Ketika Surga dan Neraka Mulai Dirasakan Sejak di Dunia

Allah Ta’ala berfirman:

تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ ۖ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kamu akan melihat orang-orang zalim itu sangat ketakutan karena (kejahatan-kejahatan) yang telah mereka lakukan, dan (azab) menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (QS. Asy-Syuro: 22)

Kebanyakan orang memahami ayat ini sebagai gambaran keadaan manusia pada hari Kiamat. Tidak diragukan bahwa makna tersebut memang benar dan termasuk kandungan utama ayat ini. Namun, orang yang merenungkan sunnatullah yang berlaku pada hamba-hamba-Nya akan menyadari bahwa ayat ini juga memiliki bagian yang nyata dalam kehidupan dunia sebelum terwujud secara sempurna di akhirat.

Allah berfirman:

تَرَى الظَّالِمِينَ

“Engkau melihat orang-orang yang zalim…”

Ungkapan ini menggunakan kata kerja bentuk mudhari’ yang bisa menunjukkan keadaan saat ini maupun yang akan datang. Seakan-akan Allah berfirman: “Engkau melihat mereka sekarang di dunia,” sebagaimana engkau juga akan melihat mereka pada hari Kiamat. Inilah salah satu keindahan Al-Qur’an, yang menghimpun antara hukuman yang disegerakan di dunia dan hukuman yang ditangguhkan hingga akhirat.

Kemudian Allah berfirman:

مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ

“Mereka takut terhadap apa yang telah mereka kerjakan, padahal akibatnya pasti menimpa mereka.”

Yang dimaksud dengan isyfaq pada ayat adalah rasa takut yang disertai kecemasan dan kekhawatiran. Betapa sering kita menyaksikan keadaan seperti ini pada pelaku maksiat dan kezaliman. Dosa-dosa mereka terus membayangi mereka, dan hukuman-hukumannya lebih dahulu turun ke dalam hati sebelum menimpa badan. Akibatnya mereka hidup dalam kegelisahan, kesempitan dada, ketakutan, dan kegoncangan jiwa. Semua itu termasuk dalam makna firman Allah:

وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ

“Padahal akibatnya pasti menimpa mereka.”

Sebaliknya, Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ

“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka berada di taman-taman surga.”

Taman-taman surga yang sempurna tentu akan mereka nikmati di negeri akhirat. Namun, orang-orang beriman telah memperoleh bagian darinya sejak di dunia sesuai kadar iman dan amal saleh mereka. Sebab, surga dunia adalah surga berupa ma’rifat kepada Allah, kecintaan kepada-Nya, kedekatan dengan-Nya, dan ketenangan saat berzikir mengingat-Nya. Barang siapa belum merasakan surga ini, maka ia belum merasakan pendahuluan menuju surga akhirat.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Allah membalas orang yang berbuat baik dengan dua balasan: balasan di dunia dan balasan di akhirat. Kebaikan pasti memiliki ganjaran yang disegerakan, sebagaimana keburukan pasti memiliki hukuman yang disegerakan.”

Beliau kemudian menjelaskan bahwa di antara balasan yang disegerakan bagi orang yang taat adalah lapangnya dada, luasnya hati, kebahagiaan, kenikmatan dalam bermuamalah dengan Allah, kelezatan beribadah dan berzikir kepada-Nya, serta kebahagiaan yang memenuhi ruh karena cinta kepada-Nya. Sebaliknya, pelaku maksiat akan merasakan sempitnya dada, kerasnya hati, kegelisahan, kesedihan, ketakutan, dan berbagai macam penderitaan batin.

Karena itu beliau berkata:

“Kegelisahan, kesedihan, kecemasan, dan kesempitan hati adalah hukuman yang disegerakan, neraka dunia yang telah hadir sebelum Neraka Akhirat. Sebaliknya, menghadap kepada Allah, kembali kepada-Nya, ridha kepada-Nya, memenuhi hati dengan cinta kepada-Nya, dan bergembira karena mengenal-Nya adalah pahala yang disegerakan, surga yang telah hadir, dan kehidupan yang tidak ada bandingannya dengan kehidupan para raja.” (Lihat: al-Wabil ash-Shayyaib, hlm. 108)

Kemudian renungkan firman Allah:

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ

“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka.”

Sebagian orang mungkin mengira bahwa hal ini hanya berlaku di akhirat. Padahal, orang-orang beriman juga memiliki bagian dari makna ini di dunia.

Namun bukan berarti setiap keinginan hawa nafsu mereka akan selalu terwujud. Rahasianya adalah karena orang-orang beriman yang sejati telah menyerahkan seluruh urusan mereka kepada Allah. Mereka ridha terhadap pengaturan-Nya dan tenang dengan pilihan-Nya. Mereka tidak lagi mempertentangkan kehendak mereka dengan kehendak Allah, karena mereka yakin bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi mereka daripada diri mereka sendiri. Mereka juga yakin bahwa Allah Maha Bijaksana, Maha Penyayang, dan tidak pernah menetapkan sesuatu kecuali mengandung hikmah dan kebaikan.

Akhirnya, apa yang paling mereka inginkan adalah apa yang Allah pilihkan untuk mereka. Apa yang paling mereka cintai adalah apa yang Allah tetapkan bagi mereka. Jika mereka mendapatkan nikmat, mereka bersyukur. Jika mereka ditimpa musibah, mereka bersabar. Dalam kedua keadaan itu mereka tetap berada dalam kebaikan.

Merekalah orang-orang yang mengamalkan sabda Nabi ﷺ:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Apabila pemahaman ini telah tertanam kuat dalam hati, seorang hamba akan hidup di taman surga sebelum memasuki surga yang sesungguhnya. Ia akan merasakan kebahagiaan hidup, ketenangan hati, dan kedamaian jiwa yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang yang lalai dari Allah, meskipun mereka memiliki seluruh kenikmatan dunia.

Itulah makna firman Allah:

ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Itulah karunia yang sangat besar.”

Tim Shahihfiqih 9 Muharrom 1448 / 25 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *