Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du.
Setiap manusia diciptakan dengan ujiannya masing-masing, ada yang diuji dengan kesulitan, sakit, kehilangan pekerjaan, hutang, kesempitan rezeki, atau berbagai keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya. Namun, ada satu jenis ujian yang terkadang lebih sulit disadari: ujian ketika Allah memberikan kenikmatan. Seseorang bisa bersabar ketika sedang susah. Tetapi setelah sehat, kaya, memiliki kedudukan, dan hidupnya jauh lebih mudah, apakah dia masih mengingat siapa yang memberikan semua itu?
Nabi ﷺ pernah menceritakan kisah tiga orang dari Bani Israil. Kisah ini menunjukkan bahwa seseorang bukan hanya diuji dengan kesulitan, tetapi juga diuji dengan kesehatan, harta, dan kemudahan hidup. Allah berfirman:
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai suatu cobaan. Dan hanya kepada Kami kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35).
Tiga Orang Yang Diuji
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ ثَلَاثَةً فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ: أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى، فَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا
“Sesungguhnya dahulu ada tiga orang dari Bani Israil: seorang yang terkena penyakit barosh (sejenis kusta), seorang yang botak, dan seorang yang buta. Allah hendak menguji mereka, maka Dia mengutus kepada mereka seorang malaikat.” (HR. Bukhari no. 3464 dan Muslim no. 2964).
Kisah ini dimulai dari kondisi yang sangat berat. Orang pertama menderita barosh, yaitu penyakit sejenis kusta. Orang kedua mengalami kebotakan. Sedangkan orang ketiga mengalami kebutaan. Masing-masing memiliki keadaan yang membuatnya merasa berat di hadapan manusia.
Malaikat kemudian datang kepada mereka dan bertanya apa yang paling mereka inginkan. Orang yang terkena barosh mengatakan bahwa ia menginginkan warna kulit yang baik dan kulit yang bagus, karena kondisi sebelumnya membuat manusia merasa jijik kepadanya. Malaikat kemudian mengusapnya, dan dengan izin Allah penyakit itu hilang. Kulitnya menjadi baik. Kemudian ia ditanya tentang harta yang paling ia sukai. Ia memilih unta. Maka diberikan kepadanya seekor unta betina yang sedang bunting, lalu didoakan:
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِيهَا
“Semoga Allah memberkahimu dengannya.”
Demikian pula orang yang mengalami kebotakan. Ia meminta rambut yang bagus dan agar kebotakannya dihilangkan. Allah pun menyembuhkannya dan memberikan kepadanya seekor sapi yang sedang bunting.
Adapun orang yang buta, ketika ditanya apa yang paling ia inginkan, ia menjawab agar Allah mengembalikan penglihatannya sehingga ia dapat melihat manusia. Allah pun mengembalikan penglihatannya. Ia kemudian memilih domba sebagai hartanya, lalu diberikan seekor domba yang telah melahirkan.
Allah memberkahi harta mereka. Unta, sapi, dan domba mereka berkembang biak hingga masing-masing memiliki harta yang sangat banyak. Dalam hadits disebutkan bahwa salah seorang memiliki lembah penuh unta, yang lain lembah penuh sapi, dan yang lainnya lembah penuh domba.
Ternyata Ujian Belum Selesai
Sekilas, mungkin kita mengira bahwa ujian mereka telah berakhir. Penyakitnya sudah sembuh, kemiskinan sudah berubah menjadi kekayaan. Namun ternyata nikmat itu sendiri menjadi ujian baru. Malaikat kemudian datang kembali kepada ketiganya dalam keadaan seperti kondisi mereka dahulu.
Pertama, malaikat datang kepada orang yang dahulu terkena barosh. Malaikat berpura-pura menjadi seorang musafir miskin yang kehabisan bekal. Ia meminta seekor unta untuk membantu melanjutkan perjalanan. Ia juga mengingatkan orang tersebut, “Bukankah dahulu engkau terkena barosh, manusia merasa jijik kepadamu, dan engkau miskin, lalu Allah memberikanmu semua ini?” Namun orang tersebut justru mengingkari, ia berkata bahwa harta itu diwarisi dari nenek moyangnya. Malaikat kemudian berkata bahwa apabila dia berdusta, semoga Allah mengembalikannya kepada keadaan semula.
Hal yang sama terjadi pada orang yang dahulu mengalami kebotakan. Ketika diminta membantu seorang musafir dan diingatkan tentang masa lalunya, ia juga mengingkari nikmat Allah dan mengatakan bahwa harta tersebut diwarisinya dari nenek moyangnya.
Berbeda dengan keduanya, malaikat datang kepada orang yang dahulu buta. Malaikat meminta seekor domba dan diingatkan tentang masa lalunya, namun jawaban orang ini sangat berbeda:
قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصَرِي، فَخُذْ مَا شِئْتَ وَدَعْ مَا شِئْتَ
“Dahulu aku memang buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang engkau kehendaki dan tinggalkan apa yang engkau kehendaki.”
Ia bahkan bersumpah bahwa dirinya tidak akan mempersulit orang tersebut dalam mengambil sesuatu karena Allah. Malaikat akhirnya berkata:
أَمْسِكْ مَالَكَ، فَإِنَّمَا ابْتُلِيتُمْ، فَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْكَ وَسَخِطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ
“Pertahankan hartamu. Sesungguhnya kalian hanyalah sedang diuji. Allah telah ridho kepadamu dan murka kepada kedua sahabatmu.” (HR. Bukhari no. 3464 dan Muslim no. 2964).
Mereka Tidak Diuji Hanya Ketika Miskin
Pelajaran yang sangat penting dari kisah ini adalah bahwa ujian tidak selalu berbentuk kesulitan. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan ketika mensyarah hadits ini bahwa ketiga orang tersebut diuji dengan adh-dhorro’ (kesulitan), kemudian as-sarro’ (kenikmatan). Beliau menegaskan bahwa seorang muslim harus bersyukur kepada Allah atas nikmat kesehatan, harta, penglihatan, dan berbagai kenikmatan lainnya, serta tidak menjadi orang yang mengingkari nikmat. Beliau berkata:
فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ لَا يَتَأَسَّى بِهَؤُلَاءِ وَأَنْ يَحْذَرَ أَخْلَاقَ هَؤُلَاءِ، وَأَنْ يَشْكُرَ نِعَمَ اللَّهِ مِنَ الصِّحَّةِ وَالْمَالِ وَالْبَصَرِ وَغَيْرِ هَذَا مِمَّا يُعْطِيهِ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا
“Yang wajib bagi seorang mukmin adalah tidak mengikuti keadaan mereka, menjaga diri dari akhlak mereka, dan bersyukur atas nikmat-nikmat Allah berupa kesehatan, harta, penglihatan, dan berbagai nikmat lainnya yang Allah berikan.” (lihat: https://binbaz.org.sa/audios/1640/45).
Ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika Allah memberikan kesehatan setelah sakit, kekayaan setelah kesulitan, pekerjaan setelah menganggur, atau kemudahan setelah masa yang berat, bukan berarti ujian telah selesai. Boleh jadi justru saat itulah bentuk ujian berubah.
Masalahnya Bukan Sekadar Kehilangan Rasa Syukur
Perhatikan kesalahan dua orang tersebut. Bukan sekadar tidak memberi sedekah, mereka bahkan menghapus sejarah pertolongan Allah dari ingatan mereka. Dahulu mereka sakit, miskin, lalu Allah menyembuhkan dan memberi mereka kekayaan. Namun ketika diingatkan, mereka berkata:
إِنَّمَا وَرِثْتُ هَذَا الْمَالَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ
“Sesungguhnya aku hanya mewarisi harta ini dari nenek moyangku.”
Artinya, mereka tidak lagi mengakui bahwa nikmat tersebut merupakan pemberian Allah. Allah telah mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18).
Dan Allah berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian mengingkari nikmat, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Syukur Bukan Hanya Mengucapkan “Alhamdulillah”
Di sinilah kita perlu memahami syukur dengan benar. Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan dari kisah tersebut bahwa orang yang dahulu buta itu menyempurnakan syukurnya melalui pengakuan terhadap nikmat, ucapan, dan perbuatan. Beliau menjelaskan:
فَيَكُونُ هَذَا الرَّجُلُ الْأَعْمَى قَدْ أَتَمَّ أَرْكَانَ الشُّكْرِ: اعْتِرَافٌ بِالْقَلْبِ وَبِاللِّسَانِ وَبِالْجَوَارِحِ
“Maka orang yang dahulu buta ini telah menyempurnakan rukun-rukun syukur: pengakuan dengan hati, lisan, dan anggota badan.” (lihat: https://old.binothaimeen.net/content/14249).
Maka syukur bukan hanya kalimat di lisan. Seseorang yang mengatakan “alhamdulillah” tetapi menggunakan hartanya untuk maksiat, menggunakan kesehatannya untuk bermalas-malasan dari ketaatan, atau menggunakan ilmunya untuk kesombongan, maka ini belum memenuhi konsep syukur yang tepat sehingga perlu dievaluasi kembali.
Salah Satu Tanda Syukur Adalah Tidak Melupakan Masa Lalu
Lihatlah perbedaan antara ketiga orang tersebut. Dua orang berkata, “Kami mendapatkan harta ini dari nenek moyang.” Sementara orang yang buta berkata dengan jelas, “Dahulu aku buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku.” Ia tidak malu mengingat kondisi masa lalunya. Justru ia mengingat keadaan dirinya sebelum memperoleh nikmat.
Ini pelajaran yang sangat penting. Ketika sekarang kita memiliki kendaraan, jangan lupa ketika dahulu harus berjalan kaki. Ketika sekarang memiliki pekerjaan, jangan lupa masa ketika mencari pekerjaan. Ketika tubuh sehat, jangan lupa bahwa sakit pernah membuat kita tidak berdaya. Ketika memiliki penghasilan yang cukup, jangan lupa bahwa ada masa ketika kebutuhan terasa berat. Dan yang paling penting, ketika kita diberikan hidayah dan kesempatan mengenal sunnah, jangan sampai kita lupa bahwa semua itu semata-mata taufik dari Allah. Allah berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah datangnya.” (QS. An-Nahl: 53).
Renungan Untuk Kita
Mungkin kita tidak pernah mengalami kebutaan seperti orang ketiga dalam kisah tersebut.
Mungkin kita tidak pernah mengalami barosh atau kebotakan seperti dua orang lainnya.
Tetapi hampir setiap orang mempunyai “nikmat yang dulu pernah diminta”. Ada yang dahulu berdoa, “Ya Allah, sembuhkan saya.” Kemudian Allah menyembuhkannya. Ada yang dahulu berdoa, “Ya Allah, berikan saya pekerjaan.” Kemudian Allah memberikannya. Ada yang dahulu menangis, “Ya Allah, cukupkan kebutuhan keluarga saya.” Kemudian Allah melapangkan rezekinya. Ada yang dahulu memohon, “Ya Allah, berikan saya keturunan.” Kemudian Allah memberikan anak.
Pertanyaannya, Setelah doa itu dikabulkan, apakah kita masih menjadi hamba yang sama? Apakah shalat kita semakin baik? Apakah kita semakin banyak berdzikir? Apakah kita semakin ringan bersedekah? Apakah kita semakin rendah hati? Apakah kita semakin mudah menolong orang lain? Atau justru setelah mendapatkan apa yang dahulu kita minta, kita mulai sibuk dengan nikmat tersebut dan lupa kepada Pemberi nikmat?
Kisah ketiga orang Bani Israil ini mengajarkan bahwa nikmat bukan hanya sesuatu yang dinikmati. Nikmat juga sesuatu yang akan menguji kita.Dan sering kali ujian yang paling berbahaya bukan ketika kita kehilangan sesuatu, tetapi ketika kita mendapatkannya lalu lupa dari mana semua itu berasal. Allah berfirman:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
Semoga ketika Allah memberikan nikmat kepada kita, kita tidak menjadi seperti dua orang yang mengingkari masa lalunya. Tetapi kita menjadi seperti orang ketiga yang mengakui nikmat Allah, jujur tentang masa lalu, dan menggunakan nikmat tersebut untuk membantu sesama. Karena pada akhirnya, yang menentukan keselamatan seseorang bukan sekadar berapa banyak nikmat yang ia miliki, tetapi bagaimana ia memperlakukan nikmat tersebut. Wallahu a’lamu bishshawab.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil’alamin.
Tim Shahihfiqih, 20 Rabi’uts Tsani 1448 H/ 1 Oktober 2026 M





