memang sebuah kedzoliman dan pelakunya layak mendapatkan hukuman sesuai kadar kesalahannya. Namun, hukuman berupa tubuh yang hancur berkeping-keping jelas bukan balasan yang setimpal hanya karena merobek selembar kertas.

Karena itu, mendoakan hukuman seperti itu termasuk bentuk melampaui batas.

Hati-Hati Saat Marah

Ketika emosi memuncak, seseorang sering mengucapkan doa yang sebenarnya tidak pantas. Ada yang berkata,
•⁠ ⁠”Ya Allah, binasakan seluruh keluarganya.”
•⁠ ⁠”Ya Allah, jangan ampuni dia selamanya.”
•⁠ ⁠”Ya Allah, masukkan dia ke neraka.”
Padahal boleh jadi kesalahan orang tersebut hanya menyakiti perasaan kita, merusak barang, atau mengambil sebagian hak dunia. Islam mengajarkan keadilan, bahkan kepada orang yang telah berbuat dzolim kepada kita.

Kesabaran Selalu Lebih Mulia

Meskipun Islam membolehkan orang yang didzolimi berdoa, Allah tetap mengarahkan hamba-Nya kepada jalan yang lebih tinggi, yaitu bersabar dan memaafkan. Sebab, memaafkan bukan berarti lemah. Justru itulah tanda kuatnya iman dan besarnya harapan kepada pahala yang Allah sediakan.

Jika pun memilih berdoa atas orang yang mendzolimi, hendaknya doa tersebut tidak melampaui kadar kedzolimannya. Dengan demikian, kita tidak berubah dari seorang yang didzolimi menjadi orang yang ikut berbuat dzolim karena melampaui batas dalam meminta hukuman.

Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang mampu bersabar, lisan yang terjaga ketika marah, dan taufik untuk selalu berlaku adil dalam setiap keadaan.

Sumber: JANGAN SAMPAI DOAMU BERUBAH MENJADI KEDZOLIMAN oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizhahullahu ta’ala via YouTube Shahihfiqih

Tim Shahihfiqih, 8 Shafar 1448 H / 22 Juli 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *