Menjaga “KEMABRURAN” Di Tengah Rutinitas Lama

Ada orang yang ketika di tanah suci begitu mudah menangis, lisannya basah dengan dzikir, shalat malam terasa ringan, Al-Qur’an terasa hidup, hatinya lembut.

Namun beberapa pekan setelah pulang, semangat itu perlahan meredup, masjid mulai jarang didatangi, tilawah mulai berkurang, hati kembali keras menghadapi rutinitas lama. Bahkan sebagian orang mulai bertanya dalam hati, “Kenapa suasana iman itu hilang begitu cepat?”

Inilah salah satu ujian terbesar setelah haji, bukan sekadar menyelesaikan manasik, tetapi menjaga bekas manisnya ibadah agar tetap hidup setelah kembali ke dunia nyata.

Ketika Atmosfer Iman Menghilang

Di Mekah dan Madinah, suasana memang sangat membantu seseorang untuk taat. Adzan terdengar di mana-mana, manusia berlomba menuju masjid, lingkungan mendukung ibadah, hati mudah tersentuh.

Namun sepulang dari haji, seseorang kembali menghadapi pekerjaan, tekanan hidup, lingkungan pergaulan lama, media sosial, kesibukan dunia, bahkan dosa-dosa yang dahulu pernah ditinggalkan.

Di sinilah banyak orang mengalami apa yang bisa disebut sebagai “Sindrome pasca-haji”, semangat ruhiyah yang turun drastis setelah atmosfer spiritual menghilang. Padahal justru setelah hajilah perjuangan besar dimulai.

Futur Itu Bisa Menimpa Siapa Saja

Rasulullah ﷺ telah memberi isyarat bahwa iman manusia memang naik dan turun. Karena itu para ulama membahas panjang tentang “Futur” (melemahnya semangat ibadah).

Dalam fatwa tentang sebab-sebab futur, dijelaskan bahwa di antara penyebab terbesar lemahnya iman adalah lalai dari dzikir, terlalu tenggelam dalam dunia, lingkungan buruk, dan kurangnya kesinambungan amal shalih.

Seseorang bisa sangat semangat dalam satu musim ibadah,
lalu melemah ketika suasana itu hilang. Ini bukan hanya terjadi setelah Ramadan, banyak juga yang mengalaminya setelah haji.

Haji Bukan Garansi Tidak Akan Jatuh Lagi

Sebagian orang setelah pulang haji mulai merasa “aman”, seakan-akan dirinya sudah berada di level iman yang tinggi dan tidak mungkin kembali tergelincir. Padahal para ulama menjelaskan seorang mukmin tetap harus takut amalnya tidak diterima.

Allah memuji orang-orang yang beramal shalih namun hati mereka tetap takut:

﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ ﴾

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sementara hati mereka takut…” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Apakah mereka itu orang yang berzina dan mencuri?”

Nabi ﷺ menjawab:

« لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ »

“Bukan, wahai putri Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, mendirikan shalat, dan bersedekah, sementara mereka takut Rabb mereka tidak menerima amal itu dari mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam berbagai kebaikan, dan merekalah yang paling dahulu meraihnya.” (HR. TIrmidzi no. 3175)

Orang yang benar-benar memahami nilai ibadahnya justru tidak ujub dengan amalnya dan lebih sibuk menjaga dirinya agar tidak kembali jatuh.

Tanda Haji Mabrur Bukan Tangisan di Arafah

Sebagian orang mengira kemabruran hanya diukur dari banyaknya tangisan, kekhusyukan saat thowaf, atau kuatnya suasana spiritual di tanah suci. Padahal ukuran terbesarnya sering kali terlihat setelah pulang.

Apakah hajinya membuat dirinya lebih menjaga shalat? lebih takut bermaksiat? lebih lembut lisannya? lebih menjaga pandangan? lebih dekat dengan Al-Qur’an? lebih mudah bertaubat?

Karena amal yang diterima biasanya melahirkan kebaikan setelahnya. Sebaliknya, di antara tanda masalah dalam ibadah adalah seseorang kembali cepat kepada kelalaian lama seakan tidak pernah mendapatkan pelajaran ruhiyah apa pun.

Rutinitas Lama Adalah Ujian Baru

Masalah terbesar setelah haji sering kali bukan kurangnya ilmu. Tetapi benturan antara semangat ruhiyah dengan realita kehidupan sehari-hari.

Di tanah suci, seseorang bisa fokus beribadah, namun di rumah pekerjaan menumpuk, grup media sosial kembali ramai, hiburan kembali memenuhi waktu, target dunia kembali menyita hati. Akhirnya hati perlahan kehilangan sensitivitasnya. Karena hati manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan kebiasaan yang terus diulang.

Maka orang yang ingin menjaga kemabruran harus sadar bahwa, ia tidak mungkin mempertahankan iman dengan pola hidup lama yang dahulu menjauhkan dirinya dari Allah.

Jangan Berusaha Menjadi “Sempurna”

Sebagian jamaah justru futur karena terlalu tinggi menargetkan diri. Ketika di tanah suci ia mampu tilawah berjam-jam, qiyamul lail setiap malam, dan dzikir sepanjang waktu. Lalu setelah pulang ia tidak mampu mempertahankan ritme itu. Akhirnya ia kecewa pada dirinya sendiri, lalu berhenti total.

Padahal agama ini dibangun di atas kesinambungan. Rasulullah ﷺ bersabda:

« أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ »

“Amalan yang paling Allah cintai adalah yang kontinu walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 783)

Yang terpenting bukan menjadi spektakuler sesaat, tetapi mampu istiqamah dalam jangka panjang. Semoga Allah menjaga hati-hati kita setelah haji, meneguhkan kita di atas istiqamah, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar-benar mendapatkan haji yang mabrur.

Sumber: Website IslamQA.Info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *