Pertanyaan: “Saya sudah berusaha untuk menjadi lebih baik, memperbaiki diri, beribadah, dan berdoa. Namun, sampai sekarang saya merasa hidup saya seperti begitu-begitu saja dan belum menemukan tujuan hidup yang jelas. Bagaimana agar Allah memberikan hidayah kepada saya sehingga saya mengetahui arah hidup yang benar dan hidup saya bisa berubah menjadi lebih baik?”
Jawaban:
Semoga Allah melapangkan dada, meneguhkan hati kita semua di atas keimanan, serta menganugerahkan kepada kaum muslimin kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Pertama, perlu kami sampaikan bahwa kami justru melihat adanya kabar gembira dalam pertanyaan yang disampaikan.
Dalam pertanyaan dikatakan bahwa hidup terasa belum mengalami perubahan yang berarti. Namun pada saat yang sama Anda juga mengatakan bahwa Anda telah berusaha memperbaiki diri, berdoa, dan beribadah.
Bukankah ini sendiri merupakan sebuah perubahan yang sangat besar?
Banyak manusia diberi kesehatan, harta, dan jabatan, tetapi tidak diberi taufik untuk kembali kepada Allah.
Sedangkan Allah telah membukakan hati Anda untuk beribadah dan memperbaiki diri.
Ini adalah nikmat yang tidak boleh diremehkan.
Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Perhatikan, ayat ini datang setelah sebelas sumpah yang Allah sebutkan dalam Surah Asy-Syams. Tidak ada perkara lain yang ditegaskan Allah dengan jumlah sumpah sebanyak ini dalam satu tempat. Ini menunjukkan betapa agungnya urusan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Menyucikan jiwa bukan berarti seseorang telah sempurna. Yang dimaksud adalah ia terus berusaha membersihkan dirinya dari dosa, memperbaiki iman, dan terus kembali kepada Allah setiap kali tergelincir.
Di ayat lain Allah juga berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى
“Sungguh beruntung orang yang berusaha menyucikan dirinya.” (QS. Al-A’la: 14)
Para ulama menjelaskan bahwa penggunaan kata تَزَكَّى menunjukkan proses, usaha, dan mujahadah yang terus-menerus.
Artinya, keberuntungan bukan hanya milik orang yang telah mencapai kesempurnaan, tetapi juga milik orang yang terus berjalan menuju kesempurnaan.
Maka selama seseorang masih terus memperbaiki diri, bertaubat ketika tergelincir, dan kembali kepada Allah setiap kali lalai, ia berada di jalan keberuntungan.
Tujuan hidup sebenarnya sudah jelas
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Jadi seorang muslim tidak perlu mencari tujuan hidup yang baru.
Tujuan hidupnya telah ditetapkan oleh Allah, yaitu menjadi hamba-Nya.
Adapun pekerjaan yang halal, pasangan yang shalihah, rumah yang nyaman, rezeki yang luas, lingkungan yang baik, dan cita-cita dunia lainnya hanyalah sarana agar kita semakin sempurna dalam beribadah kepada Allah.
Jangan hanya beribadah, tetapi mintalah pertolongan Allah agar mampu beribadah
Inilah pelajaran besar yang Allah ulang kepada kita setiap hari.
Minimal tujuh belas kali sehari kita membaca:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Perhatikan bahwa Allah tidak hanya mengajarkan ibadah (نعبد), tetapi juga mengajarkan isti’anah (نستعين).
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seluruh agama berputar pada dua kalimat ini: beribadah kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya agar mampu beribadah. (Lihat: Madarij As-Salikin, 1/115 dan seterusnya)
Karena itu, jangan hanya berdoa meminta hasil.
Mintalah pula agar Allah memberikan kemampuan menempuh jalan menuju hasil tersebut.
Mintalah kepada Allah agar diberikan:
– kekhusyukan dalam shalat,
– istiqamah menjaga shalat berjamaah,
– kemudahan mengerjakan shalat sunnah,
– kekuatan berdzikir pagi dan petang,
– kemudahan membaca Al-Qur’an setiap hari,
– lisan yang mudah beristighfar,
– hati yang ikhlas,
– rezeki yang halal,
– pasangan yang shalihah,
– lingkungan yang baik,
– serta istiqamah sampai akhir hayat.
Inilah diantara makna hakiki dari وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.
Ketahuilah bahwa ibadah memiliki kelezatan
Sebagian orang mengira bahwa ibadah hanyalah kewajiban.
Padahal para nabi, para sahabat, dan para ulama berbicara tentang sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar menjalankan kewajiban, yaitu halawatul iman (manisnya iman) dan lazzatul ’ibadah (kelezatan beribadah).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
إِذَا لَمْ تَجِدْ لِلْعَمَلِ حَلَاوَةً فِي قَلْبِكَ وَانْشِرَاحًا فَاتَّهِمْهُ، فَإِنَّ الرَّبَّ تَعَالَى شَكُورٌ
“Apabila engkau tidak merasakan manisnya amal di dalam hatimu dan tidak mendapatkan kelapangan dada karenanya, maka curigailah amalmu. Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri amal hamba.” (Lihat: Madarij as-Salikin, 2/309)
Ibnul Qayyim menjelaskan maksud perkataan tersebut:
أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يُثِيبَ الْعَامِلَ عَلَى عَمَلِهِ فِي الدُّنْيَا مِنْ حَلَاوَةٍ يَجِدُهَا فِي قَلْبِهِ، وَقُوَّةٍ، وَانْشِرَاحٍ، وَقُرَّةِ عَيْنٍ
“Allah pasti memberikan balasan kepada orang yang beramal, bahkan di dunia, berupa manisnya iman yang ia rasakan di dalam hatinya, kekuatan jiwa, kelapangan dada, dan kesejukan mata.” (Lihat: Madarij as-Salikin, 2/309)
Inilah yang juga ditegaskan Rasulullah ﷺ.
Beliau bersabda:
ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
“Sungguh telah merasakan manisnya iman orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim no. 34)
Beliau juga bersabda:
ثََلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.
“Ada tiga perkara; siapa yang memilikinya, ia akan merasakan manisnya iman:
1. Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya.
2. Ia mencintai seseorang hanya karena Allah.
3. Ia membenci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya, sebagaimana ia membenci jika dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Beliau ﷺ juga bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dijadikan penyejuk mataku ada pada shalat.” (HR. Nasa’i no. 3939, dengan sanad yang shahih)
Semakin mengenal Allah, semakin nikmat beribadah
Kelezatan ibadah lahir dari ma’rifatullah.
Semakin seseorang mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah, semakin besar cintanya, tawakalnya, harapannya, rasa takutnya, dan semakin nikmat pula ibadah yang ia rasakan.
Allah berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
Kehidupan yang baik ini dimulai sejak di dunia, berupa ketenangan hati, kelapangan dada, dan manisnya iman, sebelum kenikmatan yang sempurna di akhirat.
Karena itulah para salaf mengatakan bahwa di dunia terdapat “surga” yang dapat dirasakan oleh orang-orang beriman, yaitu kenikmatan bermunajat, berdzikir, dan dekat dengan Allah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang benar-benar merealisasikan firman-Nya:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Sehingga Allah menganugerahkan kepada kita taufik untuk terus menyucikan jiwa, merasakan manisnya iman, menikmati kelezatan ibadah, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.
Tim Shahihfiqih, 29 Juli 2026 M / 13 Shafar 1448 H



