Di antara bukti kesempurnaan syariat Islam adalah bahwa Allah tidak memerintahkan sesuatu kecuali di dalamnya terdapat kemaslahatan yang besar, dan tidak melarang sesuatu kecuali di dalamnya terdapat kerusakan yang nyata, baik cepat ataupun lambat, tampak ataupun tersembunyi.
Betapa sering manusia tertipu oleh sesuatu yang tampak menguntungkan di awal, namun ternyata menyimpan racun yang perlahan menghancurkan kehidupan mereka. Sebaliknya, betapa banyak perintah Allah yang pada awalnya terasa berat bagi sebagian jiwa, namun ternyata menjadi sebab kebahagiaan, ketenangan, dan keselamatan dunia serta akhirat.
Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui hakikat hamba-Nya. Dia mengetahui apa yang memperbaiki hati mereka, memperbaiki kehidupan mereka, memperbaiki keluarga mereka, bahkan memperbaiki perekonomian dan masyarakat mereka.
Karena itu, ketika Allah mengharamkan riba, larangan tersebut bukan semata-mata persoalan ritual ibadah. Bukan pula sekadar ujian ketaatan. Larangan itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia.
Sebab riba bukan hanya merusak hubungan seorang hamba dengan Rabbnya, tetapi juga merusak keseimbangan ekonomi, menumbuhkan ketimpangan, memperbesar keserakahan, mengalihkan manusia dari usaha yang produktif menuju keuntungan yang diperoleh tanpa risiko yang sepadan, serta menjadikan masyarakat terjebak dalam lingkaran utang yang tidak berkesudahan.
Karena itulah Allah berfirman:
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah: 276)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang keberkahan yang hilang dari harta riba. Ia juga mengandung isyarat yang dalam bahwa sistem yang dibangun di atas riba pada akhirnya akan melahirkan berbagai bentuk kerusakan dan ketidakstabilan.
Sebaliknya, syariat Islam menghendaki agar harta berputar melalui perdagangan yang jujur, investasi yang produktif, kerja keras, dan pembagian risiko yang adil. Dengan demikian keuntungan lahir dari aktivitas ekonomi yang nyata, bukan sekadar dari pertambahan angka di atas lembar utang.
Lalu muncul pertanyaan:
Apakah riba memiliki pengaruh terhadap inflasi dan pelemahan nilai mata uang?
Untuk menjawabnya, kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana sistem utang berbunga bekerja dalam kehidupan ekonomi modern.
1. Ketika Utang Bertambah Lebih Cepat daripada Pertumbuhan Ekonomi Riil (Barang dan Jasa)
Bayangkan sebuah desa yang menghasilkan 1.000 karung beras setiap bulan.
Kemudian seluruh warga meminjam uang dalam jumlah besar dengan kewajiban mengembalikan pokok ditambah bunga.
Setahun kemudian jumlah uang yang harus dibayarkan meningkat, sementara produksi beras tetap sama.
Barang tidak bertambah, tetapi kewajiban pembayaran terus membesar.
Akibatnya masyarakat saling berebut barang yang jumlahnya terbatas dengan uang yang semakin banyak beredar. Harga pun terdorong naik.
Analogi sederhananya seperti sepuluh anak yang memperebutkan sepuluh es krim. Jika tiba-tiba seluruh anak memperoleh tambahan uang sementara jumlah es krim tetap sama, maka harga es krim akan naik.
Inilah salah satu mekanisme yang dapat mendorong inflasi.
2. Bunga Menjadi Bagian dari Harga Barang
Sering kali masyarakat mengira bunga hanya urusan antara peminjam dan bank.
Padahal pada kenyataannya bunga akan berpindah ke pundak konsumen.
Misalnya seorang peternak ayam meminjam modal Rp1 miliar dengan bunga 12% per tahun.
Ketika tiba waktu pembayaran, ia harus mengembalikan pokok pinjaman beserta tambahan bunga yang besar.
Bagaimana cara menutup biaya tersebut?
Tentu dengan menaikkan harga ayam dan telur.
Hal yang sama terjadi pada: pengembang perumahan, perusahaan makanan, pabrik pakaian, industri transportasi, dan berbagai sektor lainnya.
Pada akhirnya biaya bunga dimasukkan ke dalam harga jual.
Maka masyarakat membeli produk yang lebih mahal karena harus ikut menanggung biaya bunga yang tersembunyi di dalamnya.
Inilah yang dalam ilmu ekonomi dikenal dengan istilah cost-push inflation atau inflasi akibat kenaikan biaya produksi.
3. Kredit yang Berlebihan Mempercepat Kenaikan Harga
Sistem keuangan modern memungkinkan ekspansi kredit dalam jumlah yang sangat besar.
Ketika kredit mudah diperoleh, banyak orang dapat membeli rumah, kendaraan, tanah, dan berbagai aset lainnya meskipun mereka belum memiliki uang yang cukup.
Pada satu sisi hal ini tampak menguntungkan.
Namun apabila pertumbuhan kredit jauh lebih cepat daripada pertumbuhan barang dan jasa, maka permintaan akan melonjak sementara pasokan tidak mampu mengimbanginya.
Sebagai contoh, ribuan orang memperoleh kredit rumah pada waktu yang bersamaan.
Permintaan rumah meningkat tajam.
Jumlah rumah yang tersedia tidak bertambah secepat itu.
Akibatnya harga rumah naik.
Fenomena yang sama dapat terjadi pada tanah, kendaraan, maupun aset lainnya.
Tidak mengherankan apabila di banyak negara harga aset meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan pendapatan masyarakat.
4. Beban Bunga Utang Negara
Apa yang terjadi pada individu dan perusahaan juga dapat terjadi pada negara.
Ketika pemerintah membangun berbagai proyek dengan dana utang, maka sebagian anggaran negara harus dialokasikan untuk membayar bunga.
Bayangkan sebuah keluarga berpenghasilan Rp10 juta per bulan.
Namun Rp3 juta harus digunakan hanya untuk membayar bunga pinjaman.
Akibatnya dana untuk kebutuhan lainnya berkurang.
Begitu pula negara.
Semakin besar beban bunga, semakin sedikit ruang untuk: pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, pembangunan pertanian, dan kebutuhan masyarakat lainnya.
Dalam kondisi tertentu, pemerintah bahkan terpaksa menambah utang baru untuk menutup kewajiban lama.
Lingkaran seperti ini dapat berlangsung bertahun-tahun.
5. Bagaimana Riba Dapat Menekan Nilai Rupiah?
Hubungan antara riba dan nilai tukar memang lebih kompleks, namun terdapat beberapa jalur yang mudah dipahami.
A. Utang Luar Negeri dalam Mata Uang Asing
Misalnya sebuah perusahaan Indonesia meminjam 100 juta dolar AS.
Ketika jatuh tempo, perusahaan tersebut harus membeli dolar untuk membayar pokok dan bunganya.
Jika banyak perusahaan melakukan hal yang sama, permintaan dolar meningkat.
Semakin tinggi permintaan dolar, semakin besar tekanan terhadap rupiah.
Akibatnya nilai tukar rupiah melemah.
Ketika rupiah melemah, harga barang impor ikut naik.
Bahan baku industri menjadi lebih mahal.
Pada akhirnya masyarakat kembali merasakan kenaikan harga berbagai kebutuhan.
B. Perpindahan Modal Spekulatif
Sistem berbasis bunga membuat dana internasional bergerak mencari keuntungan tertinggi.
Ketika suku bunga negara lain lebih menarik, investor dapat dengan cepat menarik dananya dari Indonesia.
Mereka menjual aset rupiah dan membeli dolar.
Permintaan dolar meningkat dan rupiah mengalami tekanan.
Fenomena ini berulang kali terjadi dalam sejarah ekonomi dunia.
C. Aliran Pembayaran Bunga ke Luar Negeri
Ketika bunga utang dibayarkan kepada kreditur asing, terjadi arus keluar dana secara terus-menerus.
Ibarat sebuah wadah air yang terus menetes dari bagian bawahnya.
Jika pemasukan devisa tidak mampu menutupi kebocoran tersebut, tekanan terhadap mata uang domestik akan semakin besar.
Contoh yang Paling Dekat dengan Kehidupan Kita
Perhatikan fenomena harga rumah.
Sebuah rumah yang secara tunai bernilai Rp500 juta dapat berubah menjadi pembayaran total Rp1 miliar atau lebih ketika dibeli melalui skema kredit jangka panjang.
Di sisi lain, pengembang melihat bahwa masyarakat tetap mampu membeli rumah melalui pembiayaan.
Akibatnya harga rumah baru terus dinaikkan.
Lama-kelamaan harga rumah melambung jauh lebih cepat daripada kenaikan penghasilan masyarakat.
Generasi muda semakin sulit memiliki rumah.
Fenomena semacam ini dapat ditemukan di banyak negara dan sering dikaitkan dengan pertumbuhan kredit yang sangat besar.
Penutup
Tentu tidak adil jika mengatakan bahwa riba adalah satu-satunya penyebab inflasi atau pelemahan rupiah. Banyak faktor lain yang turut berperan, seperti produktivitas, kebijakan pemerintah, perdagangan internasional, kondisi politik, dan stabilitas global.
Namun demikian, sistem ekonomi yang dibangun di atas utang berbunga dalam skala besar memiliki potensi kuat untuk memperbesar berbagai masalah tersebut.
Ia mendorong kenaikan biaya produksi, mempercepat pertumbuhan utang, meningkatkan ketergantungan terhadap mata uang asing, dan membuka pintu berbagai bentuk ketidakstabilan ekonomi.
Karena itulah larangan riba dalam Islam bukan sekadar persoalan halal dan haram. Ia merupakan bagian dari kesempurnaan syariat yang menjaga agama manusia sekaligus menjaga kehidupan mereka.
Semakin dalam seseorang mempelajari syariat Allah, semakin ia menyadari bahwa tidak ada satu larangan pun yang ditetapkan Allah kecuali di baliknya terdapat rahmat yang luas dan hikmah yang agung.
Dan tidaklah Allah mengharamkan riba kecuali karena Dia menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya di dunia sebelum kebaikan di akhirat.
Wallahu a’lam.
Tim Shahihfiqih, 23 Dzulhijjah 1447 / 09 Juni 2026



