Rahasia “Merendahkan Sayap” kepada Orang Tua dalam Al-Qur’an: Tadabbur Asy-Syu’ara: 215 dan Al-Isra: 24

Al-Qur’an adalah mukjizat bahasa yang tiada tandingannya. Setiap pilihan kata, susunan kalimat, bahkan penambahan satu lafaz saja menyimpan hikmah dan pelajaran yang sangat mendalam.

Di antara keindahan balaghah Al-Qur’an adalah penggunaan ungkapan “merendahkan sayap” (khafdhul janah – خَفْضُ الْجَنَاحِ). Ungkapan ini merupakan kiasan yang menggambarkan seekor burung yang menurunkan sayapnya kepada anak-anaknya; sebuah gambaran tentang kelembutan, kasih sayang, perlindungan, dan kerendahan hati.

Namun, ada satu hal yang menarik untuk diperhatikan.

Ketika Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ agar bersikap lembut kepada kaum mukminin, Allah hanya memerintahkan beliau untuk “merendahkan sayap”. Akan tetapi, ketika memerintahkan seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya, Allah menambahkan satu kata yang sangat bermakna, yaitu “adz-dzull” (الذُّلِّ), lalu menyandingkannya dengan “minar-rahmah” (مِنَ الرَّحْمَةِ).

Mengapa terdapat perbedaan yang begitu halus, namun sangat mendalam, ini?

Sikap kepada Sesama Mukmin: Kasih Sayang Seorang Pengayom

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara’: 215)

Perintah ini ditujukan kepada Rasulullah ﷺ, sekaligus menjadi teladan bagi setiap pemimpin, ulama, dan kaum muslimin dalam berinteraksi dengan sesama mukmin.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat ini:

بِلِينِ جَانِبِكَ، وَلُطْفِ خِطَابِكَ لَهُمْ، وَتَوَدُّدِكَ، وَتَحَبُّبِكَ إِلَيْهِمْ، وَحُسْنِ خُلُقِكَ، وَالْإِحْسَانِ التَّامِّ بِهِمْ.

“Yaitu dengan bersikap lemah lembut kepada mereka, bertutur kata dengan halus kepada mereka, menunjukkan kasih sayang dan keakraban kepada mereka, berusaha membuat mereka mencintaimu, menghiasi diri dengan akhlak yang mulia terhadap mereka, serta memberikan kebaikan yang sempurna kepada mereka.” kepada mereka.” (Lihat: Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 598)

Kerendahan hati yang diperintahkan di sini lahir dari kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab seorang pengayom. Ibarat induk burung yang merendahkan sayapnya untuk melindungi, menghangatkan, dan merangkul anak-anaknya. Ia merendah karena ingin mengayomi.

Sikap kepada Orang Tua: Ketundukan yang Membungkam Ego

Berbeda ketika Allah berbicara tentang hubungan seorang anak dengan kedua orang tuanya. Allah berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh ketundukan karena kasih sayang…” (QS. Al-Isra’: 24)

Di sinilah Allah menambahkan kata “adz-dzull” (الذُّلِّ).

Mengapa?

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa tambahan kata tersebut menunjukkan bahwa seorang anak tidak cukup hanya bersikap sopan. Ia harus benar-benar menundukkan egonya, tidak merasa lebih tinggi, lebih pintar, atau lebih mulia daripada kedua orang tuanya.
(Lihat: Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, 10/243-244, dengan penyesuaian).

Setinggi apa pun jabatan, seluas apa pun ilmu, atau sebesar apa pun kedudukan seseorang di tengah masyarakat, di hadapan kedua orang tuanya ia tetaplah seorang anak yang harus merendahkan diri.

Namun Allah juga memberikan satu syarat yang sangat indah:

مِنَ الرَّحْمَةِ

”…karena kasih sayang.”

Artinya, ketundukan itu bukan lahir karena tekanan, ketakutan, atau keterpaksaan.

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa seorang anak diperintahkan merendahkan diri kepada orang tuanya bukan karena takut dimarahi, bukan demi memperoleh harta warisan, dan bukan pula karena terpaksa. Ketundukan itu harus lahir dari rasa kasih sayang, belas kasih, penghormatan, serta kesadaran akan besarnya jasa kedua orang tua yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan, dan merawatnya sejak kecil. (Lihat: Taisir Al-Karim Al-Mannan, hlm. 456)

Perbedaan yang Sangat Halus

Jika kedua ayat ini dibandingkan, tampaklah keindahan susunan Al-Qur’an.
•⁠ ⁠Dalam QS. Asy-Syu’ara’: 215, “merendahkan sayap” bermakna merangkul, mengayomi, dan bersikap lembut kepada sesama mukmin.
•⁠ ⁠Dalam QS. Al-Isra’: 24, “merendahkan sayap adz-dzull” bermakna menanggalkan ego, melayani, dan tunduk kepada kedua orang tua dengan penuh kasih sayang.

Terlebih ketika kedua orang tua telah lanjut usia dan fisiknya mulai melemah, seorang anak diperintahkan bersikap sangat lembut kepada mereka, seakan-akan seorang hamba yang penuh hormat di hadapan orang yang dimuliakannya.

Muhasabah

Al-Qur’an mengajarkan adab yang sangat presisi.

Kepada saudara seiman, kita diperintahkan bersikap rendah hati, ramah, dan saling menguatkan. Namun kepada kedua orang tua, ramah saja belum cukup.

Berapa banyak anak yang merasa telah berbakti hanya karena memberikan nafkah atau berbicara dengan sopan. Namun ketika dinasihati, ia masih membantah. Ketika dipanggil, ia merasa terganggu. Ketika pendapatnya tidak diikuti, ia memperlihatkan raut wajah yang tidak menyenangkan.

Di situlah letak ujian adz-dzull.

Sudahkah kita benar-benar menanggalkan gengsi, melepaskan kebanggaan terhadap jabatan, ilmu, maupun kedudukan, lalu hadir di hadapan kedua orang tua sebagai anak yang siap berkhidmat dengan penuh kasih sayang dan kerendahan hati?

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melembutkan hati kita, menghiasi kita dengan akhlak yang mulia kepada sesama manusia, dan menjadikan kita anak-anak yang benar-benar merendahkan diri, penuh kasih sayang, serta berbakti kepada kedua orang tua hingga akhir hayat mereka.

Aamiin.

Tim Shahihfiqih, 30 Juli 2026 / 14 Shafar 1448

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *