Merasa Sedang Beribadah, Padahal Ternyata Salah?

Pertanyaan:

Apa maksud dari tafsir kitab Ighotsatul Lahafan 2/925?

Jawaban:

Jazakumullahu khairan atas pertanyaannya, semoga Allah memberikan hidayah dan taufiknya untuk kita semua.

Jika yang dimaksud adalah kutipan dari Ighotsatul Lahafan jilid 2 halaman 925, maka inti pembahasannya adalah tentang bahaya kebodohan dalam beragama. Seseorang bisa saja merasa sedang melakukan ketaatan kepada Allah, padahal yang dia lakukan justru bertentangan dengan syariat.

Ibnul Qoyyim رحمه الله menjelaskan:

مَا أَكْثَرَ مَنْ يَتَعَبَّدُ اللهَ بِمَا حَرَّمَهُ عَلَيْهِ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ طَاعَةٌ، وَهُوَ شَرٌّ مِمَّنْ يَعْتَقِدُهُ مَعْصِيَةً وَيَفْعَلُهُ

“Betapa banyak orang yang beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang Allah haramkan atasnya, tetapi dia meyakininya sebagai sebuah ketaatan. Orang seperti ini lebih buruk daripada orang yang meyakini bahwa perbuatan tersebut adalah maksiat, tetapi dia tetap melakukannya.”

Maksudnya, ada perbedaan antara orang yang mengetahui bahwa suatu perbuatan adalah maksiat tetapi tetap melakukannya, dengan orang yang melakukan sesuatu yang salah tetapi justru menganggapnya sebagai ibadah.

Orang pertama sadar bahwa dirinya sedang bermaksiat. Dia masih memiliki kesadaran bahwa perbuatannya salah, meskipun dia kalah oleh hawa nafsunya.

Adapun orang kedua memiliki masalah yang lebih berbahaya. Dia bukan hanya melakukan kesalahan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang melakukan kesalahan. Bahkan, dia merasa semakin dekat kepada Allah dengan perbuatan tersebut.

Inilah salah satu bentuk tipu daya setan yang sangat berbahaya. Setan tidak selalu menggoda manusia dengan mengatakan, “Lakukan maksiat.” Terkadang setan justru membuat seseorang menganggap sesuatu yang keliru sebagai kebaikan dan ibadah.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ۝ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah, ‘Maukah Kami kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.’” (QS. Al-Kahfi: 103–104).

Ayat ini menunjukkan bahwa merasa telah melakukan kebaikan tidak otomatis berarti seseorang benar-benar berada di atas kebaikan. Karena itu, dalam agama kita tidak cukup hanya bermodalkan niat baik dan perasaan bahwa suatu amalan itu bagus. Kita juga perlu memastikan bahwa amalan tersebut memang memiliki dasar dari al-qur’an dan sunnah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718).

Karena itu, niat yang baik harus dibarengi dengan cara yang benar. Kita ingin beribadah kepada Allah, tetapi cara beribadahnya juga harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Misalnya, seseorang mengatakan, “Saya melakukan ini karena ingin mendekatkan diri kepada Allah.” Maka jawabannya bukan sekadar, “Kalau niatnya baik berarti boleh.” Akan tetapi, perlu ditanyakan: Apakah cara tersebut memang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ?

Inilah pentingnya ilmu sebelum beramal.

Jangan sampai seseorang begitu bersemangat dalam beribadah, tetapi tidak mengetahui apakah ibadah tersebut benar atau tidak. Sebaliknya, jangan pula kita mudah menuduh seseorang sesat atau salah hanya berdasarkan dugaan. Kita perlu melihat dalil, penjelasan para ulama, dan konteks perkataannya secara utuh.

Jadi, pesan utama Ibnul Qoyyim dalam pembahasan tersebut adalah peringatan agar seorang muslim tidak merasa cukup dengan niat baik dan semangat beribadah. Ia harus belajar, mengetahui kebenaran, kemudian beramal berdasarkan ilmu.

Sebab, salah satu keadaan yang paling berbahaya adalah ketika seseorang berada dalam kesalahan, tetapi merasa dirinya sedang berada di atas kebenaran. Wallahu a’lamu bishshawab.

Tim Shahihfiqih, 13 Rabi’ul Awwal 1448 H/ 26 Agustus 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *