Ada banyak ungkapan Al-Qur’an yang jika diperhatikan dengan saksama akan membuat kita berhenti sejenak. Salah satunya adalah firman Allah:
فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Maka sampaikanlah kepadanya kabar tentang azab yang pedih.” (QS. Al-Jatsiyah: 8)
Yang menarik bukan hanya ancaman azabnya, tetapi pilihan kata yang Allah gunakan.
Mengapa Allah mengatakan فَبَشِّرْهُ—“berilah dia kabar gembira”—padahal yang diberitakan justru عَذَابٍ أَلِيمٍ, azab yang pedih?
Jika kita merenungkannya, pilihan kata ini ternyata mengandung keindahan balaghah yang sangat kuat. Ia sekaligus membuka sebuah pelajaran penting tentang manusia yang tertipu oleh harapan: ada orang yang terus bermaksiat, tetapi tetap merasa dirinya akan mendapatkan kesudahan yang baik.
Pertama: Karena di dalamnya terdapat Tahakkum (Sindiran)
Secara asal, kata tabsyir adalah menyampaikan berita yang menggembirakan.
Allah berfirman:
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa bagi mereka surga-surga.” (QS. Al-Baqarah: 25)
Namun ketika kata بَشِّرْ digunakan untuk azab, para ahli tafsir menjelaskan adanya tahakkum (sindiran), yaitu menggunakan ungkapan yang secara lahir menunjukkan sesuatu yang menyenangkan, padahal yang dimaksud adalah sesuatu yang buruk, sebagai bentuk sindiran dan celaan.
Ath-Thahir Ibnu ‘Asyur rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah:
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih.” (QS. An-Nisa: 138)
Beliau berkata:
فَجَاءَ بِهِ عَلَى طَرِيقَةِ التَّهَكُّمِ إِذْ قَالَ: بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ، فَإِنَّ الْبِشَارَةَ هِيَ الْخَبَرُ بِمَا يُفْرِحُ الْمُخْبَرَ بِهِ، وَلَيْسَ الْعَذَابُ كَذَلِكَ.
“Allah menggunakan kata tersebut dengan gaya sindiran (tahakkum) ketika berfirman, ‘Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang munafik.’ Sebab, bisyarah adalah pemberitaan tentang sesuatu yang membuat orang yang diberi kabar menjadi gembira, sedangkan azab tidaklah demikian.” (Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir, 5/230)
Seakan-akan dikatakan: “Engkau menunggu kabar gembira? Inilah kabar yang menantimu: azab yang pedih!”
Justru karena بَشِّرْ biasanya digunakan untuk berita yang menyenangkan, penggunaannya untuk azab membuat ancaman tersebut terasa semakin keras.
Kedua: Karena sebagian pelaku maksiat memang mengira akan mendapatkan kesudahan yang baik
Ini sisi yang sangat menarik.
Ada orang yang terus melakukan dosa, tetapi di dalam hatinya tertanam keyakinan:
“Saya tetap akan mendapatkan kebaikan dari Allah.”
Allah menggambarkan ucapan orang yang tertipu oleh angan-angannya:
وَلَئِنۡ أَذَقۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنَّا مِنۢ بَعۡدِ ضَرَّآءَ مَسَّتۡهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ وَلَئِن رُّجِعۡتُ إِلَىٰ رَبِّيٓ إِنَّ لِي عِندَهُۥ لَلۡحُسۡنَىٰۚ
“Dan jika Kami berikan kepadanya suatu rahmat dari Kami setelah ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, ‘Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan terjadi. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan di sisi-Nya.’” (QS. Fusshilat: 50)
Ia mendapatkan kenikmatan, lalu mengira Allah meridhainya.
Ia terus melakukan dosa, tetapi tetap merasa masa depannya akan baik.
Ia menginginkan الْحُسْنَىٰ (kebaikan), tetapi tidak menempuh jalan menuju husnā.
Maka penggunaan kata:
فَبَشِّرْهُ
menjadi sangat tajam.
Seakan-akan dikatakan: “Dia mengira akan mendapatkan kabar baik? Maka kabarkanlah kepadanya apa yang sebenarnya menantinya: azab yang pedih.”
Dengan demikian, kata بَشِّرْ sangat sesuai dengan keadaan orang yang tertipu oleh angan-angannya. Ia mengharapkan bisyarah, tetapi yang datang justru ‘adzab.
Harapan yang Benar Harus Dibuktikan dengan Amal
Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan kepada kita siapa yang benar-benar berharap kepada rahmat Allah.
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang benar-benar mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Baqarah: 218)
Perhatikan siapa yang disebut:
يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ
“Orang-orang yang berharap kepada rahmat Allah.”
Allah menyebut iman, hijrah, dan jihad.
Artinya, harapan mereka dibuktikan dengan amal.
Mereka tidak hanya mengatakan, “Kami berharap rahmat Allah,” tetapi mereka menempuh jalan menuju rahmat tersebut.
Sebaliknya, ada orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu membangun berbagai angan-angan tentang ampunan Allah.
Nabi ﷺ bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, kemudian berangan-angan kepada Allah dengan berbagai angan-angan.” (HR. Tirmidzi no. 2459)
Perhatikan pasangan yang disebutkan Nabi ﷺ:
أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا
“Ia mengikuti hawa nafsunya.”
Kemudian:
وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ
“Lalu ia berangan-angan kepada Allah.”
Inilah perbedaan antara الرَّجَاء dan الأَمَانِي.
Roja’ membuat seseorang bergerak menuju Allah.
Sedangkan Amani membuat seseorang merasa aman sambil terus mengikuti hawa nafsu.
Jangan Sampai Harapan Berubah Menjadi Tipuan
Allah memang memerintahkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.’” (QS. Az-Zumar: 53)
Tetapi ayat berikutnya langsung memerintahkan:
وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ
“Kembalilah kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 54)
Jadi, berharap kepada rahmat Allah bukan alasan untuk terus bermaksiat.
Rahmat Allah justru mendorong seorang hamba untuk kembali kepada-Nya.
Orang yang berkata: “Saya berharap Allah mengampuni saya,”
lalu berusaha meninggalkan dosa dan bertaubat, itulah raja’.
Adapun orang yang berkata: “Allah Maha Pengampun,” tetapi terus mempertahankan dosa dan menunda taubat, ia perlu khawatir bahwa yang ia miliki bukan raja’, tetapi amani, yaitu: angan-angan yang menipu.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang benar-benar berharap kepada rahmat-Nya, lalu membuktikan harapan itu dengan iman, taubat, dan amal shalih. Aamiin.
Tim Shahihfiqih, 17 Agustus 2026 M / 3 Rabi’ul Awal 1448 H





