Fikih (Bekal) Ringkas Seputar Sholat Musafir

Pertanyaan: “Saya hendak bepergian dari Cirebon ke Bandung. Jaraknya sekitar 130 km. Apakah saya boleh menjamak shalat selama perjalanan? Kapan saya mulai boleh mengambil rukhshah safar? Dan bagaimana dengan shalat sunnah rawatib?”

Jawaban: Boleh.

Perjalanan dari Cirebon ke Bandung dengan jarak sekitar 130 km telah memenuhi jarak safar yang membolehkan qashar menurut jumhur ulama. Dengan demikian, setelah benar-benar keluar dari kawasan tempat tinggal, seorang musafir boleh mengambil rukhshah safar, seperti mengqashar shalat dan, menurut jumhur, menjamaknya.

Namun, ada beberapa rincian penting.

1. Berapa Jarak yang Membolehkan Qashar?

Dalam mazhab Syafi’i dan jumhur ulama, seseorang dianggap melakukan safar yang membolehkan qashar apabila perjalanannya mencapai dua marhalah, yaitu sekitar 16 farsakh, yang dalam ukuran kontemporer diperkirakan sekitar 80–90 km. (Lihat: Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab, 4/332)

Di antara dalil yang digunakan dalam masalah ini adalah atsar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

يَا أَهْلَ مَكَّةَ، لَا تَقْصُرُوا فِي أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ، مِنْ مَكَّةَ إِلَى عُسْفَانَ

“Wahai penduduk Makkah, janganlah kalian mengqashar pada perjalanan yang kurang dari empat burud, yaitu jarak antara Makkah dan ‘Usfan.” (HR. Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra, 3/137)

Dengan demikian, perjalanan Cirebon–Bandung sekitar 130 km telah melewati batas jarak tersebut.

2. Kapan Mulai Boleh Mengambil Rukhshah Safar?

Rukhshah safar tidak dimulai sejak seseorang keluar dari rumahnya.

Seseorang baru boleh mengqashar ketika telah meninggalkan kawasan tempat tinggalnya, yaitu melewati batas bangunan atau permukiman kotanya.

Dalilnya adalah hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا، وَبِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

“Aku shalat Zhuhur bersama Nabi ﷺ di Madinah sebanyak empat rakaat, sedangkan di Dzul Hulaifah kami shalat (asar) dua rakaat.” (HR. Bukhari no. 1089 dan Muslim no. 690)

Dzul Hulaifah merupakan daerah di luar Madinah. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak mengqashar ketika masih berada di dalam kota, tetapi setelah keluar dari kawasan Madinah.

Jadi, jika Anda masih berada di Cirebon, meskipun sudah berniat melakukan perjalanan ke Bandung, belum boleh mengqashar. Setelah keluar dari kawasan Cirebon dan benar-benar memulai perjalanan safar, barulah rukhshah berlaku.

3. Jika Sampai Bandung, Apakah Masih Boleh Jamak dan Qashar?

Jika Anda pergi ke Bandung dan sejak awal hanya berniat tinggal dua hari, maka status safar Anda tetap ada. Anda boleh mengambil rukhshah safar selama memenuhi ketentuannya.

Adapun jika sejak awal Anda berniat tinggal lebih dari empat hari penuh, maka menurut mazhab Syafi’i dan jumhur, status safar terputus ketika sampai di tempat tujuan.

Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah berkata:

وَإِنْ نَوَى الْمُسَافِرُ إِقَامَةَ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ غَيْرَ يَوْمِ الدُّخُولِ وَيَوْمِ الْخُرُوجِ، صَارَ مُقِيمًا، وَانْقَطَعَتْ عَنْهُ رُخَصُ السَّفَرِ؛ لِأَنَّ بِالثَّلَاثَةِ لَا يَصِيرُ مُقِيمًا.

“Jika seorang musafir berniat menetap selama empat hari, selain hari ketika ia masuk dan hari ketika ia keluar, maka ia menjadi orang yang mukim dan terputuslah darinya berbagai keringanan safar. Sebab, dengan menetap selama tiga hari, seseorang belum dianggap sebagai mukim.” (Lihat: Al-Muhaddzab, 1/195)

Lalu beliau mencantumkan dalil perkataan ini, dan diiukuti oleh An-Nawawi sebagai pensyarahnya.

4. Apakah Jamak Harus Dilakukan Ketika Ada Masyaqqah?

Di sini perlu dibedakan antara qashar dan jamak.

Qashar berkaitan dengan status safar. Selama seseorang masih berstatus musafir, ia mendapatkan rukhsah qashar.

Adapun jamak, maka ia memiliki pembahasan yang lebih luas. Menjamak sholat diperbolehkan karena beberapa sebab, seperti hujan, sakit, dan ada masyaqqoh.

Dan apabila seseorang musafir telah sampai di hotel dan tidak memiliki kebutuhan untuk menjamak, maka shalat pada waktunya masing-masing dengan qashar lebih utama.

Jadi, jangan sampai seseorang memahami bahwa karena sedang safar maka setiap shalat harus dijamak.

Tidak demikian.

Hendaknya anda sholat:
– Zhuhur 2 rakaat pada waktunya.
– Ashar 2 rakaat pada waktunya.
– Maghrib 3 rakaat.
– Isya 2 rakaat pada waktunya.

Dan Anda juga boleh menjamak Zhuhur dengan Ashar, serta Maghrib dengan Isya, jika ada masyaqqoh dalam safar, seperti sedang dalam perjalanan safar.

5. Bagaimana dengan Shalat Sunnah Rawatib Saat Safar?

Ketika safar, Nabi ﷺ tidak dikenal mengerjakan shalat sunnah rawatib sebagaimana kebiasaan beliau ketika mukim.

Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ، فَلَمْ أَرَهُ يُسَبِّحُ قَبْلَ الصَّلَاةِ وَلَا بَعْدَهَا

“Aku menemani Rasulullah ﷺ dalam perjalanan. Aku tidak pernah melihat beliau mengerjakan shalat sunnah sebelum atau sesudah shalat fardhu.” (HR. Bukhari no. 1101 dan Muslim no. 689)

Namun, shalat sunnah Fajar dan Witir tetap dijaga, karena keduanya memiliki kedudukan khusus.

Maka ketika safar, seseorang tidak perlu mengerjakan rawatib sebagaimana ketika mukim. Ia dapat berkonsentrasi pada shalat wajib yang telah mendapat rukhsah qashar, serta menjaga sunnah Fajar dan Witir.

6. Bagaimana Jika Shalat Berjamaah di Masjid Bersama Imam Mukim?

Ini juga penting.

Jika Anda sedang safar, kemudian shalat berjamaah di belakang imam yang mukim, maka Anda wajib mengikuti imam dan menyempurnakan shalat menjadi empat rakaat untuk Zhuhur, Ashar, atau Isya.

Musa bin Salamah berkata:

كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ؟

“Ketika kami bersama Ibnu Abbas di Makkah, aku bertanya, ‘Jika kami shalat bersama kalian, kami shalat empat rakaat. Namun, ketika kami kembali ke tempat tinggal kami, kami shalat dua rakaat.’

Ibnu Abbas menjawab:

تِلْكَ سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

‘Itulah sunnah Abul Qasim ﷺ.’ (HR. Ahmad no. 1862, dengan sanad yang shahih)

Maka, misalnya Anda sedang berada di Bandung dan masuk masjid ketika imam sedang shalat Zhuhur empat rakaat, Anda harus mengikuti imam sampai selesai, meskipun Anda sendiri berstatus musafir.

Kesimpulan

Untuk perjalanan Cirebon–Bandung sekitar 130 km, Anda telah memenuhi jarak safar menurut jumhur ulama.

Maka:

1. Anda baru boleh mengambil rukhshah setelah keluar dari kawasan tempat tinggal, bukan sejak masih berada di rumah.

2. Setelah keluar dari wilayah Cirebon, Anda boleh mengqashar Zhuhur, Ashar, dan Isya menjadi dua rakaat.

3. Anda juga boleh menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya sesuai karena adanya masyaqqoh. Jika tidak ada masyaqqoh, seperti sudah mencapai tujuan, maka sholat tidak perlu dijamak.

4. Jika sampai di Bandung dan hanya berniat tinggal dua hari, Anda masih berstatus musafir dan boleh mengambil rukhshah. Seperti mengqashar sholat.

5. Jika sejak awal berniat tinggal lebih dari empat hari penuh, maka menurut mazhab Syafi’i dan jumhur, status safar terputus ketika sampai di Bandung.

6. Ketika safar, rawatib yang biasa dikerjakan ketika mukim tidak perlu dikerjakan; namun sunnah Fajar dan Witir tetap dijaga.

7. Jika shalat berjamaah di belakang imam mukim, Anda wajib mengikuti imam dan menyempurnakan shalat menjadi empat rakaat.

Rukhshah adalah kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Mengambilnya bukan berarti kurang sempurna dalam beribadah. Justru menerima keringanan yang Allah syariatkan merupakan bagian dari mengikuti petunjuk-Nya.

Allah berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Wallahu a’lam.

Tim Shahihfiqih, 13 Agustus 2026 M / 28 Shafar 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *