Kenapa Hati Kita Gelisah? Ini Ciri Jiwa yang Tenang Menurut Islam

Pertanyaan:

Apa yang dimaksud dengan jiwa yang tenang dan jiwa yang bergejolak?

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du.

Jazakumullahu khairan atas pertanyaannya, semoga Allah memberikan taufik dan hidayahnya buat kita semua.

Istilah jiwa yang tenang dan jiwa yang bergejolak sebenarnya menggambarkan kondisi batin seseorang ketika menghadapi kehidupan, masalah, keinginan, ketakutan, dan berbagai perubahan keadaan.

Jiwa yang tenang bukan berarti seseorang tidak pernah sedih, takut, kecewa, atau menangis. Demikian pula jiwa yang bergejolak bukan sekadar orang yang sedang banyak masalah. Ukurannya lebih dalam: bagaimana hati seseorang menyikapi apa yang terjadi dan bagaimana hubungannya dengan Allah ﷻ.

Jiwa yang tenang bukan berarti hidup tanpa masalah

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai jiwa yang tenang. (27) Kembalilah kepada Rabbmu dengan ridho dan diridhoi. (28) Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, (29) Dan masuklah ke dalam surga-Ku. (30)” (QS. Al-Fajr: 27–30).

Para ulama menjelaskan bahwa An-Nafsul Muthmainnah adalah jiwa yang memperoleh ketenangan karena iman kepada Allah, mengenal-Nya, mencintai-Nya, tunduk kepada perintah-Nya, dan berserah diri kepada takdir-Nya.

Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa jiwa yang tenang adalah jiwa yang mantap, tenang, dan yakin kepada Allah dan janji-Nya. (lihat: Tafsir Ibnu Katsir,tafsir QS. Al-Fajr: 27–30).

Artinya, seseorang bisa saja sedang menghadapi hutang, sakit, kehilangan pekerjaan, konflik keluarga, atau persoalan lainnya, tetapi di dalam dirinya masih ada keyakinan “Allah tahu apa yang sedang terjadi. Allah tidak dzolim kepada hamba-Nya. Saya harus berusaha, berdoa, lalu bertawakal.”

Inilah salah satu bentuk ketenangan jiwa.

Jiwa yang bergejolak adalah hati yang tidak memiliki keteguhan

Jiwa yang bergejolak bukan berarti seseorang pasti buruk atau tidak beriman. Seorang mukmin pun bisa mengalami kegelisahan.

Namun, masalahnya adalah ketika kegelisahan itu menguasai hati sehingga seseorang terus-menerus dipenuhi ketakutan, prasangka buruk, keluh kesah, dan ketidakmampuan menerima keputusan Allah.

Allah ﷻ berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ayat ini menunjukkan bahwa sumber ketenteraman hati pada hakikatnya bukan semata-mata banyaknya harta, kenyamanan hidup, jabatan, atau terpenuhinya semua keinginan, tetapi hubungan yang benar dengan Allah.

Karena itu ada orang yang secara lahiriah kehidupannya sangat nyaman, tetapi batinnya kacau. Sebaliknya, ada orang yang hidupnya sederhana, bahkan diuji dengan berat, tetapi hatinya jauh lebih tenang.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa ketenangan berasal dari hati

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Ini menunjukkan bahwa kondisi batin sangat menentukan perilaku manusia.

Ketika hati dipenuhi iman, tawakal, sabar, syukur, dan dzikir, seseorang cenderung lebih stabil dalam menghadapi kehidupan.

Sebaliknya, apabila hati dipenuhi cinta dunia yang berlebihan, hasad, takut kepada makhluk secara berlebihan, buruk sangka, dan ketergantungan kepada selain Allah, jiwa mudah bergejolak.

Jadi, apa perbedaan keduanya?

Jiwa yang tenang berkata, “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya tahu siapa yang mengatur semuanya.”

Sedangkan jiwa yang bergejolak sering berkata, “Bagaimana kalau terjadi ini? Bagaimana kalau terjadi itu? Bagaimana kalau semuanya gagal?”

Perbedaannya bukan pada ada atau tidak adanya masalah, tetapi pada siapa yang menjadi sandaran hati ketika masalah datang.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3).

Apakah orang yang tenang tidak pernah cemas?

Tidak demikian. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam pernah sangat bersedih karena kehilangan Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Bahkan sampai kedua matanya memutih karena kesedihan itu. Allah berfirman:

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarahnya.” (QS. Yusuf: 84).

Jadi, menangis bukan tanda jiwa tidak tenang. Sedih bukan tanda lemahnya iman. Takut bukan otomatis berarti tidak tawakal.

Yang menjadi persoalan adalah ketika kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran membuat seseorang menjauh dari Allah, berburuk sangka kepada Allah, meninggalkan kewajiban, atau kehilangan harapan.

Bahkan Rasulullah ﷺ pernah menangis ketika putranya, Ibrahim, wafat. Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا

“Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhoi Rabb kami.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 2315).

Ini pelajaran yang sangat penting: hati boleh sedih, tetapi tetap tunduk kepada Allah.

Itulah salah satu gambaran jiwa yang tenang.

Bagaimana cara mendapatkan jiwa yang tenang?

Di antaranya dengan memperbanyak dzikir, karena Allah sendiri menghubungkan dzikir dengan ketenteraman hati; memperbaiki tawakal karena kita menyadari bahwa perkara kita berada di tangan Allah; bersabar atas ujian; memperbanyak doa; serta menjaga ketaatan, terutama shalat.

Seseorang juga perlu memahami bahwa tidak semua hal harus kita ketahui, tidak semua hal harus kita kendalikan, dan tidak semua keinginan harus segera terpenuhi.

Kadang-kadang jiwa menjadi bergejolak karena manusia ingin mengatur sesuatu yang sebenarnya berada di luar kemampuannya.

Jiwa menjadi tenang ketika seseorang berkata, “Saya akan melakukan kewajiban saya. Saya akan berusaha semampu saya. Setelah itu, saya serahkan hasilnya kepada Allah.”

Inilah tawakal yang benar: bukan pasrah tanpa usaha, tetapi berusaha dengan sungguh-sungguh lalu menyerahkan hasil kepada Allah.

Pada akhirnya, jiwa yang tenang bukan jiwa yang kehidupannya selalu mudah, tetapi jiwa yang tetap memiliki tempat kembali ketika kehidupan menjadi sulit.

Dan tempat kembali itu adalah Allah ﷻ. Wallahu a’lamu bishshawab.

Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil’alamin.

Tim Shahihfiqih, 27 Rabi’ul Awwal 1448 H/ 9 September 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *