Riba dan Pengaruhnya Pada Inflasi (Pelemahan Rupiah)

Di saat banyak orang disibukkan dengan berbagai keluhan akibat naiknya harga BBM dan semakin tingginya biaya hidup, ada sebuah hadits yang sangat menarik untuk kita renungkan. Hadits ini mengajarkan bahwa ketenangan dan kebahagiaan seorang mukmin tidak semata-mata bergantung pada keadaan ekonomi, tetapi pada sesuatu yang jauh lebih mendasar: keridhaannya kepada Allah sebagai Rabb.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Al-’Abbas bin ’Abdul Muththalib radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

‎ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Sungguh telah merasakan manisnya iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb-nya, kepada Islam sebagai agamanya, dan kepada Muhammad sebagai rasulnya.” (HR. Muslim, no. 34)

Hadits ini menunjukkan bahwa iman memiliki manisnya sendiri yang dapat dirasakan oleh hati. Salah satu jalan untuk meraih manisnya iman adalah dengan benar-benar ridha kepada Allah sebagai Rabb; menerima pengaturan-Nya, tunduk kepada ketetapan-Nya, dan merasa cukup dengan-Nya dalam segala keadaan.

Bagi sebagian orang, pembicaraan tentang manisnya iman mungkin terdengar seperti kisah yang sulit dibayangkan. Namun bagi hamba-hamba Allah yang jujur dalam keimanan mereka, manisnya iman adalah sebuah kenyataan yang dirasakan. Kelezatannya bahkan jauh melebihi segala kenikmatan dunia, karena ia merupakan kebahagiaan hati, ketenteraman jiwa, dan kedekatan dengan Allah yang tidak dapat dibeli oleh harta, jabatan, maupun kesenangan dunia apa pun.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

‎إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ

“Sesungguhnya di dunia ada surga (yaitu manisnya iman dan mengenal Allah); siapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan masuk surga akhirat.” (Lihat: Madarij as-Salikin 1/536)

Bagaimana cara meridhai Allah sebagai Rabb di saat harga BBM naik?

Meridhai Allah sebagai Rabb di saat harga BBM naik berarti meyakini bahwa peristiwa ini tidak terjadi di luar ilmu, kehendak, dan hikmah Allah.

Ia menyadari bahwa Rabb yang mengatur rezekinya adalah Rabb yang sama yang mengatur naik-turunnya harga, pergantian keadaan, kelapangan dan kesempitan hidup. Karena itu, hatinya tidak dipenuhi protes terhadap takdir Allah, tidak tenggelam dalam penyesalan yang tidak bermanfaat, dan tidak terus-menerus disibukkan oleh ucapan, “Seandainya begini…”, “Andai saja tidak terjadi…”, atau “Mengapa harus seperti ini?”

Ia yakin bahwa Allah adalah Raja Yang Maha Berkuasa, yang mengatur seluruh urusan makhluk-Nya dengan ilmu yang sempurna, hikmah yang mendalam, keadilan yang mutlak, dan rahmat yang luas. Tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang sia-sia, meskipun manusia terkadang tidak mampu melihat hikmah yang tersembunyi di baliknya.

Karena itu, ketika harga BBM naik dan biaya hidup terasa semakin berat, ia tidak hanya melihat angka-angka yang bertambah. Ia juga berusaha melihat pelajaran yang Allah ingin ajarkan melalui keadaan tersebut.

Mungkin Allah ingin mengingatkan manusia agar tidak berlebih-lebihan dalam hidup.

Mungkin Allah ingin mendidik mereka untuk lebih bijak dalam mengelola harta.

Mungkin Allah ingin mengembalikan hati yang terlalu bergantung kepada sebab-sebab dunia agar kembali bergantung kepada-Nya.

Dan mungkin pula Allah hendak menghapus dosa, meninggikan derajat, atau membuka pintu-pintu kebaikan yang belum tampak saat ini.

Meridhai Allah sebagai Rabb juga berarti tidak menuduh Allah dalam ketetapan-Nya.

Ia tidak menyangka bahwa Allah menakdirkan sesuatu tanpa hikmah atau tanpa tujuan yang baik. Sebaliknya, ia memandang dengan penuh keyakinan bahwa di balik setiap takdir Allah terdapat kebijaksanaan yang sempurna, sekalipun tidak selalu sesuai dengan harapan, kebiasaan, atau ukuran akal manusia.

Lalu ia melanjutkan hidupnya dengan penuh tanggung jawab: berikhtiar mencari rezeki yang halal, berhemat, meninggalkan pemborosan, membantu sesama semampunya, memperbanyak istighfar dan doa, serta memperkuat tawakal kepada Allah.

Sebab ia tahu bahwa harga BBM boleh naik, biaya hidup boleh bertambah, dan keadaan ekonomi boleh berubah. Namun Allah tetap Rabb yang sama: Maha Kaya, Maha Bijaksana, Maha Pengasih, dan Maha Pemberi Rezeki. Maka selama ia berada di bawah pengaturan Rabb yang demikian, tidak ada alasan baginya untuk kehilangan harapan dan prasangka baik kepada-Nya.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

“Bentuk penghambaan seorang hamba ketika menghadapi berbagai musibah adalah bersabar atasnya. Kemudian tingkat yang lebih tinggi dari itu adalah ridha terhadapnya. Dan tingkat yang lebih tinggi lagi adalah bersyukur atasnya.

Derajat ridha dan syukur ini hanya dapat diraih apabila kecintaan kepada Allah telah mengakar kuat dalam hatinya, serta ia meyakini baiknya pilihan Allah untuk dirinya, kasih sayang-Nya kepadanya, kelembutan-Nya terhadapnya, dan kebaikan-Nya yang terkandung di balik musibah yang menimpanya, meskipun pada dirinya ia tidak menyukai musibah tersebut.” (Lihat: Al-Fawaid, hlm. 161)

Perkataan Ibnul Qayyim ini mengajarkan bahwa ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup, termasuk kenaikan harga BBM dan beban ekonomi yang semakin berat, sikap minimal yang harus dimiliki seorang mukmin adalah bersabar. Jangan sampai kesulitan tersebut menyeretnya kepada keluh kesah yang berlebihan, apalagi kemarahan dan protes terhadap ketetapan Allah.

Jika ia mampu melapangkan hatinya dan meyakini bahwa Allah tidak menetapkan sesuatu kecuali dengan hikmah, rahmat, dan kebaikan, maka ia telah naik ke derajat ridha. Bahkan jika ia mampu melihat pelajaran dan kebaikan di balik ujian tersebut lalu bersyukur kepada Allah, maka itulah maqam para hamba pilihan.

Semakin besar keridhaan seorang hamba kepada pengaturan Allah sebagai Rabb-nya, semakin besar pula bagian yang ia rasakan dari manisnya iman.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang senantiasa ridha terhadap setiap ketetapan-Nya, serta memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba yang merasakan manis dan lezatnya iman. Aamiin.

Tim Shahihfiqih 24 Dzulhijjah 1447 / 10 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *