Maksud dari Penggalan Ayat: “Hanya dengan Mengingat-Nya Hati Menjadi Tentram”

Pertanyaan:

Apa maksud penggalan ayat “mengingat Allah hati menjadi tentram”?

Jawaban:

Allah Ta‘ala berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Ini adalah salah satu tanda orang-orang beriman. Ketika hati mereka mengingat Allah, kegelisahan dan keguncangannya berangsur hilang, lalu hadir kebahagiaan dan ketenteraman.

Mengapa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah?

Allah menegaskan:

أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Ayat ini menunjukkan bahwa hati memang selayaknya tidak mencari ketenteraman sejati kecuali dalam mengingat Allah.

Tidak ada sesuatu yang lebih nikmat bagi hati daripada mencintai Penciptanya, merasa dekat dengan-Nya, dan mengenal-Nya.

Semakin seseorang mengenal Allah dan mencintai-Nya, semakin banyak pula ia mengingat-Nya dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, doa, dan berbagai bentuk ketaatan.

Ada pula yang menafsirkan “mengingat Allah” dalam ayat ini sebagai Al-Qur’an yang Allah turunkan sebagai pengingat bagi orang-orang beriman.

Ketika seseorang memahami makna dan hukum-hukum Al-Qur’an, hatinya menjadi tenteram karena ia mendapatkan kebenaran yang jelas, disertai dalil dan bukti yang kuat. Sebab, hati tidak akan benar-benar tenang kecuali dengan ilmu dan keyakinan.

Hati akan selalu mencari tempat untuk bersandar

Ada alasan yang sangat mendasar mengapa dzikir membawa ketenteraman: hati manusia secara fitrah membutuhkan Penciptanya.

Allah-lah yang menciptakan hati. Maka ketika hati jauh dari-Nya, sebenarnya ia sedang kehilangan tempat kembali.

Berbagai hal duniawi mungkin memberikan kesenangan, tetapi tidak semuanya mampu memberikan ketenteraman. Harta, kedudukan, popularitas, hiburan, bahkan manusia yang kita cintai memiliki batas.

Adapun Allah adalah Rabbul ‘Alamin, Yang Mahamulia, Maha Pengasih, Maha Penerima Taubat, Maha Penyantun, Maha Pengampun, Mahaperkasa, Mahasabar, Maha Mensyukuri amal hamba, Maha Mendengar, Al-Ḥayiyy Yang Mahamalu, As-Sittīr Yang Maha Menutupi aib, dan memiliki nama-nama yang indah lainnya.

Maka ketika hati kembali mengingat-Nya, ia sebenarnya sedang kembali kepada tempat yang paling sesuai dengan fitrahnya.

Tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan orang yang mencintai Allah

Ibnul Qayyim berkata:

لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْمُحِبِّينَ، الَّذِينَ قَرَّتْ أَعْيُنُهُمْ بِحَبِيبِهِمْ، وَسَكَنَتْ نُفُوسُهُمْ إِلَيْهِ، وَاطْمَأَنَّتْ قُلُوبُهُمْ بِهِ، وَاسْتَأْنَسُوا بِقُرْبِهِ، وَتَنَعَّمُوا بِحُبِّهِ، فَفِي الْقَلْبِ فَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا إِلَّا مَحَبَّةُ اللهِ وَالْإِقْبَالُ عَلَيْهِ وَالْإِنَابَةُ إِلَيْهِ، وَلَا يَلُمُّ شَعَثَهُ بِغَيْرِ ذَلِكَ الْبَتَّةَ.

“Tidak ada kehidupan yang sejati kecuali kehidupan orang-orang yang mencintai Allah; orang-orang yang matanya menjadi sejuk karena kekasihnya, jiwanya merasa tenang kepada-Nya, hatinya tenteram dengan-Nya, merasa nyaman karena kedekatan dengan-Nya, dan menikmati kecintaan kepada-Nya.

Di dalam hati terdapat kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi kecuali dengan mencintai Allah, menghadapkan diri kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya. Tidak ada sesuatu pun selain itu yang dapat menyatukan kembali kepingan hati yang tercerai-berai.” (Lihat: Madarij As-Salikin, 4/183)

Karena itu, siapa yang tidak mendapatkan kenikmatan ini, hidupnya akan dipenuhi kegelisahan, kesedihan, rasa sakit, dan penyesalan.

Sebab, hati memiliki kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh dunia.

Sebanyak apa pun yang dimiliki seseorang, jika hatinya jauh dari Allah, akan selalu ada ruang kosong yang tidak terisi.

Sebaliknya, seseorang yang mengenal Allah, mencintai-Nya, banyak mengingat-Nya, dan selalu kembali kepada-Nya akan menemukan ketenteraman yang tidak bergantung pada keadaan dunia.

Sebagaimana ungkapan:

نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى
مَا الْحُبُّ إِلَّا لِلْحَبِيبِ الْأَوَّلِ

“Pindahkanlah hatimu ke mana pun dalam mencari cinta,
cinta sejati hanyalah untuk kekasih yang pertama.” (Lihat: Diwan Abi Tammam, 4/253)

Maka, jika hari terasa berat, jangan hanya mencari hiburan untuk melupakannya.

Kembalilah kepada Allah.

Perbanyak dzikir, baca Al-Qur’an, panjatkan doa, istighfar, dan hidupkan hati dengan mengenal nama-nama serta sifat-sifat-Nya.

Karena Allah sendiri telah memberikan jawabannya:

أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Wallahu a’lam.

(Disarikan dari: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Taisirul Karim al-Mannan, Madarij As-Salikin).

Tim Shahihfiqih, 2 September 2026 M / 19 Rabi’ul Awal 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *