Saat Makanan Dan Energi Mengajarkan Kita Bersyukur

Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai negara menghadapi tantangan yang berkaitan dengan energi dan pangan. Sebagian wilayah mengalami kenaikan harga bahan bakar, sebagian lainnya menghadapi gangguan distribusi pangan, cuaca ekstrem, kekeringan, maupun berbagai faktor lain yang memengaruhi ketersediaan kebutuhan hidup masyarakat.

Bagi seorang muslim, setiap peristiwa yang terjadi di dunia bukan sekadar fenomena ekonomi atau sosial semata. Di balik semua itu terdapat pelajaran keimanan yang sangat besar. Allah Ta’ala mengajarkan agar seorang hamba tidak hanya melihat sebab-sebab yang tampak, tetapi juga melihat kekuasaan Allah yang mengatur seluruh alam semesta. Krisis energi dan ketahanan pangan dapat menjadi momentum untuk mengingat kembali betapa besarnya nikmat Allah yang selama ini mungkin dianggap biasa.

Nikmat yang Sering Terlupakan

Ketika listrik menyala setiap hari, bahan bakar mudah diperoleh, dan makanan tersedia di meja makan, manusia sering kali menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar. Padahal Allah Ta’ala mengingatkan:

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ ۝ أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya?” (QS. Al-Waqi’ah: 68-69).

Kemudian Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ ۝ أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ

“Maka terangkanlah kepadaku tentang benih yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” (QS. Al-Waqi’ah: 63-64).

Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa manusia hanya melakukan sebab-sebab. Adapun yang menciptakan hujan, menumbuhkan tanaman, menghidupkan benih, dan menyediakan berbagai sumber daya adalah Allah semata.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

أَيْ أَأَنْتُمْ تُنْبِتُونَهُ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَحْنُ الَّذِينَ نُقِرُّهُ فِيهَا وَنُنْبِتُهُ

“Maksudnya, apakah kalian yang menumbuhkannya di bumi ataukah Kami yang menetapkannya di dalam tanah lalu menumbuhkannya?” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/525).

Karena itu, setiap kali seorang muslim melihat makanan di hadapannya, ia semestinya melihat tanda-tanda kekuasaan Allah sebelum melihat proses produksi manusia.

Manusia Menguasai Teknologi, Tetapi Tidak Menguasai Hasilnya

Perkembangan teknologi memungkinkan manusia membangun bendungan, pembangkit listrik, kilang energi, sistem irigasi, dan berbagai sarana modern lainnya.
Namun seluruh teknologi itu tetap bergantung pada kehendak Allah. Allah Ta’ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ

“Katakanlah: Ya Allah, Pemilik segala kerajaan, Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.” (QS. Ali ‘Imran: 26).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:

فَبِيَدِهِ الْخَيْرُ وَالشَّرُّ وَالْعَطَاءُ وَالْمَنْعُ

“Di tangan Allah-lah segala kebaikan dan keburukan, pemberian maupun penahanan.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 129).

Maka ketika terjadi gangguan pada sektor energi atau pangan, seorang muslim tidak hanya memikirkan solusi duniawi, tetapi juga memperkuat hubungan dengan Rabb yang menguasai seluruh sebab tersebut.

Krisis Mengajarkan Makna Syukur

Salah satu hikmah besar dari berbagai kesulitan hidup adalah agar manusia menyadari nilai sebuah nikmat. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan: Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7).

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata:

أَيْ لَأَزِيدَنَّكُمْ مِنْ نِعَمِي

“Artinya, sungguh Aku akan menambah berbagai nikmat-Ku kepada kalian.” (Fathul Qadir, 3/97).

Sering kali manusia baru menyadari mahalnya nilai makanan ketika harga naik. Baru memahami pentingnya air ketika terjadi kekeringan. Baru menyadari arti listrik ketika terjadi pemadaman. Padahal seorang mukmin diperintahkan untuk bersyukur sebelum nikmat itu berkurang.

Ketahanan Pangan Sejati Dimulai dari Ketakwaan

Banyak pembahasan tentang ketahanan pangan berfokus pada produksi, distribusi, teknologi, dan cadangan logistik. Semua itu merupakan ikhtiar yang baik dan diperlukan. Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa ada fondasi yang lebih mendasar, yaitu ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

أَيْ يَكْفِيهِ مَا أَهَمَّهُ مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Artinya, Allah akan mencukupinya dari berbagai urusan dunia dan akhirat yang menjadi kegelisahannya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 18/171).

Karena itu, ketahanan yang paling kokoh bukan hanya tersedianya bahan pangan, tetapi juga hadirnya ketakwaan di tengah masyarakat.

Jangan Sampai Kesulitan Mendorong kepada Jalan yang Haram

Ketika ekonomi sulit, seorang muslim tetap wajib menjaga kehalalan rezekinya.
Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168).

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim no. 1015).

Kesulitan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan penipuan, korupsi, kecurangan, riba, ataupun berbagai bentuk keharaman lainnya. Karena keberkahan rezeki lebih penting daripada sekadar banyaknya rezeki.

Pelajaran Terbesar: Bergantung kepada Allah

Pada akhirnya, krisis energi maupun pangan mengajarkan satu pelajaran besar: manusia adalah makhluk yang lemah dan bergantung kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kalian adalah pihak yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

الْإِنْسَانُ فَقِيرٌ إِلَى اللَّهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ

“Manusia membutuhkan Allah dalam segala urusannya.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1/561).

Karena itu, ketika membahas energi, pangan, ekonomi, atau berbagai kebutuhan hidup lainnya, seorang muslim tidak boleh melupakan sumber seluruh nikmat tersebut, yaitu Allah Ta’ala.

Penutup

Krisis energi dan ketahanan pangan bukan sekadar isu ekonomi. Bagi seorang mukmin, keduanya merupakan pengingat tentang besarnya nikmat Allah, pentingnya syukur, urgensi ketakwaan, dan kewajiban bertawakal kepada Rabb semesta alam.
Manusia boleh menghitung cadangan energi, memprediksi kebutuhan pangan, dan merancang berbagai strategi masa depan. Namun jangan sampai kesibukan menghitung kebutuhan dunia membuat kita lupa menghitung bekal menuju akhirat.
Sebab krisis terbesar yang sesungguhnya bukanlah kekurangan energi atau pangan, melainkan ketika seorang hamba bertemu Allah dalam keadaan miskin amal, penuh dosa yang belum ditaubati, dan jauh dari petunjuk-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, senantiasa bertawakal kepada-Nya, dan memanfaatkan setiap peristiwa sebagai sarana untuk semakin dekat kepada-Nya. Aamiin.

Tim Shahihfiqih, 9 Muharram 1448 H / 24 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *