Puncak Akhlak Seorang Hamba: Belajar Adab kepada Allah dari Para Nabi

Banyak orang mengira bahwa adab hanya berkaitan dengan hubungan antarmanusia, bagaimana bersikap santun kepada orang tua, ramah kepada tetangga, atau lembut kepada sesama. Padahal, ada adab yang jauh lebih agung, lebih mendasar, dan menjadi cerminan kedalaman iman seorang hamba, yaitu adab kepada Allah Ta’ala.

Semakin seorang hamba mengenal Rabbnya, semakin besar pengagungan, rasa malu, dan kehati-hatiannya dalam setiap ucapan, doa, maupun bisikan hatinya. Karena itu, manusia yang paling sempurna adabnya kepada Allah adalah para Nabi dan Rasul ’alaihimus shalatu was salam.

Ketika kita menelusuri kisah-kisah mereka dalam Al-Qur’an, tampak bahwa mereka bukan sekadar berdoa kepada Allah, tetapi juga sangat menjaga adab ketika berbicara dengan-Nya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan berbagai bentuk keindahan adab para Nabi kepada Rabb mereka.

1. Adab Nabi Isa ’Alaihissalam Ketika Berdialog dengan Allah

Allah Ta’ala berfirman:

إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ ۝ مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ۝ إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib… Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Ma’idah: 116–118)

Perhatikan betapa agung adab Nabi Isa ’alaihissalam.

Beliau tidak sekadar berkata, “Aku tidak pernah mengatakannya.” Namun beliau menyerahkan urusannya kepada ilmu Allah:

إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ

“Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau mengetahuinya.”

Beliau juga mengakui keterbatasannya:

تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ

“Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu.”

Yang lebih menakjubkan lagi adalah penutup doa beliau:

فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Mengapa beliau tidak mengatakan ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ?

Karena saat itu adalah hari ditegakkannya keadilan terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah. Maka Nabi Isa tidak menyebut sifat yang lebih menunjukkan belas kasih, tetapi memilih dua nama Allah yang paling sesuai dengan konteksnya: Al-’Aziz dan Al-Hakim.

Artinya, jika Allah mengampuni mereka, pengampunan itu lahir dari kekuasaan-Nya yang sempurna dan hikmah-Nya yang sempurna, bukan karena kelemahan ataupun ketidakmampuan menghukum.

Inilah adab dalam memilih Asmaul Husna yang sesuai dengan keadaan.

2. Tidak Menisbatkan Keburukan kepada Allah

Di antara bentuk adab para Nabi adalah tidak menisbatkan sesuatu yang secara lahir tampak sebagai keburukan kepada Allah, meskipun mereka meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir-Nya.

Allah Ta’ala mengabadikan ucapan Nabi Ibrahim ’Alaihissalam dalam Al-Qur’an:

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ ۝ وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ ۝ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dialah yang menciptakanku lalu memberi petunjuk kepadaku. Dialah yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syu’ara: 78–80)

Perhatikan.

Beliau menisbatkan penciptaan, petunjuk, makanan, dan minuman langsung kepada Allah.

Namun ketika berbicara tentang sakit, beliau tidak mengatakan, “Apabila Allah membuatku sakit.” Beliau berkata,

وَإِذَا مَرِضْتُ

“Apabila aku sakit.”

Begitupun Nabi Khidhir ’Alaihissalam, saat melubangi perahu beliau berkata:

فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا

“Aku bermaksud merusaknya.” (QS. Al-Kahfi: 79)

Namun ketika menjelaskan pembangunan dinding untuk dua anak yatim, beliau berkata:

فَأَرَادَ رَبُّكَ

“Maka Rabbmu menghendaki…” (QS. Al-Kahfi: 82)

Keburukan disandarkan kepada dirinya, sedangkan kebaikan disandarkan kepada Allah.

Bahkan Jin yang Beriman Pun Beradab

Allah mengabadikan ucapan mereka:

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

“Kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi ataukah Rabb mereka menghendaki petunjuk bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 10)

Ketika menyebut keburukan, kalimatnya berbentuk pasif:

أُرِيدَ

“Keburukan yang dikehendaki”

Sedangkan ketika menyebut petunjuk, mereka menyandarkannya langsung kepada Allah:

أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ

“Ataukah Rabb mereka menghendaki petunjuk bagi mereka.”

3. Kehalusan Para Nabi dalam Berdoa

Perhatikan bagaimana para Nabi menyampaikan kebutuhan mereka.

Nabi Musa ’Alaihissalam berkata:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24)

Beliau tidak meminta secara langsung, tetapi cukup menyampaikan keadaan dirinya.

Nabi Adam ’Alaihissalam juga serupa, ia berkata:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا

“Wahai Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri.” (QS. Al-A’raf: 23)

Beliau tidak menyalahkan takdir, tetapi mengakui kesalahan dirinya sendiri.

Nabi Ayyub ’Alaihissalam juga demikian:

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, sedangkan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)

Beliau tidak mengatakan, “Sembuhkanlah aku.” Beliau hanya mengadukan keadaannya sambil memuji Rabbnya.

4. Menjaga Perasaan Orang Lain

Adab kepada Allah juga tampak dalam cara para Nabi memperlakukan manusia.

Nabi Yusuf ’alaihissalam berkata:

وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي

“Sungguh Rabbku telah berbuat baik kepadaku ketika Dia mengeluarkanku dari penjara dan mendatangkan kalian dari dusun setelah setan menimbulkan perselisihan antara aku dan saudara-saudaraku.” (QS. Yusuf: 100)

Perhatikan kelembutan beliau.

Beliau menyebut penjara, bukan sumur, agar saudara-saudaranya tidak kembali mengingat kejahatan mereka.

Beliau tidak mengatakan, “Kalian telah menzalimiku.” Beliau berkata,

نَزَغَ الشَّيْطَانُ

“Setan telah menimbulkan perselisihan.”

Beliau menutup pintu rasa malu dan membuka pintu kasih sayang.

5. Malu kepada Allah Meski Sendirian

Adab tidak hanya tampak dalam doa, tetapi juga dalam perilaku.

Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang muslim tetap menjaga auratnya meskipun sedang sendirian. Ketika ditanya alasannya, beliau menjelaskan bahwa Allah lebih berhak untuk kita malu kepada-Nya daripada manusia.

Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، عَوْرَاتُنَا مَا نَأْتِي مِنْهَا وَمَا نَذَرُ؟

“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, terhadap siapakah aurat kami boleh dibuka, dan terhadap siapakah harus kami tutupi?’

Beliau ﷺ menjawab:

احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلَّا مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ

‘Jagalah auratmu, kecuali di hadapan istrimu atau budak perempuan yang engkau miliki.’

Aku bertanya lagi:

فَإِذَا كَانَ أَحَدُنَا خَالِيًا؟

‘Bagaimana jika salah seorang di antara kami sedang sendirian?’

Beliau ﷺ menjawab:

فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ

‘Maka Allah lebih berhak untuk engkau merasa malu kepada-Nya.’” (HR. Abu Dawud, no. 4017, Tirmidzi, no. 2794, Ibnu Majah, no. 1920; dengan sanad yang hasan).

Rasa malu kepada Allah adalah buah dari mengenal-Nya.

Muhasabah

Setelah melihat bagaimana para Nabi berbicara kepada Rabb mereka, sudahkah kita memperhatikan adab kita sendiri?
•⁠ ⁠Berapa sering kita berdoa dengan nada menuntut, seolah-olah Allah wajib memenuhi keinginan kita?
•⁠ ⁠Berapa sering kita menyalahkan takdir ketika ditimpa musibah, tetapi enggan mengoreksi dosa-dosa kita?
•⁠ ⁠Berapa sering kita tergesa-gesa dalam shalat, seakan berdiri di hadapan Allah adalah beban yang ingin segera selesai?
•⁠ ⁠Berapa sering kita berani bermaksiat ketika sendirian, seolah-olah tidak ada yang melihat?

Para Rasul adalah manusia yang paling mengenal Allah. Karena itulah mereka menjadi manusia yang paling sempurna adabnya kepada-Nya.

Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin besar rasa takut, cinta, harap, dan malu kepada-Nya. Dari sanalah lahir lisan yang santun, doa yang penuh kerendahan hati, dan kehidupan yang dipenuhi adab kepada Rabb semesta alam.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang senantiasa mengagungkan-Nya, lisan yang beradab ketika berdoa kepada-Nya, dan amal yang lahir dari rasa malu serta penghambaan yang tulus kepada-Nya.

Sumber: Madarij as-Salikin 3/145-149 dengan penyesuaian.

Tim Shahihfiqih, 1 Agustus 2026 / 16 Shafar 1448.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *