Jangan sampai terjebak dua ekstrem: mengingkari yang nyata atau mempercayai tanpa bukti. Di tengah masyarakat indonesia, pembahasan tentang santet hampir tidak pernah sepi. Ketika seseorang tiba-tiba sakit, usaha bangkrut, rumah tangga bermasalah, atau terjadi musibah yang sulit dijelaskan, tidak sedikit yang langsung berkata, “jangan-jangan kena santet.” Di sisi lain, ada pula yang menolak seluruh pembahasan tentang santet dan sihir. Mereka menganggap semua cerita tentang santet hanyalah khayalan, sugesti, atau warisan kepercayaan kuno yang tidak memiliki dasar.
Lalu bagaimana sebenarnya pandangan islam? Apakah santet benar-benar ada? Apakah setiap penyakit misterius pasti akibat santet? Bolehkah menuduh seseorang sebagai pelaku santet? Bagaimana cara melindungi diri darinya? Islam memiliki jawaban yang sangat seimbang. Tidak tenggelam dalam tahayul, tetapi juga tidak mengingkari perkara ghaib yang telah ditetapkan oleh al-qur’an dan sunnah.
Ketundukan Kepada Al-Qur’an Dan Sunnah Dalam Menerima Informasi
Prinsip pertama yang harus dipahami seorang muslim adalah bahwa sumber kebenaran tertinggi adalah wahyu. Tidak semua perkara dapat ditangkap oleh pancaindra manusia. Ada banyak hal yang termasuk perkara ghaib, seperti malaikat, jin, hari kiamat, surga, neraka, dan juga sihir. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ﴾
“Tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin apabila allah dan rasul-nya telah menetapkan suatu ketetapan, lalu mereka masih memiliki pilihan yang lain dalam urusan mereka.” (QS. Al-ahzab: 36).
Karena itu, ketika Al-Qur’an dan sunnah yang shahih menjelaskan adanya sihir, maka seorang muslim menerimanya dengan penuh keimanan meskipun tidak semua bentuknya dapat dilihat secara langsung.
Benarkah Santet Itu Ada Menurut Islam?
Jawabannya: ya, sihir itu nyata dan keberadaannya ditetapkan dalam al-qur’an dan sunnah. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللّٰهِ ﴾
“Lalu mereka mempelajari dari keduanya apa yang dapat memisahkan antara seorang suami dan istrinya. Dan mereka tidak dapat mencelakakan seorang pun dengan sihir itu kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-baqarah: 102)
Ayat ini menunjukkan bahwa sihir memang memiliki pengaruh tertentu, namun tetap berada di bawah kehendak Allah.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
مَا يُخَيَّلُ إِلَى الرَّجُلِ أَوِ الْمَرْأَةِ مِنَ الْآخَرِ مِنْ سُوءِ مَنْظَرٍ، أَوْ خُلُقٍ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ، أَوْ عَقْدِهِ، أَوْ بُغْضِهِ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُقْتَضِيَةِ لِلْفُرْقَةِ
“Yaitu apa yang dibuat seolah-olah terlihat oleh seorang laki-laki atau perempuan pada pasangannya berupa keburukan rupa, keburukan akhlak, atau hal-hal semisal itu; atau terhalangnya hubungan suami-istri, atau timbulnya rasa benci terhadap pasangannya, atau sebab-sebab lain yang dapat mengakibatkan perpisahan.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/364, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).
Ini menunjukkan betapa nyatanya pengaruh santet atau sihir itu pada manusia.
Nabi ﷺ Pernah Terkena Sihir
Di antara dalil paling jelas tentang adanya sihir adalah hadits shahih mengenai sihir yang menimpa Rasulullah ﷺ. Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah binti abu bakar radhiyallahu ‘anha:
« سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّىْءَ وَمَا فَعَلَهُ »
“Rasulullah ﷺ pernah disihir oleh seorang laki-laki dari Bani Zuraiq yang bernama Labid bin Al-A’sham, hingga Rasulullah ﷺ dibuat membayangkan bahwa beliau telah melakukan sesuatu, padahal beliau tidak melakukannya.” (HR. Bukhari no. 5765 dan Muslim no. 2189)
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ إِثْبَاتُ السِّحْرِ، وَأَنَّ لَهُ حَقِيقَةً، وَهُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ
“Dalam hadits ini terdapat penetapan adanya sihir dan bahwa sihir memiliki hakikat yang nyata.” (Syarh Shahih Muslim_, 14/174)
Namun Santet Bukan Kekuatan Yang Berdiri Sendiri
Meskipun sihir itu nyata, islam tidak pernah mengajarkan ketakutan berlebihan terhadap santet. Allah Ta’ala menegaskan:
﴿ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللّٰهِ ﴾
“Mereka tidak dapat mencelakakan seorang pun kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 102).
Ayat ini merupakan benteng besar bagi seorang muslim. Tukang sihir bukan penguasa alam semesta. Jin bukan pengatur takdir manusia. Semua makhluk berada di bawah kekuasaan Allah. Karena itu seorang mukmin tidak boleh lebih takut kepada santet daripada takut kepada Allah.
Apakah Setiap Penyakit Berarti Kena Santet?
Inilah kesalahan yang sering terjadi. Sebagian orang menganggap hampir semua penyakit misterius sebagai santet. Padahal islam tidak mengajarkan sikap seperti itu. Rasulullah ﷺ bersabda:
« تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ مَعَهُ شِفَاءً إِلاَّ الْهَرَمَ »
“Berobatlah kalian, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Dia juga menurunkan bersamanya obat atau kesembuhannya, kecuali pikun (ketuaan).” (HR. Ibnu Majah no. 3436).
Hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim diperintahkan mencari sebab-sebab yang nyata dan melakukan pengobatan. Sakit bisa disebabkan oleh:
- Infeksi;
- Gangguan hormon;
- Penyakit autoimun;
- Gangguan psikologis;
- Pola hidup yang buruk;
- Dan berbagai sebab medis lainnya.
Karena itu hukum asal penyakit adalah sebab-sebab yang biasa dan dapat dikenali, bukan langsung dituduh sebagai sihir.
Bahaya Mudah Menuduh Orang Melakukan Santet
Masalah lain yang tidak kalah berbahaya adalah budaya saling menuduh. Ketika seseorang sakit, muncul tuduhan: “Pasti tetangga itu yang menyantet.” atau “Pasti saingan bisnis yang mengirim santet.”. Padahal tidak ada bukti. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak berprasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Banyak permusuhan keluarga, konflik kampung, bahkan tindakan kekerasan bermula dari tuduhan santet yang tidak pernah terbukti. Karena itu islam mengajarkan tabayyun dan kehati-hatian.
Mengapa Dukun Kadang Bisa Mengetahui Hal Yang Benar?
Sebagian orang bertanya: “Kalau dukun itu bohong, mengapa kadang ucapannya benar?”. Jawabannya telah dijelaskan Rasulullah ﷺ bagaimana itu bisa terjadi, beliau bersabda:
« فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ، فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ، فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا، وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ، فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ، فَيُقَالُ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنَ السَّمَاءِ »
“Lalu ia (setan yang mencuri pendengaran) mendengar satu kalimat berita (dari langit), kemudian menyampaikannya kepada setan yang berada di bawahnya. Setan yang lain menyampaikannya lagi kepada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya berita itu disampaikan ke lisan seorang penyihir atau dukun. Terkadang semburan api (meteor) telah mengenainya sebelum ia sempat menyampaikan berita itu, dan terkadang ia berhasil menyampaikannya sebelum meteor itu mengenainya. Kemudian penyihir atau dukun tersebut mencampurkan bersama berita itu seratus kedustaan. Lalu orang-orang berkata: ‘Bukankah dulu pada hari ini dan itu ia pernah mengatakan kepada kita begini dan begitu, dan ternyata benar?’ Maka ia pun dipercaya karena satu kalimat yang didengarnya dari langit.” (HR. Bukhari no. 4800).
Sehingga sebagian informasi “Dari Langit” bisa diperoleh jin lalu disampaikan kepada para dukun. Namun informasi yang sedikit itu kemudian dicampur dengan banyak kebohongan. Karena itulah kadang seseorang tertipu oleh sebagian informasi yang kebetulan benar.
Hukum Mendatangi Dukun Dan Paranormal
Islam sangat keras dalam masalah ini. Rasulullah ﷺ bersabda:
« مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً »
“Barang siapa mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya, maka shalat-nya tidak diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 2230).
Dalam hadits lain:
« مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ »
” Barang siapa menyetubuhi wanita yang sedang haid, atau menyetubuhi istrinya melalui duburnya, atau mendatangi seorang dukun lalu membenarkan perkataannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ibnu Majah no. 639).
Larangan ini mencakup:
- Dukun;
- Paranormal;
- Tukang ramal;
- Pembaca nasib;
- Ahli terawang;
- Praktik perdukunan berkedok pengobatan.
Bagaimana Cara Melindungi Diri Dari Santet?
Islam tidak mengajarkan jimat, rajah, benda keramat, atau ritual syirik. Benteng seorang muslim adalah tauhid dan dzikir. Di antaranya:
- Membaca ayat Kursi, (lihat: HR. Bukhari no. 2311);
- Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, Dan An-Nas, (lihat: HR. Abu Dawud no. 5082 dan Tirmidzi no. 3575);
- Menjaga shalat dan dzikir, (lihat: QS. Al-‘Ankabut: 45 dan QS. Az-Zukhruf: 36).
Karena, semakin kuat hubungan seorang hamba dengan Allah, akan semakin kuat pula perlindungan yang Allah berikan kepadanya.
Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Fenomena Santet
Dalam masalah ini terdapat dua kelompok yang sama-sama keliru. Ekstrem pertama: mengingkari seluruh sihir, mereka mengatakan semua sihir hanyalah dongeng. Ini bertentangan dengan al-qur’an dan sunnah.
Ekstrem kedua: menganggap semua musibah adalah santet, mereka mengaitkan hampir semua masalah dengan sihir. Ini juga keliru dan sering melahirkan fitnah.
Sikap pertengahan adalah:
- Mengimani adanya sihir;
- Tidak berlebihan dalam ketakutan;
- Tidak menuduh tanpa bukti;
- Tetap menempuh pengobatan medis;
- Menggunakan ruqyah syar’iyyah;
- Dan bertawakal kepada Allah.
Hikmah Mengapa Allah Mengizinkan Adanya Sihir
Sebagian orang bertanya: “Mengapa Allah membiarkan sihir ada?”. Jawabannya karena dunia adalah tempat ujian. Allah berfirman:
﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ ﴾
“Sungguh kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, dan sebagainya.” (QS. Al-Baqarah: 155).
Keberadaan sihir menjadi bagian dari ujian:
- Siapa yang bertawakal kepada Allah;
- Siapa yang lari kepada dukun;
- Siapa yang tetap berpegang kepada tauhid;
- Dan siapa yang tergelincir ke dalam kesyirikan.
Penutup: Pelajaran Tauhid Di Balik Pembahasan Santet
Pada akhirnya, pembahasan santet bukan sekadar pembahasan tentang jin, sihir, atau perkara ghaib. Inti pembahasannya adalah tauhid. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ﴾
“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.” (QS. Al-An’am: 17).
Karena itu seorang muslim meyakini bahwa sihir memang ada, tetapi kekuasaan Allah jauh lebih besar. Jin adalah makhluk. Tukang sihir adalah manusia lemah. Sedangkan Allah adalah Rabb semesta alam yang menguasai seluruh manfaat dan mudarat. Maka ketika mendengar pembahasan tentang santet, jangan menjadi orang yang mengingkari nash, namun jangan pula menjadi orang yang mudah percaya kepada setiap cerita tanpa bukti. Peganglah Al-Qur’an dan Sunnah, tempuh sebab-sebab yang syar’i dan medis, lalu serahkan seluruh urusan kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Melindungi. Dengan demikian, seorang muslim akan hidup dengan hati yang tenang, penuh tawakal, serta terjaga dari fitnah perdukunan dan kesyirikan.
Tim Shahihfiqih, 18 Dzulhijjah 1447H / 4 Juni 2026M



