“Sakit itu pasti ujian dari Allah.” Kalimat ini sering kita dengar ketika seseorang tertimpa penyakit. Maksudnya memang baik, yaitu menghibur orang yang sedang menderita. Namun, benarkah setiap penyakit pasti merupakan ujian?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu. Ahlus sunnah menjelaskan bahwa musibah, termasuk penyakit, tidak memiliki satu makna yang sama untuk setiap orang. Ada yang menjadi ujian untuk meninggikan derajat, ada yang menjadi penghapus dosa, bahkan ada pula yang merupakan hukuman atau peringatan akibat kemaksiatan.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh tergesa-gesa memastikan, “Ini pasti ujian,” atau sebaliknya, “Ini pasti hukuman.” Yang lebih penting adalah bagaimana ia menyikapi penyakit tersebut dengan tawakal, kesabaran, taubat, dan memperbaiki diri.
Penyakit Bisa Menjadi Ujian
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai musibah, termasuk sakit. Ujian bukan berarti Allah membenci hamba tersebut. Justru, terkadang Allah menguji orang-orang yang paling dicintai-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang yang paling baik setelah mereka, lalu yang berikutnya.” (HR. Tirmidzi no. 2398 dan Ibnu Majah no. 4023; dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Tirmidzi no. 2398).
Hadits ini membuktikan bahwa penyakit tidak identik dengan kemurkaan Allah. Nabi Ayyub ‘alaihis salam, misalnya, menderita penyakit yang sangat berat, padahal beliau adalah seorang nabi yang mulia.
Penyakit Bisa Menjadi Penghapus Dosa
Bagi seorang mukmin yang bersabar dan ridho terhadap takdir Allah, penyakit dapat menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa. Rasulullah ﷺ bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun duka, bahkan hingga tertusuk duri, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573).
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,
فِيهِ تَكْفِيرُ الْخَطَايَا بِالْأَمْرَاضِ وَالْأَوْجَاعِ وَسَائِرِ الْمَصَائِبِ الدُّنْيَا
“Hadits ini menunjukkan bahwa penyakit, rasa sakit, dan seluruh musibah dunia menjadi sebab penghapusan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 16/127).
Namun perlu diperhatikan, hadits ini berbicara tentang orang beriman yang menghadapi musibah dengan kesabaran dan keimanan. Bukan berarti setiap orang yang sakit otomatis dosanya terhapus.
Penyakit Juga Bisa Menjadi Hukuman atau Peringatan
Di sisi lain, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa sebagian musibah terjadi sebagai akibat perbuatan manusia. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
أَيْ مَهْمَا أَصَابَكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ مِنَ الْمَصَائِبِ، فَإِنَّمَا هُوَ عَنْ ذُنُوبٍ سَلَفَتْ مِنْكُمْ
“Musibah apa pun yang menimpa kalian, itu disebabkan oleh dosa-dosa yang telah kalian lakukan.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Asy-Syura: 30).
Demikian pula Allah berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini menunjukkan bahwa sebagian musibah merupakan bentuk peringatan agar manusia segera bertaubat.
Tidak Boleh Memastikan Hikmah Penyakit Orang Lain
Di sinilah letak kesalahan yang sering terjadi. Ada yang berkata kepada orang sakit, “Tenang, ini pasti penghapus dosa.” Ada pula yang menuduh, “Pasti karena banyak maksiat.” Kedua sikap ini tidak memiliki dasar untuk memastikan keadaan seseorang.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa musibah bisa menjadi ujian untuk meninggikan derajat, penghapus dosa, atau hukuman, sesuai keadaan hamba dan hikmah Allah. Yang mengetahui hakikatnya hanyalah Allah Ta’ala. (lihat: Syarh Riyadh Ash-Shalihin, Bab Ash-Shabr).
Karena itu, sikap seorang muslim adalah berbaik sangka kepada Allah, melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri, memperbanyak taubat, bersabar, serta terus berikhtiar mencari pengobatan yang halal.
Bagaimana Seharusnya Menyikapi Penyakit?
Apa pun hikmah di balik penyakit tersebut, sikap seorang muslim tetap sama:
• Meyakini bahwa semua terjadi dengan takdir Allah.
• Bersabar dan berharap pahala dari Allah.
• Memperbanyak taubat dan istighfar.
• Berdoa memohon kesembuhan.
• Berobat dengan cara yang dibolehkan syariat.
• Memperbanyak amal shalih selama mampu.
Dengan sikap seperti ini, seorang mukmin tidak akan merugi. Jika penyakit itu merupakan ujian, ia akan mendapatkan pahala. Jika merupakan penghapus dosa, ia akan memperoleh ampunan. Jika merupakan peringatan atas dosa, ia memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah sebelum datang adzab yang lebih berat.
Penutup
Pertanyaan yang benar bukanlah, “Apakah penyakit ini ujian atau hukuman?” Sebab hal itu termasuk perkara ghaib yang tidak kita ketahui secara pasti.
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang harus saya lakukan ketika Allah menakdirkan penyakit ini?”
Jawabannya adalah bersabar, memperbaiki diri, memperbanyak taubat, berdoa, berikhtiar mencari pengobatan, dan semakin mendekat kepada Allah. Apa pun hikmah di balik penyakit tersebut, seorang mukmin akan memperoleh kebaikan apabila ia menyikapinya dengan iman dan tawakal.
Tim Shahihfiqih, 20 Shafar 1447 H / 3 Agustus 2026 M





