Apa Itu Muslim Sejati?

Pertanyaan:

Apa saja cara menjadi muslim sejati?

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du.

Jazakumullahu khairan atas pertanyaannya, semoga Allah memberikan taufik dan hidayahnya buat kita semua.

Istilah “muslim sejati” sebaiknya dipahami bukan sebagai klaim bahwa dirinya lebih suci daripada muslim lainnya, tetapi sebagai upaya untuk menjadi seorang muslim yang benar-benar tunduk kepada Allah, mengikuti Rasulullah ﷺ, dan menjalankan Islam secara menyeluruh sesuai kemampuan.

Apa saja cara menjadi muslim sejati?

Menjadi muslim sejati bukan sekadar memiliki identitas Islam, nama Islami, atau lahir dari keluarga muslim. Islam harus tampak dalam keyakinan, ibadah, akhlak, perkataan, dan cara seseorang menjalani kehidupan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Ayat ini memberikan prinsip yang sangat penting bagi seorang muslim yaitu: Islam tidak boleh diambil sebagian, lalu sebagian lainnya ditinggalkan sesuai keinginan kita.

Namun, bagaimana bentuk konkretnya?

1. Membenahi tauhid dan keimanan

Ini adalah fondasi pertama. Seorang muslim harus beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Dalam sebuah hadits yang masyhur Rasulullah ﷺ menjelaskan, bahwa Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa ramadhan.

بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ…

“Islam dibangun di atas lima perkara…” (HR. Bukhari no. 8).

Karena itu, perjalanan menjadi muslim yang baik harus dimulai dengan memperbaiki hubungan dengan Allah, bukan sekadar memperbanyak aktivitas keagamaan.

2. Mempelajari agama sebelum banyak beramal

Semangat beribadah itu harus disertai dengan ilmu. Karena seorang muslim perlu mengetahui bagaimana cara mentauhidkan Allah, bagaimana shalat yang benar, apa yang halal dan haram, bagaimana berpuasa, bermuamalah, berbakti kepada orang tua, dan seterusnya.

Dalam hadits Jibril yang menceritakan kedatangan Malaikat Jibril dalam wujud manusia, Rasulullah ﷺ menjelaskan Islam kepadanya menyebutkan ibadah-ibadah pokok (lihat: HR. Muslim no. 8), sedangkan dalam hadits yang lain beliau ﷺ menjelaskan bahwa jalan menuju kebaikan harus dibangun di atas amal yang benar. (lihat: HR. Tirmidzi no. 2616).

Ini menunjukkan bahwa agama ini dibangun di atas ilmu dan petunjuk yang jelas serta bisa dipertanggungjawabkan, maka jangan sampai seseorang memiliki semangat agama yang tinggi, tetapi agamanya dibangun di atas informasi yang tidak jelas kebenarannya.

3. Menjalankan kewajiban dan meninggalkan yang haram

Muslim sejati bukan yang hanya rajin melakukan amalan sunnah, tetapi masih meremehkan kewajiban atau melakukan dosa yang jelas.

Shalat wajib dijaga. Zakat maal ditunaikan ketika telah memenuhi syarat. Puasa ramadhan dilakukan. Haji dilaksanakan ketika mampu. Demikian pula kewajiban kepada orang tua, pasangan, anak, tetangga, dan sesama manusia harus diperhatikan.

Karena Allah memerintahkan agar Islam dijalankan secara keseluruhan. (lihat: QS. al-Baqarah: 208).

4. Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ

Menjadi muslim sejati bukan sekadar “berbuat baik menurut perasaan kita”. Ukurannya adalah standar dari  Al-Qur’an dan sunnah.

Allah berfirman:

وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا

“Jika kalian menaati Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amal-amal kalian.” (QS. Al-Hujurat: 14).

Karena itu, semakin seseorang mengenal sunnah Nabi ﷺ, semestinya semakin dia berusaha menyesuaikan ibadah dan kehidupannya dengan petunjuk beliau, karena itulah salah satu syarat diterimanya amalan seorang hamba.

5. Memperbaiki hati, bukan hanya penampilan

Islam bukan sekadar perkara penampilan, karena orrang kafir pun bisa berpenampilan serupa. Akan tetapi, hati juga harus dibersihkan dari kesyirikan, riya, sombong, hasad, dendam, cinta dunia yang berlebihan, dan penyakit hati lainnya.

Allah menjelaskan bahwa iman bukan sekadar pengakuan di lisan, melalui kisah orang-orang arab badui yang mengaku telah beriman di hadapan Nabi ﷺ:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, `Kami telah tunduk`, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat: 14).

Ini menunjukkan bahwa keislaman harus terus berkembang hingga iman benar-benar berpengaruh pada hati dan perilaku.

6. Memperbaiki akhlak dan muamalah

Keshalihan seseorang tidak hanya terlihat ketika berada di masjid.

Bagaimana sikapnya kepada orang tua? Bagaimana ketika berhadapan dengan pasangan? Bagaimana ketika bekerja? Apakah jujur ketika berdagang? Apakah menepati janji? Apakah menjaga lisannya?

Allah menyebutkan di antara sifat orang-orang beriman yang sukses adalah mereka yang menjaga amanah dan janji serta menjaga kehormatan dirinya. (lihat: QS. Al-Mu’minun: 1–11).

Jadi, shalat yang baik seharusnya melahirkan kehidupan yang baik pula.

7. Terus bertaubat dan memperbaiki diri

“Muslim sejati” bukan berarti manusia yang tidak pernah berbuat dosa. Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499).

Manusia tetap bisa salah. Yang membedakan adalah seberapa cepat dia kembali kepada Allah ketika melakukan kesalahan.

Karena itu, jangan menunggu menjadi sempurna baru mau mendekat kepada Allah. Justru kita mendekat kepada Allah agar Allah memperbaiki diri kita.

Menjadi muslim yang baik adalah proses seumur hidup.

8. Istiqomah sampai akhir hayat

Target seorang muslim bukan sekadar mati dalam keadaan pernah melakukan banyak amal, tetapi mati dalam keadaan Islam. Allah berfirman:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Karena itu, yang paling penting bukan hanya bagaimana kita memulai perjalanan, tetapi bagaimana kita mempertahankan Islam sampai akhir hayat.

Kesimpulan

Jadi, menjadi muslim sejati bukan tentang merasa bahwa diri kita sudah paling baik. Justru seorang muslim hendaknya selalu merasa masih banyak yang harus diperbaiki.

Secara sederhana, jalannya dapat diringkas menjadi: Benarkan tauhid → pelajari agama → jalankan kewajiban → tinggalkan yang haram → ikuti sunnah → perbaiki hati → perbaiki akhlak → bertaubat ketika salah → istiqomah sampai meninggal.

Dan satu hal yang sangat penting: jangan menjadikan istilah “muslim sejati” sebagai alat untuk mudah menghakimi orang lain. Kita diperintahkan untuk memperbaiki diri terlebih dahulu, kemudian mengajak orang lain kepada kebaikan dengan ilmu dan hikmah.Wallahu a’lamu bishshawab.

Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil’alamin.

Tim Shahihfiqih, 12 Rabi’uts Tsani 1448 H/ 23 September 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *