Mengapa Umat Islam Makin Mudah Bermusuhan di Media Sosial? Ini Akar Masalahnya

Sebelum mudah menekan tombol share, comment, atau cancel, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan: “Apakah yang kita sebarkan benar-benar mendekatkan manusia kepada kebenaran, atau justru memperkeruh suasana?” Di era media sosial, kecepatan informasi sering kali mengalahkan adab. Akibatnya, perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan, sementara prasangka lebih cepat dipercaya daripada fakta. Inilah saatnya kita kembali menghidupkan prinsip yang diwariskan para ulama: adab sebelum ilmu.

Polarisasi Digital & Hilangnya Adab Berbeda Pendapat

Media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Informasi yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari kini menyebar hanya dalam hitungan detik. Kemudahan ini tentu membawa banyak manfaat. Namun, di sisi lain, muncul tantangan besar yang tidak boleh diremehkan: polarisasi digital.

Algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna. Semakin sering seseorang menyukai jenis konten tertentu, semakin banyak pula konten serupa yang akan muncul. Fenomena ini dikenal dengan istilah “echo chamber” atau “ruang gema”, yaitu kondisi ketika seseorang terus-menerus mendengar pendapat yang sama dan semakin jarang terpapar sudut pandang yang berbeda.

Akibatnya, seseorang dapat merasa bahwa hanya kelompoknya yang paling benar, sementara pihak lain selalu dianggap salah, sesat, bahkan layak dimusuhi.

Ketika Perbedaan Berubah Menjadi Permusuhan

Perbedaan pendapat sejatinya merupakan sesuatu yang telah dikenal sejak masa para ulama terdahulu. Namun, mereka mengelolanya dengan ilmu, adab, dan rasa hormat.

Sebaliknya, di dunia digital hari ini, perbedaan sering berubah menjadi saling mencela. Tidak sedikit yang dengan mudah melabeli orang lain sebagai sesat, mengkafirkan, membangun opini tanpa bukti, atau melakukan “cancel culture” hanya karena berbeda pandangan politik, pilihan organisasi, ataupun masalah fiqih yang memang diperselisihkan para ulama.

Padahal, seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga lisannya, termasuk lisan yang kini diwujudkan dalam bentuk tulisan, komentar, unggahan, maupun pesan yang dibagikan melalui media sosial. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).

Hadits ini tidak hanya berlaku ketika berbicara secara langsung, tetapi juga ketika kita mengetik di layar ponsel.

Adab Sebelum Ilmu: Warisan Para Ulama

Salah satu prinsip penting dalam tradisi ahlus sunnah adalah adab sebelum ilmu. Para ulama salaf tidak tergesa-gesa berbicara. Mereka menyadari bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Diriwayatkan bahwa para ulama besar sering kali saling melempar pertanyaan fiqih kepada ulama lainnya karena khawatir berbicara tanpa ilmu. Imam Malik rahimahullah, misalnya, dikenal sering menjawab pertanyaan dengan kalimat, “Saya tidak tahu.” Bagi beliau, mengakui ketidaktahuan jauh lebih mulia daripada berbicara tanpa dasar.

Sikap seperti inilah yang mulai langka di era media sosial. Kini, banyak orang merasa harus memiliki pendapat tentang semua isu yang sedang viral. Padahal, tidak semua perkara wajib kita komentari. Tidak semua berita harus kita tanggapi. Bahkan diam terkadang merupakan bentuk ibadah apabila dapat mencegah lahirnya fitnah.

“TABAYYUN” Kunci Menghadapi Era Hoaks dan Deepfake

Kemajuan teknologi menghadirkan tantangan baru. Kini, gambar dapat direkayasa, suara dapat ditiru dengan kecerdasan buatan (AI), bahkan video dapat dimanipulasi sehingga tampak seolah-olah asli (deepfake).
Di tengah kondisi seperti ini, ajaran Al-Qur’an tentang tabayyun menjadi semakin relevan. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kalian menyesali perbuatan itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh menjadi penyebar informasi tanpa verifikasi. Maka sebelum membagikan sebuah berita, setidaknya tanyakan kepada diri sendiri:

•⁠ ⁠Apakah sumbernya jelas?
•⁠ ⁠Apakah informasinya sudah terverifikasi?
•⁠ ⁠Apakah ada potongan video yang diambil di luar konteks?
•⁠ ⁠Apakah gambar tersebut asli atau hasil rekayasa?
•⁠ ⁠Apakah menyebarkan informasi ini membawa maslahat atau justru menambah keributan?

Sering kali, menahan jari untuk tidak menekan tombol share merupakan bentuk tabayyun yang paling sederhana.

Jangan Menjadi Bahan Bakar Fitnah

Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi penyulut konflik. Allah Ta’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menyakitkan, mereka mengucapkan, ‘Salam.'” (QS. Al-Furqan: 63).

Seorang Muslim semestinya menjadi penyejuk suasana, bukan provokator.

Jika sebuah komentar hanya akan memperpanjang pertengkaran, lebih baik ditinggalkan. Jika sebuah unggahan hanya memancing kebencian tanpa menghadirkan ilmu, tidak ada kewajiban untuk ikut menyebarkannya. Jika sebuah perbedaan masih berada dalam ranah ijtihad ulama, maka hendaknya disikapi dengan adab, bukan dengan caci maki.

Menjaga Persaudaraan Lebih Sulit daripada Menang Berdebat

Di media sosial, memenangkan perdebatan sering kali terasa mudah. Cukup dengan satu unggahan yang viral, seseorang dapat memperoleh ribuan dukungan.
Namun, menjaga ukhuwah jauh lebih bernilai di sisi Allah daripada sekadar memenangkan adu argumen.

Para ulama terdahulu mengajarkan bahwa tujuan berdiskusi bukanlah mengalahkan lawan, melainkan mencari kebenaran. Karena itu, mereka tetap saling menghormati meskipun berbeda pendapat dalam berbagai persoalan fiqih. Inilah adab yang perlu dihidupkan kembali di tengah derasnya arus informasi saat ini.

Penutup

Teknologi akan terus berkembang. Kecerdasan buatan akan semakin canggih. Informasi akan semakin cepat menyebar. Namun, satu hal yang tidak boleh berubah adalah ADAB SEORANG MUSLIM.

Mari jadikan media sosial sebagai ladang amal, bukan ladang dosa. Biasakan tabayyun sebelum membagikan berita, menjaga lisan sebelum berkomentar, dan mendahulukan adab sebelum ilmu. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak komentar yang kita tulis yang akan dipertanyakan di hadapan Allah, melainkan apakah setiap kata yang kita sebarkan membawa kebenaran, keadilan, dan kebaikan bagi sesama.

Tim Shahihfiqih, 10 Shafar 1448 H / 24 Juli 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *