Trending

Merenungi Firman Allah: “Allah-lah yang menjadikan malam untuk kalian agar kalian beristirahat.” – Tadabbur QS. Ghafir: 61

Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ

“Allah-lah yang menjadikan malam untuk kalian agar kalian beristirahat padanya.” (QS. Ghafir: 61)

Allah mengingatkan manusia tentang nikmat yang setiap hari mereka rasakan, namun sering kali luput dari perenungan: nikmat malam.

Siang hari Allah jadikan sebagai waktu untuk berusaha, bekerja, mencari rezeki, dan memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Setelah tubuh letih, pikiran penat, dan jiwa dipenuhi berbagai kesibukan, Allah menghadirkan malam sebagai waktu ketenangan dan istirahat.

Namun ada satu hal yang menarik untuk direnungkan.

Allah tidak mengatakan, “agar kalian tidur padanya”, tetapi Allah berfirman:

لِتَسْكُنُوا فِيهِ

“Agar kalian memperoleh ketenangan padanya.”

Ini menunjukkan bahwa tidur bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud. Tidur memang termasuk bentuk ketenangan yang paling nyata, tetapi makna “sukun” dalam ayat ini jauh lebih luas daripada sekadar memejamkan mata.

Tidur Adalah Salah Satu Bentuk Ketenangan

Tidak diragukan bahwa tidur merupakan nikmat yang sangat besar. Melaluinya tubuh memperoleh kembali kekuatannya, pikiran menjadi segar, dan berbagai kelelahan menghilang.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidur kalian pada malam hari.” (QS. Ar-Rum: 23)

Karena itu, para ulama sering menafsirkan sukun dalam ayat ini dengan tidur. Namun penafsiran seperti ini adalah penafsiran dengan contoh (tafsir bil mitsal), bukan pembatasan makna.

Sebab ketenangan yang Allah bentangkan pada malam hari jauh lebih luas daripada sekadar tidur.

Malam Adalah Waktu Kembali kepada Keluarga

Setelah seharian bekerja, mencari nafkah, dan berinteraksi dengan banyak orang, manusia membutuhkan tempat untuk kembali.

Ia membutuhkan rumah.

Ia membutuhkan keluarga.

Ia membutuhkan orang-orang yang mencintainya.

Karena itulah malam menjadi waktu yang Allah siapkan agar manusia kembali berkumpul dengan keluarganya, berbincang dengan pasangan, bercanda dengan anak-anak, dan menikmati kehangatan yang sering tidak sempat dirasakan pada siang hari.

Bukankah semua itu juga termasuk ketenangan?

Tidak mengherankan jika Allah menggunakan kata sakinah ketika menjelaskan hikmah diciptakannya pasangan hidup.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian memperoleh ketenangan padanya. Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Betapa banyak ketegangan hidup yang mencair hanya dengan duduk bersama keluarga yang dicintai. Dan betapa banyak orang yang mencari ketenangan ke berbagai tempat, padahal Allah menjadikan salah satu sumber ketenangan itu berada di dalam rumahnya sendiri.

Ketenangan yang Lebih Dalam daripada Tidur dan Keluarga

Meski tidur dan keluarga dapat menghadirkan ketenangan, ada ketenangan yang lebih dalam daripada itu semua.

Yaitu ketenangan hati ketika dekat dengan Allah.

Sebab tubuh memiliki kebutuhan yang berbeda dengan hati.

Tubuh membutuhkan makanan, minuman, dan tidur.

Sedangkan hati membutuhkan iman, dzikir, dan kedekatan dengan Rabb-nya.

Karena itu Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Betapa banyak orang yang telah mendapatkan seluruh sebab-sebab ketenangan duniawi, tetapi hatinya tetap gelisah.

Dan betapa banyak orang yang hidup sederhana, namun hatinya dipenuhi ketenteraman karena ia mengenal Rabb-nya.

Di sinilah kita memahami bahwa malam bukan hanya tempat istirahat bagi badan, tetapi juga kesempatan untuk menenangkan hati dengan dzikir, tilawah Al-Qur’an, doa, dan munajat kepada Allah.

Puncak Ketenangan Ada dalam Qiyamul Lail

Karena itulah ibadah malam memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

“Sesungguhnya ibadah pada waktu malam lebih kuat pengaruhnya dan lebih tepat untuk khusyuk.” (QS. Al-Muzzammil: 6)

Pada malam hari suasana menjadi tenang. Gangguan berkurang. Kesibukan manusia mereda. Karena itu hati lebih mudah hadir di hadapan Allah dan lebih siap menerima nasihat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.” (HR. Ahmad, no. 14069, Nasa’i, no. 3939)

Beliau bukan hanya memerintahkan umatnya untuk shalat malam, tetapi beliau sendiri adalah orang yang paling sempurna dalam melaksanakannya. Bahkan kedua kaki beliau pernah bengkak karena lamanya berdiri dalam qiyamul lail.

Ketika dikatakan kepada beliau bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang, beliau menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari, no. 6471)

Jawaban ini mengajarkan bahwa termasuk bentuk syukur atas nikmat Allah adalah menggunakan malam sesuai dengan tujuan yang Allah kehendaki.

Sebagaimana Allah menjadikan malam sebagai tempat beristirahat bagi badan, Dia juga menjadikannya sebagai medan ketenangan bagi ruh dan saat terbaik bagi hati untuk berdiri di hadapan-Nya.

Tubuh beristirahat dengan tidur.

Namun ruh beristirahat dengan mengingat Allah.

Tubuh mendapatkan ketenangan ketika berbaring.

Namun hati mendapatkan ketenangan ketika bersujud.

Terlebih lagi pada sepertiga malam terakhir, ketika Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 Muslim, no. 758)

Pada saat itulah seorang hamba merasakan sakinah di atas sakinah. Sebab di antara sebab terbesar ketenangan hati adalah kedekatan dengan Allah, merasakan perhatian-Nya, meyakini penjagaan-Nya, dan menyadari bahwa seluruh urusannya berada dalam genggaman-Nya.

Karena itu Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Wahai Nabi, cukuplah Allah menjadi Penolongmu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Al-Anfal: 64)

Barang siapa mengetahui bahwa Allah adalah Pencukup dan Penolongnya, niscaya hatinya akan tenang dan jiwanya akan tenteram, meskipun dunia di sekelilingnya sedang berguncang.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita sakinah di setiap malam yang Dia karuniakan; sakinah bagi badan melalui istirahat yang menenangkan, dan sakinah bagi hati melalui kelezatan berdzikir, tilawah Al-Qur’an, serta munajat kepada-Nya. Aamiin.

Tim Shahihfiqih 6 Muharrom 1448 / 22 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *