Di antara tanda hidupnya hati adalah ia mengenal musim-musim kebaikan, lalu berlomba menyambutnya sebelum orang lain menyadarinya. Dan di antara musim itu adalah hari Jumat; hari yang dipilih Allah dari seluruh hari, dimuliakan di atas hari-hari lainnya, dan dijadikan sebagai hari raya bagi kaum beriman.
Betapa banyak orang yang mengenal Jumat hanya sebagai kewajiban dua rakaat. Padahal, orang-orang yang mengenal Rabb mereka memahami bahwa Jumat adalah hari perjumpaan, hari ketika seorang hamba mendekat kepada Allah di dunia, agar kelak ia memperoleh kedekatan yang lebih sempurna kepada-Nya di akhirat.
Seberapa Besar Nilai Langkahmu Menuju Masjid?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ، ثُمَّ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْأُولَى، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ.
“Barang siapa mandi pada hari Jumat sebagaimana mandi janabah, kemudian berangkat pada waktu pertama, maka seakan-akan ia telah mempersembahkan seekor unta sebagai kurban. Barang siapa berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan ia mempersembahkan seekor sapi. Barang siapa berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan ia mempersembahkan seekor kambing bertanduk. Barang siapa berangkat pada waktu keempat, maka seakan-akan ia mempersembahkan seekor ayam. Barang siapa berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan ia mempersembahkan sebutir telur. Apabila imam telah keluar, para malaikat hadir untuk mendengarkan khutbah.” (HR. Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850)
Perhatikanlah bagaimana Nabi ﷺ tidak mengatakan, “Ia mendapat pahala.” Beliau justru mengumpamakan setiap orang yang datang lebih awal dengan seorang yang mempersembahkan kurban terbaik kepada Allah.
Mengapa?
Karena orang yang bersegera menuju masjid sejatinya sedang mempersembahkan sesuatu yang lebih mahal daripada hartanya: ia mempersembahkan waktunya, kesungguhannya, dan kerinduannya kepada Allah. Sementara waktu adalah umur, dan umur adalah modal kehidupan yang tidak akan kembali.
Orang yang rela mengorbankan waktu demi Allah, Allah akan membalasnya dengan karunia yang tidak mampu dibeli oleh seluruh harta dunia.
Namun Ternyata, Balasannya Jauh Lebih Besar Daripada Itu
Seandainya keutamaan datang lebih awal hanya berhenti pada pahala seperti berkurban, niscaya itu sudah merupakan karunia yang sangat agung.
Namun Allah tidak membatasi karunia-Nya hanya sampai di sana.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata:
سَارِعُوا إِلَى الْجُمُعَةِ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ اللَّهَ يَبْرُزُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلَّ جُمُعَةٍ عَلَى كَثِيبٍ مِنْ كَافُورٍ أَبْيَضَ، فَيَكُونُونَ مِنْهُ فِي الْقُرْبِ عَلَى قَدْرِ سُرْعَتِهِمْ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَيُحْدِثُ لَهُمْ مِنَ الْكَرَامَةِ شَيْئًا لَمْ يَكُونُوا رَأَوْهُ قَبْلَ ذَلِكَ، فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدْ أُحْدِثَ لَهُمْ مِنَ الْكَرَامَةِ شَيْءٌ لَمْ يَكُونُوا رَأَوْهُ قَبْلَ ذَلِكَ
“Bersegeralah menghadiri shalat Jumat ketika masih di dunia. Sebab, pada setiap hari Jumat Allah menampakkan diri kepada para penghuni surga di atas sebuah bukit dari kapur barus putih. Kedekatan mereka kepada-Nya sesuai dengan kadar kesungguhan dan kecepatan mereka dahulu dalam menghadiri shalat Jumat. Pada hari itu Allah menganugerahkan kepada mereka berbagai kemuliaan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Lalu mereka kembali kepada keluarga mereka dengan membawa tambahan kemuliaan itu.” (HR.Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd 2/131, dan Thabrani 9/238)
Renungkanlah atsar ini.
Di dunia, mereka berlomba menuju rumah Allah.
Di akhirat, mereka berlomba menuju Allah sendiri.
Di dunia, mereka mempercepat langkah menuju masjid.
Di akhirat, mereka dipercepat menuju kedekatan dengan Rabb mereka.
Di dunia, mereka duduk menunggu khutbah.
Di akhirat, mereka duduk menikmati kenikmatan terbesar yang tidak pernah terlintas dalam hati manusia.
Maka benarlah, balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Siapa yang bersegera mendatangi Allah ketika hidup di dunia, Allah akan mendekatkannya kepada-Nya pada hari ketika seluruh penghuni surga merindukan wajah-Nya.
Mengapa Syariat Memerintahkan Kita Mandi dan Berhias?
Bukankah Allah mampu memberikan seluruh pahala itu tanpa mandi?
Bukankah seseorang tetap bisa menghadiri Jumat dengan pakaian biasa?
Lalu mengapa syariat begitu menekankan mandi, memakai pakaian terbaik, menggunakan wewangian, bahkan menganjurkan seorang suami menggauli istrinya sebelum berangkat ke masjid?
Karena Allah menghendaki agar seorang hamba datang kepada-Nya dalam keadaan yang paling sempurna; lahirnya bersih, batinnya tenang, dan hatinya siap bermunajat.
Tubuh yang bersih lebih mudah khusyuk.
Pakaian yang baik menumbuhkan pengagungan terhadap syiar Allah.
Aroma yang harum menghilangkan gangguan bagi para malaikat dan kaum muslimin.
Sedangkan syahwat yang telah tersalurkan secara halal membuat hati lebih lapang, pikiran lebih tenang, dan jiwa lebih siap menikmati panjangnya duduk di rumah Allah.
Maka ia datang bukan sekadar untuk mengejar khutbah.
Ia datang membawa hati yang kosong dari kesibukan dunia.
Lalu ia memenuhi waktu dengan dzikir.
Dengan tilawah Al-Qur’an.
Dengan membaca Surah Al-Kahfi.
Dengan shalat sunnah selama Allah menghendaki.
Dengan memperbanyak doa pada hari yang padanya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah akan mengabulkannya.
Inilah sebabnya para salaf begitu mencintai datang lebih awal ke masjid. Mereka tidak menganggap waktu menunggu sebagai waktu yang hilang, tetapi sebagai waktu bercengkerama dengan Rabb mereka.
Datang Lebih Awal Adalah Cerminan Kerinduan
Seseorang tidak akan datang lebih awal kecuali kepada sesuatu yang ia cintai.
Lihatlah seorang yang menanti perjumpaan dengan orang yang dicintainya. Ia datang sebelum waktu yang dijanjikan. Penantian itu justru menjadi bagian dari kenikmatannya.
Lalu bagaimana mungkin seorang mukmin mengaku mencintai Allah, tetapi selalu datang kepada-Nya di detik-detik terakhir?
Orang yang mengenal Allah tidak merasa berat menunggu di rumah-Nya. Justru ia merasa berat apabila waktunya habis di pasar, di jalan, atau di hadapan urusan dunia, sementara pintu-pintu langit sedang terbuka.
Semoga Allah menjadikan hati kita termasuk hati yang selalu rindu kepada-Nya, menjadikan langkah kita termasuk langkah yang paling cepat menuju rumah-Nya, dan mengumpulkan kita pada hari Jumat di surga dalam kedudukan yang paling dekat dengan-Nya. Itulah kenikmatan yang tidak ada kenikmatan setelahnya. Aamiin.
Tim Shahihfiqih 11 Muharrom 1448 / 26 Juni 2026



