Boleh, bahkan bisa menjadi kebaikan, asal kita paham, bahwa yang dikejar bukan hartanya, melainkan manfaatnya. Dalam Islam, kaya bukan aib, dan miskin bukan otomatis mulia. Yang dinilai adalah hati, cara memperoleh, serta cara menggunakan harta. Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar “bolehkah berharap kaya?”, tetapi “untuk apa kita ingin kaya?”
Harta adalah nikmat sekaligus ujian
Al-Qur’an menegaskan bahwa harta bukan perkara ringan. Allah berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah memberikan penjelasan:
“Sesungguhnya harta dan anak-anak itu hanyalah fitnah, yaitu ujian dan cobaan dari Allah bagi makhluk-Nya, agar Dia mengetahui siapa yang taat kepada-Nya dan siapa yang durhaka kepada-Nya. (Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim, QS. At-Taghabun: 15).
Karena itu, Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci harta. Yang diajarkan adalah menjadikan harta sebagai alat, bukan tujuan. Harta yang baik adalah harta yang mendekatkan pemiliknya kepada Allah, bukan menjauhkannya dari akhirat.
Kaya Bukan Tujuan, Melainkan Alat
Allah ta’ala juga memberi arah yang sangat seimbang dalam firmannya:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77).
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak memerintahkan manusia meninggalkan dunia secara total, tetapi juga tidak membiarkan dunia menguasai hati.
Dari sini kita memahami bahwa berharap kaya pada dasarnya boleh, selama niatnya benar. Kaya menjadi baik ketika dipakai untuk menafkahi keluarga, membantu kaum lemah, membangun masjid, memperbanyak sedekah, dan mendukung dakwah. Karena itu, pertanyaan yang sehat bukan “apakah boleh kaya?”, tetapi “apakah kekayaan ini akan membawa saya makin taat?”
Harta Dapat Menjadi Kebaikan
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu:
يَا عَمْرُو، نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ
“Wahai ‘Amr, sebaik-baik harta yang baik adalah untuk orang yang shalih.” (HR. Ahmad no. 17099).
Maknanya, harta tidak tercela pada zatnya; yang menentukan nilainya adalah siapa yang memilikinya dan untuk apa ia dipakai. Jika pemiliknya shalih, maka hartanya pun bisa menjadi wasilah amal yang besar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebutkan:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَاكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal: seseorang yang Allah beri harta lalu ia menggunakannya di jalan yang benar, dan seseorang yang Allah beri hikmah/ilmu lalu ia memutuskan dengannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 1409 dan Muslim no. 816).
Ini menunjukkan bahwa harta yang dipakai di jalan yang benar termasuk nikmat besar yang patut dicita-citakan dalam makna yang sehat.
Ada pula hadits shahih dalam tema ini yang berbunyi:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-baik sedekah adalah yang diberikan dari kelebihan harta.” (HR. Muslim no. 1033).
Ini selaras dengan semangat Islam yang mendorong kedermawanan, bukan ketergantungan.
Yang Dilarang Bukan Kaya, Tetapi Cinta Dunia Yang Berlebihan
Masalah utama bukan jumlah harta, melainkan kondisi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta, tetapi kaya yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari no. 6446). Hadits ini menegaskan bahwa ukuran kekayaan yang sesungguhnya bukan angka di rekening, melainkan rasa cukup, tenang, dan tidak diperbudak oleh dunia.
Karena itu, seseorang bisa tampak sederhana tetapi hatinya rakus, gelisah, dan selalu merasa kurang. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki harta yang luas namun tetap rendah hati, ringan berinfak, dan tenang menjalani hidup. Inilah yang disebut ulama dan para penuntut ilmu sebagai perbedaan antara memiliki harta dan diperbudak oleh harta. Makna ini sejalan dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah yang menekankan ketundukan hati kepada Allah, bukan kepada dunia.
Harta Yang Terpuji Adalah Yang Membawa Maslahat
Kisah para sahabat juga memperlihatkan bahwa kekayaan bisa menjadi amal besar jika diarahkan dengan benar. Contohnya, ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dikenal menggunakan hartanya untuk kepentingan umat, termasuk membantu kaum muslimin dan memperluas maslahat umum. Riwayat-riwayat tentang keutamaannya menunjukkan bahwa orang kaya yang dermawan bisa menjadi sebab kebaikan besar bagi agama dan masyarakat.
Maka, bila seseorang berkata, “Saya ingin kaya,” maka niat itu harus diperiksa. Apakah ia ingin kaya untuk bermewah-mewahan, sombong, dan memperturutkan hawa nafsu? Ataukah ia ingin kaya agar lebih lapang berbuat baik? Dua niat ini sangat berbeda. Yang pertama berisiko menyeret pada fitnah dunia. Yang kedua bisa menjadi jalan ibadah.
Kapan Keinginan Menjadi Kaya Itu Baik?
Keinginan menjadi kaya menjadi baik ketika: pertama, tujuannya untuk menunaikan hak keluarga dan menjaga diri dari meminta-minta; kedua, jalannya halal; ketiga, hartanya dipakai untuk ketaatan; keempat, ia semakin mudah bersedekah; kelima, hatinya tidak berubah menjadi sombong. Semua ini selaras dengan hadits tentang tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang menerima, serta anjuran Nabi agar seseorang menjaga kehormatan diri dan tidak bergantung kepada manusia.
Sebaliknya, keinginan menjadi kaya menjadi tercela ketika seseorang menghalalkan segala cara, meremehkan shalat, menunda zakat maal, menutup mata dari kezoliman, atau menjadikan harta sebagai ukuran paling tinggi dalam hidup. Dalam kacamata Al-Qur’an, harta bukan alasan untuk membanggakan diri, karena ia hanyalah ujian yang kelak dipertanggungjawabkan.
Penutup
Jadi, bolehkah berharap kaya? Boleh. Bahkan, dalam kadar tertentu, itu bisa menjadi harapan yang baik. Tetapi Islam mengajarkan agar kekayaan tidak menjadi tujuan utama, melainkan sarana untuk taat kepada Allah, menolong sesama, dan memperbanyak amal shalih. Yang perlu dibangun bukan hanya rekening yang sehat, tetapi juga hati yang selamat.
Pada akhirnya, orang yang paling beruntung bukanlah yang paling banyak hartanya, melainkan yang paling kuat imannya, paling bersih niatnya, dan paling besar manfaatnya bagi manusia. Itulah kekayaan yang benar menurut Al-Qur’an dan sunnah.
Tim Shahihfiqih, 16 Shafar 1448 H / 30 Juli 2026





