Ada anggapan keliru yang kadang muncul di benak sebagian orang: bahwa syariat Islam diturunkan semata-mata demi kepentingan akhirat, sementara urusan dunia adalah perkara sekunder yang boleh diabaikan.
Padahal, jika kita menelusuri Al-Qur’an, justru kita dapati bahwa syariat Islam membawa kemaslahatan bagi kehidupan dunia sekaligus akhirat. Bahkan, banyak ayat menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah merupakan sebab tertatanya kehidupan dunia sebelum manusia memperoleh kebahagiaan di akhirat.
Al-Qur’an Bukan untuk Menyengsarakan
Allah Ta’ala berfirman:
مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ
“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau menjadi susah. Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah.” (QS. Thaha: 2–3)
Ayat ini menyimpan banyak faedah.
Pertama, Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ bukan untuk menyengsarakan manusia. Al-Qur’an adalah tadzkirah—peringatan dan nasihat—bagi orang yang memiliki khasyyah, yaitu rasa takut yang lahir dari ilmu dan pengagungan kepada Allah.
Rasa takut kepada Allah inilah yang menjadi salah satu sumber utama kebaikan. Seseorang yang benar-benar takut kepada Rabbnya tidak akan mudah berbuat zalim kepada sesama. Ia meyakini adanya hari pembalasan. Jika suatu kezaliman tidak mendapatkan balasan kontan di dunia, ia yakin bahwa balasan tersebut pasti akan diberikan di akhirat.
Sebaliknya, ketika khasyyah hilang dari hati manusia, kezaliman akan mudah merajalela dan kemaslahatan pun semakin menyusut.
Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan keadaan Fir‘aun dan bala tentaranya:
وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ
“Dan dia (Fir‘aun) beserta bala tentaranya menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami.”
(QS. Al-Qashash: 39)
Perhatikan sebabnya: mereka tidak memiliki keyakinan yang benar tentang kepulangan kepada Allah. Ketika manusia merasa tidak akan mempertanggungjawabkan perbuatannya, ia akan semakin berani melampaui batas.
Rahmatan lil ‘Alamin, Bukan Beban
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
Islam datang membawa rahmat. Dan rahmat tersebut bukan hanya berupa keselamatan di akhirat, tetapi juga berupa kebaikan dan kemaslahatan dalam kehidupan dunia.
Maksud ini semakin jelas jika kita mentadabburi ayat-ayat yang berdekatan dengannya. Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
“Dan sungguh, telah Kami tulis dalam Kitab-kitab samawi setelah (tertulis) dalam Lauhul Mahfuzh bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.” (QS. Al-Anbiya’: 105)
Artinya, bumi akan berada di tangan orang-orang shalih, orang-orang yang menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia serta beriman kepada hari kebangkitan. (Lihat: Taisirul Karim al-Mannan, hlm. 531)
Allah juga berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A‘raf: 96)
Ayat ini menunjukkan hubungan yang sangat erat antara iman, ketakwaan, dan keberkahan kehidupan dunia.
Janji tersebut juga memiliki gambaran yang disebutkan dalam berbagai riwayat tentang masa kepemimpinan Al-Mahdi. Di antaranya:
يَخْرُجُ فِي آخِرِ أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ، يَسْقِيهِ اللَّهُ الْغَيْثَ، وَتُخْرِجُ الْأَرْضُ نَبَاتَهَا، وَيُعْطَى الْمَالُ صِحَاحًا، وَتَكْثُرُ الْمَاشِيَةُ، وَتَعْظُمُ الْأُمَّةُ
“Al-Mahdi akan muncul pada akhir umatku. Allah akan menurunkan hujan kepadanya, bumi akan mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya, harta akan diberikan secara melimpah, hewan ternak akan semakin banyak, dan umat akan menjadi besar.”
(HR. Al-Hakim no. 8716)
Kemudian Allah Ta’ala menutup rangkaian ayat tersebut dengan firman-Nya:
إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Sungguh, pada hal itu terdapat pesan yang cukup bagi orang-orang yang menyembah (Allah). Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 106–107)
Subhanallah.
Begitu kuat korelasi antara ajaran Islam dengan kemaslahatan manusia. Islam tidak datang untuk merusak kehidupan dunia, tetapi untuk menatanya agar berjalan sesuai dengan kehendak Penciptanya.
Ketika Hawa Nafsu Menggantikan Kebenaran
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ
“Seandainya kebenaran itu mengikuti keinginan mereka, niscaya langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya akan rusak.” (QS. Al-Mu’minun: 71)
Kemudian Allah berfirman:
بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ
“Bahkan Kami telah mendatangkan kepada mereka kemuliaan mereka, tetapi mereka berpaling dari kemuliaan itu.”
(QS. Al-Mu’minun: 71)
Kata ذِكْر dalam ayat tersebut dipahami oleh para ulama tafsir sebagai sesuatu yang menjadi kemuliaan dan kehormatan bagi mereka. Al-Qur’an sejatinya membawa kemuliaan bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat. (Lihat: Taufiq ar-Rahman, 3/205)
Namun, banyak manusia justru berpaling dan lebih memilih mengikuti hawa nafsunya.
Padahal, jika kebenaran harus tunduk mengikuti keinginan manusia, kerusakan akan terjadi. Sebab manusia memiliki keinginan yang berbeda-beda, sedangkan kebenaran hanya satu.
Hal ini serupa dengan peringatan Allah Ta’ala:
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ
“Ketahuilah bahwa di tengah-tengah kalian ada Rasulullah. Sekiranya dia menuruti kalian dalam banyak urusan, niscaya kalian akan mendapatkan kesusahan.” (QS. Al-Hujurat: 7)
Secara sederhana, Allah adalah Pencipta langit dan bumi serta Pencipta manusia sebagai penghuninya. Maka Allah pula yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya.
Karena itu, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan menjelaskan kandungannya melalui lisan Rasul-Nya ﷺ.
Potret Orang yang Mendustakan Hari Pembalasan
Bandingkan keadaan orang yang mengikuti petunjuk Allah dengan orang yang mendustakan hari pembalasan.
Allah Ta’ala berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah kamu orang yang mendustakan pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma‘un: 1–3)
Subhanallah.
Orang yang mendustakan hari pembalasan akan kehilangan salah satu fondasi penting akhlak sosial. Jika seseorang meyakini bahwa kehidupan hanya berhenti di dunia, ia akan lebih mudah mengabaikan hak orang lain, menghardik kaum lemah, dan enggan berkorban untuk sesama.
Karena itu, iman kepada hari akhir bukan sekadar keyakinan teoretis. Ia memiliki pengaruh nyata terhadap perilaku manusia.
Allah bahkan menggambarkan sebagian sifat orang kafir:
أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ
“Lemparkanlah ke dalam Jahanam setiap orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebaikan, yang melampaui batas, dan yang selalu berada dalam keraguan.” (QS. Qaf: 24–25)
Perhatikan korelasinya: kekufuran, keras kepala, menghalangi kebaikan, dan melampaui batas disebutkan dalam satu rangkaian.
Di antara sebab yang membuat penghuni neraka terjerumus ke dalamnya, Allah juga berfirman:
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ
“Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar? Mereka menjawab, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat dan kami tidak memberi makan orang miskin.’” (QS. Al-Muddatsir: 42–44)
Menarik untuk diperhatikan: meninggalkan salat dan enggan memperhatikan kaum miskin disebutkan secara beriringan.
Sebaliknya, orang yang mengikuti ajaran Al-Qur’an dan menegakkan salat dengan benar akan mendapatkan penjagaan dari berbagai keburukan.
Allah Ta’ala berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Inilah salah satu bentuk nyata bagaimana syariat menata kehidupan manusia. Ibadah yang benar tidak berhenti pada hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Rabbnya, tetapi juga melahirkan dampak positif dalam perilaku sosialnya.
Penutup
Dari rangkaian ayat-ayat tersebut, tampak satu benang merah yang sangat jelas:
Syariat Islam tidak pernah memisahkan kemaslahatan dunia dari kemaslahatan akhirat.
Ketaatan kepada Allah—shalat, khasyyah, iman kepada hari pembalasan, kepedulian terhadap kaum lemah, dan menjauhi kezaliman—bukanlah penghalang kemajuan kehidupan dunia. Justru semua itu merupakan fondasi bagi terciptanya kehidupan yang lebih tertib, aman, adil, dan penuh keberkahan.
Sebaliknya, ketika manusia melepaskan diri dari petunjuk Allah, mengikuti hawa nafsu, tidak takut kepada hari pembalasan, dan mengabaikan hak sesama, kerusakan akan semakin mudah terjadi.
Maka rahmatan lil ‘alamin bukan sekadar slogan. Ia adalah hakikat risalah Nabi Muhammad ﷺ: membawa petunjuk yang menyelamatkan manusia di akhirat sekaligus menata kehidupan mereka di dunia.
Islam tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia demi akhirat, tetapi mengajarkan bagaimana menjalani dunia dengan cara yang benar agar memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam.
Tim Shahihfiqih, 27 Agustus 2026 M / 13 Rabi’ul Awal 1448 H





