Pertanyaan:
Apa nasihat bagi anak-anak yang menempuh pendidikan di sekolah umum, homeschooling, maupun sekolah pesantren?
Jawaban:
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du.
Jazakumullahu khairan atas pertanyaannya, semoga Allah memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita semua.
Ketika berbicara tentang pendidikan anak, terkadang kita terlalu sibuk memperdebatkan “anak sebaiknya sekolah di mana?”
Ada yang mengatakan sekolah umum kurang baik. Ada yang merasa pesantren pasti lebih baik. Ada pula yang memilih homeschooling karena menganggap pendidikan di rumah lebih aman dan lebih terkontrol.
Padahal, persoalan pendidikan tidak sesederhana itu.
Sebab, yang menentukan baik atau tidaknya pendidikan seorang anak bukan hanya nama lembaganya, tetapi juga apa yang diajarkan, siapa yang mendidik, bagaimana lingkungannya, bagaimana pergaulannya, dan yang paling penting, bagaimana peran orang tua dalam membimbingnya.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini mengingatkan kepada kita bahwa pendidikan anak pada hakikatnya adalah amanah orang tua. Anak boleh belajar di sekolah umum, belajar di rumah melalui homeschooling, ataupun belajar di pesantren. Namun tanggung jawab orang tua untuk membimbing mereka tidak pernah berpindah sepenuhnya kepada sekolah.
Nabi ﷺ juga bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829).
Karena itu, ketika seorang anak bersekolah di sekolah umum, jangan langsung merasa bahwa pilihan tersebut pasti buruk. Sekolah umum bisa menjadi tempat anak mendapatkan ilmu, keterampilan, pengalaman bersosialisasi, dan belajar menghadapi masyarakat yang beragam.
Hanya saja, orang tua perlu menyadari bahwa lingkungan sekolah juga mempertemukan anak dengan berbagai karakter, kebiasaan, bahkan pemikiran yang tidak semuanya sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Maka yang dibutuhkan bukan sekadar berkata, “Kamu sekolah di mana?”, tetapi juga memastikan, “Apa yang kamu pelajari? Dengan siapa kamu berteman? Apa yang kamu lihat di internet? Bagaimana shalatmu? Dan adakah sesuatu yang membuatmu bingung tentang agama?”
Anak yang memiliki pondasi aqidah, ibadah, dan akhlak yang baik akan lebih siap ketika berhadapan dengan lingkungan yang beragam.
Kemudian bagi orang tua yang memilih homeschooling, pilihan ini juga memiliki banyak sisi positif. Anak dapat memperoleh perhatian yang lebih personal dan pembelajaran bisa disesuaikan dengan kebutuhannya.
Tetapi homeschooling juga tidak berarti otomatis sempurna.
Jangan sampai karena anak lebih banyak berada di rumah, kemudian ia kurang belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain, bekerja sama, menghadapi perbedaan, menghormati orang lain, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab.
Sebab pendidikan bukan hanya soal berapa banyak materi yang bisa dikuasai anak, tetapi juga manusia seperti apa yang sedang dibentuk melalui pendidikan itu.
Begitu pula dengan pesantren.
Pesantren tentu mempunyai banyak keutamaan. Anak berada di lingkungan yang lebih dekat dengan ilmu agama, pembiasaan ibadah, adab, kedisiplinan, serta pergaulan yang diharapkan mendukung keshalihan.
Tetapi kita juga tidak boleh berpikir bahwa memasukkan anak ke pesantren berarti tugas orang tua selesai.
Tidak sama sekali.
Orang tua tetap harus dekat dengan anak. Tetap bertanya bagaimana keadaannya. Tetap mendengarkan keluhannya. Tetap mengawasi perkembangannya. Tetap memperhatikan akhlaknya. Sebab lembaga pendidikan, sebaik apa pun, tetap tidak menggantikan posisi orang tua.
Bahkan, jangan sampai anak tinggal di pesantren belajar tentang birrul walidain, sementara ketika pulang dia justru melihat orang tuanya sendiri sering bertengkar, berkata kasar, tidak menjaga shalat, atau memberikan contoh yang bertentangan dengan apa yang diajarkan.
Anak bukan hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka juga melihat apa yang kita lakukan.
Inilah sebabnya pendidikan yang sebenarnya tidak berhenti ketika anak masuk gerbang sekolah. Pendidikan berlangsung di rumah, di sekolah, di pesantren, dalam pergaulan, bahkan melalui apa yang mereka lihat dari layar handphone.
Karena itu, saya kira kita perlu berhenti mempertentangkan tiga pilihan ini secara berlebihan: sekolah umum, homeschooling, atau pesantren.
Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Yang perlu ditanyakan adalah: apakah pilihan tersebut sesuai dengan kebutuhan anak? Apakah lingkungan itu membantu menjaga agamanya? Apakah anak mendapatkan ilmu yang bermanfaat? Apakah akhlaknya berkembang? Apakah dia belajar bertanggung jawab? Dan apakah orang tua tetap hadir dalam proses pendidikannya?
Sebab boleh jadi seorang anak sekolah di sekolah umum, tetapi dia tumbuh menjadi anak yang rajin shalat, mencintai al-qur’an, berbakti kepada orang tua, menjaga pergaulan, dan memiliki akhlak yang baik.
Boleh jadi seorang anak homeschooling mendapatkan pendidikan yang sangat baik dan tetap mampu bersosialisasi dengan sehat.
Dan boleh jadi anak yang belajar di pesantren tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak.
Tetapi sebaliknya, seseorang juga bisa belajar di lembaga yang dianggap sangat baik, namun ternyata akhlaknya tidak terbentuk sebagaimana yang diharapkan.
Maka jangan ukur kualitas anak hanya dari sekolahnya.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Jadi, ukuran kemuliaan bukanlah apakah dia anak sekolah umum, homeschooling, atau pesantren. Yang lebih penting adalah apakah pendidikan itu membantunya menjadi hamba Allah yang lebih bertakwa.
Dan ada satu nasihat yang sangat penting untuk anak-anak, apa pun sekolahnya: Jangan merasa lebih baik hanya karena tempat belajar kalian berbeda.
Anak pesantren jangan merasa lebih tinggi daripada anak sekolah umum. Anak sekolah umum jangan meremehkan anak pesantren. Anak homeschooling juga jangan merasa dirinya lebih unggul.
Karena pada akhirnya, yang akan dinilai oleh Allah bukan seragam kita, bukan gedung tempat kita belajar, dan bukan nama sekolah kita. Yang akan menjadi perhatian adalah iman, ilmu, amal, dan akhlak kita.
Maka kepada para orang tua, jangan hanya sibuk memilih sekolah terbaik untuk anak. Jadilah orang tua yang juga berusaha menjadi teladan terbaik bagi anak.
Ajarkan tauhid. Ajarkan shalat. Ajarkan adab. Biasakan dzikir. Kenalkan Al-Qur’an. Awasi pergaulan. Dampingi penggunaan teknologi. Dan bangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.
Karena boleh jadi seorang anak mendapatkan sekolah yang sangat bagus, tetapi yang paling dia butuhkan justru orang tua yang hadir, mau mendengarkan, dan mau membimbingnya ketika dia menghadapi masalah.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan, “Anak saya sekolah di mana?” Tetapi, “Anak saya sedang saya persiapkan untuk menjadi manusia seperti apa ketika dia dewasa nanti?” Itulah pertanyaan yang semestinya terus kita renungkan.
Dan semoga apa pun jalan pendidikan yang dipilih—sekolah umum, homeschooling, maupun pesantren—semuanya menjadi wasilah agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang berilmu, beriman, berakhlak, mandiri, dan dekat dengan Allah Ta’ala. Wallahu a’lamu bishshawab.
Tim Shahihfiqih, 18 Rabi’ul Awwal 1448 H/ 31 Agustus 2026 M



